
Sudah terhitung lima hari Zidan berada dipeternakan, kegiatannya hanya memasakkan untuk Marsha. Tak ada yang lain, menjadi koki pribadi wanita yanh sedang ia perjuangkan, namun dia senang melakukannya walau Marsha masih mengacuhkanya.
Dan kedua pria sialan yang merupakan sepupu Marsha itu tak mengizinkannya tidur didalam, tapi menyuruhnya tidur diluar, hanya diberikan satu bantal tanpa selimut atau sekedar tikar untuk dijadikan alas. Bukan hanya itu, baik Mahesa maupun Puma juga tak menegur Zidan sama sekali, apapun yang Zidan ucapkan atau ia tanyakan pada keduanya, tak sedikitpun keduanya membuka mulut.
Ok baiklah, anggap ini balasan atas yang aku lakukan pada Marsha.
Tangan Zidan sibuk menepuk hewan kecil penghisap darah yang hinggap ke sekujur tubuhnya, suara dengingannya mengusik pendengaran, hingga mata yang sudah terpejam itu harus dipaksa terbuka, karena sangat mengganggu.
Huff bersabarlah Zidan.
Para pekerja disana sangat kasihan melihat keadaan Zidan, tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa, jika mereka berani memberikan lotion atau obat bakar anti nyamuk untuk Zidan, maka mereka harus siap kehilangan pekerjaan.
Malang memang menjadi rakyat jelata.
Dari atas sana, Marsha terus memperhatikan Zidan dari jauh, senyum tersungging dibibirnya, Zidan rela menerima semua ini, demi bisa membawanya pulang dan mengesahkan hubungan mereka secara agama dan negara, untuk dia dan Zidan hidup bersama.
Dan yang membuat Marsha tak henti tersenyum, apapun yang Zidan masak, anaknya menerima masakan itu.
Marsha mengusap perutnya yang masih rata diusia ke 16 minggu usia kandungannya.
"Apa kita harus menerimanya sayang?" ujarnya tersenyum lebar, mengajak anak yang ada didalam perutnya berdiskusi. Dan Marsha merasa specles saat perutnya seperti merasa berkedut. "Hei Baby, you'r happy?"
Marsha pun berbalik antusias, dilihatnya sudah pukul sebelas malam, perutnya terasa berbunyi dan ingin diisi sesuatu, dia pun memutuskan keluar, Marsha membuka pintu lalu menuruni anak tangga sedikit bersenandung, hatinya sedang merasakan berbunga-bunga.
"Lalalalalala."
"Lalalalalala."
Marsha menghentikan langkahnya, melihat Zidan yang meringkuk memeluk lututnya. Marsha jadi mengharu.
"Ehem," Marsha berdehem, Zidan yang terkejut sontak mengangkat tubuhnya, padahal dia baru saja bisa memejam, dan itu membuat kepalanya sedikit pusing.
Bukan kasihan, Marsha yang melihat itu terkekeh. "Bisa masakin aku mi instan lagi?" pintanya sambil mengerjap-ngerjapkan mata menggemaskan. "Aku lapar."
Zidan bergegas memakai sendal jepit milik pekerja yang bawahnya dipakaikan paku. "Siap laksanakan, tuan putri, apapun yang kamu pinta akan aku lakukan," ucap Zidan semangat, diapun berjalan bergegas menuju pantry dirumah Marsha, dan Marsha mengikuti dari belakang.
"Silahkan tunggu disini tuan putri." Zidan menarikkan kursi untuk Marsha duduki.
"Terima kasih," ucap Marsha, Zidan mengerutkan kening.
"Kamu mengucapkan terima kasih?"
"Memangnya kenapa? Aku juga dari kecil diajarkan sopan santun." Sahut Marsha mendengus.
Zidan menganggukkan kepala terkekeh. "Oke-oke, tunggu aku menyelesaikan tugas ku," dalam hati Zidan begitu senang, dia tahu, Marsha begitu sulit mengucapkan terima kasih atau maaf pada orang lain, jika Marsha melakukan itu padanya, berarti Marsha sudah mulai menerimanya. Zidan menyalakan kompor, dan meletakkan wajan diatasnya.
__ADS_1
Marsha hanya duduk memperhatikan yang Zidan lakukan, jika dilihat dari belakang, Zidan terlihat begitu seksi, badan tinggi tegap, berkulit bersih, tapi dia mau melakukan apapun yang ia perintahkan, wajah Zidan diatas rata-rata pria pada umumnya, jika lelaki itu mau, dia tinggal menunjuk saja wanita yang ia mau, sudah pasti banyak wanita yang mengantri mendaftar jadi pendamping hidup Zidan.
Zidan menoleh kebelakang, tersenyum menyadari Marsha yang sedang menatapnya. Tak kurang dari sepuluh menit, mi instan buatannya sudah jadi, Zidan memadamkan kompornya, memasukkan kedalam piring yang sudah ia beri bumbu spesial pakai cinta dan kasih sayang.
"Taraaa, mi instan spesial untuk wanita yang spesial sudah jadi," letakkan Zidan piring putih keramik didepan Marsha. Marsha menatap antusias.
"Kamu cuma buat satu?"
"Hemm." Zidan menarik kursi, duduk dihadapan Marsha. Marsha mulai memakan mi instan buatan Zidan. "Makanlah," ucapnya.
Dan Marsha mulai menyantap makanan kesukaan sejuta umat itu dengan sangat lahap.
"Selama aku disini, satu hari aku membuatkan mu mi instan dua kali. Mi instan mengandung banyak perasa tambahan, yang memiliki kadar natrium cukup tinggi, dan kandungan garam itu bisa berdampak buruk pada fungsi ginjal, terlebih kamu sedang mengandung, bisakah besok kamu mengurangi jatah mi instan kamu, Sayang."
Lagi-lagi panggilan itu membuat darah Marsha berdesir, Marsha mengambil gelas minum menutup perasaannya yang tak menentu, belum tangannya menjangkau gelas Zidan sudah terlebih dahulu mengambilkan untuknya, Zidan seolah tahu apapun yang dia mau dan dia butuhkan.
"Hati-hati sayang, kamu bisa tersedak," arahkan Zidan gelas kedepan bibir Marsha, tak menolak seperti biasa, Marsha menerima itu.
"Terima kasih." Kembali ia mengucapkan itu.
"Ayo kita pulang, aku akan menghadap ke Kakek dan Apap, perutmu semakin hari semakin pasti membesar, kasihan jika dia harus tumbuh tanpa orang tua yang utuh. Aku sudah menerima semua hukuman itukan?"
"Dari mana kamu tahu aku sedang mengandung anak mu? Kamu lihat perut ku kecil kan?" Marsha menatap Zidan yang duduk dihadapanya.
Zidan tersenyum seraya bangkit dari duduknya, berjalan memutar meja menghampiri Marsha, lalu bersimpuh dibawah Marsha. Zidan mengambil kedua tangan Marsha.
"Tapi aku belum siap menikah, umur aku masih muda Zidan. Kamu lihat aku seperti apa? Aku bahkan tidak bisa apa-apa."
"Aku akan membimbing mu, aku tidak butuh kamu harus bisa apapun, aku hanya butuh kamu disamping ku. Kamu yang seperti ini yang selalu membuat aku jatuh cinta."
"Aku wanita singa kamu tidak takut?"
"Aku sangat mencintai wanita singa ini, sekalipun dia menggigit ku."
Marsha tampak menarik nafas, dia tahu betul betapa menyebalkannya sifat dia, suka marah-marah, ingin menang sendiri, dan lihatlah, laki-laki didepanya ini begitu menuruti apa yang dia mau, bahkan diacuhkan sekalipun.
"Kamu tahu apa resiko memperistri ku Zidan? Aku bukan wanita biasa-biasa saja, bukan wanita yang mencintai kesederhanaan, aku benci dapur, aku benci berbau kotor-kotoran, aku benci melayani orang. Aku biasa dilayani, aku tidak ingin diatur, aku bukan wanita penurut."
Tanpa terasa Marsha menitikkan air matanya mengatakan itu, karena untuk saat ini dia memang sudah mencintai Zidan, tapi dia takut suatu saat Zidan tak kuat menghadapi sifatnya yang seperti ini, dan berakhir dia sakit hati.
"Aku sudah tau kamu luar dalam, aku menerima semua yang ada pada diri kamu Marsha. Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu percaya padaku?"
Marsha pun berhambur memeluk Zidan, selain Mahesa, Zidan laki-laki kedua yang kuat terhadap sifatnya, tapi Mahesa tetap ia anggap sebagai adiknya, bukan pasangan hidupnya.
"Jika kamu menyakiti ku, aku tidak akan membunuh mu, tapi aku akan membuatmu hidup dineraka Zidan, apalagi sampai kamu menduakan aku."
__ADS_1
Zidan berdiri tanpa melepas pelukanya. "Mendapatkan wanita singa manis ini begitu sulit, aku tidak akan menyia-nyiakan kan apa yang sudah aku perjuangkan dengan mempertaruhkan nyawaku Marsha, apalagi sampai menduakan mu. Aku tidak akan sanggup, karena aku tidak yakin, bisa menemukan wanita seperti dirimu didunia ini."
Marsha memukul kecil dada Zidan. "Aku wanita seperti apa di matamu?"
Zidan melepaskan pelukanya, tersenyum menatap wajah Marsha yang sudah basah karena air mata. Dihapusnya airmata itu. "Kamu wanita istimewa untuk ku Marsha, aku rela kehilangan mama dan kakek, keluarga satu-satunya yang aku punya, demi kamu."
"Jadi aku menantu yang tak diinginkan?"
"Tapi istri yang sangat diinginkan." Zidan memajukan wajahnya, menyatukan bibirnya dengan bibir Marsha yang sangat candu baginya, keduanya terlarut dalam heningnya malam, hingga malam terakhir Marsha di peternakan, dia habiskan tidur bersama Zidan. Ya, hanya tidur, tanpa melakukan apa-apa.
* * *
Lima hari sudah cukup untuk Marsha menghukum Zidan, dan dihari keenam mereka memutuskan untuk kembali kerumah Marsha. Mahardika sudah mendengar kabar ini tentunya dari kedua cucunya yang lain, dan dia sudah menyampaikannya kepulangan Marsha pada Mawar dan Rasya.
Mawar begitu bahagia, bukan hanya dia, Indah dan Abdi pun begitu antusias menyambut kepulangan Marsha. Semuanya sudah berkumpul dirumah Rasya.
"Jadi, Zidan menemukan keberadaan Marsha, Pa?" Tanya Rasya pada Mahardika. Mahardika hanya menjawab dengan anggukan.
"Papa tidak pandai menyembunyikan keberadaan Marsha, jika tahu seperti ini maka aku sendiri yang akan menyembunyikannya."
"Kamu ingin menyembunyikan anak mu kelubang undur-undur sekalipun, jika hati mereka sudah terpaut, pasti akan bertemu juga."
Rasya menyeringai. "Jadi Papa menyetujui laki-laki itu bersama Marsha?"
"Dia sudah hampir mempertaruhkan nyawanya dipeternakan itu, dan itu sudah cukup membuktikan jika Zidan bersungguh-sungguh kepada Marsha."
"Tapi aku tidak setuju, aku sudah mempersiapkan calon suami untuk Marsha setelah dia melahirkan. Papa lupa siapa keluarganya?"
Mawar, Mahardika, Abdi dan Indah cukup terkejut dengan keputusan Rasya.
"Marsha menikah dengan anaknya, bukan keluarganya, lagipula kakek dan mamanya sudah dipenjara atas kasus lain."
"Tetap saja, buah jatuh tidak jauh dari pohonya."
"Tidak ada perjodohan apapun Pap." Kini Mawar ikut bersuara, dia orang yang paling tidak setuju dengan yang namanya perjodohan. "Biarkan Marsha memilih pilihannya sendiri, perjodohan membuat ku trauma, belum tentu laki-laki yang Apap jodohkan bisa menerima Marsha, aku tidak mau anak ku menjadi korban perjodohan."
Rasya dan Mahardika seolah tersentil dengan ucapan Mawar, dan Rasya begitu tahu dosanya dimasa lalu.
Rasya menatap Mawar disebelahnya. "Sayang, tapi laki-laki yang aku jodohkan dengan anak kita, laki-laki yang sudah mengincar anak kita sejak lama."
"Tidak, biarkan Marsha pada pilihannya." Jawab Mawar cepat, dia tidak yakin dengan laki-laki pilihan suaminya.
Rasya sudah ingin kembali menjawab ucapan saga istri, tapi Mahardika menahanannya.
"Sudahlah, jangan berdebat, kan semua keputusan ada pada Marsha."
__ADS_1
Rasya memilih diam, saat ini tak ada yang berada dipihaknnya, tapi diam-diam dia mengirim pesan pada Abdi, agar mendukungnya.