
Pagi menyapa. Marsha menggeliat, merentangkan tanganya keatas, menutup mulut saat sisa kantuk masih menyerang, kemudian menyapa anak yang masih ada didalam perutnya.
"Good morning cute baby." Marsha mengusap perutnya, "happy good day, jangan minta masakan dady dulu ya, kita belum bisa bersama, kita harus bisa makan apa saja, sabar okey." Sudah menjadi kebiasaannya setiap bangun tidur mengajak anaknya berkomunikasi, agar memiliki ikatan batin yang kuat.
Namun semangat pagi itu harus kembali melempem tatkala ia mengingat pernikahnya dengan Zidan harus kembali ditunda.
Tapi apa mau dikata, dia juga tak bisa memaksakan semuanya, situasi Zidan saat ini sedang tidak baik-baik saja, laki-laki itu sedang kembali diuji melalui keluarganya, Marsha berharap tidak akan ada hal besar lagi yang terjadi, karena kebanyakan cerita, menuju hari bahagia itu akan ada banyak ujian, baik itu ujian kecil ataupun besar, jika memang berjodoh akan berlanjut, namun jika tidak berjodoh, ya dia harus menelan pil pahit itu. Dan mungkin juga Tuhan sedang memberi kesempatan untuk mereka mendapat restu dari sang papa, Rasya.
Marsha memeriksa ponselnya, tak ada pesan yang Zidan kirim, membuat dia menghembuskan nafas kasar. "Hei Marsha, kamu bukan anak abege, kenapa berharap Zidan akan menelepon mu." Tapi diusia Marsha yang penuh kelabilan berpikir, jika memang dia diharapkan, sesibuk apapun Zidan seharusnya mengabarinya.
"Ini yang membuat aku benci yang namanya jatuh cinta." Gumam Marsha pada dirinya sendiri, sesuatu yang sangat dia hindari, tapi itu datang pada dirinya, dan dia harus terjebak dengan banyak masalah bersama Zidan.
"Jika saja aku bisa memutar waktu." lirihnya lagi mengingat setelah kebersamaannya bersama Zidan, banyak sekali masalah yang menimpanya.
Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Marsha harus berjalan membukakan pintu.
"Pagi sayang." Sapa Mawar membawa sepiring mi instan dan segelas air putih. Mawar nampak begitu terlihat bahagia, Marsha jadi begitu takut mengatakan jika Zidan kembali menunda pernikahan mereka.
"Ayo, kamu harus sarapan, kita akan kesuatu tempat."
Marsha nampak mengerutkan keningnya dalam. "Mau kemana Mam?"
"Mencoba gaun untuk pernikahan kamu, apalagi?" jawab Mawar begitu antusias sambil menyuapkan mi instan yang dia bawa tadi, membuat Marsha semakin takut. Mawar membuka mulut menerima suapan sang mama.
"Ini Amam yang buat? rasanya enak." ucap Marsha disela kunyahanya, baru kali ini dia bisa menerima mi instan buatan selain buatan Zidan, dan anaknya juga menerimanya, terbukti dia tidak mual, apa karena dia sudah bertemu Zidan? Entahlah yang terpenting sekarang dia tidak harus tersiksa dengan ngidamnya yang aneh tapi nyata itu.
Mawar mengangguk. "Kalau enak habiskan, kita akan banyak acara hari ini."
"Banyak acara?" tanya Marsha mengerutkan kening, "acara apa, Mam? Marsha sedang tidak mau kemana-mana."
"Persiapan pernikahan kamu sayang."
Marsha sebenarnya tak tahan, ingin dia berkata jujur, tapi dia sudah membuat sang amam sedih dengan kepergiannya beberapa bulan yang lalu, namun tak apa untuk hari ini, dia tak ingin merusak kebahagiaan amamnya. Setelah pulang nanti, dia akan memberi tahu yang sesungguhnya, hingga sepiring mi itu habis, Mawar menyuruh Marsha untuk segera membersihkan diri dan bersiap.
Mereka nyatanya tidak hanya berdua, Indah sang bunda juga ikut menemani.
"Bunda juga ikut?" terkesiap Marsha, melihat Indah sedang berbincang dengan Mawar diruang keluarga. Kedua wanita cantik itu menoleh kearahnya yang menuruni anak tangga.
Indah berdiri menghampiri Marsha. "Iya donk sayang, Bunda harus ikut, ini momen seumur hidup sekali, walau hanya mencoba gaun, Bunda harus memastikan yang kamu pakai yang terbaik." ucap Indah dengan benar bahagia yang sangat terlihat jelas diwajahnya, Indah menggandeng Marsha.
"Kita langsung jalan saja, yuk Mam." ujar Indah.
Mereka bertiga berjalan bersama menuju mobil yang sudah disiapkan didepan.
Lagi-lagi Marsha semakin dibuat takut, takut mengecewakan kedua wanita yang begitu berharga dalam hidupnya, ingin rasanya Marsha memaki dan memarahi Zidan saat ini juga.
Selama perjalanan menuju butik Mawar dan Indah kembali membahas gaun yang mereka lihat di majalah tadi, mereka menunjukkan pilihannya pada Marsha, Marsha hanya meringis, dia menjawab akan menentukan pilihannya jika sudah mencoba kedua gaun pilihan Amam dan bundanya.
Ternyata kebawelan keduanya belum berhenti di situ, keduanya juga membahas sepatu dan bentuk rambut yang cocok untuk Marsha. Kepala Marsha rasanya ingin pecah saja, bukan masalah kebawelan Indah dan Mawar, tapi justru dia takut keduanya akan kecewa saat tahu ternyata Zidan menunda pernikahan mereka.
Setelah sampai dibutik yang mereka tuju, Marsha mencoba gaun pilihan Mawar dan Indah, namun Marsha tidak menyukai pilihan keduanya, pilihan keduanya terlalu sederhana menurutnya. Sedang Marsha menyukai gaun yang terlihat glamour bertabur swarovski.
Dan secara kebetulan, di butik itu menyediakan gaun yang dia inginkan dan begitu pas ditubuhnya, beruntung perutnya belum membesar, jadi tak terlihat jika dia tengah berbadan dua.
__ADS_1
Gaun berwarna putih dengan banyaknya taburan mutiara dari atas hingga bawah, dan memiliki memancarkan cahaya berkilauan, menunjukkan jati diri Marsha yang memang suka menjadi pusat perhatian itu, menjadi pilihan Marsha.
"I'm so sorry, Mam, Bunda, ini pilihan ku."
"Tidak apa-apa sayang, ini hari bahagia mu, pakai yang mana kamu suka," ucap Indah mengusap pundaknya. Marsha tersenyum lebar. Bukan hanya Marsha yang mencoba pakaian, Mawar dan Indah juga mengganti pakaian yang mereka kenakan tadi.
"Amam dan Bunda juga mencoba pakaian yang akan dipakai dipernikahan Marsha nanti?"
"Iya, sekalian." Indah menjawab.
Setelahnya Marsha ingin mengganti lagi gaun itu, namun Mawar dan Indah mencegahnya.
"Jangan dilepas sayang," cegah keduanya bersamaan.
"Why?"
"Kita harus mencocokkan dengan gaya rambutnya."
Marsha dengan pasrah menuruti keinginan keduanya. Dan untuk pilihan rambut, Marsha memilih hanya dicepol biasa ditambah mahkota kecil yang berkilau seperti gaunya. Untuk sepatu sendiri, ini tak terlalu repot, karena tertutupi oleh gaun, dan memilih yang tak berhak tinggi demi keamanan Marsha.
Disela-sela kesibukannya, Marsha kembali mengecek ponselnya, tak ada pesan atau telepon dari Zidan, membuat Marsha lama-kelamaan menjadi kesal.
Apa sebenarnya yang sedang Zidan lakukan? Dari semalam tak ada kabar.
"Cantik, kamu sangat cantik sayang," puji Mawar dengan mata berkaca-kaca menatap pantulan cantik Marsha dari kaca besar dihadapanya, menyadarkan lamunan Marsha. Walau pernikahan Marsha tak jauh berbeda dengannya yang mendadak, tapi Marsha bisa menentukan pilihan gaun yang ia suka.
Mawar mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh. "Tidak apa-apa, Amam terlalu bahagia melihat anak Amam sangat cantik." Marsha berdiri berbalik menghapus air mata Mawar.
"Kalau bahagia itu tersenyum, Mam. Bukan menangis." Marsha menarik sudut bibir Mawar, membentuk senyuman. Bukan mereda, tangis Mawar justru bertambah pecah, Marsha langsung memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya kedunia itu, mengusap punggungnya dan mengucap banyak kata maaf, Indah ikut menangis dibuatnya, dan ikut memeluk keduanya.
* * *
Pukul 13.00
Ketiga wanita cantik berbeda generasi itu selesai dengan acara kerempongannya hari ini. Tanpa mengganti gaun, dan masih mengenakan semua yang tadi di coba, mereka pulang.
Diperjalanan, Marsha kembali melihat ponselnya, berharap ada pesan dari Zidan, namun sama saja, tak ada. Sampai kemudian Marsha mengangkat kepalanya, menatap jalanan, Marsha menyadari jika ini bukan arah rumah mereka.
"Kita mau kemana?" tanya Marsha mulai curiga, menatap Mawar dan Indah yang duduk disebelah kiri dan kananya.
"Ke tempat tujuan terakhir kita." Jawab Mawar, dia mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat Indah, mereka saling melempar senyum.
"Where to?"
"Rahasia." Jawab Mawar dan Indah kompak, membuat Marsha memikirkan satu hal.
Apa Zidan?
Belum selesai dengan tebakanya, mobil yang membawanya berhenti, Marsha langsung mencondongkan tubuhnya untuk melihat keluar, setelah apa yang dilihatnya, Marsha kembali duduk.
"Mam, Bunda-"
__ADS_1
"Iya, ayo kita turun," ujar Indah memotong yang ingin Marsha tanyakan, namun sudah cukup menjawab pertanyaannya.
Dengan mata berkaca-kaca, Marsha keluar dari mobil, disana semua keluarga besarnya sudah menunggu, diiringi kedua wanita yang menjadi orang tuanya itu, Marsha berjalan memasuki ballroom hotel.
Langkahnya semakin pasti, hingga Marsha tiba didepan pintu masuk ballroom, pintu besar itu terbuka, Marsha semakin melangkahkan kakinya dengan perasaan yang tak bisa ia gambarkan lagi, tak ia perdulikan dekorasi ruangan itu yang bak istana di negeri dongeng, fokusnya hanya pada senyum laki-laki yang membuatnya gelisah seharian ini. Zidan sudah berdiri didepan sana dengan jas yang senada dengan gaun yang ia kenakan menunggu kedatangannya.
Mata Marsha terus menatap tak kedip pada Zidan yang terus menatapnya didepan sana dengan senyum bahagia. Bibir Marsha seolah keluh, tatkala saat langkahnya sudah mendekat kearah Zidan, dan Zidan mengulurkan tangan menyambut kedatangannya.
"Selamat datang, Miss. Terima kasih sudah memakai gaun yang sudah aku siapkan, dan sudah menurut untuk hari ini. Aku yakin kamu dan anak kita kuat walau hanya makan sepiring mi instan dan segelas air putih."
Marsha tak dapat lagi membendung rasa bahagianya.
"Kamu menipuku, Zidan."
"Demi hari yang kita mau, aku siap menerima hukuman dari anda, Miss. Tapi nanti malam, dan setelah acara ijab kabul serta resepsi kita selesai."
Zidan tersenyum kecil, menuntut Marsha untuk duduk di kursi yang telah disiapkan. Marsha masih menatapnya tak percaya, rasanya Marsha ingin memukul dan memarahi Zidan, namun dihadapanya sudah ada penghulu dan dua orang saksi, Marvin dan asisten Valent Xavier, namun belum ada sosok yang ingin menjadi walinya.
"Aku berharap Apap kamu akan datang, dan bersedia menjadi wali pernikahan kita," bisik Zidan, Marsha menoleh padanya.
Ternyata Zidan tidak hanya diam saja, Rasya tak merestui hubungannya dengan Marsha, Zidan berkali-kali menemui Rasya dikantornya, dan terakhir, semalam, saat Zidan mengantar Marsha pulang, dan disaat Rasya habis berdebat dengan Mawar, tanpa sengaja keduanya bertemu.
"Bagaimana? Apa walinya sudah datang?" tanya pak penghulu.
"Kita tunggu sepuluh menit lagi ya, Pak." pinta Zidan.
"Kalau sepuluh menit lagi Apap tidak datang, Kakak jangan khawatir, ada Apo juga Maheswari dan aku yang bisa menjadi wali Kakak." Ujar Mahendra pada Marsha, entah anak itu datang dari mana, tiba-tiba saja sudah datang.
Marsha dan yang lain menunggu dengan gelisah, Marsha menunduk, tak berani menoleh kebelakang, dia tidak yakin jika Rasya akan datang, tangannya yang saling meremas sudah basah dibawah meja, Zidan yang menyadari itu mengambil tangannya dan menggenggamnya.
"Aku yakin Apap akan datang, kamu putri satu-satunya, dan dia begitu menyayangi mu," ucap Zidan menenangkan.
Dibelakang Marsha, Mawar tak henti-hentinya menghubungi nomor suaminya, namun suaminya itu tak ada menjawab panggilannya. Mawar pasrah jika Rasya tetap pada pendiriannya.
Hingga lima belas menit telah berlalu, penghulu sudah memberikan waktu lebih, namun Rasya tak memunculkan batang hidungnya.
"Kita langsungkan sekarang saja Pak," pinta Mawar karena dia sama dengan Marsha, yakin Rasya tak akan datang.
Marsha menunduk sedih, bulir kristal itu jatuh membasahi gaunya.
Terpaksa, Mahardika yang harus duduk, berjabat tangan dengan Zidan mengikrarkan janji suci pernikahan dihadapan Tuhan. Belum selesai penghulu membimbing Zidan untuk mengucapkan kata sakral itu, suara teriakan seseorang menghentikannya.
"TUNGGUUUU." Teriak suara itu, membuat semua menoleh kearahnya. Rasya datang dengan langkah gagahnya.
"Kamu lupa Zidan dengan yang aku katakan semalam?" tuding Rasya wajah Zidan. "Jangan melangsungkan pernikahan tanpa aku, tapi kamu mengingkarinya." ucapnya lagi.
"Pap." Marsha berdiri dari duduknya.
"Duduklah sayang, Apap masih hidup, tak mungkin membiarkan kamu bersedih." Rasya menghapus air mata Marsha. Suasana seketika menjadi mengharu biru.
"Pa, minggir, aku yang seharusnya duduk disitu." usirnya pada Mahardika. Ingin sekali Mahardika menghajar anaknya jika benar sampai Rasya tak ingin menjadi wali Marsha.
Dan dengan lantang dan lancar, Zidan mengikrarkan janji pernikahan.
__ADS_1