Maura Sang Gadis Bar-bar

Maura Sang Gadis Bar-bar
11. Kejahilan Volkan


__ADS_3

Maura sangat frustasi ketika dia melihat ada darah di sprei yang saat ini sedang dia tiduri di kamar hotel bersama Volkan.


" Cepat katakan kepadaku! Apa yang sudah kau lakukan kepadaku? Kenapa ada darah disini?" Maura panik dan ketakutan.


Volkan tertawa terbahak-bahak, ketika dia melihat ekspresi Maura yang begitu lucu dan membuat dia merasa sangat bahagia.


" Kenapa kau tertawa? Katakan padaku apa yang sudah kau lakukan huh?" tanya Maura kesal luar biasa. Sambil mengguncang tangan Volkan agar mau bicara jujur padanya.


Volcan kemudian mengambil celana yang berada di lantai dan menggunakannya begitu saja di hadapan Maura yang sontak langsung memalingkan wajahnya karena merasa malu.


" Dasar pria gila!" gerutu Maura dengan wajah memerah seperti kepiting rebus ketika dia melihat pantat Volcan di depan matanya.


Volkan hanya tertawa mendengarkan gerutuan Maura atas dirinya.


" Cepat katakan! Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" tanya Maura terus mendesak Volkan untuk mengatakan Kejadian yang sesungguhnya diantara mereka berdua.


Setelah mengunakan celananya, Volkan lalu mendekat ke arah Maura kemudian dia berbisik di telinga gadis itu, " Pecah perawan sayang. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu tadi malam? Kalau kita berada di hotel ini untuk melakukan itu." ucap Volkan dengan senyum tengilnya yang membuat Maura benar-benar frustasi.


" What? Jangan bercanda kamu!" ucap Maura tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Volkan kepadanya.


Volkan kembali berbisik di telinga Maura. Sehingga Maura bisa merasakan deru nafas Volkan yang begitu dekat di telinganya. Bahkan hampir mencium leher Maura yang jenjang dan sangat menggoda iman Volkan.


" Darah yang ada di sprei itu adalah saksi dan juga bukti bahwa aku telah berhasil memecahkan keperawanan milikmu! Aku sudah menstempel kamu sebagai milikku mulai sekarang!" bisik Volkan lagi benar-benar membuat Maura merinding seketika.

__ADS_1


" Jangan gila!" Maura berteriak sangking kesal dan kagetnya.


Tetapi Maura kembali berfikir, kalau memang benar bahwa keperawanan milik dia sudah pecah, tapi kenapa dia tidak merasakan apa-apa di area sensitif nya?


Maura tampak terus berpikir keras. Apakah mungkin Volkan sedang menipunya? Tetapi dia kembali melihat darah segar yang berada di sprei yang tepat berada di bawah area sensitifnya. Hal itu benar-benar membuat Maura sangat frustasi.


Maura langsung meloncat dari atas ranjang dan pergi ke karya kamar mandi untuk memeriksa keadaan tubuhnya.


Sementara itu Volkan tampak tertawa terbahak-bahak. Saat dia melihat ekspresi Maura yang benar-benar sangat lucu ketika panik saat dia membohonginya tadi.


" Ya ampun betapa polosnya dia. Bagaimana mungkin dia tidak bisa membedakan antara dirinya sudah tersentuh dengan masih tersegel baik? Dia benar-benar sangat lucu dan menarik sekali!" monolog Volkan yang benar-benar tidak mengerti masih ada gadis sepolos Maura di dunia ini.


" Tampaknya tidak masalah, kalau aku akan bersenang-senang sedikit dengan gadis itu!" ucap Volkan dengan senyum usilnya.


Sementara itu Maura yang berada di kamar mandi, dia terus memeriksa tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki dan mencari tahu kebenaran yang dikatakan oleh Volkan terhadap dirinya.


" Ya Tuhan! Lihatlah kiss mark ini. Betapa ganasnya dia ketika melakukan itu padaku. Betapa banyak dan dalamnya. Oh Tuhanku! Kehormatan yang sudah aku jaga lebih dari 20 tahun lamanya. Sekarang aku harus merelakannya kepada pria Brengsek itu? Oh no!!!" Maura terus mengacak-acak rambutnya.


Maura terus menatap bekas-bekas kiss mark yang ada di atas tubuh mulusnya yang saat ini polos. Kiss mark itu benar-benar membuat dia yakin kalau apa yang dikatakan Volkan adalah kebenaran yang hakiki.


" Sayang! Apakah kau masih lama?" tanya Volkan dari arah luar kamar mandi.


Maura benar-benar sangat pusing dan pening ketika dia mendengar Volkan yang terus saja memanggilnya di luar sana dengan panggilan sayang sehingga membuat telinganya terasa begitu panas.

__ADS_1


" Cepatlah sayang aku juga mau mandi! Kita harus melanjutkan perjalanan kita lagi sayang. Kalau terlalu siang nanti pasti kita akan terjebak macet di jalan!" ucap Volkan masih berusaha membujuk Maura untuk membuka pintu kamar mandi untuk nya.


Akan tetapi Maura yang saat ini sedang merendam tubuhnya dan menggosok tubuhnya dengan sangat keras seakan sedang menghilangkan bekas-bekas yang ditinggalkan oleh Volkan di tubuhnya.


" Sekarang kamu sudah ternoda Maura tidak akan ada laki-laki lain yang mau menikahimu. Hiks hiks. Laki-laki brengsek itu sudah mengambil segalanya darimu. Sekarang kamu dan songgok sampah sama saja. Kau tidak berharga lagi! Hiks hiks!" ucap Maura sangat sedih sekali.


Maura kemudian menenggelamkan wajahnya di dalam bathup. Maura berniat untuk membunuh dirinya sendiri.


Karena Maura yang merasa bahwa hidupnya sudah sia-sia sekarang. Setelah dirinya kehilangan kehormatannya gara-gara Volkan yang dia tahu sudah memiliki seorang tunangan bahkan pernikahan mereka sedang dipersiapkan oleh kedua belah pihak.


" Kamu memang layak mati Maura. Kalau ibumu tahu, dia pasti akan sangat marah kepadamu. Dia akan membunuhmu ketika dia mengetahui tentang semua ini! Hiks hiks!" Maura terus bermonolog dengan dirinya sendiri. Sambil terus memukuli tubuhnya yang dia pikir telah ternoda. Setidaknya itu lah yang sedang ada dalam pikiran Maura saat ini.


Keusilan dan kejahilan Volkan memang benar-benar keterlaluan. Dia hampir saja membunuh Maura. Kalau saja gadis itu tidak mengingat tentang ibunya yang hanya memiliki dirinya saja sebagai anaknya.


" Mama maafkan aku karena aku sudah sangat mengecewakanmu! Kalau aku mati, Mama pasti akan sangat sedih sekali. " sontak Maura pun langsung mengangkat tubuhnya kembali dan mengambil nafas dalam dalam.


Maura kemudian mengatur nafasnya agar kembali stabil.


Sementara itu Volkan yang berada di luar kamar mandi, dia masih belum menyerah untuk meminta Maura untuk membuka pintu kamar mandi.


" Ya ampun! Apa yang kau lakukan di sana hu? Kenapa lama sekali?" tanya Volkan ketika akhirnya Maura keluar dari kamar mandi dengan matanya yang sembab dan bengkak.


Volkan terus memperhatikan Maura yang membuatnya jadi sedikit merasa bersalah karena sudah bercanda dengan Maura dan hal itu sangat kelewatan.

__ADS_1


" Maafkan Aku! Aku janji, aku pasti akan bertanggung jawab kok sama kamu!" ucap Volkan dengan memegang tangan Maura.


" Bertanggung jawab dengan apa? Sementara kamu sendiri sudah punya tunangan dan pernikahan kalian bahkan sudah disiapkan oleh kedua orang tuamu, oleh keluarga kalian berdua! Katakan padaku tanggung jawab seperti apa yang akan kau berikan padaku huh? Katakan!" ucap Maura sambil memukul dada Volkan dan menangis di sana.


__ADS_2