
setelah memandikan dan memakaikan kembali pakaian Fan Weili, Lin Yihua keluar kamar dan menyuruh anaknya mengurusi Fan Weili lebih dulu.
"Tian'er bagaimana dengan serangga parasit ini?" tanya Lin Yihua
"seharusnya kita bisa menyerang pemilik serangga melalui serangga ini, namun itu hanya akan melukainya saja. saya ingin menjebak pemilik serangga ini, agar tidak jatuh korban lain" Lu Tian
"saya pikir sekte sesat itu sudah musnah. ternyata masih ada yang tersisa" Lin Yihua
"kita coba untuk memberi makan serangga itu. sepertinya sebentar lagi serangga itu siap di panen. saya akan carikan sumber daya untuk makanan serangga tersebut, saat serangga siap dipanen pasti pemiliknya akan datang mencarinya kemari" Lu Tian
"sepertinya lebih baik seperti itu saja" Zhao Yelu
"nenek Lin, masukan bahan- bahan ini ke air mandi nona Fan, setengah jam sebelum mandi malam hari. saya sudah menuliskan di buku resepnya. silahkan di pelajari, besok saya akan mengechek lagi kondisinya. semoga tidak ada parasit yang tersisa" Lu Tian
...****************...
keesokan harinya Lu Tian dan Luo Xin menghadiri pertemuan aliansi sekte putih netral. Lu Tian menyampaikan beberapa informasi pusaka dan kitap yang diinginkan aliansi hitam.
"saya yakin beberapa dari sekte aliansi ini tahu lokasi penyimpanan kitap dan pusaka yang saya sebutkan. untuk itu saya berharap, kita bisa lebih waspada dan mempersiapka diri" Luo Xin
setelah selesai menghadiri pertemuan, Lu Tian kembali ke kediaman Lin Yihua untuk memeriksa kembali kondisi Fan Weili yang sudah sadar namun masih dalam tahap pemulihan. raut wajah Fan Weili lebih cerah dan tampak memerah saat Lu Tian memeriksa. sebenarnya Fan Weili belum pernah melihat wajah Lu Tian, namun dari kelembutan dan sikap yang ditunjukan Lu Tian, dia tahu Lu Tian adalah orang yang baik. apalagi setelah dia melihat wajah asli Lu Tian dia semakin jatuh hati. saat neneknya menanyakan apakah mau di jodohkan dengan Lu Tian dia dengan malu- malu mau saja bila Lu Tian juga mau.
Lu Tian sedang minum teh bersama Luo Xin dan Lin Yihua, sedangkan Fan Weili mendengarkan pembicaraan mereka
"Tian'er apakah sudah memiliki kekasih?" tanya Lin Yihua
"Nenek Lin, Belum ta..." Lu Tian belum selesai menjawab sudah di potong
"kalau begitu, sebagai tanda terimakasihku apakah mau menerima Lili sebagai istrimu?" Lin Yihua
"Nenek Lin, Ma...ma..Maaf, saya rasa tidak bisa?" Lu Tian semakin bingung
"apa kamu merasa Lili tidak cantik, atau karena kamu sudah memilih Zhu Xinxin?" Lin Yihua
"Bukan....Bukan, Fan Weili sangat cantik, tapi jujur saya belum bisa menentukan sikap. untuk masalah Zhu Xinxin, Zhu Xinxin ini siapa ya??" Lu Tian bingung
__ADS_1
"Aaa..., jadi si tua Zhu itu belum mengenalkan cucunya?" Lin Yihua
"Ohhh..., jadi Zhu Xinxin itu cucunya kakek Zhu. kakek Zhu memang pernah bilang mau mengenalkan cucunya tapi kami belum bertemu" Lu Tian
"terus..., maksudnya kamu belum bisa menentukan sikap?" tanya Lin Yihua
"emm..., orang tuaku sudah membuat perjanjian pernikahan. tapi saya tidak tahu siapa calon istriku, karena semua orang tidak tahu saya masih hidup. jadi saya harus menemui kakek Bing Kun. kotak penyimpanan surat perjanjian tersebut hanya bisa di buka oleh kakek Bing Kun. saya harus memastikan terlebih dahulu apakah surat itu masih berlaku" Lu Tian
Lin Yihua mengerti maksud Lu Tian, sedangkan Fan Weili sesikit kecewa karena dia sudah berharap bisa bersama Lu Tian.
di kediaman tetua Zhu Zhishu, dia sedang membujuk cucunya untuk mengikutinya. Zhu Zhishu berencana mengenalkanya dengan Lu Tian. namun Zhu Xinxin kesal karena dipaksa kakeknya.
"Tian'er bagaimana kondisi Fan Weili?" tanya Zhu Zhishu
"sudah lebih baik, bila dia menjalankan pengobatan sesuai petunjuk dia bisa kembali berlatih secara normal, ohh ya kakek Zhu, saya ada membawa beberapa obat- obatan dan arak apel emas untuk kakek" Lu Tian menjelaskan lalu mengeluarkan bingkisan untuk Zhu Zhishu.
melihat apa yang dilakukan Lu Tian semakin menambah kecurigaan Zhu Xinxin. sehingga sebelum kakeknya mengenalkan, dia lebih dahulu buka suara.
"apa kamu yang bernama Lu Tian?" Zhu Xinxin
"saya harap kamu jangan terlalu berharap, meskipun kamu memberikan banyak hadiah dan bisa mengambil hati kakek, aku tetap tidak mau dijodahkan sama kamu" Zhu Xinxin
"Xin'er, kamu tidak boleh tidak sopan seperti itu" Zhu Zhishu menasehati
"kakek, kan kakek sudah bilang kemarin tidak akan memaksa Xin'er" Zhu Xinxin
"Lu Tian, bagaimana kalau kita bertanding pedang, kalau aku kalah aku akan menerima perjodohan ini, tapi kalau kamu kalah. aku tidak mau perjodohan ini terjadi" Zhu Xinxin
"Xin'er, kamu sudah keterlaluan. cepat minta maaf pada Tian'er" Zhu Zhishu marah
"kakek Zhu, tidak apa- apa. Baik ayo kita bertanding. tapi kita rubah sedikit aturannya. kalau aku menang kamu ikut mauku, kalau kamu menang aku ikut maumu" Lu Tian
"Baik, sepakat. kakek akan jadi saksi" Zhu Xinxin
Lu Tian mengambil sebuah ranting pohon. "silahkan nona Zhu memakai pedang asli" Lu Tian
__ADS_1
"apa kamu meremehkanku?" Zhu Xinxin marah
"justru ini agar pertandingan ini bisa berimbang, apa kamu tidak percaya?" Lu Tian
"tentu aku tidak percaya, kemampuanmu saat ini paling hanya ditingkat pendekar raja" Zhu Xinxin
"kakek Zhu. bolehkah saya memberinya sedikit pelajaran?" Lu Tian
"Tian'er, selama tidak membayakan nyawanya tidak masalah" Zhu Zhishu
"hufff...." Lu Tian menghela nafas dan melepaskan sedikit aura dewa selama 2 detik. seketika Zhu Xinxin terduduk lemas menatap Lu Tian. "apa masih yakin ingin bertanding denganku. tadi saya hanya melepas 2 detik kekuatanku" Lu Tian tersenyum sedangkan Zhu Zhishu semakin kagum, tadi Lu Tian juga menargetkan Zhu Zhishu agar Zhu Zhishu tahu Aura yang dilepas tidak berbahaya.
"A...Aku mengaku kalah" Zhu Xinxin tahu tidak ada harapan menang
"sepertinya kurang menarik, saya hanya akan bertahan, bila kamu berhasil menyentuhku atau membuat ranting ini patah. tandanya kamu menang" Lu Tian memberi penawaran dan Zhu Xinxin menerimanya
mereka pun bertanding serangan demi serangan di lancarkan namun Lu Tian menahannya dengan sebuah ranting. bahkan ranting yang digunakan pun tidak lecet sedikitpun. Luo Xin yang baru melihat kejadian tersebut tersenyum melihat Lu Tian bermain- main. beberapa menit berlalu. Lu Tian yang sudah mulai bosan akahirnya mengeluarkan sebuah gerakan yang membuat pedang Zhu Xinxin terlempar sekaligus membuat Zhu Xinxin menyadari tingkat perbedaannya sangat jauh.
"karena kamu kalah, dengarkan apa mauku" Lu Tian
"Baik aku mau di jodohkan sma kamu" Zhu Xinxin melemas
"Siapa yang mau dijodohkan sma kamu??" Lu Tian kesal karena gadis bodoh di depannya dari awal sudah salah paham
"Haa...??" Zhu Xinxin bingung
"dengar baik- baik, sebelum saya selesai bicara jangan memotong. kamu belajarlah dengan baik. dengarkan apa nasehat kakekmu. urusan perjodohan tidak usah kamu pikirkan. saya dari awal tidak punya maksud mengikuti perjodohan. saya tidak punya sedikitpun perasaan sama kamu.
hadiah yang kuberikan untuk kakekmu juga bukan karena kamu. saya sudah menganggap kakek Zhu seperti kakek sendiri. dan lagi kakekmu tidak mungkin memaksa kamu menikah denganku. semua ini semata- mata agar kita bisa mengenal. jadi tolong jangan menyalah artikan semua tindakanku dan kakekmu. semoga kamu paham" Lu Tian menjelaskan
"Tian'er kamu berbicara seperti itu dengan memakai topeng, sopanlah sedikit dengan tetua Zhu. dia bukan musuh" Luo Xin
Lu Tian melihat ke arah Luo Xin " maaf guru, maaf kakek Zhu. saya lupa kalau masih dalam mode topeng" Lu Tian mengubah ke mode normal dan tersenyum ke arah Zhu Xinxin dan Zhu Zhishu
saat melihat wajah Lu Tian, Zhu Xinxin hanya bisa terdiam. orang yang selalu dia tolak, ternyata orang yang selama ini dia cari- cari yang bisa membuatnya berdebar- debar, memiliki senyum yang tidak bisa dilupakan. Zhu Xinxin memberanikan diri bertanya kepada Lu Tian.
__ADS_1
"apa kamu tidak memiliki sedikit pun keinginan menjadi tunanganku?" Zhu Xinxin
"huff... maaf tidak ada sedikitpun. lagi pula aku sudah memiliki tunangan" jawab Lu Tian