
" Lalu?" tanya Layla.
" Kalau kau adalah tuan putri dari keluarga Hutomo. Lalu kenapa aku melihat kau bekerja di cafe milik keluarga Volkan dan tinggal satu kontrakan bersama dengan Maura?" tanya Ardan sambil memperhatikan Layla.
" Kalau aku bilang, Aku bosan dengan kehidupan seorang tuan putri dan aku ingin menjadi rakyat jelata. Apakah kau akan percaya?" tanya Layla sambil tersenyum.
Layla sekarang benar-benar mulai fokus untuk membicarakan tentang rencana perjodohan dirinya dan Ardan.
" Aku percaya. Karena di duniaku juga banyak yang melakukan hal-hal seperti itu. Maksud aku. Aku punya banyak teman yang juga melakukan hal seperti yang kau lakukan sekarang!" ucap Ardan merevisi kata-katanya.
Layla hanya menjebikkan bibirnya kemudian melihat ke sekeliling mobil milik Ardan.
" Mobilmu bagus tetapi tidak memperlihatkan bahwa kau adalah seorang konglomerat yang tidak pernah pusing dengan uang sepanjang hidupmu!" ucap Layla pelan.
" Mungkin kau lupa. Bahwa sekarang keluargaku dalam keadaan, ya___ banyak masalah. Karena secara internal banyak para petinggi yang melakukan korupsi dan juga penghianatan terhadap ayahku. Hal itu telah mengakibatkan keseimbangan di dalam perusahaan menjadi terganggu dan akhirnya secara perlahan sekarang mulai mengalami kolaps!" ucap Ardan yang terlihat sedih dengan kondisi keluarganya sekarang.
Keluarga besarnya sudah berusaha untuk menolong masalah perusahaan keluarganya. Tetapi memang tidak bisa hanya ditangani secara normal. Mengingat masalah yang ditimbulkan di dalam perusahaannya tidaklah sederhana. Rumit dan kompleks.
Ayahnya mengatakan kalau dia bersedia untuk menikah dengan Layla, maka secara langsung perusahaannya akan mendapatkan dana segar yang sangat besar dari keluarga Hutomo. Secara otomatis hal itu akan menyelamatkan keuangan perusahaan dari kepailitan. sehingga mereka bisa menolong para suster dokter maupun karyawan lainnya yang tergabung di dalam perusahaan mereka yang mengelola beberapa rumah sakit.
" Tapi tetap saja. Kau memperlihatkan bahwa kau adalah seorang yang tidak terlalu mementingkan kemewahan tidak seperti Volkan yang begitu wah dan keren dengan semua fasilitas yang dimiliki oleh kedua orang tuanya!" ucap Layla yang tersenyum ketika dia memikirkan tentang volkan yang sekarang sudah menjadi tunangan dari sahabatnya tercinta.
" Aku dan Volcan berbeda. Sejak dulu aku selalu menjadi tempat dia untuk selalu saja menyelesaikan semua masalahnya!" ucap Ardan yang mulai bisa rilex untuk berbicara dengan Layla yang sudah berhasil menarik perhatiannya Sejak pertemuan di acara pertunangan Volkan dan Maura.
" Bahkan aku dengar kalau kau juga sampai berpura-pura menjadi kekasih Maura hanya untuk menolong Volkan dari skandal hotel itu bukan?" tanya Layla yang terlihat tertawa ketika mengingat masalah itu.
Layla juga mengingat tentang Ardan yang menangis Sedih ketika mantan kekasihnya meninggal.
Semua hal yang Layla ingat tentang Ardan adalah semua hal tentang kebaikan pemuda itu. Layla suka dengan semua itu.
Mungkin hal itu pulalah yang telah membuat Layla menjadi tergerak hatinya dan mau menerima perjodohan yang ditawarkan oleh ayahnya dengan Ardan.
" Hujan sudah mulai reda. Aku mau pulang ke apartemenku. Terima kasih atas tumpangan kamu buat aku!" ucap lailah yang kemudian bersiap untuk keluar dari mobil Ardan.
" Ini sudah malam Layla. Duduklah, aku akan mengantarkanmu apartemenmu. Sangat berbahaya seorang gadis berkeliaran di jalan pada jam seperti ini!" ucap Ardan menahan kepergian Layla dari mobilnya.
" Aku membawa mobil sendiri. Kalau aku ikut denganmu? Lalu bagaimana dengan mobilku hmm?" tanya Layla sambil menatap Ardan.
__ADS_1
Ardan kemudian mengambil ponselnya dan memanggil orang kepercayaannya di rumah sakit keluarga nya.
" Bisakah kau datang ke taman kota sekarang? Aku butuh bantuanmu! Cepatlah datang ke sini dengan taksi. Aku tunggu!" Ardan pun langsung menutup panggilan telepon tersebut dan menatap kepada Layla yang terkesiap melihat kelakuannya.
" Kita akan pergi ke apartemenmu dengan menggunakan mobilmu atau mobilku?" tanya Ardan menatap Layla yang masih menggelengkan kepalanya karena tidak percaya seorang Ardan bisa melakukan hal gila seperti itu.
" Ya ampun Ardan! Kau benar-benar tidak berperasaan. Ini sudah jam berapa huh? Kau menyuruh orang untuk datang ke taman kota? Aku yakin orang itu sekarang pasti sedang mengutukmu dan memberikan sumpah serapah untukmu!" ucap Layla sambil terus menggelengkan kepalanya.
Terlihat Ardan yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Habisnya aku tidak tega kalau harus membiarkanmu pulang pada jam segini!" ucap Ardan grogi dan salah tingkah.
Ardan tidak pernah menyangka kalau ternyata dia bisa menerima kehadiran Layla dengan begitu baik.
Sejujurnya pada saat pertama kali bertemu dengan Layla di acara pertunangan Volcan, Ardan tidak tahu kalau sebenarnya Layla adalah calon istrinya. Begitu pula kedua orang tuanya belum mengetahui tentang Layla.
Maklum saja selama ini Layla memang jarang tampil di hadapan publik sebagai tuan putri dari keluarga Hutomo.
Layla lebih senang dengan hidupnya sendiri yang bebas tanpa tuntutan dari sang ayah untuk selalu menjaga image keluarga besarnya. Apalagi mengingat tentang hubungan mereka yang tidak baik-baik saja.
" Aku menemui temanku dulu. Mana kunci mobil kamu dan alamat apartemen kamu?" tanya Ardan setelah dia melihat kedatangan temannya dengan menggunakan taksi.
" Mintalah pada temanmu untuk menggunakan mobilmu saja. Karena aku tidak suka kalau mobilku digunakan oleh orang asing yang tidak aku kenal. Kita pakai mobilku saja ke apartemen aku!" ucap Layla yang kemudian keluar dari mobil Ardan menuju ke mobilnya yang tidak terlalu jauh dari taman kota.
Ardan tersenyum mendengarkan perkataan Layla. ' Tampaknya kami memiliki banyak kesamaan dalam sikap maupun perilaku. Sepertinya aku tidak akan kesulitan untuk menerima dia sebagai calon istriku!' bathin Ardan saat dia melihat Layla sudah berdiri di samping mobilnya.
" Tunggulah aku. Aku bicara dulu dengan temanku!" ucap Ardan mau wanti-wanti kepada Laila yang akhirnya masuk ke kursi penumpang dan menunggu Ardan di mobilnya sendiri.
Layla tampak tersenyum. Dia tidak mengerti kenapa dia begitu menurut kepada Ardan yang baru beberapa kali dia temui. Padahal selama ini, dirinya tidak pernah menuruti siapapun. Bahkan ayahnya sendiri selalu dia tentang dengan kebebalan dan keras kepalanya yang luar biasa.
Setelah Ardan berbicara dengan temannya dan menyerahkan kunci mobil kepada temannya itu. Ardan pun kemudian masuk ke dalam mobil Layla yang sudah menunggunya sejak tadi dengan begitu sabar.
Layla bahkan sampai tersenyum dan tidak percaya dengan apa yang dia lakukan saat ini. Bahwa dia bisa ditaklukkan oleh Ardan hanya dalam beberapa saat saja setelah pertemuan singkat mereka berdua.
" Baiklah Layla. Bagaimana kalau kita mencari makan malam dulu? Jujur aku sangat lapar sekali!" ucap Ardan yang kemudian mengarahkan mobil milik Layla menuju sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari taman kota.
Layla hanya mengikuti apapun yang dikatakan Ardan dan tidak protes sama sekali.
__ADS_1
Begitu mereka berada di restoran Layla kemudian memesan makanan yang sama dengan Ardan. Sehingga mereka benar-benar seperti seorang pasangan yang begitu serasi.
Di saat mereka sedang asyik mengobrol tiba-tiba saja ada seorang perempuan yang menyapar dan dengan begitu akrab.
" Ya ampun dokter Ardan! Malam-malam begini masih ada di luar aja. Biasanya masih sibuk di rumah sakit kan?" tanya seorang wanita cantik yang terus memperhatikan Layla dengan tidak senang.
Layla hanya memperhatikan interaksi keduanya dengan tenang dan nyaris tanpa ekspresi.
" Dokter Ardan! Apakah boleh kalau saya ikut di meja kalian untuk makan malam bersama dengan kalian?" tanya wanita seksi itu yang sejak tadi matanya tidak memalingkan mata dari Ardan yang cool dan tampan.
" Maafkan saya Mbak. Tapi kami berdua sedang ingin menikmati waktu bersama saja tanpa gangguan. Jadi mohon anda mencari meja sendiri aja ya?" tanya Layla berusaha untuk tersenyum dan ramah kepada wanita tadi yang sok-sok akrab kepada Ardan.
Ardan hanya tersenyum simple melihat aksi Layla yang terkesan begitu lucu baginya.
" Ih, kamu siapa sih? Mainnya nyerobot aja pembicaraanku dengan dokter Ardan!" ucapnya sengit.
" Tanya aja sama Dokter Ardan, siapa aku buat dia?" tanya Layla sambil tersenyum kepada Ardan yang menjadi kikuk dibuatnya.
" Ehmm ehmm!" Ardan berdehem beberapa kali untuk menetralkan jantungnya yang saat ini sedang tidak karuan gara-gara perbuatan Layla yang sejak tadi terus memancingnya.
" Siapa dia Dokter Ardan?" tanyanya kesel.
Ardan melirik sekilas ke arah Layla yang sudah mulai menikmati makan malamnya tanpa memperdulikan wanita itu yang mulai misah-misuh.
" Perkenalkan dia adalah Layla Hutomo! Dia adalah calon istriku!" ucap Ardan sambil menggenggam telapak tangan Laila dan kemudian menciumnya dengan lembut.
Untuk beberapa saat lamanya Layla terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh Ardan kepadanya yang begitu tiba-tiba.
" Apa itu benar? Aku kira gosip yang membicarakan tentang rencana pernikahan Dokter Ardan dengan keluarga Hutomo adalah isapan jempol belaka. Ya ampun! Ternyata itu benar?" tanyanya pening.
" Bener dokter Melisa. Mungkin rencana pernikahan kami hanya tinggal masalah waktu untuk ditentukan saja. Mohon dokter Melisa untuk mendoakan kami berdoa agar selalu bahagia dan mendapatkan momongan segera!" ucap Ardan sambil tersenyum manis kepada yang saat ini sedang terbatuk-batuk karena tersedak mendengarkan omongannya yang sudah luar biasa di luar ekspektasinya.
" Kau tidak apa-apa sayang? Kenapa kau makan saja ceroboh sekali sampai tersedak begini?" tanya Ardan sambil memberikan minuman kepada Layla agar calon istrinya itu bisa sembuh dari tersedaknya.
Melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Arden kepada Layla. Sokter Melisa pun merasa kesal. Akhirnya dia meninggalkan mereka berdua untuk bisa menyantap makan malam mereka tanpa gangguan siapapun.
" Ya ampun Kau benar-benar sangat pintar berimprovisasi!" ucap Laila sambil menggelengkan Kepalanya benar-benar pusing dan pening melihat kelakuan Ardan yang nyaris tanpa beban memerankan tokoh sebagai calon suaminya.
__ADS_1
Ardan tersenyum mendapatkan pujian dari Layla yang sebenarnya merasa kesal bukan kepalang karena Ardan yang sudah membuatnya sekarang menjadi kesakitan. Gara-gara tersedak mendengarkan Ardan memanggil dia sayang dengan begitu faseh.