Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam

Marsha, Diantara Cinta Dan Dendam
Rahasia Tersembunyi


__ADS_3

Kakek Zidan melihat foto-foto Zidan bersama Marsha yang diberikan anak buahnya. Dia tak mempermasalahkan Zidan akan tidur dengan siapa, jika bersama Misya, usahanya untuk menjodohkan Zidan dengan temanya akan berjalan lancar, karena Zidan tipe laki-laki yang bertanggung jawab, jika bersama Marsha juga, akan sangat mudah membuat anak angkat dari Abdi itu hancur, semua sudah ada dalam rencananya.


"Zidan sudah kembali Pak, dia sedang dalam perjalanan mengantarkan bossnya." Anak buah Kakek Zidan menjelaskan tanpa diminta.


"Hmmm." Kakek bergumam, "jadi siapa malam itu yang membawa Zidan bersama Marsha?"


"Kami masih menyelidikinya Pak."


Kakek Zidan diam, dia mengusap dagunya, berarti ada orang lain yang ikut campur dalam masalahnya. Dia terus berpikir, siapa saja musuh-musuhnya selama ini, tapi dia tak mencurigai siapapun. Dia mencurigai Mahardika, tapi tidak mungkin Mahardika membiarkan cucunya melakukan one night bersama laki-laki bukan pasangan sah-nya, jadi siapa yang membuat Marsha dan Zidan bersama malam itu?


"Terus selidiki siapa yang membuat Zidan dan wanita singa itu bersama, kalian sudah terlalu lama."


"Baik Pak, kami akan segera melakukannya."


Kakek menghela nafas, "apa itu alasan mu mengganti anak buah beberapa kali belakangan ini?"


"Iya Pak, saya tidak mau orang itu mengetahui rencana kita."


"Bagus, kalau begitu carilah detektif handal untuk mencari tahu itu, aku ingin secepatnya dia ditangkap, rencana ku sedikit lagi berhasil, jadi aku tidak ingin ada yang bisa mengacaukan rencana ku." Kakek melepaskan kaca mata, mengusap wajahnya, "apa anak ingusan itu masih suka mencari tahu identitas cucuku?"


"Mahesa maksud Bapak?"


"Aku tidak tahu namanya."


"Ia, dia masih mencari tahu, tapi pengalamannya belum seberapa dalam bisnis, jadi dia tidak mungkin sejauh itu. Lagi pula anak itu menginginkan Marsha, jadi tidak mungkin dia pelakunya."


Kakek Zidan mengangguk. "Ingat aku ingin secepatnya orang itu ditangkap, aku harus tau siapa yang selama ini mengintai cucuku." Ucap Kakek Zidan lagi, sebelum anak buahnya keluar dari ruanganya.


"Baik Pak, kalau begitu saya undur diri." Anak buahnya itu menundukkan badan.


"Siapa yang berani-beraninya mau bermain dengan ku?" Kakek mengangkat sudut bibirnya "Aku sudah tidak sabar menunggu kehancuran keluarga itu, tak penting bisnis ku akan mereka buat hancur, yang terpenting, keluarga mereka berantakan."


* * *


Marsha turun dari mobil dengan sangat hati-hati karena inti tubuhnya masih terasa nyeri saat dia berjalan, Marsha meringis, dia merasa begitu tak nyaman.

__ADS_1


Terdengar dari luar derai tawa keluarganya, Marsha menggigit bibir bawahannya, menyandarkan tubuhku dibadan mobil, menyugar rambut panjangnya kebelakang. Jika mereka mengetahui apa yang dia alami, apakah gelak tawa orang tuanya masih bisa terdengar? Marsha melihat pada garasi rumahnya, motor besar adik kembarnya berada diluar, itu berarti adiknya pulang, dan ada mobil dari ayah dan bundanya.


Zidan menghela nafas, melihat kerisauan Marsha, sangat tahu apa yang ada dalam pikiran Marsha "aku bantu jika memang kamu kesulitan untuk berjalan." Zidan memegang pundak Marsha hendak menggendongnya.


Marsha menepis tangan Zidan "Kamu gila, apa kamu mau mereka curiga?"


"Aku tidak bisa membiarkan mu kesakitan seperti itu. Berhentilah bersikap angkuh Marsha, apa aku harus mengundurkan diri agar aku bisa memberi perhatian padamu, dan memberitahu mereka jika kita memiliki hubungan."


"Berhentilah mengucapkan kita memiliki hubungan Zidan, anggap semalam tidak terjadi apa-apa diantara kira, lupakan dan jangan pernah mengucapkan tanggung jawab, aku bisa melewati itu sendiri."


Tapi kamu jangan pernah menyerah Zidan, tetap disamping ku. Hatinya berkata lain.


"Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi."


Marsha menatap tajam Zidan "Jika kamu keras kepala, maka aku akan benar memecat mu Zidan."


"Dan aku akan mengatakan pada orang tuamu apa yang sudah terjadi diantara kita, aku yakin mereka akan segera menikahkan kita secepatnya jika tahu yang sebenarnya terjadi." Zidan tak mau kalah, dia tidak perduli penyamaranya dicurigai Marsha, baginya saat ini dia ingin terus melindungi Marsha.


Katakan Zidan, katakan, aku menunggu bukti atas ucapan mu.


"Ck, kamu makin hari makin berani Zidan, jika tahu kamu sekurang ajar begini, aku tidak akan pernah menjadikan mu sekretaris ku."


"Ehem." Keduanya dibuat terkejut dengan suara seseorang, ternyata itu suara Mahesa, "apa yang kalian berdua bahas? Kenapa tidak langsung masuk?"


"Bukan urusan mu." Jawab Marsha jutek seperti biasa, kemudian dia mendorong bahu Zidan untuknya lewat


Mahesa dan Zidan melihat punggung Marsha yang hilang dibalik pintu, setelah Marsha benar-benar sudah masuk kedalam rumah, Mahesa menatap Zidan tajam, namun Zidan membalas dengan senyuman hormat.


"Tetap bersembunyilah pada topeng mu, serapat mungkin kamu menyembunyikan jati diri mu, aku yakin suatu saat akan terbongkar juga, jika aku gagal membongkarnya didepan Marsha, aku yakin, kamu sendiri yang akan membongkar kebusukan mu." Mahesa semakin memajukan langkahnya "Apa kamu yakin wanita yang selalu kau temui dirumah aman benar-benar orang yang butuh penanganan disana?"


Zidan mendorong Mahesa "Apa maksud mu?"


"Tidak ada, aku hanya heran, kenapa ada orang tua yang mau membohongi anaknya dengan tinggal dirumah aman, padahal dia tidak butuh penanganan disana."


Degh

__ADS_1


Zidan dibuat tercengang atas ucapan Mahesa, apa yang dia bicarakan adalah mamanya? Sejauh apa Mahesa menyelidiki tentang dirinya. Dan apa maksudnya, orang yang tidak butuh penanganan? Tidak mungkin Kakek dan mamanya membohonginya?


"Kenapa? Terkejut? Aku lebih terkejut lagi jika ada wanita waras tapi dia pura-pura tidak waras didepan anaknya," Mahesa kembali maju satu langakah, kini dia benar-benar berhadapan dengan Zidan "apa tujuan mu masuk ke kehidupan Marsha?"


"Mahesa," Indah memanggil Mahesa dari depan pintu, membuat Mahesa dan Zidan menoleh "makananya sudah ditunggu, kenapa lama?" Ujarnya "Loh, ada Zidan juga? Ayo masuk! Kenapa kalian malah diluar."


"Iya Bun, kami lagi bahas tentang motor, ternyata hobi kami sama, Zidan juga punya club motor."


"Oh ya? Bagus donk kalau begitu, yuk bahasnya didalam aja, ayo Zidan, kamu juga harus ikut bergabung sama kita."


"Iya Nyonya." Zidan menundukkan kepalanya hormat.


"Ish, jangan panggil Nyonya, panggil Tante saja, biar lebih santai."


* * *


"Mahesa, kok isinya lele semua? Bunda nggak makan donk?" Protes Indah saat membuka kotak makanan dari restorannya sendiri yang dibawa Mahesa.


"Ayah bilang katanya Bunda udah makan lele." teriak Mahesa dari ruang keluarga, dia dan kedua adik kembar Marsha sedang bermain game.


"Mas kamu mau aku mati kelaparan?" Indah bertolak pinggang memarahi suaminya yang sedang bermain catur bersama Rasya ditaman belakang rumahnya.


"Mahesa salah dengar sayang, bukan aku yang nyuruh."


"Bun, ada bukti wa Ayah kok." Teriak Mahesa lagi membela diri.


"Mas, kamu sengaja ngerjain aku?"


Abdi meringis, "tolong ya, kalau mau perang dikamar tamu aja," Rasya memberi solusi "ayo Zidan, kamu yang temani Om main catur." Zidan mengangguk, mengambil tempat duduk Abdi yang berdiri menghampiri istrinya.


"Sayang, ayo kita selesaikan dikamar." Abdi membawa tangan Indah, namun segera ditepis.


"Nggak mau, jangan harap kamu bisa masuk kamar seminggu kedepan." Mawar yang datang membawa teh hanya geleng kepala melihat keributan Indah dan Abdi.


"Es teri, kamu tega?" Abdi memelas.

__ADS_1


"Kamu yang tega Mas, sama aja kamu maksa aku diet, aku kan nggak gemuk-gemuk amat, cuma sedikit berisi."


Ada rasa gemuruh didada Zidan melihat kehangatan dan keharmonisan keluarga Marsha, apalagi Mahesa yang jauh berbeda saat bertemu dengannya dan saat berkumpul bersama keluarganya.


__ADS_2