
Setelah malam perhelatan ulang tahun televisinya, kini gosip kedekatan Marsha dan penyanyi duda kharismatik itu telah menyebar. Marsha tak mempermasalahkan itu, sebab semakin banyak gosip tentang dirinya, akan semakin dikenal juga dirinya, itu bagus untuk bisnis dan usahanya.
Marsha meletakkan tablet diatas meja, kemudian dia melihat melalui kaca ruanganya Zidan yang sedang berbincang dengan seorang wanita berambut pulm bergelombang bak seorang idol k-pop.
Keduanya nampak sedang berbincang asyik.
"Pak Zidan suka makanan apa? Nanti Rosa bawain untuk sarapan pak Zidan." Rosa seorang pegawai dari divisi marketing menghampiri Zidan.
Zidan menaggapi dengan tawa renyah "Tidak usah repot-repot Bu Rosa, saya biasa sarapan nasi uduk," Zidan menjawab apa adanya, karena memang selama tinggal dikontrakan barunya, Zidan lebih membeli nasi uduk milik nenek didepan gangnya
"Pak Zidan ini sederhana sekali, ganteng tapi nggak pemilih, yaudah saya balik ke ruangan saya dulu ya Pak, besok saya bawain nasi uduk yang enak. Terimakasih buat bunganya kemarin, dan semoga suka kopi buatan saya, selamat pagi Pak, selamat bekerja." Zidan hanya mengangguk sebab merasa tak enak. Keduanya dibuat terkejut saat melihat Marsha sudah berdiri diambang pintu dengan tangan dilipat didepan dada.
"Miss." Rosa menundukkan kepala hormat, seketika rasanya darah tak lagi mengalir ditubuhnya ditatap tajam oleh sang bos.
"Ngapain kamu disini? Bukannya kamu dari divisi pemasaran ya?" Tanyanya ketus sangat mengintimidasi.
"Sa-"
"Dia hanya mengantarkan kopi untuk saya Miss, sebab bunga yang kemarin, saya berikan sama Bu Rosa." potong Zidan menjelaskan, tak tega melihat wajah pucat Rosa yang ketakutan.
"Saya permisi Miss." Rosa berlalu dan langsung menuju ruanganya yang masih satu lantai dengan Zidan dan Marsha.
Marsha mendengus pada Zidan, kemudian dia kembali masuk keruanganya, diikuti Zidan yang akan membacakan agendanya hari ini.
"Saya tidak suka ya Zidan, jam kerja dipakai untuk berpacaran, kamu saya bayar mahal disini, jadi jangan makan gaji buta."
"Saya tidak makan gaji buta Miss, hanya berbincang sebentar, lagian dia juga memberikan laporan hasil penjualan otomotif dua bulan belakangan."
Marsha membaca hasil penjualan yang diberikan Zidan, senyumnya mengembang seketika, karena hasil penjualan itu semakin meningkat.
__ADS_1
"Semakin banyak aku membuat skandal, maka akan semakin meningkat hasil penjualan ku."
Zidan mengerutkan keningnya "Maksud anda Miss?"
"Aduhhh Zidan, di Indonesia itu, semakin banyak skandal yang kita buat, maka akan semakin terkenal, itu sangat menguntungkan untuk ku dan perusahaan."
"Dan anda bangga akan hal itu Miss?"
"Tentu, lihat ini," Marsha menunjukkan tablet pada Zidan, "namaku terletak paling atas disitus pencarian. 'Mengenal lebih dekat, Marsha Mahardika, pengusaha muda, penerus Mahardika corp. Yang menjadi pasangan penyanyi berkharismatik." Tunjuknya dengan bangga atas gosip kedekatan antara dirinya dan penyanyi duda bersuara emas itu.
"Ya, lakukan yang menurut anda bagus Miss."
Jadwal Marsha hari ini tidak terlalu padat, jadi Marsha pulang lebih awal, karena dia merasakan tubuhnya yang kembali kurang fit. Hal ini menjadi kesempatan kakek Zidan untuk mempertemukan Zidan pada gadis yang akan dijodohkanya.
"Iya Kek," angkat Zidan telepon dari sang kakek.
"Jika kamu punya waktu luang, temui gadis yang pernah kakek ceritakan padamu Zidan, hari ini dia akan menunggu kamu direstoran keluarga kita." Ujar sang kakek dari seberang. Dia harus mengambil langkah cepat, sebelum Zidan berpindah hati pada Marsha.
"Kakek tahu kamu tidak pernah mengecewakan Kakek Zidan, maka temuilah dia jam empat sore nanti. Kakek jamin kamu tidak akan kecewa dengan pilihan Kakek."
Dengan sangat berat hati Zidan mengikuti keinginan kakeknya, entahlah, mengapa kini dia tidak lagi bersemangat untuk menemui gadis yang dipilihkan kakek. Dan kembali hati Zidan seperti dibuat mencelus, ketika Marsha dijemput oleh pengusaha Jerman itu.
"Gigih sekali dia mendekati Marsha, padahal kemarin bunganya saja tidak diterima," Zidan mengepalkan tangannya "akan aku hancurkan semua rencananya mendekati Marsha."
Niat jahat itu bukan karena cemburu, tapi karena tujuannya menjadi sekretaris Marsha adalah agar gadis itu jatuh kepelukanya, namun sayang, sang kakek telah membuat janji agar dia menemui gadis yang akan dijodohkan dengannya.
"Maaf Mister, saya harap anda segera mengantarkan Miss Marsha pulang kerumahnya, sebab Miss Marsha sedang tidak enak badan." Zidan mengingatkan Matthew sebelum mobilnya melaju membawa Marsha, kemudian Zidan melirik Marsha yang menatap sendu padanya.
"Really sweety?" Matthew terkesiap, dia segera menempelkan telapak tangannya pada kening Marsha. "Oke, kamu harus istirahat, apa kita akan kerumah sakit?"
__ADS_1
"Tidak perlu Matt, aku sudah berobat." Mobil Matthew berlalu dari hadapan Zidan, tak lama ada pesan masuk diponselnya.
"Aku akan memberimu bonus Zidan, karena aku tidak menyukai Matthew."
Tanpa disadari, sudut bibir Zidan tertarik saat membaca pesan yang dikirim oleh bos galaknya.
Zidan memasuki restoran bergaya arab itu, doa langsung menuju tempat yang telah dikirim sang kakek. Matanya bersirobok pada mata bening milik wanita cantik yang sedang duduk memegang ponselnya. Gadis itu berdiri menyembut kedatangan Zidan, matanya tak berkedip sedikitpun melihat ketampanan wajah Zidan.
"Maaf, apa kamu yang membuat janji dengan kakek saya." ucapan Zidan membuyarkan lamunan gadis itu.
"Ahh iya, saya Misya." Gadis itu mengulurkan tangannya.
"Zidan," Zidan menyambut uluran tangan gadis itu, "maaf menunggu lama."
"Tidak, saya juga baru sampai."
Zidan langsung menilai gadis yang ada dihadapanya, dia tiba-tiba saja membandingkan gadis ini pada bos-nya. Marsha yang terkesan garang, berpenampilan seksi, tapi paling anti berjabat tangan dengan lawan jenis, ya hanya semalam dia melihat Marsha begitu intim dengan laki-laki penyanyi itu, karena akan membuat skandal. Sedang gadis bernama Misya ini, terlihat kalem, feminim, tapi dia mudah berjabat tangan dengan lawan jenis yang baru dikenalnya.
Obrolan mereka mengalir begitu saja dan terkesan biasa-biasa saja, Zidan tak merasa ada yang spesial dari wanita ini, tak ada debaran dihatinya, padahal Misya termasuk kriteria gadis idamanya selama ini, kalem, manis, bertutur kata lemah lembut.
"Terima kasih Zidan sudah mengantar aku pulang." Ucap Misya setelah turun dari mobil yang dibawa Zidan.
"Tidak apa-apa Misya, ini memang sudah tanggung jawab laki-laki."
"Hati-hati ya." Ucap Misya tulus.
"Kamu tidak masuk? Aku akan pulang setelah kamu masuk." Zidan memperlakukan Misya seolah dia perhatian, dan itu berhasil membuat Misya mengartikan, jika Zidan menyukai pertemuan mereka.
Misya melipat bibir menahan senyum, jangan sampai Zidan melihat raut bahagianya. Kemudian dia mengangguk, dan berbalik masuk kerumahnya. Setelah menutup pintu rumah, Misya mengintip mobil Zidan yang sudah berlalu, dia memegangi dadanya yang berdebar kencang.
__ADS_1
"Gila, jantung tolong kondisikan, Zidan lebih tampan dari yang aku bayangin."
"Ehem." Suara berat itu mengagetkan Misya.