
Kabar hamilnya Marsha tentu menjadi pukulan terberat untuk keluarga besar Mahardika. Apalagi pria yang menjadi ayah biologis bayi yang ada diperut Marsha merupakan laki-laki dari keluarga yang sangat tidak diinginkan mereka.
Mahardika memutar otak demi kebahagiaan cucu perempuan satu-satunya itu. Apalagi Marsha tidak menginginkan bayi itu, mereka memiliki dua pilihan untuk kebaikan Marsha, dan saat ini Mahardika memanggil Mahesa keruangannya.
"Mahesa, walau aku tidak yakin dengan keputusan ku sendiri, tapi tetap aku akan menanyakan kesediaan mu untuk menikahi Marsha. Dan menjadi ayah yang dikandung Marsha saat ini."
Tentu Mahesa menerima ini dengan senang hati, dan dia berjanji akan menerima anak Marsha seperti anaknya sendiri, seperti Abdi yang menerima dan merawatnya seperti anak sendiri.
"Saya bersedia Kek. Apapun akan aku lakukan untuk kebaikan Marsha."
Tapi setelahnya ucapan Mahardika membuat Mahesa melemah "Ini hanya rencana kita Mahesa. Semua telah menyetujui ini, kecuali Marsha, kamu tahu sendiri bagaimana dia kepada mu."
Mahesa sampai merasa sangat sulit untuk menelan salivanya "Aku mencintai Marsha dalam diam sejak kecil Kek. Tentu aku mengharapkan yang terbaik untuknya, jika Marsha menolak ini, aku tidak masalah dan berharap ada laki-laki baik yang lebih pantas untuknya," Mahesa mencoba menguatkan hatinya saat mengatakan itu.
Mahardika menepuk pundak Mahesa "Kamu anak dan laki-laki yang baik, doa terbaik semoga Tuhan limpahkan kepadamu, Mahesa. Semoga ada wanita yang lebih baik dan pantas untuk bersanding dengan mu jika kamu dan Marsha tidak berjodoh. Aku sangat berharap kalian berjodoh, agar aku tidak merasa khawatir lagi mencarikan laki-laki yang baik untuk Marsha."
"Dia cucu perempuan ku satu-satunya Mahesa, aku ingin yang terbaik untuknya." Mahesa mengangguk, walau kecil kemungkinan Marsha akan menerimanya.
Pintu ruangan Mahardika diketuk, David masuk tanpa menunggu izin dari pemiliknya karena kabar yang dia bawa sangatlah penting.
Mahesa yang mengerti jika urusannya dengan Mahardika telah selesai, undur diri. Dia akan menjenguk Marsha dirumah sakit.
"Kabar apa yang kamu bawa David?" Mahardika duduk disinggasananya. Dan David duduk berhadapan denganya.
"Valent Xavier yang saya dapatkan waktu itu ternyata kakek Zidan dari ayahnya, Pak. Dia mengalami serangan jantung mendadak saat akan menemui Zidan di malam pertunangan itu." David menunjukkan beberapa bukti yang dia dapatkan.
"Semenjak ayah Zidan meninggal dalam sebuah kecelakaan bersama istrinya, Naima. Valent Xavier tidak pernah bertemu Zidan lagi, sebab Naima memutus akses untuknya bertemu, pada saat itu perusahaan keluarga mereka memang sedang mengalami kebangkrutan." Lanjut David menjelaskan.
"Sudah aku duga jika kamu tidak salah mendapatkan informasi, David. Nama Xavier bukan berasal dari kakeknya Nasyat."
"Lalu apa rencana Bapak selanjutnya?"
__ADS_1
"Rencana ini cukup kita berdua yang tahu David, biarlah Rasya dan Abdi fokus pada perusahaan dan Marsha."
David mengangguk, walau Mahardika tidak menjelaskan apa keinginannya, tapi dia tahu yang diinginkan Mahardika.
* * *
Dirumah sakit.
Setelah semalam Marsha bersih kukuh ingin menggugurkan bayi dalam kandungannya, kini dia sudah bisa sedikit lebih tenang. Marsha ditemani Indah, Mawar dan yang lainya sedang sarapan di kantin.
"Bunda tuh dulu pengen banget ngerasain kayak kamu, bisa hamil dan merasakan menggendong bayi. Tapi takdir berkata lain buat Bunda. Ya awal-awal juga Bunda menyalahkan diri sendiri, tapi lama kelamaan Bunda bisa berdamai dengan keadaan. Sangat sulit untuk Bunda menjalani hari-hari, apalagi saat orang-orang menatap penuh kasihan," Indah menghela nafas, berhenti sejenak memijat kaki Marsha "tapi Bunda bersyukur dengan kehadiran kamu dan Mahesa dalam hidup Bunda, Bunda tidak merasa kesepian lagi, dan hidup Bunda terasa lebih berwarna karena kombinasi sifat antara kamu dan Mahesa. Mahesa yang pendiam dan selalu nurut saat kamu suruh-suruh dan kamu marahi." Indah tertawa mengingat saat-saat anak-anaknya masih kecil.
"Jadi biarkan dia hidup bersama mu sayang, bukan salahnya hadir, ini memang sudah takdir yang harus kamu jalani. Setelah dia lahir nanti, Bunda yakin kamu akan sangat menyayanginya."
"Jika ini bukan hasil dari luar nikah, Marsha pasti sangat senang Bun, tapi dia hadir sebelum waktunya, dan lagi dia berasal dari laki-laki pengecut itu."
"Dari siapapun itu sayang, sudah waktunya atau belum, jika memang Tuhan sudah menghendaki kehadirannya, kita bisa apa? Apalagi itu terjadi di luar kendali mu. Jangan perdulikan apa kata orang diluaran sana."
"Eh Axcel, ayo masuk." Indah berdiri persilahkan laki-laki tampan itu masuk.
"Terima kasih Tante," ucapnya sopan, dan langsung menghampiri tempat Marsha berbaring.
"Hai Marsha, kamu sudah bangun? Bagaimana keadaan mu?" dia berdehem canggung "Aku belum tahu apa kesukaan mu, jadi aku hanya membawakan ini untuk mu. Aku harap kamu suka."
Marsha menatap bingung laki-laki bernama Axcel, kemudian menatap Indah.
Indah tersenyum menyadari kebingungan Marsha "Dia yang membawa kamu semalam, sayang."
"Kamu tidak mengenali ku Marsha? Tapi percayalah, aku sangat mengenal mu," ujar Axcel percaya diri.
"Jika kamu sangat mengenal ku, kamu pasti tahu jika aku tidak suka bunga," kembalikan Marsha bunga itu pada Axcel.
__ADS_1
Axcel tertawa atas penolakan Marsha pemberianya, tawa yang sangat tampan tapi tidak untuk Marsha, bagi Marsha tawa itu begitu menjengkelkan.
"Marsha, nggak sopan loh. Eh Axcel kamu sudah sarapan?, kalau belum Tante belikan di kantin."
"Tidak usah Tante, saya sudah sarapan, ini mau langsung ke kantor, saya hanya singgah sebentar menjenguk Marsha." Tolaknya tak enak.
"Oh begitu? Tunggu sebentar ya, Tante panggilakan orang tua Marsha, mereka semalam belum bertemu kamu." Indah keluar memberikan ruang untuk Axcel berbincang dengan Marsha dan memanggil Rasya dan Mawar.
"Jangan sok kenal, siapa kamu? Kenapa semalam membawa ku kesini?" kesal Marsha gara-gara laki-laki itu membawanya kerumah sakit dan mengabari orang tuanya. Jika saja Axcel tidak membawanya pasti janin yang ada didalam perutnya sudah tidak ada.
"Kamu tidak mengenal ku, Marsha? Sayang benget ya, aku pikir dulu disekolah aku siswa paling populer, tapi ternyata siswi paling banyak penggemarnya ini malah nggak kenal."
Marsha mengerutkan kening makin tak suka "Aku rasa kamu sudah tau keadaan ku sekarang, pulanglah. Aku mau istirahat."
Axcel menggaruk leher lalu mengendurkan dasinya, bukanya pergi dia menarik kursi dan duduk didekat Marsha "Aku pikir nggak jadi, aku harus menunggu orang tua mu kembali, karena anak gadisnya tidak bisa mengucapkan terima kasih yang benar karena aku telah menolongnya. Jadi aku menunggu orang tuanya yang mengucap terima kasih." Tatap Axcel wajah pucat Marsha yang terlihat cantik di matanya.
Marsha merotasikan matanya jengah "Siapa yang minta tolong? Kamu tahu gara-gara kamu orang tua ku jadi tahu yang sebenarnya? Kamu malah mempersulit masalah ku, jadi pergilah," usir Marsha lagi "apa kamu mau uang sebagai ucapan terima kasih? Cepat kasih tau berapa mau mu, tapi cepat pergi dari hadapan ku."
Bukanya tersinggung dengan perkataan Marsha yang seperti menghinanya Axcel justru suka, dia semakin merasa tertantang, tak pernah ada yang berani kasar dan menolaknya, sekalipun wanita itu dari kalangan berada.
"Uang ku sudah banyak, jadi aku nggak butuh uang, aku hanya mau tau, kenapa Marsha Mahardika ingin mencoba mengakhiri hidupnya dengan minum-minuman keras. Itu terlalu nanggung, kenapa nggak loncat dari gedung Mahardika corp aja yang tingginya bisa mencapai langit."
"Omong kosong cepat pergi, jangan ikut campur urusan ku, kamu tidak perlu tau."
"Aku rasa Marsha benar, lebih baik kamu pergi, karena dia harus istirahat." itu suara Mahesa, membuat keduanya menoleh.
"Loh, Axcel," ternyata Mahesa mengenal Axcel.
"Hai Mahesa, apa kabar?" Mereka bertos ria ala anak-anak gaul.
"Oh god," Marsha semakin dibuat pusing dengan kehadiran dua laki-laki dihadapannya, dalam hati kecilnya dia mengharapkan kehadiran Zidan.
__ADS_1