
"Jangan mengatakan hal-hal tidak penting Zidan, bekerjalah kembali kalau kamu mau, jangan berharap lebih, aku tidak suka melibatkan perasaan dalam pekerjaan." Marsha memilih menghindar, dia ingin kembali duduk tapi Zidan menarik pergelangan tanganya hingga membuatnya menubruk dada Zidan, pandangan mereka kembali bertemu dan saling mengunci, Zidan mengambil kedua tangan Marsha, ditumpu ditengah-tengah mereka.
"Aku serius Marsha, aku tidak ingin hanya menjadi bayang-bayang buat kamu, aku ingin hubungan yang nyata, bukan pura-pura. Aku bilang jangan jawab sekarang, aku bisa menunggumu." Ucap Zidan bersungguh-sungguh.
"Apa yang kamu miliki buat menyakinkan aku atas perasaan kamu, Zidan? Aku tidak percaya yang namanya cinta, banyak didunia ini yang mengatakan cinta, sayang, tapi setelahnya mereka akan berkhianat juga. BULSHITT." Marsha coba melepaskan tangannya dari Zidan, namun Zidan tak melepasnya, justru dia menggenggamnya erat.
"Tidak semua laki-laki seperti itu Marsha, aku tulus, terserah kamu mau percaya atau tidak? Aku memang tidak memiliki apa-apa, tapi aku bisa membuktikan, bukan hanya padamu, tapi pada keluarga mu."
Marsha terdiam sejenak, mencari ketulusan dari ucapan Zidan, namun dia tak menemukan kebohongan sama sekali.
"Belum apa-apa saja kamu kemarin sudah berani mesum Zidan, apalagi kalau sudah jadi pacar. Apa tujuan kamu menyatakan perasaan kamu? Biar bisa berbuat lebih gitu? Atau kamu hanya penasaran, nanggung cuma bisa cium-cium doang. Tapi kamu juga dekat dengan wanita lain." Dengus Marsha tak suka saat melihat Zidan berboncengan dengan wanita lain.
"Iya, aku akui aku tidak bisa menahan diri saat didekatmu Marsha, tapi setelah ini, aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi, dan wanita yang kamu lihat bersama ku tadi pagi, dia adik sepupuku, aku mengantarnya ke kantor tempatnya bekerja karena dia sudah kesiangan." Bohongnya.
"Aku tidak percaya."
"Aku tidak memintamu percaya, hanya memberitahu yang sebenarnya."
"Lepasin dul tanganku, sakit." Zidan melepaskan tangan Marsha, Zidan melihat tangan Marsha yang memerah.
"Maaf, apa ini beneran sakit?"
"Menurut mu?"
"Aku tidak sengaja Marsha, maaf." Zidan memgambil kedua tangan Marsha, mengecup bekas kemerahan itu dengan lembut. Marsha dibuat tersipu dengan perlakuan Zidan.
"Maaf Zidan, aku belum bisa menerima Mu."
__ADS_1
"Aku bilang aku akan menunggu sampai kamu siap Marsha, dan aku akan membuktikan keseriusanku."
* * *
Setelah pulang dari kantor, Zidan diminta sang kakek untuk kembali kerumah, namun saat diperjalanan Zidan tahu jika dia sedang diikuti oleh pengendara motor lain, Zidan terus melihat dari spion motornya, dia ingin tahu siapa yang mengikutinya, Zidan memutar arah, jika tadi dia mengarah kerumah sang kakek, kini dia mengarahkan kepasar yang ramai, Zidan memakirkan motornya ditempat parkir.
Sebelum turun dari motornya, Zidan menghubungi orang kepercayaan sang kakek, untuk mencari tahu siapa yang sedang mengikutinya. Dan kepercayaan kakeknya mengatakan, jika beberapa hari ini dia diikuti oleh Mahesa, untung sang kakek sudah menutup akses Mahesa yang ingin mencari tahu tentang dia yang sebenarnya.
Zidan masuk kepasar, meninggalkan sepeda motornya, dia mulai mencari bahan-bahan makanan, apa saja dia beli, sayur terang, yang Zidan sendiri tak suka makan itu, dia kembali masuk ketempat pemotongan ayam.
Tentu saja Mahesa kehilangan jejaknya, dia megumpat kesal, Mahesa kembali keparkiran, namun dia tak lagi melihat motor Zidan disana.
"Sial," Mahesa memukul bagian depan motornya "sepertinya dia tahu aku mengikutinya." Padahal sedikit lagi dia bisa mengungkap siapa Zidan, dan akan menjauhkan Marsha dari sekretarisnya itu. Zidan kembali menggunakan helmnya, dia pulang dengan perasaan kecewa.
Zidan tak tahu jika dirumahnya sudah ada Misya dan ayahnya, dia sungguh terkejut, rencana apalagi yang akan dibuat sang kakek?
"Wah, kalian memang terlihat sangat serasi, Papa menjadi tidak sabar ingin segera melihat kalian bersatu. Pasti anak kalian akan sangat tampan dan cantik, perpaduan yang pas." Ucap Burhan papa Misya dengan mata berbinar.
"Mereka tidak akan lama lagi bersatu, iya kan Zidan? Tinggal sedikit lagi, Misya itu wanita idaman Zidan sekali." Misya tersenyum senang mendengar pujian kakek Zidan, sedang Zidan hanya menaggapi dengan senyum tipis, separah-parahnya ucapan Marsha terhadapnya, entah dia tak bisa membenci wanita itu.
Mereka makan bersama, kakek memberitahu Misya makanan apa saja yang disukai dan tidak okeh Zidan.
"Zidan itu sangat suka yang berbau-bau ikan, ya sejenis seafood dia suka semua." Ucap Kakek pada Misya.
Zidan membiarkan Misya menyiapkan makananya. "Terima kasih." Zidan berucap lembut, membuat Misya senang bukan kepalang.
"Kamu mau apalagi?" Tanya Misya lembut.
__ADS_1
"Sudah cukup." Sebisa mungkin Zidan tersenyum pada Misya.
Interaksi keduanya membuat Kakek dan papa Misya senang, apalagi kakek yang berharap Zidan segera menyelesaikan urusannya bersama Marsha, agar dia bisa mengatur semua sesuai rencananya.
Setelah makan, Zidan izin mengajak Misya keluar, itu membuat Kakek dan papa Misya senang, jika Misya pikir Zidan akan mengajaknya jalan-jalan malam, nyatanya Zidan mengantarkan Misya langsung kerumahnya, Zidan tak ingin berlama-lama dengan kakek dan papa Misya, itu membuatnya pusing, penolakan Marsha padanya membuat pikiran Zidan tak tenang.
"Zidan, kita langsung pulang? Ini masih sore, baru jam sembilan." Terkesiap Misya saat mobil Zidan sudah berhenti didepan rumahnya.
"Besok aku akan keluar kota, aku tidak bisa tidur terlambat Misya, sepulang dari luar kota aku janji akan mengajakmu berkencan yang lebih romantis."
Misya tersenyum senang "Benar Zidan? Tidak bisakah kamu singgah hanya sebentar saja? Tidak sopan jika aku tidak mengajak mu singgah." Tanpa Zidan duga, Misya mendekat kearahnya, Misya langsung mengecup rahang Zidan. Refleks Zidan menjauhkan dirinya.
"Misya, jangan lakukan apapun, tahan, sampai aku bisa menikahi mu." Zidan mendorong tubuh Misya, hingga Misya kembali duduk ditempatnya.
"Benar kamu akan menikahi ku Zidan?"
"Apalagi tujuan perjodohan ini kalau bukan menikah, dan memperkuat bisnis bersama?"
Misya nampak setuju dengan ucapan Zidan "Kamu benar, terus kapan kamu akan mengakhiri hubungan pura-pura kamu dengan Marsha? Aku tidak ingin hubungan kita yang sah harus diam-diam demi menjaga hatinya?"
"Tunggu saja sampai waktunya tiba, sampai Marsha benar-benar jatuh cinta padaku."
Misya mengerutkan keningnya, ambigu dengan yang Zidan katakan "Apa maksudnya?"
"Tidak apa-apa Misya, masuklah, tidak baik jika kita berdua terlalu lama didalam mobil, nanti orang akan jadi salah paham."
"Oke, baiklah, goodnigh Zidan." Kembali Misya mengecup bibir Zidan sekilas, sebelum dia turun. "By Zidan, hati-hati ya, jangan tergoda oleh boss kamu, dia itu berbahaya, melebihi racun." Tekankan Misya ucapannya, sebelum Zidan menutup kaca mobil, kemudian berlalu.
__ADS_1