
Jendral Hou bertarung melawan Mu Liau. Mu Liau sudah terluka parah. Dia memandang sekeliling dan menemukan hasil yang diluar dugaan. Pasukan yang dia pimpin sudah terdesak. Pendekar aliran hitam yang membantunya juga sudah dikalahkan.
Jendral Hou juga terluka parah tapi tekad pejuang yang dimilikinya membuat semua luka-luka yang di alaminya tidak berasa.
"Mu Liau sepertinya aku harus meminta maaf kepada Hou Lin. Bagaimanapun aku harus membunuh orang yang dicintainya" Jendral Hou.
Mu Liau tertegun mendengar kata-kata tersebut. Mu Liau dan Hou Lin sudah dekat sedari kecil. Dan Jendral Hou sudah berencana menikahkan Mu Liau dengan Hou Lin. Namun Pangeran Yin Hongli menceritakan sebuah kisah palsu pada Mu Liau. Hingga dendam tertanam dan tumbuh di hati Mu Liau.
Sebenarnya Mu Liau sangat mencintai Hou Lin namun dendamnya pada Jendral Hou membuat dia menjauhi Hou Lin. Dan hari ini Mu Liau memandang Jendral Hou dengan tidak berdaya. Kakinya sudah tidak mampu digerakan. Kedua tanganya juga sudah patah. Mu Liau hanya mampu menatap Jendral Hou yang marah namun meneteskan air mata.
Hari ini dia bisa melihat rasa kecewa dari wajah ayah angkatnya tersebut. Dari umur tiga tahun Jendral Hou mengambilnya menjadi anak angkat. Jendral Hou mendidik dan mengajarkan berbagai macam hal. Jendral Hou yang selalu gagah perkasa penuh ketegasan saat di medan perang. Namun selalu tersenyum saat mengajaknya bermain.
Mu Liau menutup mata kembali mengingat saat dirinya bermain dengan Hou Lin di umur sepuluh tahun
"Liau'er apa impianmu?" Hou Lin.
"Aku akan menjadi Jendral yang membanggakan seperti ayah" Mu Liau.
"Kalau begitu aku ingin menjadi istri Jendral yang hebat" Hou Lin tersenyum manis.
Mu Liau membuka mata dan menatap Jendral Hou.
"Ayah, sampaikan permintaan maafku pada Linlin. Maaf aku tidak bisa menjadi Jendral yang hebat, kuharap dia bisa menemukan Jendral hebat yang bisa menjadi pendampingnya" Mu Liau menundukan kepala menandakan sudah siap menerima tebasan dari ayah angkatnya tersebut.
'Seettss...' darah bercucuran bersamaan dengan jatuhnya sebuah kepala. Jendral Hou mengangkat kepala tersebut hingga semua pasukan pemberontak dapat melihat bahwa pimpinan mereka sudah mati.
__ADS_1
Air mata Jendral Hou jatuh, Jendral Hou memiliki tiga orang putra namun ketiganya tidak ada yang mengikutinya menjadi pasukan militer. Hanya Mu Liau anak angkatnya yang dari kecil selalu bercita-cita menjadi sepertinya. Orang yang sudah dia anggap sebagai anak kandung sendiri. Anak yang selalu menjadi kebanggaanya. Bahkan calon suami anak perempuan kesayangannya. Sekarang justru harus mati di tangannya sebagai seorang penghianat mengikuti jejak ayah kandungnya.
Pasukan yang melihat kepala Mu Liau mati bergegas menjatuhkan senjata mereka. Sedangkan pendekar aliran hitam yang melihat keadaan berubah bergegas melarikan diri.
Yin Chen saat ini mengejar dua pendekar suci yang terluka parah. Sebelumnya setelah berhasil mengalahkan pamannya pangeran Yin Hongli, Yin Chen sempat bertarung melawan dua pendekar suci yang mencoba mengejar Kaisar Yin Song. Dua pendekar suci tersebut bukanlah masalah bagi Yin Song hanya dalam beberapa tarikan napas sudah membuat dua pendekar tersebut terluka parah.
Melihat kondisi mereka yang tidak mungkin menang dari Yin Chen, akhurnya mereka memutuskan melarikan diri.
Yin Chen mengikuti kedua pendekar tersebut dari udara. Sebenarnya Yin Chen bisa saja berteleportasi untuk mencegah pendekar tersebut lari lebih jauh. Namun Yin Chen pada dasarnya belum bisa bersikap dewasa sepenuhnya. Ada saat dia meluapkan emosinya dengan bermain-main dengan musuh. Itu sebabnya Wang Xuxing sering sekali memarahi Yin Chen bila bermain-main terlalu lama.
"Chen'er, apa kamu belum selesai?" Yin Meiyin muncul disamping Yin Chen.
"Belum kak, aku masih mengejar dua pendekar suci tersebut" Yin Chen sambil menunjuk kearah pendekar suci yang berlari di dalam hutan.
"Chen'er sebaiknya kamu cepat selesaikan, Ayah membutuhkan bantuan disana. Urusan disini serahkan saja pada Liang Mei" Yin Meiyin
Yin Chen muncul di depan kedua pendekar suci yang sedang melarikan diri. Tanpa basa basi langsung menebaskan pedangnya kearah kedua pendekar suci tersebut. Kedua pendekar langsung terhempas menghantam pohon.
Kedua pendekar tersebut mengerang kesakitan dan memuntahkan darah. Tampak jelas luka sayatan di dada kedua pendekar tersebut.
"Ampuni kami, kami salah... kami salah..., kami tidak akan mengulanginya lagi" Kedua pendekar suci aliran hitam tersebut besujud minta ampun.
"Maaf tapi aku tidak punya hak untuk mengampuni kalian" Yin Chen kemudian menebaskan pedangnya.
Kedua pendekar suci tersebut langsung tergeletak tak berdaya. Yin Chen menggeledah jasad ke dua orang tersebut dan mengambil kantong penyimpanan serta pedang pusaka milik mereka. Setelah selesai dengan kedua pendekar suci tersebut Yin Chen segera teleportasi ke tempat Liang Mei
__ADS_1
"Kak Meimei, saya ke perbatasan dahulu, saya serahkan masalah yang ada di Istana pada kakak" Yin Chen.
"Ya..., cepatlah, hati-hati musuh disana lebih kuat dari pada disini" Liang Mei.
Yin Chen segera teleportasi menuju ke perbatasan.
***
Di lokasi Sekte Menara Bayangan, dua orang paling berpengaruh dari Sekte Hantu Terbang menyerang setiap pendekar angota aliansi putih netral, dua pendekar suci gerbang enam tersebut sangat lihai dan memiliki kecepatan yang sulit dihindari pendekar raja. Di tambah jurus tapak iblis yang membuat pendekar yang terkena serangannya merasakan setiap tulang-tulangnya semuk.
Liu Fanxi dan Hang Jun benar-benar menyerang tanpa ampunan. Di sekelilingnya di penuhi banyak mayat pendekar putih netral.
Namun serangan yang mereka lancarkan harus berhenti kala sebuah udara bergerak cepat dan mendorongnya mundur beberapa langkah.
"Cukup sampai disini saja kejahatan kalian, aku tidak akan membiarkan lebih dari ini" Wang Xuxing.
"Dasar anak salan, hari ini aku akan mengajarkanmu tata krama" Hang Jun.
Hang Jun mencabut pedangnya, Baru ingin bergerak namu sudah terpukul mundur lebih jauh lagi. Lalu pendekar wanita dengan pedang kristal putih muncul di samping Wang Xuxin.
"Apa orang tua beracun seperti kalian, layak mendapat hormat dari kami?" Gao Nian.
Kedua pendekar tersebut berkeringat dingin. mereka berencana melawan Wang Xuxing berdua. Siapa sangka ada satu lagi pendekar suci yang datang untuk melawan mereka. Meskipun seorang pendekar wanita namun pendekar itu adalah pendekar suci gerbang delapan tahap akhir. Jelas bukan tandingan mereka.
Gao Nian memakai kemampuan pedangnya, Gao Nian menghilang namun belum bergerak. Liu Fanxi dan Hang Jun sudah gemetar, menanti kapan serangan akan mengarah pada mereka.
__ADS_1
Ditengah kegelisahan Hang Jun merasakan bahaya dari arah kanannya. Hang Jun mampu menghindar namun sebetan pedang melukai lengannya. Hang Jun segera menghentikan pendarahannya sambil terus waspada.
Sedangkan Liu Fanxi menerima serangan tinju udara dari Wang Xuxing. Lui Fanxi dengan mudah mampu menghindarinya. Tapi serangan yang di lancarkan Wang Xuxing hanya serangan pengalihan saja. Wang Xuxin sudah muncul di belakang Liu Fanxi menghantamkan tinju petir. Liu Fanxi terhempas jauh hingga menumbangkan tiga batang pohon, seluruh badannya tersengat petir hitam yang menyiksa.