Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Surat Cerai


__ADS_3

Zidan melangkahkan kakinya lebar saat mobil yang mengantarnya berhenti tepat didepan lobby Mahardika corp memenuhi panggilan Rasya, ia sampai meninggalkan klienya bersama Susan, dan itu membuat para klienya heran. Tapi Susan sudah menduga jika ini ada hubungannya dengan foto yang ia upload di media sosial miliknya, dan cepat atau lambat, Marsha dan Zidan pasti akan berpisah karena hal ini sudah diketahui oleh keluarga Marsha.


"Ingat wanita sombong, tak selamanya hidup mu sempurna, kau bukanlah malaikat yang tidak memiliki kekurangan." Susan tersenyum menyeringai membayangkan ekspresi Marsha saat mengetahui apa yang ia unggah di instgram miliknya dan men-tag akun instgram Marsha.


"Apa kamu akan mendadak melahirkan saat suami mu terkena skandal dengan sekretarisnya? Hem aku yakin itu." Susan semakin melebarkan senyumnya, setelah ini Marsha juga akan terkena gosip hamil di luar nikah yang akan menghebohkan.


* * *


Kedatangan Rasya di tower Mahardika corp, langsung disambut resepsionis, wanita cantik dibalut jas semi formal dan rok span dibawah lutut itu langsung menempelkan kartu akeses untuk Zidan, dan mengantarkan ke lift khusus, karena kedatangan Zidan sudah sangat ditunggu.


Saat pintu lift terbuka Zidan langsung melangkah masuk, dan resepsionis itu membungkukkan badanya karena dia hanya mengantar Zidan sampai disana.


"Kira-kira apa yang akan terjadi ya?" tanya rekan resepsionis itu saat ia telah didepan meja tugasnya.


"Hem, menurut ku, Pak Rasya akan langsung melayangkan gugatan, secara putri satu-satunya disakiti saat dia hamil besar."


"Tega sekali sekretarisnya itu memgunggah di instagram, apa dia tidak takut sama Pak Mahardika yang menakutkan?"


"Sepertinya dia belum mengenal pak Mahardika sesungguhnya, apalagi mengenai cucu kesayanganya, aku harap wanita itu masih bisa bernafas setelah ini."


Begitu ganasnya sosial media, apapun yang kita bagi didalamnya, pasti akan cepat menyebar. Apalagi itu menyangkut anak pengusaha terkenal seperti Rasya, cucu kesayangan Mahardika, tidak hanya itu, Marsha juga merupakan selegram terkenal yang suka berbagi kepada yang membutuhkan lewat sosial medianya, walau kini dia jarang melakukan itu setelah menikah dengan Zidan, tapi Marsha masih dikenal sebagai sultan termuda saat ini.


Rasya sempat melonggarkan dasinya setelah kotak besi yang mengantarkanya telah sampai diruang Rasya. Ini pertama kalinya Rasya mengajaknya bertemu, tentu Zidan merasa sangat gugup, apalagi tadi terdengar suara Rasya sangat marah.


Zidan mengatur nafas, dia belum tahu apa kesalahanya, berharap jika Rasya sudah akan memberi restunya mengingat tidak lama lagi Marsha akan melahirkan.


"Pak Zidan, mari saya antar, Pak Rasya sudah menunggu anda." Sambut David asisten pribadi Rasya yang merupakan paman dari Marsha juga.


"Jangan tegang, jika kamu tidak bersalah, jelaskan sebaik-baiknya, tapi jika gosip itu benar, aku yang akan menghajar anda." ucap David lagi membuat Zidan mengernyitkan keningnya heran.


"Gosip? Gosip apa?"

__ADS_1


"Masuklah jika kamu ingin tahu." jawab David dingin membuka pintu ruang dimana Rasya sudah menunggu, bukan ruang pribadi Rasya, tapi ruang temu untuk tamu khusus yang satu lantai dengan ruang Rasya.


Menyadari pintu ruangannya dibuka, Rasya yang berdiri membelakangi Zidan memutar tubuhnya, tanpa basa-basi dia langsung menyodorkan tab miliknya dan menunjukkan postingan Susan yang meng-tag Marsha.


Zidan langsung menjulurkan badan dan mengambil tab yang diberikan Rasya, dan betapa terkejutnya Zidan melihat itu, postingan Susan juga sudah direpost oleh akun gosip 'Lambe Memble' . Ajaibnya, belum genap satu jam, tapi postingan Susan sudah mendapat satu juta like, dan puluhan ribu komentar, Zidan membaca beberapa komentar dari pada deterjen, dan rata-rata semua mengujat. habis-habisan Marsha.


"Pap, aku bisa jelaskan ini, tapi bukan sekarang. Aku harus menemui Marsha dulu." Zidan sudah ingin pergi namun Rasya langsung mencegahnya.


"Tidak perlu!" Cegah Rasya sambil mengangkat tangannya. "Aku sudah mengirim supir untuk menjemput putri ku, aku tidak akan mengizinkan kamu untuk menemui putri ku lagi. Tak ada kesempatan untuk laki-laki tak tahu diri seperti mu. Bisa saja aku menghajar mu, tapi aku tak mau mengotori tanganku. Dari awal aku sudah menduga, kamu tidak akan jauh berbeda dari keluarga mu, dan hal yang aku takutkan benar terjadi."


"Pap, tapi aku memiliki rencana lain, izinkan aku menjelaskan."


Pintu itu terbuka, datang dua orang laki-laki bersama David.


"Jelaskan dipengadilan," lanjut Rasya, tak memberi kesempatan untuk Zidan membela diri lagi, Rasya keluar diikuti David. David sempat melirik Zidan yang terlihat lemas, tapi dia juga tak membenarkan kedekatan Zidan dengan sekretarisnya itu.


"Pap." panggil Zidan ingin mengejar, tapi David berbalik dan memelototinya, sebenarnya bisa saja Zidan melawan, tapi dia begitu menghormati Rasya dan David hingga Zidan hanya dapat mendesah frustasi.


"Amam!"


"Apa yang Apap lakukan pada Zidan?" tanya Mawar.


"Aku tidak melakukan apa-apa, sayang. Aku tahu kamu mengkhawatirkan itu, percayalah, aku sudah bisa mengendalikan diriku."


Mawar sempat melirik kedalam ruang khusus tamu Rasya, ia yakin Zidan ada disana. Mawar bisa bernafas lega


Zidan tak menyangka jika Susan akan melangkah sejauh ini, dan tak terpikirkan juga olehnya jika Susan akan menyerang Marsha lewat media sosial.


"Pak Zidan, jika anda ingin aman, silahkan baca surat gugatan ini dan tanda tangani."


"Maaf, Pak. Aku anggap ini tidak sah, karena bukan yang bersangkutan yang mengajukan." ucap Zidan. "Aku akan menandatanganinya jika sudah bertemu istriku." Zidan pergi meninggalkan pengacara itu begitu saja, sengaja Rasya melakukan itu, agar Zidan tahu, jika dia tak main-main karena Zidan telah menyakiti putri kesayanganya.

__ADS_1


* * *


"Mahesa kamu sudah tahu apa yang telah Susan lakukan?" Zidan menghubungi Mahesa.


"Hem, kau kalah satu langkah denganya bung."


"Kita harus bergerak cepat Mahesa, apa kamu sudah mendapatkan bukti semua yang kamu butuhkan?"


"Jangan khawatir, pikirin aja nasib lo sekarang." Diseberang sana Mahesa tertawa. "Susan ternyata pintar juga."


"Aku cuma tidak terpikirkan kalau Susan akan menyerang lewat akun media sosial, aku tahu tadi Marsha mengikuti ku, dan Susan masuk dalam jebakan ku, tapi aku benar-benar tidak terpikirkan Susan akan meggunggahya."


"Yaudah Bro, lo bersin masalah lo, gue akan beresin yang sudah jadi tugas gue. Lo tenang aja, gue bakal bela lo kalau Apap nyalahin lo."


"Susan aku pasti akan menghabisi mu tanpa ampun." Zidan meremas ponselnya, geram dengan tindakan Susan.


* * *


Marsha sebenarnya menyadari jika pandangan orang-orang yang melihatnya dengan tatapan aneh saat ia keluar dari restoran hotel karena dia melepas masker dan topinya, tapi ia cuek saja.


Namun saat sudah didalam mobil, dia merasakan jika ponsel sejak tadi bergetar terus-menerus. Marsha menghapus air matanya, mengambil ponsel dari dalam tas. Marsha mengernyit melihat banyaknya pemberitahuan notifikasi, perasaan ia sudah lama tak membuka sosial media dan mengunggah apapun, namun betapa terkejutnya Marsha saat mengetahui banyak sekali tagar yang menandai akun sosial miliknya.


"Ada apa?"


Penasaran dengan berita hits yang menandainya, Marsha membukanya dan membaca apa yang sedang terjadi.


Susan mengunggah sesuatu dan meng-tag akun miliknya, Marsha membaca unggahan Susan, kemudian membaca komentar-komentar pedas dari para deterjen yang mengujatnya, sepertinya memang ini yang diinginkan wanita kuntilanak itu, Marsha tak boleh terhasut, dia tak boleh terpancing oleh Susan.


Kemudian Rasya meneleponya dan mengatakan sudah mengirim supir untuk menjemputnya.


"Oke Zidan, aku akan masuk kedalam drama yang kamu buat."

__ADS_1


__ADS_2