
Tiga hari setelah pernikahan.
Zidan dan Marsha sedang didalam perjalanan menuju ke kediaman Valent Xavier. Kakek dari almarhum ayahnya Zidan meminta mereka datang kerumah yang alamatnya sudah dia kirim, selama tiga hari itu, Zidan dan Marsha tak keluar dari kamar hotel.
Tak ada bulan madu, membuat keduanya menghabiskan waktu mereka di hotel saja.
Sejak keluar dari hotel dan kini mereka dalam perjalanan, Zidan tak melepas genggaman tangannya dari Marsha. Marsha sampai tersenyum geli melihat keposesifan Zidan. Sifat Zidan yang baru ia tahu, jika sudah cinta, laki-laki itu begitu bucin, ya sebenarnya sudah terlihat dari perjuangan Zidan yang bisa menemukan keberadaanya.
"Kenapa senyum-senyum gitu." Zidan melihat Marsha sekilas, kemudian kembali fokus pada jalanan.
"Abisnya geli aja, kamu dari tadi enggak lepas genggam tangan aku terus, padahal kita nggak lagi nyebrang loh ini Zidan."
"Aku cuma nggak mau kehilangan kamu."
Marsha terkekeh. "Emang aku mau kemana lagi? Asal kamu nggak macam-macam aja, aku nggak akan pergi."
"Maaf," ujar Zidan mencium punggung tangan Marsha.
"Udah berlalu, jangan dibahas lagi."
"Baiklah, hmm aap masih sakit?" tanya Zidan melihat duduk Marsha yang tidak nyaman.
"Enggak, cuma nggak nyaman aja sih, tiga hari digempur terus, di paha aku serasa masih ada yang ganjel aja."
"Abisnya enak, bikin nagih." Marsha mengerucutkan bibirnya atas jawaban Zidan. Tanpa terasa mobil mereka sudah memasuki kawasan perumahan elit, perumahan yang berisikan para sultan, julukan untuk para orang kaya di negeri ini.
Melewati lima ruma mewah dengan lapangan yang sangat luas, akhirnya mereka sampai ditempat yang mereka tuju. Marsha sampai memajukan duduknya untuk memastikan alamat yang dikirim Valent Xavier. Kedatangan mereka langsung disambut oleh para penjaga Valent.
Pagar tinggi bercat hitam itu langsung terbuka, dan langsung memperlihatkan air mancur dihalaman rumahnya, mobil Zidan memutar air mancur itu dan berhenti di depan pintu rumah. Ternyata Valent Xavier sudah berdiri disana menyambut kedatangan keduanya.
Zidan keluar terlebih dahulu, dan memutar mobil membukakan pintu untuk sang istri. Tangannya terulur membantu istrinya keluar dari mobil. Selama tinggal bersama Zidan, Marsha sudah mulai banyak makan, dan kini perutnya sudah terlihat sedikit menonjol, apalagi Marsha mengenakan dress selutut yang pas dengan badanya.
"Selamat datang cucu-cucu Kakek."
Zidan hanya tersenyum tipis, bahkan terkesan biasa saja melihat kakeknya yang menyambut mereka ramah.
Hal itu dikarenakan dia trauma dengan Nasyat, membuat Zidan sulit percaya dengan orang terdekatnya, dan membangun tembok pembatas untuk mereka. Marsha sendiri bersalaman dengan Valent dan tak sungkan mencium punggung tangan laki-laki berusia hampir kepala delapan itu.
Mereka mengikuti langkah Valent memasuki rumah mewah bernuansa w**hite gold itu, dan langsung menuju ruang makan.
"Kakek harap walau kalian sudah makan, tapi tidak menolak makan disini."
__ADS_1
Tak mengucapkan satu katapun, Zidan menarikkan kursi untuk sang istri, mengecup keningnya sekilas, kemudian dia menarik kursi disebelah kiri Marsha.
"Tadi kita sudah sarapan sih, Kek. Tapi Kakek tahu sendiri, wanita hamil harus makan banyak. Iya kan Zidan?" ucap Marsha, menoleh pada Zidan yang dibalas Zidan usapan dipunggung tangannya dan anggukan kecil. Tak ada rasa canggubg yang biasanya dirasakan oleh para menantu baru. Hal itu menbuat Zidan dan Valent sangat senang.
Jika dalam rumah tangga istrilah yang melayani suami, berbeda dengan Zidan dan Marsha. Dengan sigap Zidan berdiri, mengisi piring Marsha dengan nasi dan lauk yang Marsha mau tanpa harus bertanya, lalu baru Zidan mengisi isi piringnya. Hal itu tidak luput dari perhatian Valent Xavier.
Valent justru tidak marah, sebaliknya, dia malah kagum pada Marsha, Marsha terkesan cuek apa adanya, tidak ada jaga image, hingga tak ada kepalsuan yang akan dia tunjukkan.
Setelah makan slesai, Valent mengajak Zidan dan Marsha berbincang diruang keluarga. Ruang keluarga yang cukup luas, dengan ornamen dan seluruh interiornya berwarna senada, white gold . Marsha sudah dapat memperkirakan seluruh harga isi rumah itu, semua terbuat dari bahan berkualitas tinggi, dan pasti harga yang tidak murah.
Marsha duduk di sofa panjang, dan Valent Xavier duduk di sofa single.
"Sengaja Kakek memanggil kalian kesini karena ada yang ingin Kakek sampaikan pada kalian."
Marsha dan Zidan diam menyimak apa yang akan disampaikan kakek mereka.
"Rumah ini baru Kakek beli setelah pernikahan kalian kemarin, rumah ini akan Kakek hadiahkan untuk kalian berdua, sebagai hadiah pernikahan."
Marsha membelalakkan mata, sedan Zidan menarik nafas.
"Maaf Kek, sepertinya kami tidak bisa menerimanya," tolak Zidan, Valent Xavier nampak terkejut, begitu juga Marsha, dia menatap Zidan tak percaya. "Kami akan tinggal di rumah kami sendiri nanti setelah aku menjual rumah kakek Nasyat."
"Zidan, tapi aku mau tinggal disini. Kita tidak boleh menolak rejeki, iya kan Kek?" tanyanya menoleh pada sang kakek. Valent menjawab dengan anggukan. "Kakek itu cari uang banyak untuk anak cucunya, jadi kita sebagai cucu harus menghargai kerja kerasnya, kita tinggal menikmati saja."
"Rumah ini terlalu besar, kamu nggak takut?"
"Aku akan membawa banyak art, jadi rumah akan selalu ramai. Lagi pula hitung-hitung kita berbagi rejeki dengan memberikan banyak lapangan pekerjaan untuk orang lain." Marsha menyipitkan mata. "Zidan, uang kamu banyak kan buat bayar mereka?" Zidan terkekeh mengacak rambut Marsha, Valent Xavier pun sama, Marsha lain dari yang lain menurutnya.
"Aku minta kamu jangan kerja lagi karena uang ku banyak, tugas kamu menghabiskan uang ku." bibir Marsha langsung merekah mendengar itu, dia menggamit tangan Zidan, menyandar di bahu Zidan.
"Terima kasih, Zidan." Marsha kemudian mengangkat kepalanya menatap Valent Xavier. "Kakek tinggal disini kan?"
"Aku tidak akan tinggal disini, jadi kalian bisa merubah sesuka hati kalian isi rumah ini," jawab Valent, Marsha dan Zidan menoleh saling pandang, Zidan mengangkat kedua bahunya. Valent tau Zidan masih belum menerimanya sepenuhnya.
"Kok Kakek nggak tinggal disini? Untuk apa kami tinggal dirumah sebesar ini kalau Kakek tidak tinggal disini?" protes Marsha. "Aku akan menolak kalau Kakek tidak mau tinggal disini."
"Tidak apa-apa, kalian pasti butuh privasi berdua, Kakek akan tinggal di Singapur."
Marsha mendengus. "Yasudah kalau Kakek tidak mau. Aku juga tidak mau menerima rumah ini, iya kan Zidan?" Zidan hanya tersenyum kecil menatap istrinya, dia akan menurut apapun keputusan Marsha. "Zidan akan sibuk kerja setelah ini, nggak mungkin kan Kek, aku sendirian dirumah, akan lebih ramai kalau ada Kakek."
Valent Xavier terkekeh sambil melirik Zidan yang hanya diam, entahlah semoga dia tidak salah menafsirkan maksud tujuan Marsha.
"Kakek akan menempati kamar belakang yang dekat halaman belakang kalau begitu, kalian bisa pilih sendiri kamar yang akan kalian tempati."
__ADS_1
Marsha menjentikkan jari. "Ini baru keputusan bijak, Kek." Valent mengangguk.
Marsha kemudian berdiri, mengajak Zidan berkeliling rumah itu, lantai bawah menjadi tujuan pertamanya.
"Kek, kita mau lihat-lihat rumah ini ya. Boleh kan?" Pamitnya.
"Iya, lihatlah. Ini rumah kalian, Kakek hanya menumpang disini."
"Kakek bicara apa? Aku nggak suka dengarnya," ucap Marsha merajuk.
Valent tertawa, dia pasti akan sangat senang bisa satu rumah dengan Marsha yang cerewet ini, dan pasti selalu membuatnya tertawa dengan sifatnya yang cuek dan ceplas ceplos.
Kemudian Marsha menggamit lengan Zidan melihat yang ada dilantai bawah ada dua dapur dilantai bawah, satu dapur bersih dan satu dapur kotor, ada tiga kamar, yang satu menjadi kamar Valent, dan dua lagi berfungsi sebagai kamar tamu. Sisanya ruang keluarga dan ruang tamu. Kemudian mereka melihat halaman belakang yang tak kalah luas, ada kolam renang dan dua kursi panjang untuk bersantai lengkap dengan payung pantainya.
Diseberang kolam ada ruang kaca, bisa dilihat isi dalamnya jika itu ruang untuk berolahraga dengan peralatan canggih dan lengkapnya. Marsha antusias berlari kecil menuju ruang tersebut.
"Marsha hati-hati, nanti kamu jatuh." Marsha yang memang memakai high-heels lima senti mengolengkan tubuhnya, sigap Zidan berlari untuk menangkap tubuh Marsha sebelum jatuh.
Marsha justru tertawa saat dia sudah didalam dekapan Zidan. "Zidan, kamu benar-benar khawatir? Aku senang," ucapnya menghadiahi kecupan di bibir Zidan.
"Jadi kamu mengerjaiku?" Marsha kembali tertawa terbahak, lalu berdiri, melangkah meninggalkan Zidan yang malu, menuju ruang gym itu.
"Waww Zidan, Kakek memberi kita pelayanan Vip, dia pasti mau menebus kesalahannya karena tidak bisa mengurus kamu sejak kecil." Marsha mendorong pintu kaca itu, lalu mencoba satu persatu peralatan yang ada.
Zidan hanya memperhatikan yang Marsha lakukan sambil menyender dan bersedekap dada. Setelah puas, Marsha menghampiri suaminya. Tanpa malu lagi dia melingkarkan tangannya dileher Zidan, dan Zidan langsung menyambut, menahan pinggang istrinya.
"Kamu tahu Zidan? Kakek itu tahu yang ada dalam pikiran aku saat beli rumah ini. Setelah aku selesai berenang, dan kamu selesai olahraga, kita bisa melanjutkan olahraga bersama. Aku suka melakukannya saat kamu sedang berkeringat, kamu kelihatan seksi." ucap Marsha tepat didepan wajah Zidan, dan itu bisa membangunkan sisi kelakian Zidan yang memang sedang inginnya terus bercinta dengan sang istri.
Tanpa pikir panjang, Zidan langsung membalikkan posisi menjadi Marsha yang menyandar di dinding, dia selalu suka posisi ini, mengangkat tangan Marsha diatas dan menguncinya, lalu dia menyerang bibir Marsha.
Tangan satu Zidan tidak dibiarkan menganggur begitu saja, dia biarkan menyingkap dan masuk kedalam kain tipis penutup milik istrinya.
Jari Zidan aktif bergerak dibawah sana, memberikan kepuasan pada istrinya dengan jemarinya, Marsha seolah termakan dengan ucapannya sendiri, tak menyangka Zidan berani menyerangnya di ruang yang cukup terbuka, tapi ternyata tak jauh dari mereka berdiri terdapat remot yang menempel, jika Marsha pikir itu remot ace, ternyata itu remot untuk mengganti kaca ruangan menjadi gelap, Zidan selalu tahu apa yang ada dalam pikirannya.
Zidan semakin beringas menyerangnya, kaki Marsha seakan dibuat lemas oleh permainan jari Zidan, Marsha hampir limbung, dan tak dapat menopang tubuhnya sendiri, sampai dia harus menyandarkan kepalanya di bahu Zidan saat pelepasanya datang, Zidan benar-benar pandai dalam memuaskan istrinya
Nafas Marsha tersengal saat Zidan menarik jarinya dari bawah sana. Dikecupnya kening Marsha yang berkeringat.
"Seperti ini yang kamu mau, sayang."
"Zidan kamu nakal." Marsha memukul dada Zidan dengan sisa tenaganya.
"Tapi kamu suka kan?" bisiknya memancing Marsha. "Kita lanjutkan dikamar, ya?" pintanya kemudian. Dan acara berkeliling rumah harus tertunda saat acara yang lebih penting dan menguras tenaga kembali menguasai pasangan baru itu.
__ADS_1