Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Bukan Malam Pertama


__ADS_3

Setelah acara ijab kabul, tidak lengkap jika tidak ada acara sungkemanya.


"Pap, terima kasih. Apap sudah merestui kami." Marsha memeluk Rasya, tangisnya pecah didalam pelukan Rasya, membuat Rasya tak dapat membendung air matanya.


"Ini sudah menjadi kewajiban Apap, kamu tanggung jawab Apap sampai kapan pun." Rasya menghapus air matanya yang jatuh, lalu mengusap punggung Marsha, mengecup kepala Marsha dari samping. "Jika dia menyakiti mu, kembalilah pada Apap, jangan disimpan sendiri." Marsha mengangguk dalam pelukanya.


"Apap tetap cinta pertama Marsha, sampai kapanpun," ucap Marsha, saat ini hanya itu kata yang mampu ia ucapkan, mewakili perasaanya yang mengatakan jika dia begitu menyayangi Rasya.


Setelah Marsha, kini giliran Zidan yang sungkem pada Rasya. "Terima kasih atas kesediaan anda, Pak. Saya akan menjaga Marsha semampu saya."


"Ingat, aku melakukan ini karena aku menyayangi anakku," ucap Rasya seolah belum iklas akan pernikahan Marsha dan Zidan. "Rumah ku terbuka 24 jam, jika kamu sudah tak mencintainya, kembalikan dia pada ku dalam keadaan utuh dan tak ada luka atau lecet sedikitpun," balas Rasya dingin.


Zidan tersenyum, tak masalah baginya Rasya belum menerimanya, kesediaan Rasya yang sudah mau menjadi wali saja, Zidan sudah sangat senang.


Kini, Rasya beralih pindah sungkem pada Mawar.


"Titip Marsha ya Zidan, dia mungkin berbeda dari wanita kebanyakan, kamu harus banyak bersabar menghadapinya, bimbing dia menjadi istri yang baik. Dan jika dia salah, tegurlah tanpa menyakitinya." Mawar mengusap punggung Zidan.


"Ia tante. Aku sudah meminta Marsha, berarti aku sudah menerima kekurangan dan segala kelebihannya, terima kasih sudah memberi kesempatan untuk kami bersama."


"Mulai sekarang, panggil Amam, seperti Marsha ya. Kamu sudah menjadi suami Marsha, berarti kamu juga sudah menjadi anak kami, begitu juga dengan apap Rasya, kamu harus memanggilnya Apap." Mawar melirik suaminya, Rasya memalingkan muka, tak suka.


"Iya, Mam. Terima kasih."


Saat Marsha akan sungkem pada Valent Xavier, dia terlebih dahulu menatap laki-laki yang dia baru tahu, jika Zidan memiliki kakek lain.


"Apa anda benar Kakek Zidan?" Valent Xavier mengangguk dengan tersenyum kecil. "Tolong terima saya sebagai cucu menantu kesayangan anda, saya memang tidak pintar didapat, tapi percayalah, saya pintar di kasur." ucap Marsha mengerjapkan matanya berkali-kali membuat Valent Xavier jadi tertawa terpingkal-pingkal.


Sungkeman yang seharusnya menjadi haru biru itu menjadi cair karena tawa Valent Xavier, membuat semua menatap padanya, Zidan sampai mengerutkan dahi, penasaran apa yang dibicarakan keduanya.


Marsha tersenyum malu.


Valent Xavier memegangi kedua pundak Marsha. "Kakek akan menjadikan kamu cucu menantu kesayangan Kakek, karena memang kamu menantu cucu satu-satunya di keluarga Xavier. Jika anak kalian lahir nanti, Kakek akan memberikan semua harta waris pada anak kalian."


"Ya, anak kami akan langsung jadi anak sultan, berjejeran dengan para anak sultan yang lainnya."


Valent Xavier semakin merekahkan senyum, Zidan mendapatkan istri yang unik menurutnya.


"Kakek harus sehat terus ya, harus melihat anak kami lahir."


"Iya, pasti."


Tidak mungkin jika pernikahan Marsha dan Zidan tidak dirayakan, walau semua serba mendadak, Zidan melakukan semua sebagai bukti cintanya kepada Marsha, bahkan mahar yang Rasya berikan adalah saham perusahaan miliknya. Dan yang pasti, ini dilakukan untuk menghindari fitnah, walau tamu yang diundang tidak banyak.


Tanpa istirahat, acara resepsi keduanya langsung digelar. Banyak kolega Mahardika yang datang, mengucapkan selamat kepada Rasya dan Mahardika, serta kedua calon mempelai.


Diantara para tamu undangan, ada Matthew yang hadir, dia mengucapkan selamat kepada Marsha dan Zidan.


"Selamat atas pernikahan kalian, saya ikut senang, semoga rumah tangga kalian berbahagia selalu." ucapnya dalam bahasa Inggris.


"Sama-sama Mister, terima kasih doanya, terima kasih sudah mengiklaskan Marsha." Ujar Zidan, tangannya menggenggam tangan Marsha, agar Marsha tak harus berjabat tangan dengan Matthew. Dan itu tak luput dari pandangan Matthew. Matthew paham itu.


"Aku dengar sudah ada Zidan jun1or, apa itu benar?" Zidan hanya tersenyum tipis memandang wanita yang sudah sah menjadi istrinya, Marsha hanya tersenyum malu.

__ADS_1


"Oh kamu hebat, selamat sekali lagi, saya ucapkan." Matthew lah yang tahu peristiwa malam itu, semua karena Misya.


Diluar gedung.


"Axcel, kamu yakin tidak mau masuk?" tanya Alex pada putranya yang sangat kecewa dengan kabar pernikahan Marsha, dia harus dibuat kalah sebelum berperang.


"Aku tunggu di sini saja, Pa." jawabnya malas.


"Oke kalau begitu, tapi kamu yakin tidak ingin melihat seperti apa wajah suami Marsha? Siapa tahu dia tidak lebih tampan dari kamu, apalagi yang Papa dengar dia mantan sekretaris Marsha."


Axcel nampak mempertimbangkan ucapan papanya, benar juga, dia pun sebenarnya penasaran dengan wajah suami Marsha, dia akan melihat setampan apa wajah suami Marsha. Jika mantan bawahan, berarti tak terlalu tampan, disini dia akan membuat Marsha menyesal karena salah memilih suami.


Setelah mempertimbangkan itu, akhirnya Axcel memilih keluar dari mobil untuk ikut bersama papanya, dan melihat langsung wajah suami Marsha. Dengan percaya diri, Axcel merapikan letak jasnya, mengikuti langkah sang Papa.


Kedatangan Axcel dan Alex langsung disambut oleh Mahardika. Dari jauh Rasya yang melihat kedatangan Alex, langsung menghindar, dia berpamitan pada Mawar, jika dia akan ke toilet.


Pandangan Axcel saat masuk sudah pasti langsung mencari letak kedua manusia yang telah sah menjadi sepasang suami istri itu, dan saat melihat siapa suami dari Marsha, Axcel dibuat tak percaya, laki-laki yang dulu menjadi sekretaris Marsha itu ternyata lebih tampan darinya.


Sebagai laki-laki saja dia mengakui ketampanan wajah Zidan, apalagi wanita. Rasa percaya yang tadinya melambung setinggi langit, kini harus terjun bebas kedasar bumi.


"Pa, kita jangan lama-lama disini, aku mau ke stan minuman, papa kalau mau mengucapkan selamat kepada mereka, silahkan, aku tidak ikut." bisik Axcel lagi pada Alex.


"Kenapa?"


"Malas." jawab Axcel berlalu pergi, meninggalkan papanya yang sedang berbicara pada Mahardika.


Rasya harus menyesal karena telah meninggalkan Mawar sendiri menyambut para tamunya, dia lupa jika Alex adalah seoarang duda kurang belaian. Alex yang memang jarang melihat Mawar, tampak terpesona dengan kecantikan Mawar yang sudah tak muda tapi masih terlihat cantik itu.


Mawar berusaha menarik tanganya dari Alex. "Amiin, terima kasih." jawab Mawar sekenanya, dia yang jarang berintraksi dengan orang luar, tentu terganggu. "Pak, maaf." ujarnya lagi, berusaha menarik tanganya.


Marsha dan Zidan sedang duduk, sebab Marsha merasa lelah, Zidan sedang memijat kaki wanita yang sudah menjadi istrinya, jadi tak memperhatikan Mawar.


"Di mana Pak, Rasya?" Alex seolah tuli, dan tak menghiraukan Mawar yang mulai tak nyaman. Dari jauh Abdi merekam momen itu, dan mengirimnya pada Rasya.


"Kalo bisa jangan balik lagi ya, biar Mawar kepincut duda." Abdi terkekeh setelah mengirimnya pada Rasya.


"Kenapa mas?" tanya Indah melihat gelagat sang suami.


"Noh lihat, kemana coba yang punya hajat?" tunjuk Abdi dengan dagunya, Indah mengikuti arah yang ditunjuk Abdi.


Tapi Alex sudah melepas jabatan tanganya walau masih mengajak Mawar berbincang. Memang tamu yang diundang tak banyak, hanya kolega terdekat saja, jadi Alex bisa berbicara santai.


"Memang dia siapa?" tanya Indah lagi yang tak mengerti maksud Abdi. Abdi pun menunjukkan video yang tadi diambilnya, Indah melihat dengan seksama. "Ish kamu ini mas, mba Mawar pasti nggak nyaman itu, bukannya dibantuin ih," Indah hendak melangkah, tapi Rasya nampak sudah datang.


"Yang punya sudah datang sayang, kita lihat dramanya." Bisik Abdi terkekeh, Indah menurut. Mereka melihat Rasya yang menarik istrinya kebelakang tubuhnya.


"Maaf Pak Alex, istri saya sedang hamil, jadi dia harus istirahat, saya baru memesan kamar untuk kami." Itulah yang Rasya katakan, sontak Mawar melihatnya terkejut dengan mata terbelalak.


"Apa?" begitu juga dengan Alex, dia begitu syok mendengar pengakuan Rasya yang mengada-ngada. Dia menatap Rasya dan Mawar bergantian.


"Jadi kami dapat cucu dan anak secara bersamaan?" ucap Rasya tanpa malu, tersenyum pada Alex, dia bahkan lupa jika malu bertemu Alex, karena usaha akan menjodohkan Marsha dan Axcel gagal.


* * *

__ADS_1


Acara resepsi pun selesai, tersisa keluarga besar Marsha, dan beberapa kolega yang masih berbincang dengan Mahardika.


"Sayang, ayo kita istirahat duluan saja, kamu pasti sudah kelelahan." Ajak Zidan pada istrinya.


Marsha mengangguk. "Kita pamit sama Apap dan Amam dulu."


Zidan menggandeng tangan Marsha menghampiri Rasya yang masih mengobrol dengan Abdi dan Indah.


"Pap, Mam, Ayah, Bunda, kita pamit istirahat duluan ya." Ucap Marsha.


Semua membalikkan badan melihat pada kedatangan Marsha dan Zidan.


"Iya sayang, kamu jangan sampai kelelahan, kasihan baby kamu." sahut Indah, kemudian memeluk Marsha. "Selamat ya sayang, semoga keluarga kalian diberikan kebahagiaan selalu."


"Terima kasih, Bun."


"Kamu mau kado apa?" tawar Abdi.


"Mobil mewah, boleh?" jawab Marsha tanpa pikir panjang, Abdi tergelak.


"Besok Ayah kasih kuncinya."


"Buat apa kuncinya saja?" cebik Marsha.


"Sama nota cicilannya."


"Ayahhhh." rengek Marsha manja, Zidan sudah tahu ini, Marsha sangat manja pada keluarganya.


Tiba-tiba Rasya berdehem, membuat suasana riang menjadi sunyi. Tatapan pun tertuju padanya, menatap penasaran, apa yang ingin diucapkan Rasya.


"Apa kamu tidak pulang bersama kami, sayang?" tanya Rasya ragu.


"Kayak nggak pernah muda aja." sindir Abdi, "sudah kalian kembalilah ke kamar, bapak tua ini masih tidak bisa menerima kenyataan."


Rasya hanya bisa pasrah, walau masih sulit menerima hukum alam, jika anak perempuan akan dibawa oleh suaminya, hanya saja ini terlalu cepat untuknya.


Zidan dan Marsha pun berlalu meninggalkan keluarganya. Saat memasuki lift, tanpa aba-aba Zidan langsung menggendong Marsha ala bridal style.


"Awww Zidan!" pekik Marsha terkejut.


"Aku tidak menahan ingin gendong kamu dari tadi." Zidan menunduk, mendaratkan bibirnya di bibir Marsha. Marsha mengalungkan tanganya dileher Zidan.


"Aku akan hukum kamu, karena udah tipu aku, Zidan."


"Aku siap menerima hukuman apapun dari kamu, Miss." Suara lift berdenting, Zidan tak ingin menurunkan Marsha, sampai depan pintu kamar mereka, Zidan menempelkan kartu aksesnya, mendorong pintu dengan ujung sepatunya.


Cepat Zidan menutup pintu, menurunkan Marsha, Zidan mendorong Marsha hingga punggungnya membentur daun pintu, Zidan mengangkat kedua tangan Marsha keatas, menguncinya. Lalu dia memberikan ciuman kecil, Marsha pasrah dan suka dengan yang Zidan lakukan, Zidan melakukannya dengan begitu lembut, tidak terburu-buru.


Ciuman kecil Zidan yang lembut itu lama kelamaan menjadi ciuman panas, suara cecapan yang berasal dari bibir keduanya pun terdengar merdu, bagaikan irama tanpa musik. Zidan semakin liar, masih mengunci tangan Marsha diatas, ciumanya perlahan turun ke leher jenjang putih Marsha, Marsha mendongak, memberi akses dan mempermudah Zidan melakukan aksinya, sementara satu tangan Zidan mengunci tangan Marsha, satu tangannya sudah bermain di salah satu gunung kembar milik Marsha, membuat Marsha mend3sah.


"Zidannn, eungghhh." Mendengar suara lembut Marsha, Zidan makin terpancing, dia pun semakin menekan tanganya, merem4s lembut benda kenyal itu.


"Iya sayang, sebut namaku lagi."

__ADS_1


__ADS_2