Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Akhir Yang Menyakitkan


__ADS_3

Siapa yang tidak menyayangi orang tua? Seburuk apapun sifatnya, tak akan ada yang namanya bekas orang tua.


Zidan menunduk menunggu kedatangan Naima dan Nasyat diruang tunggu khusus pengunjung. Zidan menunduk, menatap kosong pada meja kayu berwarna kuning didepanya. Tangannya saling bertaut memikirkan kata yang akan ia ucapkan pada kakek dan mamanya.


Suara deritan kursi yang ditarik membuat Zidan mengangkat kepalanya. Naima dan Nasyat datang secara bersamaan. Hati anak mana yang tak teriris melihat wanita yang melahirkannya memakai pakaian tahanan khusus, wajah kucel, dan badan yang mulai kurus.


Lalu pandangan Zidan berpindah pada sang kakek yang telah membesarkan dan menemaninya dari kecil. Zidan menatap lirih pada Nasyat, seharusnya diusianya yang sudah senja, Nasyat tinggal menikmati hidup dari hasil kerja kerasnya selama ini, bukan ditempat yang sangat dihindari ini.


Akibat keserakahan dan keegoisanyalah, mereka berada ditempat ini.


"Naima, apa kamu mengenal laki-laki yang ada dihadapan kita?" tanya Nasyat pada Naima, tepat menyindir Zidan.


"Aku pernah melahirkan anak laki-laki, Pa. Tapi dia lupa jika ada seorang ibu dan kakek yang harus dia bela, apapun yang terjadi. Dan yang didepan kita, aku tidak tahu dia siapa?" ujar Naima.


Mendengar penuturan keduanya, Zidan hanya dapat menarik nafas dalam, dan membuang muka, sesulit itukah mereka menerima keadaan dan berdamai dengan hidup? Apa tak ada keinginan untuk keduanya keluar dari tempat ini, meminta maaf dan mengakui kesalahannya?


Astaga, apakah Zidan harus berkata jika dia menyesal telah dilahirkan dari rahim wanita didepannya ini?


"Kedatangan ku kesini untuk meminta izin. Besok aku dan Marsha akan menikah." ujar Zidan langsung.


Sebenarnya ada rasa bergetar di hati Naima, namun untuk mengakuinya rasanya sangat sulit.


"Aku sangat berharap ada Mama dan Kakek dihari bahagia Ku. Ma, Kek, katakanlah jika kalian juga ingin menyaksikan hari bahagia ini." Zidan menelan ludah, sangat berharap jika Naima dan Nasyat memintanya untuk membebaskannya, Zidan hanya butuh satu kata, mereka menyesal.


Namun Zidan juga harus menerima kenyataan jika sang mama akan menolak itu.


"Pulanglah jika hanya itu yang ingin kau sampaikan, anggap kau tidak pernah lahir dirahimku." Naima berdiri mendorong kursi plastik hijau yang ia duduki hingga kursi itu tejungkil membuat para pengunjung yang lain menoleh kearahnya. Zidan ikut berdiri, tanpa rasa malu dia bersujud di kaki Naima.


"Ma, aku tahu surgaku ditelapak kaki Mama. Tapi walau Mama tak merestui hubungan ku dengan Marsha, aku tetap akan menikahinya."


"Maka nikahilah dia, berbakti lah padanya. Untuk apa kamu datang dan meminta restu? Kamu besar sendiri tanpa Mama, kamu sudah punya banyak uang kan? Apalagi sekarang kamu mendapat dukungan dari laki-laki tua yang tak pernah Anak laki-laki tak perlu restu dari ibu kan? Yang terpenting kalian bahagia, tidak usah memikirkan perasaan orang tua lagi. Kami sadar sebagai orang tua tak harus mengharap balas budi dari anak, karena anak memang hanya titipan." Naima menarik kakinya dari genggaman tangan Zidan, dan pergi berlalu kembali keruangannya.


Zidan masih diposisinya, Zidan meratapi nasibnya, jika saja mamanya mau sedikit merendah dan menyadari kesalahannya, Zidan akan membebaskan mama dan kakeknya saat ini juga. Tapi nasibnya tak baik, memiliki ibu yang berhati keras.


"Apapun yang mama mu katakan, jika kamu benar menyayangi kami, kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan Zidan." bisik Nasyat sebelum berlalu masuk keruangannya juga.


Saat Zidan akan keluar dari kantor polisi dan akan masuk kedalam mobilnya, dia melihat ada dua orang bodyguard mengawasinya dari jauh, dia memang sudah bertemu dengan Valent Xavier, dan meminta ayah dari almarhum ayahnya itu untuk mendampinginya dihari bahagianya besok. Zidan mendengus, itu pasti pengawal yang sang kakek utus untuk mengawalnya kemanapun dia pergi.


Ternyata Naima saat itu lepas dari pengawasan penjaga, dia menunggu papanya sebelum masuk keruangannya.


"Ini gara-gara Papa, kenapa Papa mengizinkan Zidan menjadi sekretaris wanita ****** itu, Zidan jadi seperti ini." Naima mendorong tubuh Nasyat.


"Apa yang kamu lakukan Naima? Papa sudah melakukan yang kamu mau, kenapa kamu jadi menyalahkan Papa?"

__ADS_1


Naima nampak kembali kalap, dia langsung menekan leher Nasyat dengan sangat kuat, petugas yang menjaga Nasyat melerai Naima, namun sepertinya kekuatan Naima saat ini sedang bertambah dua kali lipat, dua petugas yang ingin melepaskan tangannya dari leher Nasyat pun sulit untuk dilepas. Wajah Nasyat sudah terlihat merah, diapun sudah merasakan sesak dan sulit untuk bernafas, ditambah usianya yang sudah memasuki usia kepala empat membuatnya sangat lemah.


Hingga datang lagi dua petugas membantu melepaskan Naima, hingga tangan Naima terlepas dari leher Nasyat, namun kondisi Nasyat sudah sangat lemas.


Dengan mata kepalanya sendiri, Naima melihat sang papa nampak terjatuh dan menarik nafas panjang. Tangan Naima yang sudah diborgol dan akan dibawa keruangannya, berlari menghampiri Nasyat yang sedang di bantu pertolongan pertama oleh petugas.


"Papaaaa." Teriak Naima seakan baru menyadari apa yang telah dilakukannya pada papanya.


Suara decitan berasal dari ban mobil yang dikendarai Zidan. Zidan memukul tangan dan kepalanya di stir mobil, baru saja dia menjenguk sang kakek, namun kabar tak menyenangkan justru dia dapatkan.


*


*


*


Penyesalan itu selalu datang belakangan, andai kita bisa menerima kenyataan dan memaafkan kesalahan diri sendiri maupun orang lain, mungkin sesuatu hal buruk tidak akan terjadi. Dan hidup itu pilihan, baik dan buruknya yang kita rasakan terkadang berasal dari diri kita sendiri.


Naima hanya dapat menatap kosong gundukan tanah yang sudah ditaburi bunga diatasnya, dia khilaf, tak menyangka yang dia lakukan malah membuat sang papa menghembuskan nafas terakhirnya. Tangan yanh diborgol, dia yang masih ingin tetap tinggal menemani papa diperistirahatan terakhirnya terpaksa harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan.


Seharusnya dia bisa menghirup udara bebas, tapi karena kesalahannya, dia harus kembali menebus kesalahannya yang baru.


Tak ada yang dapat Zidan lakukan untuk membela mamanya, dia hanya pasrah, karena ini yang harus diterima mamanya atas yang sudah dilakukannya.


Marsha tidak hanya sendiri, Mahardika, Mawar, Indah dan Abdi pun ikut melayat, mengucapkan bela sungkawa, bagaimanapun, mereka semua mengenal Nasyat, melupakan semua permasalahan Nasyat selama hidupnya. Namun mereka sudah pulang terlebih dahulu, meninggalkan Marsha dan Zidan berdua.


Marsha memeluk Zidan yang duduk didepan pusara sang kakek, hati Zidan sudah iklas menerima jalan hidup yang sudah digariskan untuknya. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Marsha, hatinya merasakan tenang saat berdekatan dengan wanita yang sedang mengandung anaknya itu, wanita yang begitu ia cintai, seakan beban hidupnya berkurang dengan adanya Marsha didampingnya.


Zidan mendongak menatap wajah cantik Marsha. "Kita pulang, nanti kamu kecapean."


Marsha menunduk, balas menatap Zidan, Marsha merapikan rambut Zidan.


"Kalau kamu mau sampai malam disini, aku akan temani kamu," ujarnya tahu kesedihan Zidan.


Zidan menggeleng. "Tidak, ayo kita pulang sekarang. Kesedihan tidak boleh dirratapi terlalu lama." Zidan berdiri terlebih dahulu, mengulurkan tangan untuk membantu Marsha berdiri.


"Bagaimana Apap? Apa dia masih mendiami mu?" tanya saat berjalan menuju mobil.


"Nanti Amam yang akan bicara sama Apap. Aku juga tidak mau jika bukan Apap yang menjadi wali nikah kita nanti."


"Ajaklah Apap bicara, kamu jangan ikut mendiamkanya."


"Aku tidak mendiami Apap, hanya saja, kalau orang sedang marah, aku malas mendekatinya, jika Apap marah cuma Amam yang bisa membujuknya."

__ADS_1


Zidan membukakan pintu mobilnya untuk Marsha. "Aku pulang dengan supir ku aja Zidan. Kamu pasti juga kecapean, terlalu banyak masalah yang kamu hadapi."


"Aku yang akan mengantar kamu sampai rumah, sayang. Aku hanya memikirkan tentang pernikahan kita, aku harap tidak ada lagi masalah yang membuat pernikahan kita gagal."


Marsha pun naik kedalam mobil Zidan, senang rasanya bisa berduaan seperti ini. Sepanjang perjalanan pun Marsha terus berusaha menghibur Zidan, dia tahu walau Zidan terus tersenyum, Zidan menyimpan luka yang begitu dalam.


Hingga tiga puluh menit berlalu, mereka pun sampai dirumah Marsha.


"Marsha, apa boleh kita menunda dulu pernikahan kita sampai bulan depan? Ada masalah yang harus aku selesaikan."


Marsha yang akan turun pun mengurungkan niatnya, padahal tadi Zidan sempat bilang padanya agar tidak ada masalah yang bisa membuat pernikahan mereka gagal. Tapi jika ditunda lagi sampai bulan depan, apa itu sama saja memberikan peluang untuk masalah baru?


Sudah pasti Marsha kecewa atas permintaan Zidan, tapi dia tak boleh egois juga, masalah yang sedang Zidan hadapi bukanlah masalah kecil dan sepele, sudah pasti banyak masalah yang harus Zidan selesaikan terlebih dahulu.


Marsha menarik nafas sebelum menganggukkan kepalanya. Zidan dapat melihat wajah Marsha yang kecewa, Zidan menarik kening Marsha untuk dikecupnya.


"Selamat malam, selamat beristirahat. Aku menyayangi mu Marsha."


Marsha melnagkah memasuki rumahnya dengan langkah lesu, apa boleh dia egois untuk Zidan tak menunda pernikahan mereka? Akkhhh kenapa banyak sekali yang menghalangi pernikahan mereka.


Setelah banyak yang mereka lewati, nyatanya itu belum usai.


*


*


*


Dikamar Mawar sedang berdebat debaran sang suami perihal Rasya yang sampai saat ini belum memberikan restu untuk putri mereka. Rasya berbaring ditempat tidur, sedang membaca berita online di gadgednya.


"Apa kamu benar akan terus begini? Apa kamu tidak kasihan melihat putri kita? Turunkanlah keegoisan kamu, Pap. Dia putri kita satu-satunya, dia sedang mengandung anak mereka. Jika kamu menyayanginya maka jangan persulit semuanya." ujar Mawar kesal, menatap Rasya melalui pantulan kaca meja riasnya.


Rasya terus mendiaminya setelah Mahardika merestui Zidan. Rasya masih diam, tak menaggapi ucapannya.


"Pap, aku sedang bicara padamu."


Rasya akhirnya menatap pada istrinya itu.


"Apasih yang sudah anak itu perbuat? Sampai kamu membelanya? Bukan hanya kamu, tapi semuanya. Sayang, seharusnya kamu mendukung ku, aku sudah ada kandidat yang lebih baik dari laki-laki itu, yang bisa menerima keadaan Marsha. Lihat kejadian yang menimpa keluarganya hari ini. Apa kamu tidak takut?"


"Tidak, Zidan berbeda dengan keluarganya, dia anak yang baik, aku bisa merasakan itu."


"Ya, terserah padamu, kamu ibunya. Aku harap dia benar-benar baik seperti apa katamu. Kamu lihat gosip yang terjadi pada artis yang saat ini sedang ramai? Banyak yang menduga dia baik, namun pada akhirnya ini yang terjadi." Rasya menurunkan kakinya, lebih baik dia keluar dari pada harus berdebat dengan sang istri.

__ADS_1


__ADS_2