
Jam sepuluh pagi Mawar, Rasya, Abdi dan Indah berkunjung kerumah Marsha untuk pertama kalinya, semenjak Marsha pindah kerumah hadiah dari Valent Xavier. Bukan hanya pada Zidan Rasya bersikap dingin, tapi juga pada Valent, sang kakek.
Untung semalam Valent sudah bertemu dengan Mahardika, dan memberitahu sifat Rasya. Siapapun yang pernah menyakiti anak perempuannya, entah siapapun itu, orang disekelilingnya pasti akan ikut kena imbasnya. Temasuk Valent, bersalaman pada Valent saja hanya bersentuhan ujung jari dan tak memandang wajahnya.
Marsha begitu senang melihat kedatangan keluarganya, sambil memegang perutnya dia turun dari tangga dengan sangat hati-hati. Hat berdenyut, antara senang dan haru melihat wajah Marsha yang semakin terlihat cantik dan bersinar diusia kandungannya yang mendekati hari kelahirannya. Dia yang sudah duduk di sofa berdiri, mengayunkan kaki menghampiri putrinya.
"Hati-hati," ujarnya lembut menyambut tangan Marsha lalu mengecup keningnya, mengacak rambut Marsha penuh kasih sayang seperti Marsha kecilnya dulu. Kasih sayang seorang ayah yang tak akan pudar meski anaknya kini telah menikah, dia hanya membenci suaminya, bukan anaknya.
Dengan sangat penuh kasih sayang, Rasya membawa Marsha duduk di sofa. Banyak obrolan dan apapun Rasya tanyakan.
"Kamu betah disini, sayang? kamu tidak biasa tinggal dirumah kelinci seperti ini."
Semua yang ada disana sontak menatap Rasya, mendengar ucapannya yang seperti menghina rumah hadiah pemberian pak Valent pada Marsha.
"Apap kalau ngomong suka nggak dipikir dulu ih, kalo di dengar pak Valent nggak enak. Ini hadiah istimewa, kamu sebagai ayah kandung aja nggak ngasih apa-apa."
"Bukan nggak ngasih Mam, belum," ujar Rasya membela diri, "kalau mau, aku bisa ngasih semua yang aku miliki, tapi aku nggak mau laki-laki itu menikmati harta anakku, dia harus berusaha dulu."
Semuanya memutar bola mata malas atas ucapan Rasya yang tak mau mengalah.
"Umur segini emang lagi lucu-lucunya," sahut Abdi menggeleng kecil, " nggak mau mengakui kelebihan orang lain." Abdi beranjak, dari pada Rasya makin bicara yang tidak-tidak lebih baik dia mengajak Rasya melihat-lihat rumah bak istana pemberian Valent ini. Pada awalnya Rasya menolak, namun karena tak ada yang membelanya, diapun menurut juga.
"Apa kegiatan kamu jika dirumah, sayang? Sudah mulai senam hamil belum?" tanya Indah seraya menyuapi Marsha buah.
"Aku ngobrol-ngobrol aja sama kakek, nemenin kakek. Kalo senam hamil, nggak usahlah Bun, kalo susah lahiran kan tinggal operasi."
"Hush kalo ngomong, dimana-mana impian perempuan itu hamil normal sayang. Harusnya mulai sekarang kamu mulai senam hamil, biar bisa lahiran normal." Mawar yang menjawab.
"Kan enakan operasi Mam, enak nggak ngerasain mules." jawab Marsha enteng.
"Udahanya nggak enak, sayang. Banyak pantanganya, kata siapa operasi itu enak? Sesudah operasi justru banyak merasakan sakitnya."
"Amam sok tahu, emang Amam pernah operasi, paling juga cuma dari baca buku kan?"
"Bukan cuma dari baca buku, tapi Bunda mengalami dulu, jadi Amam juga tahu dari cerita Bunda," timpal Indah memberitahu. "Banyak orang bilang, wanita itu belum sempurna kalau belum lahiran normal, itu salah. Padahal semua wanita itu sempurna, hamil tidak hamil. Apalagi yang sampai operasi, mereka juga sama merasakan sakit, malah melebihi wanita yang lahiran normal." Marsha menganggukkan kepala saja, mau menjawab lagi juga dia sangat menjaga perasaan Indah.
"Jam makan siang, kamu nggak pernah bawain Zidan makan siang?" tanya Mawar lagi. Marsha menggeleng. "Selama menikah sama dia, kamu nggak pernah melayani dia, masakin atau apa gitu?"
"Zidan nggak pernah nuntut apa-apa Mam. Dari awal pernikahan kita udah sepakat, Zidan nggak boleh nuntut Marsha harus pintar masak, lagian sama saja, yang penting Marsha pintar memesan, tinggal pencet makanan sampai. Eh salah, yang penting Marsha pintar dikasur, itu poin penting."
"Tapi kamu juga nggak boleh lengah ya, zaman sekarang diluar sana, wanita lebih tertarik pada suami orang dari pada laki-laki single. Dan mereka memikat melalui lambung suami kamu."
"Labih kuat mana? Yang hebat memuaskan lambung, atau yang hebat memuaskan diatas kasur?" Mawar dan Insah hanya bisa saling pandang atas pertanyaan ajaib Marsha.
Kalau menurut kalian, lebih hebat mana, jen?
__ADS_1
Mendengar nasihat dari Bunda dan Amamnya, Marsha jadi berpikir keras, ada benarnya juga yang dikatakan keduanya, walau dalam hatinya menyangkal Zidan tidak akan berpaling darinya, nyatanya hatinya tak tenang. Marsha langsung mengusir orang tuanya pulang, karena dia akan ke kantor Zidan.
* * *
Dengan diantar supir yang diberikan Valent, Marsha sampai dikantor Zidan, sang supir nampak memberitahukan sesuatu pada resepsionis, dan resepsionis itu langsung keluar dari balik meja kerjanya menyalami Marsha, diapun mengantarkan Marsha menuju ruangan Zidan.
"Kebetulan pak Zidan baru pulang dari makan siang diluar bersama sekretarisnya, Miss." beri tahu sang resepsionis itu setelah menempelkan kartu akses menuju lift.
"Sekretaris?" Marsha bertanya dengan menautkan kedua alisnya.
"Iya," jawab resepsionis itu santai, tak melihat perubahan raut tak suka pada wajah Marsha.
Tak ingin banyak bertanya dan menunjukkan jika dia tidak suka akan hal ini, Marsha diam menunggu lift tiba mengantarkanya keruangan Zidan. Dadanya jadi bergemuruh, berharap sekretaris Zidan bukanlah wanita seksi nan cantik, tapi sekretaris suaminya itu laki-laki.
Resepsionis itu mengantarkan Marsha sampai didepan ruangan Zidan, kemudian dia pamit untuk kembali ketempatnya.
Tada sekretaris Zidan dimejanya, Marsha mendengus, dari mejanya saja dia sudah bisa memastikan jika sekretaris Marsha adalah seorang perempuan.
"Semoga dia perempuan baik-baik." monolog Marsha coba menenangkan hatinya yang semakin tidak tenang.
Ceklek.
Dua orang yang ada didalam ruangan itu sama-sama mendongak, melihat pintu ruangan yang terbuka. Sungguh sambutan pertama yang cukup berkesan bagi Marsha, dimana Susan yang berdiri disebelah Zidan sedang menunduk nampak sedang menjelaskan sesuatu, namun ada pemandangan yang membuat dada Marsha semakin panas, dimana kemeja yang dikenakan Susan adalah kemeja yang muat untuk anak usia balita, sehingga memperlihatkan belahan dadanya.
"Sayang, kamu datang? Aku senang sekali kamu mau berkunjung ke kantor ku." Zidan langsung memeluk tubuh Marsha yang mendadak kaku seperti patung. "Aku kayak mimpi kamu kesini."
Zidan melerai pelukanya, mencium kening Marsha, dan melumàt bibir Marsha sekilas, lupa jika ada sekretarisnya, satu hal yang tidak orang ketahui dari Zidan yaitu, setiap saat yang ada dalam pikiran Zidan adalah pergulatan panasnya dengan sang istri.
Zidan menuntun Marsha untuk duduk disofa, menggandeng pinggangnya posesif, hal itu ditangkap Susan, dia kesal sekali melihatnya.
"Kamu diantar supir kan?" tanyanya sambil membuka jas kerjanya, Marsha hanya mengangguk tanpa membuka suara, Zidan tersenyum, menunduk mengecup perut Marsha yang sudah sangat besar.
"Gimana anak daddy hari ini? baik-baik aja kan? Daddy seneng banget kalian kesini." Zidan mendongak, dari sini dia baru menyadari jika Marsha sedang menatap tajam sekretarisnya.
Zidan duduk disamping Marsha. "Sayang, dia Susan sekretaris aku. Kamu baru pertama kan kesini, dan belum kenal dia?"
Marsha hanya mengangguk, menatap penampilan Susan dari atas hingga bawah dengan tatapan meremehkan, tatapannya pada seseorang yang tak ia suka.
"Kamu mau makanan apa sayang? Biar sekretaris aku ambilkan."
Marsha berpindah menatap Zidan.
"Rujak boleh?"
"Boleh donk."
__ADS_1
"Tadi kita lewat pasar, nggak sengaja aku lihat rujak, mau berhenti tapi malas." Nyengir menunjukkan muka puppy eyesnya jika meminta sesuatu, Zidan tertawa kecil, selalu gemas melihat istrinya seperti itu.
"Itu aja, kamu udah makan siang?"
"Udah, tadi bareng Amam dan Bunda, Apap dan Ayah juga."
"Mereka datang?" Marsha mengangguk. Zidan menoleh pada Susan. "Susan, bisa belikan rujak untuk istri saya?"
Tak berani menolak, karena dia harus terlihat selalu patuh pada Zidan, Susan mengangguk walau dalam hatinya ngedumel.
"Baik Pak," jawab Susan membungkukkan badan hormat, dan berpamitan, namun sebelumnya dia saling balas lirikan dengan Marsha.
"Dia udah lama jadi sekretaris kamu?" tanya Marsha setelah Susan pergi.
Zisan nampak berpikir. "Lumayan, semenjak hotel ini buka. Kenapa?"
"Bisa nggak pakainya biasa aja, rasanya pengen aku gunting-gunting, itu lebih cocok dipakai anak Tk tau."
"Iya, nanti aku tegur dia."
"Dia sudah bersuami?"
"Kayaknya belum." Zidan merebahkan tubuhnya dipangkuan Marsha.
"Kamu lagi nyantai? Tadi kayaknya serius banget, lagi bahas apa sih? sampe nempel gitu, itu dadanya nggak kena lengan kamu? Apa kamu justru keenakan empuk-empuk nempel gitu, gesek-gesek."
Zidan terkekeh mendengar omelan istrinya. "Astaga Marsha, nggak lah sayang. Tadi lagi bahas masalah dana, sepertinya ada penyelewengan dari pihak pengembang."
"Aku nggak suka lihatnya, kalian terlalu dekat." ucap Marsha memberengutkan wajahnya. Bibir Zidan terangkat membentuk lengkungan mendengar itu, dia suka Marsha menunjukkan kecemburuanya, berarti Marsha sudah mulai mencintainya.
"Kenapa senyum, aku lagi nggak ngajak kamu senyum, aku lagi marah."
"Aku suka kamu cemburu begini, makin cantik, makin gemesin." Wajah Marsha memanas mendapat pujian dari suaminya, dan itu semakin membuat Zidan menyukai Marsha, setiap hari dia merasakan jatuh cinta pada istrinya itu.
Tak lama Susan kembali, dia nampak ngos-ngosan dan berkeringat, wajahnya terlihat merah karena terpaan sinar matahari karena harus mengantri membeli rujak, belum lagi bau ketek orang-orang yang berada disampingnya. Dan lagi dia juga dia tak menyukai pasar.
Susan menyerahkan sterofoam dihadapan Marsha dengan wajah dibuat seramah mungkin.
"Aku pengen jus yang di pasar juga, tadi lupa mau bilang, kamu bisakan beliin lagi, anak aku pengen itu soalnya." ucap Marsha pada Susan, Susan memutar bola matanya jengah.
"Boleh kan Zidan, kalian lagi nggak sibuk kan?" Marsha mengusap lembut rambut Zidan yang masih setia tiduran dipangkuanya. Susan kesal bukan main melihat itu.
"Tolong ya Susan beliin lagi," perintah Zidan menuruti permintaan istrinya, "kita meeting juga masih dua jam lagi."
Susan mengepalkan tangannya menahan geram, Marsha sengaja mengerjainya. Menarik nafas panjang, mau tak mau Susan harus menuruti titah atasan.
__ADS_1