Maura Sang Gadis Bar-bar

Maura Sang Gadis Bar-bar
40. Keputusan besar


__ADS_3

Zidane sudah datang ke Indonesia hanya untuk membela hak Hazel yang telah dianiaya oleh Volkan dengan membatalkan pernikahan mereka berdua secara sepihak.


" Sudahlah Pah. Mungkin aku dan Volkan memang tidak berjodoh. Biarlah Pah! Aku yakin dan percaya bahwa Allah pasti akan memberikan jodoh yang terbaik untukku!" ucap Hazel ketika itu.


Akan tetapi Zidane yang sudah terlanjur emosi. Dia langsung mendatangi Raffi dan Dinda untuk mempertanyakan keputusan mereka berdua sebagai orang tua dari Volkan yang seharusnya bisa mendidik dan memberikan peringatan kepada anaknya untuk bisa menjaga hubungan kedua anak mereka.


" Apakah kau sedang melawaknya Raffi? Bagaimana mungkin?? Pernikahan yang hanya tinggal 2 minggu lagi, tiba-tiba saja dibatalkan begitu saja oleh kalian? Apa kalian pikir kalian bisa berbuat sewenang-wenang pada keluarga kami?" tanya Zidane yang langsung emosi ketika bertemu dengan Raffi dan Dinda di kediaman mereka.


Saat itu mereka sudah bersiap untuk datang ke pondok pesantren untuk bertemu dengan kedua orang tua Raffi yang ingin bertemu dengan Maura dan juga ibunya.


" Tenanglah Zidane tidak semua masalah harus diselesaikan dengan kemarahan!" ucap Raffi berusaha membujuk sahabatnya untuk bisa membicarakan semuanya baik-baik tanpa harus dengan emosi dan kemarahan.


Volcan yang saat ini sedang di tatap tajam oleh Zidane serta merta dia pun langsung menundukkan kepalanya.


" Dengarkan Om Volkan! Seorang laki-laki sejati adalah dia yang bisa memegang teguh janjinya kepada seorang wanita yang sudah dia pinta sebagai pasangan dia!" ucap Zidane sambil menetap tajam kepada polkam yang langsung menatapnya kembali.


" Lalu bagaimana dengan Om Zidane yang meninggalkan tante Marcella begitu saja? Hanya karena Om lebih memilih untuk tinggal bersama dengan istri kedua Om?" tanya Volkan menatap tajam ke arah Zidan yang merasa sangat terpukul dengan perkataan volkan yang sangat lancang menurutnya.


" Om! Saya tidak mau menjalani kehidupan seperti yang Om jalani saat ini. Menikah dengan orang yang tidak Om cintai dan kemudian meninggalkan pernikahan tanpa rasa tanggung jawab sama sekali. Apa Om tahu bagaimana perasaan tante Marcella sekarang? Karena diperlakukan oleh om seperti se onggok sampah yang tidak berarti? Saat ini saya lebih memilih untuk bersama dengan Maura dan meninggalkan Hazel. Karena wanita yang saya cintai adalah Maura. Itu saya lakukan adalah karena rasa tanggung jawab saya kepada Hazel. Saya tidak mau memberikan kehidupan yang tidak ada masa depan dan kebahagiaan kepada Hazel, sementara hati saya berada dengan wanita lain! Saya tidak ingin memberikan kesedihan yang berkepanjangan untuk Hazel. Oleh karena itu saya memilih untuk mundur dan memberikan kesempatan kepada Hazel untuk bertemu dengan laki-laki yang lebih mencintai dia dan kelak akan memuliakan dia sebagai seorang istri!" ucap Volkan tegas.


Semua orang yang hadir di tempat itu sontak terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Volcan yang memang 100% ada benarnya.


Raffi yang semula menentang keinginan Volcan untuk membatalkan pernikahannya dengan Hazel pun akhirnya terbuka hatinya dan benar-benar mendukung rencana putranya untuk bersama dengan Maura.

__ADS_1


" Benar Zidane pernikahan tanpa cinta pun tidak baik untuk pasangan itu. Kalaupun kita memaksakan pernikahan di antara mereka berdua. Aku yakin tidak akan ada kebaikan di dalamnya!" ucap Dinda mendukung Volcan.


" Tapi kalian benar-benar keterlaluan sekali. Bagaimana mungkin kalian bisa melakukan hal seperti ini kepada putriku? Tampaknya kalian tidak memandang aku, ya kan? Makanya putramu juga tidak menghargai putriku!" Zidane tampaknya masih penasaran dengan keputusan Raffi yang mendukung Volkan. Untuk membatalkan pertunangan antara Volkan dan Hazel.


" Sudahlah Pah! Ayo kita pulang jangan mempermalukan diri kita dengan mengemis hal seperti ini kepada mereka. Aku tidak masalah kok tidak jadi menikah dengan Volkan. Aku yakin di luar sana pasti masih ada jodoh yang paling baik untukku! Sudahlah Pah ayo kita pulang!" ucap Hazel yang benar-benar merasa malu dengan keluarga Raffi dan juga Dinda.


Marcella yang tadi mendengarkan penuturan Volkan Dia pun akhirnya memilih untuk mengikuti Hazel meninggalkan kediaman Raffi yang tampak begitu mencengangkan.


Tampaknya karena masalah Volcan yang secara sepihak membatalkan rencana pernikahan itu telah merenggangkan hubungan dua keluarga yang sudah terjalin hampir puluhan tahun lamanya. Sekarang hubungan mereka harus hancur berantakan karena pernikahan yang batal digelar.


Setelah pertemuan di kediaman Raffi dan Dinda. Marcella dan Zidane berdiskusi untuk nenindaklanjuti apa yang sudah diputuskan oleh keluarga Raffi yang sudah mendukung keputusan Volkan untuk menikahi Maura.


Bahkan mereka juga sudah mendengarkan kabar bahwa Raffi dan Dinda sudah menghadap ke pondok pesantren untuk bertemu dengan kedua orang tua Raffi membicarakan tentang pernikahan Volkan dan Maura yang kabarnya akan segera dilangsungkan.


" Sudahlah Pah. Jangan mengganggu kedua orang tua kita. Biarkanlah mereka menikmati masa tua mereka. Aku tidak mau kalau sampai kesehatan Papaku drop lagi karena mendengarkan masalah buruk seperti ini!" ucap Marcella berusaha untuk membujuk Zidane agar bisa mengendalikan emosinya dalam menghadapi masalah Hazel.


" Tetapi kedua orang tua kita juga pasti akan kecewa kalau mereka mengetahui pernikahan Hazel dan Volkan dibatalkan begitu saja dan mereka tidak diberitahukan apa-apa! Padahal kau tahu sendiri kan? Kalau kedua orang tua kita sangat bersemangat sekali menyambut rencana pernikahan ini?" tanya Zidane kepada Marcella yang saat ini hanya bisa terus menundukkan kepalanya.


Sejujurnya Marcella pun merasa sangat kecewa dengan rencana pernikahan yang sudah dipersiapkan hampir 80%. Tiba-tiba saja raib begitu saja dari hadapan mereka. Padahal mereka sangat tahu kalau Putri mereka sangat mencintai Volcan.


" Sudahlah Pah kita ikhlaskan saja. Jodoh, maut dan rezeki. Bukankah sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa? Kita tidak bisa memaksakan semua itu atas kehendak kita. Mama yakin pasti akan ada jodoh yang diberikan oleh Allah yang lebih baik daripada Volkan untuk Putri kita. Seperti yang telah dikatakan oleh Volkan, dia telah memberikan kesempatan kepada Hazel untuk dicintai dan dimuliakan oleh suaminya! Cukup saya Pah yang menjalani hidup tidak dicintai oleh suamiku. Jangan sampai putriku pun harus mengalami nasib seperti diriku. Perasaan tidak dicintai oleh suami adalah perasaan yang paling menyiksa di atas segala penderitaan yang ada di atas dunia ini!" ucap Marcella dengan air mata yang menetes di kelopak matanya yang tampak cekung.


Mata Marcella adalah saksi bisu dari berapa banyak malam-malam seorang Marcella yang selalu menangis dalam kepedihannya yang ditinggalkan begitu saja oleh suaminya tanpa kejelasan dan kepastian sama sekali.

__ADS_1


" Pah Mari kita bercerai dan menyelesaikan permasalahan di antara kita berdoa yang sudah menggantung lebih dari 20 tahun aku ingin kebebasanku dikembalikan sebagai seorang wanita!" ucap Marcella dengan suara gemetar yang sontak membuat Zidane terkejut setengah mati.


" Kau jangan gila Marcella! Kita saat ini sedang mengurus masalah Hazel. Kenapa kau jadi ikut-ikutan melakukan hal-hal aneh yang membuat kepalaku tambah pusing?" tanya Zidan sambil menatap tajam kepada Marcella yang sekarang bangkit dari duduknya dan menangis pedih sekali di hadapan suaminya.


" Benar Pah! Tolong bebaskan Mamaku. Karena aku pun tidak rela melihat Mamaku harus hidup dalam penderitaan setiap hari karena Papa yang sudah berbuat zalim dan tidak adil terhadap Mamaku! Seperti kata Volcon, aku dan mamaku berhak untuk hidup bahagia dan kami berhak bertemu dengan laki-laki yang akan mencintai kami dan memuliakan kami sebagai seorang wanita!" ucap Hazel yang tiba-tiba saja berada di dalam ruangan itu dan mengejutkan Marcella dan Zidane yang terlibat pembicaraan yang sangat serius mengenai rumah tangga mereka berdoa yang sangat pelik sejak lama.


" Kalian berdua benar-benar gila! Otak kalian sudah dicuci oleh Volkan yang sedang menghalalkan perbuatan jahatnya terhadap kalian. Dan sekarang, di sini kalian berdua malahan mengadiliku? Padahal aku saat ini sedang membela keadilan untuk kalian! Kalian ibu dan anak memang benar-benar sangat luar biasa. Aku salut untuk kalian!" ucap Zidan sambil bertepuk tangan di hadapan Hazel dan Marcella.


" Besok aku akan mengajukan surat perceraian kita berdua ke pengadilan. Aku harap Kamu tidak kembali ke Jepang dulu. Sebelum kita selesaikan masalah di antara kita berdua! Aku mohon! tidak ada kebaikan di dalam pernikahan kita berdoa dan aku tidak mau mengubur hidupku dengan laki-laki yang tidak pernah memandangku sebagai istrinya!" ucap Marcella yang rupanya benar-benar sudah mantap ingin bercerai dari Zidane.


Zidane hanya menatap kedua wanita yang penting dalam hidupnya dengan tatapan nyalang dan penasaran.


" Kalau aku tahu kalian akan melakukan ini padaku. Aku tidak akan datang jauh-jauh dari Jepang hanya untuk mendengarkan lelucon kalian berdua!" ucap sedan yang kemudian langsung meninggalkan kediaman itu dan pergi menuju kediaman kedua orang tuanya.


Zidane memutuskan untuk berunding dengan kedua orang tuanya mengenai keinginan Volcan untuk membatalkan rencana pernikahan dengan Hazel dan juga mengenai keinginan Marcella untuk bercerai darinya.


Kedua masalah yang datang bertubi-tubi dalam hidupnya benar-benar telah membuat Zidane sangat pusing kepalanya. Dan Dia merasa bahwa semuanya sedang berkonspirasi untuk melawan dirinya.


Hingga akhirnya Zidane sampai di kediaman kedua orang tuanya dan berbicara dengan mereka mengenai semua masalah yang telah membuat kepalanya hampir meledak saja rasanya. Zidane merasa harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran yang diakibatkan oleh dirinya sendiri yang selama ini tidak berbuat adil terhadap kedua istrinya.


Ya Zidane sangat sadar bahwa selama ini dia telah banyak memberikan penderitaan kepada Marcella. Karena kemarahan dan juga rasa tidak ikhlasnya atas meninggalnya putra kesayangannya yang sangat dia banggakan karena keteledoran Marcella.


Masalah itulah yang membuat Zidane selalu trauma. Sehingga membuat Zidane selalu ketakutan akan kehilangan putranya yang ada di Jepang yang memiliki sakit lumayan serius dan sangat membutuhkan kehadirannya sebagai ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2