
Yin Meiyin sudah mencapai pendekar suci gerbang tujuh. Setelah itu dia bersama dengan nenek Walet dan Phoenix es pergi bertarung dengan siluman sampai gerbang delapan terbuka.
Nenek Walet juga akan mengajari Yin Meiyin terbang. Sedangkan Lu Tian dan ketujuh hewan suci lainya pergi ke gua di lereng gunung tengah pulau untuk menambang material terbaik yang ada di semesta ini.
*
Tak terasa sudah satu tahun lebih Lu Tian berada di tanah Hilayan tepatnya di pulau Jiwo artinya sudah satu setengah tahun dari mereka memasuki gerbang dimensi Hilayan. Pulau Jiwo memiliki sumber daya yang banyak dan lebih baik dari daratan Huming. Ditambah adanya kristal alam hitam, orang yang menyerap tenaga dalam di tempat ini bisa lebih cepat lima puluh kali lipat dari pada di Huming. itu juga sebabnya peningkatan Yin Meiyin lebih cepat dari mereka yang berlatih di Huming.
Yin Meiyin saat ini sudah mencapai pendekar Bumi yang mampu mengendalikan segel bumi gerbang kedua. Phoenix es sangat suka dengan Yin Meiyin dan selalu menempel padanya. Bahkan Lu Shi Lia menyebutnya anak durhaka karena melupakan dirinya yang sering mengurus keluarga phoenix. Yin Meiyin memberi Phoenix es nama Lis dan meminta Lu Tian menyegel Phoenix es ke sebuah cincin, kebetulan Lu Tian memberi Yin Meiyin cincin kualitas tinggi.
Meskipun sudah ada cincin untuk tempatnya istirahat namun saat tidur dia lebih suka tidur di luar cincin sambil memeluk Yin Meiyin. Dan hal itu kadang membuat Lu Tian kesal karena menggagu waktu romantis mereka di dalam kamar. Tapi Lu Tian tak berani menegur karena Lis suka melapor dan Yin Meiyin bisa marah padanya kalau menggangu Lis.
Sebelum kembali ke dunianya, Lu Tian pergi ke dimensi Mogu bersama Yin Meiyin. Di sana mereka mempelajari beberapa jurus yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Dan Lu tian juga mengajarkan mereka beberapa jurus, terutama memberikan cara agar bisa memulihkan cakra tanpa memakan buah cakra.
Selain mengajarkan jurus Lu Tian juga mengajarkan cara membuat pil cakra, dari beberapa bahan berkualitas yang bisa mereka temui di hutan sekitar desa dan buah cakra. Lalu memberikan sebuah buku informasi barang-barang yang laku di jual. Karena rencana Lu Tian akan membuka pasar lintas dimensi.
*
Di Huming sendiri hanya tinggal Yin Chen dan Gao Nian yang baru belajar terbang. Karena sudah banyak yang bisa terbang. Lu Sean membuat kompetisi adu terbang dengan siluman yang di tangkap Lu Sean. Saat Lu Sean tengah asik menonton adu terbang tiba-tiba Lu Sean merasakan ada Qi kuat yang terpancar berasal dari kuil kuno. Namun dia tidak merasa gerbang kuil terbuka. Lu Sean segera terbang menuju kuil ingin melihat orang kuat yang datang.
Di kuil kuno Lu Tian baru saja membawa Yin Meiyin ke Huming dengan menggunakan cristal teleportasi. Mereka memakai jubah putih dengan sedikit motif bunga. Lu Tia memakai motif bunga berwarna biru muda, sedangkan Yin Meiyin berwarna merah muda. Sebenarnya Lu Tian lebih suka jubah polos tapi Yin Meiyin yang belajar membuat motif pakaian di Mogu memaksa Lu Tian menambahkan motif bunga tersebut.
Jubah ini bukan jubah biasa karena di buat dari kulit siluman ular tingkat lanjut. Yaitu salah satu dari jendral kerajaan siluman pulau Jiwo. Dan di tambah kekuatan dari kristal alam hitam. Hanya pendekar bumi gerbang tujuh yang bisa menyakiti pemakai jubah itu.
Selain jubah topeng yang digunakan Lu Tian dan Yin Meiyin juga sudah di upgrade kekuatannya. Dengan Jurus penyatuan yang sudah di pelajari Lu Tian berhasil menyatukan topeng meraka dengan giok semesta. Serbuk kristal alam tingkat rendah yang ada di dalam semua pusaka Lu Tian dan Yin Meiyin juga di ganti dengan kristal alam hitam.
"Waahhh... ternyata kita bisa teleportasi lintas dunia, asal kita mengingat tempat tujuan kita" Lu Tian
__ADS_1
"Ia ini sangat praktis, dari pada jalan kilat" Yin Meiyin kemudian menggendong Lis yang baru saja keluar dari cincin.
"Kalau begitu ayo kita temui meraka" Lu Tian
Namun langkah mereka terhenti karena Lu Sean ada di depan pintu.
"Tian'er..., Sepertinya kamu sudah menjadi lebih kuat ya? dan siapa mereka" Lu Sean.
"Hormat kakek, perkenalkan ini Yin Meiyin istriku, dan ini Lis..." Lu Tian.
"Tidak perlu di jelaskan, dia anak si tua Phoenix yang tinggal bersama Lia'er" Lu Sean.
"Hehheh... ,aku takut kakek mengira dia anak kami" Lu Tian.
"Hahaha..., kamu pikir saya tidak bisa membedakan hewan suci dan manusia!. Tapi kalian memang terlihat seperti keluarga yang sedang tamasya. Bagaimana kabar Nenekmu?" Lu Sean.
"Lis tidak boleh bicara seperti itu. kakek Lu lebih tua dari bibi" Yin Meyin
"Salah, dia itu kakak tertua dan Lu Bian yang termuda" Lu Sean. Yin Meiyin hampir tersedak mendengar penjelasan Lu Sean.
"Ayo kita menuju arena balap, kebetulan ada kalian disini kita bisa bertaruh" Lu Sean
Mereka terbang menuju arena yang dimaksud. Lu Tian tercengang melihat kondisi Huming karena Rumah Lu Sean yang awalnya bobrok, saat Lu Tian berlatih di pugar menjadi layak huni, dan sekarang kediamannya mirip komplek bangunan keluarga besar di ibukota.
Tidak jauh dari situ di daerah pegunungan beberapa siluman dan manusia sedang terbang mengitari gunung yang terdapat beberapa penunjuk arah dan beberapa rintangan. Bahkan beberapa siluman yang memiliki kecerdasan lebih ikut menonton pertandingan.
"Apakah Kakek juga memasang tarif untuk tiket menonton pertandingan?" Lu Tian
__ADS_1
"Tentu mereka harus mencari sumber daya berharga untuk di tukar menjadi tiket masuk, hihihi..."
"Kakek benar-benar menerapkan ide ku?" Lu Tian kaget tidak menyangka pikiranya dulu di wujudkan Lu Sean. dulu saat dipaksa terbang oleh Lu Sean, Lu Tian benar-benar menikmati balapan dengan siluman-siluman. Jadi dia ingin membuat arena balap di gunung,
"selain itu apakah kita bisa membuka perdagangan dengan manusia. kita memberi sumber daya yang di butuhkan manusia dan ditukar dengan barang-barang yang di butuhkan siluman-siluman" Lu Sean.
"Bisa saja kita membuka perdagangan lintas dimensi. Tapi sebaiknya kita mencari dimensi yang kosong yang bisa di jadikan lokasi pusat perdagangan antar ras. Namun kita harus lebih dulu membasmi organisasi rahasi yang menciptakan kekacauan, sebelum kita mewujudkan itu semua" Lu Tian berpikir.
Tidak lama kemudian Yin Chen datang. Dia tertegun memandang kakannya yang mengendong Lis.
"Kakak..., apakah dia ponakanku?" Yin Chen
"Eehhh..." Yin Meiyin bingung sedangkan Lis menatap Yin Chen waspada
"jangan meng...." Lu Tian ingin mencegah, tapi Yin Chen tanpa perduli mengambil Lis dari gendongan Yin Meiyin dan menggendongnya. Yin Chen memasang wajah lucu ingin bermain dengan Lis. Lis menonjok mata Yin Chen hingga dia terlempar menabrak dinding. Yin Meiyin tercengang melihat adiknya terlempar hanya dengan sekali tonjok
"Aduhh..., Kakak anakmu kuat sekali" Yin Chen bangun dengan mata hitam lebam sebelah.
"Aku bukan anak kecil" Lis marah dan menggembungkan pipinya kembali pelukan Yin Meiyin.
"Chen'er, dia bukan anak kecil, usianya hampir sama dengan kakek Lu" Lu Tian.
Lis menatap tajam Lu Tian, dia melompat ke Lu Tian dan melayangkan tamparan ke wajah Lu Tian beberapa kali." Aku bukan nenek-nenek" Lis kembali menggembungkan pipi lalu melompat kembali ke pelukan Yin Meiyin.
"ingat kalian harus memanggilnya gadis manis, atau gadis imut" Yin Meiyin
"Tidak... kalian harus memanggilku Cantik, sama seperti mama Yinyin" Lis manja di pelukan Yin Meiyin. Yin Chen dan Lu Tian hanya bisa meratapi nasip. siapa yang menyuruh dia tidak peka.
__ADS_1