Maura Sang Gadis Bar-bar

Maura Sang Gadis Bar-bar
71. Thypes?


__ADS_3

Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata Raffi mengalami Tyhpes. Karena kelelahan yang luar biasa membuat dia tidak memiliki waktu untuk memperhatikan kesehatan sendiri.


" Beristirahat total lah, jangan menyiksa diri! Kau ingat Raffi tubuhmu bukan hanya milikmu sendiri. Tapi keluargamu yang mencintaimu dan juga saudara-saudaramu dan juga sahabatmu, akan sedih kalau terjadi apa-apa denganmu!" ucap Rehan ketika memberikan hasil laporan check up yang dilakukan oleh Raffi. Rafi hanya menatap sahabatnya dengan lekat. Sungguh Rafi merasa terharu dengan mereka semua yang selalu menyayangi dan mencintainya.


" Terima kasih karena kalian semua selalu peduli denganku dan menjagaku!" ucap Raffi dengan mata berkaca-kaca.


" Ada apa ini? Kenapa papa pakai acara dirawat segala? Apa kah papa Sakit?" tanya Volkan yang baru saja pulang dari acara bulan madunya bersama Maura.


Raffi menatap putranya yang tampak begitu bahagia. " Tidak apa-apa papa. Hanya kelelahan saja. Pulanglah ke rumah dan beristirahatlah. Kalian juga pasti kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh!" ucap Raffi meminta kepada putranya untuk kembali ke rumahnya.


Maura menyalami kedua mertuanya dan juga Aurel, majikan ibunya.


" Papa ini kenapa sih? Kami juga baru datang Masa sudah disuruh pulang lagi?" protes Volkan merasa kesal pada ayahnya.


Dinda hanya menggelengkan kepala melihat kedua orang yang sangat dicintainya selalu saja ribut setiap kali bertemu.


Kedua jagoannya saling menyayangi dengan cara mereka masing-masing.


" Volkan turutilah kata-kata ayahmu kalian beristirahat dulu nanti setelah kalian sudah merasa fresh baru kembali ke mari. Lihatlah ayahmu gara-gara terlalu memforsir diri sekarang dia jadi sakit." ucap Dinda menasehati putranya.


Mau tidak mau Volkan dan Maura akhirnya pergi dari rumah sakit. Karena mereka memang sangat lelah sekali. Bahkan dari tadi Maura terlihat terus menguap.


Dari bandara mereka Langsung ke rumah sakit. Karena mendengar ayahnya sedang sakit dan dirawat di sana.


" Baiklah Papa. Kami kembali dulu ke rumah karena Maura kelihatannya sangat mengantuk!" ucap Volkan berpamitan kepada ayah dan ibunya.


Mereka berdua kemudian pergi menuju ke apartemen milik Volcan yang selama ini ditempati oleh Maura.


" Sayang kabar Papa baik-baik saja kan?" tanya Maura di mobil ketika mereka kembali ke apartemen mereka.


Valcon terlihat memperhatikan jalanan yang begitu ramai. Jam pulang kantor seperti itu memang selalu membuat kemacetan di mana-mana.


" Aku harap Papa baik-baik aja. Kau tahu kan cafe dan restoran yang dimiliki oleh keluarga kami tidak akan bisa berjalan baik, tanpa Papaku. Tadi aku lupa tidak bertanya kepada Mamaku, tentang penyakit papaku!" ucap Volkan yang merasa bersalah karena tidak peka dengan kesehatan ayahnya.


Maura mengelus tangan suaminya yang terlihat sedih karena ingat tentang Rafi yang saat ini sedang dirawat di rumah sakit.


" Aku yakin Papa pasti baik-baik saja!" ucap Maura berusaha menenangkan suaminya.

__ADS_1


" Semoga saja!" ucap Volkan.


" Jangan khawatir, Tuan muda! Tuan besar hanya karena Thypes saja. Itu karena kemarin Tuan besar sangat sibuk dengan pekerjaan menggantikan semua tugas-tugas Tuan muda saat berada di luar negeri," ucap sopir menjawab semua pertanyaan mereka berdua tentang kesehatan Rafi.


Terlihat Volcan menarik nafas lega.


" Syukurlah kalau hanya thypes saja. Semoga dengan papa dirawat dan beristirahat total, dia akan segera sembuh kembali!" ucap Volkan menyampaikan harapannya.


Setelah mereka sampai di apartemen Mereka kemudian beristirahat. Hazel dan Surya juga sudah kembali dari acara bulan madu mereka. Mereka juga tinggal di apartemen milik Surya yang dia beli saat masih bujang. mereka memutuskan untuk Mandiri.


Walaupun Qiara dan Kevin merasa kecewa dengan keputusan mereka berdua akan tetapi mereka pun tidak mau memaksa pengantin baru itu untuk tinggal bersama mereka.


" Ya sudah Lakukanlah apa yang kalian inginkan! kami hanya berharap kalian bahagia menikmati pernikahan kalian!" ucap Qiara mendukung apapun yang ingin dilakukan oleh putranya yang tersayang.


Kenzo sekarang sudah kembali ke Meksiko dan mengurus bisnis mereka di sana. Di rumah hanya ada dirinya dan Kevin. kadang mereka berdua merasa seperti pengantin baru yang selalu berdua kemana-mana.


" Apa kita bikin baby lagi aja supaya tidak kesepian di rumah?" tanya Kevin sambil melirik ke arah istrinya.


Qiara langsung melotot ke arah Kevin mendengarkan ucapan sang suami.


" Boleh sayang. Tapi kau yang mengandung dan melahirkannya ya?!" ucap Qiara sambil melotot ke arah suaminya yang hanya meringis mendengarkan ucapan Qiara.


Kevin kemudian memutuskan untuk pergi ke kantor daripada harus berdebat dengan sang istri tercinta.


" Baiklah sayang, sekarang aku ke kantor dulu, baik-baiklah di rumah!" ucapkan Kevin berpamitan kepada Qiara yang langsung misuh misuh.


" Gimana aku bisa baik-baik di rumah, sih? Setelah ini aku juga kan akan berangkat ke hotel untuk kerja, Astagfirullah!" ucap Qiara melirik arah suaminya yang sudah berjalan menuju mobilnya.


Qiara tidak ikut bersama Kevin, karena arah kantor mereka berbeda. Kevin harus mengurus perusahaan Atmajaya sementara akhtiar mengurus perusahaan keluarga Pratama yang bergerak di bidang hotel dan restoran.


Mereka berdua memiliki kesibukan masing-masing dengan pekerjaan segudang. Jadi kesepian di rumah tidak terlalu kentara untuk mereka saat bekerja. Karena pada saat siang mereka sangat sibuk dengan pekerjaan di kantor mereka masing-masing.


Setelah berada di dalam mobilnya terlihat Kevin yang langsung menjatuhkan bokongnya di kursi mobil. Menghela nafas dalam-dalam.


" Aku selalu salah di mata istriku," keluh Kevin saat dia sudah di mobil.


Sopir Kevin hanya tersenyum ketika dia melihat majikannya yang saat ini sedang memijat pelipisnya.

__ADS_1


" Pergilah berlibur Tuan, bersama dengan nyonya. Kalian bisa melakukan bulan madu kembali untuk menghangatkan hubungan kalian kembali!" ucapnya memberikan saran kepada Kevin.


" Bagaimana Kami mau pergi berlibur sementara pekerjaan selalu menumpuk tidak pernah ada habisnya! apalagi sekarang Suriah yang pasti juga sibuk mengurus istrinya. Aku yakin mertuanya juga pasti akan meminta kepada Surya untuk membantunya," ucap Kevin tampak begitu frustasi.


Padahal Kenzo dan Sheila sudah banyak mengambil alih pekerjaannya di beberapa cabang di luar negeri. Aka tetapi tetap saja Kevin selalu merasa bahwa pekerjaannya tidak pernah ada habisnya.


" Kalau kalian pergi berlibur bersama, pasti pikiran akan semakin fresh dan tidak stress lagi, Tuan!" ucap sopirnya.


" Kau benar juga. Nanti aku akan mencoba untuk berdiskusi dengan istriku. Apakah dia mau menerima ide itu atau tidak!" ucap Kevin.


Setelah sampai di kantor Kevin pun langsung menuju kantornya.


" Tuan ada tamu," ucap sekretaris nya.


" Siapa?" tanya Kevin sambil mengerutkan keningnya.


' apagi-pagi sudah ada tamu! Bikin badmood saja!' keluh Kevin dalam hati.


Sekretarisnya kemudian mengantarkan Kevin ke ruang meeting di mana tamunya sudah menunggu di sana.


" Kevin!!!" ucap seorang wanita yang langsung berlari ke dalam pelukan Kevin.


Kevin yang terkejut dan belum siap menerima pelukan tersebut hanya diam mematung.


" Eh, kau siapa? Seenaknya saja memeluk suami orang lain! Kalau sampai istriku melihat kejadian ini pasti dia berpikir kalau aku punya selingkuhan!" protes Kevin yang langsung mendorong perempuan itu dari dirinya.


Terlihat perempuan itu misuh-misuh mendengarkan ucapan Kevin.


" Kau masih takut dengan Qiara?" tanya wanita paruh baya yang hampir seusia dengan Kevin akan tetapi Kevin sudah melupakan siapa dia Oleh karena itu dari tadi Kevin tidak merespon apapun yang dia katakan kepadanya.


" Kau mau apa datang kemari? Cepat katakan!" ucap Kevin ketus.


" Ya ampun kalau rupanya sudah melupakan aku!" ucap wanita itu merasa sedih.


Kevin hanya memutar bola matanya malas menanggapi ucapan wanita yang asing di matanya.


" Kalau aku tidak mengingatmu itu artinya kau tidak penting untuk hidupku!" ucap Kevin yang bersiap untuk meninggalkan ruangan meeting.

__ADS_1


Wanita itu terlihat cemberut mendengarkan ucapan Kevin yang terasa begitu menusuk hati. 'Tetap saja ketus!' bathin wanita itu.


__ADS_2