Maura Sang Gadis Bar-bar

Maura Sang Gadis Bar-bar
8. Volkan menggila


__ADS_3

Maura terus memberontak agar bisa terlepas dari kuasa seorang Volkan yang sedang menggila karena merasa marah dengan apa yang dilakukan kepadanya.


" Aku akan memberikanmu pelajaran agar kau tidak kurang ajar lagi padaku!" ucap Volkan sambil terus mencium bibir Maura membuat Maura kelapangan dan kesulitan bernafas.


Saat Maura sudah merasakan putus asa yang luar biasa, tiba-tiba saja pintu ruangan Volkan dibuka oleh seseorang yang ternyata adalah Ardan. Ardan langsung menarik tangan Volkan dari atas tubuh Maura yang sudah berantakan penampilannya gara-gara perbuatan Volkan yang tadi hendak memperkosa gadis itu yang sekarang sedang menatap sengit ke arah Volkan yang kesal setengah mati kepada sepupunya yang sudah ikut campur dengan urusan dia dengan Maura yang sudah membuat dia marah.


Ardan menatap Volcan dengan tatapan tajam. Sepupunta itu masih diam saja di sofanya tanpa mengatakan apa-apa.


Sementara itu, Maura sudah keluar dari ruangan Volcan dengan amarah yang terlihat jelas di matanya saat dia menatap Maura yang terus menatapnya dengan sinis.


" Apa yang kau lakukan ini Volkan? Kau bener-bener sangat mengecewakan! Kalau sampai Om Rafu dan Tante Dinda melihat kelakuanmu ini, pasti kau langsung dilempar ke Papua untuk menjalani hukuman yang lain lagi dari mereka untuk mendisiplinkan kelakuanmu yang minus itu!" ucap Ardan dengan menatap tajam Volkan yang malah pergi meninggalkannya tanpa mengatakan apapun kepada Ardan yang mau tidak mau kemudian mengikuti Volkan.


Ardan ikut masuk ke dalam mobil Volcan karena dia tidak mau kalau sepupunya itu melakukan hal-hal yang lebih gila lagi dari sekedar berusaha untuk memperkosa Maura seperti tadi.


" Kau sebenarnya mau apa Ardan? Kenapa kau menggangguku dari tadi huh? Pergilah sana kau urus urusanmu sendiri dan jangan ganggu aku!" hardik Volkan sangat marah kepada Ardan yang malah menggelengkan kepalanya melihat emosi di wajah Volkan.


Volkan memukul setir mobilnya dengan sangat keras membuat Ardan terkejut dibuatnya. Saat ini Volkan sedang melihat Maura yang sedang berjalan keluar dari Cafe dengan amarah di wajahnya. Tetapi dia tidak bisa mengejar perempuan itu karena Ardan berada di dalam mobil bersama dengannya. Oleh karena itu volkan sangat kesal sekali.


" Keluarnya dari mobil Ardan! Apa kau tidak punya pekerjaan lain, selain usil dengan kehidupanku huh?" tanya Volkan dengan mata berapi-api.


Saat ini dalam pikiran Volkan adalah dia ingin membalas dendam kepada Maura yang sudah dua kali menendang aset berharganya hingga ngilu sampai ke sumsum.

__ADS_1


" Katakan dulu kau mau ke mana? Baru aku akan keluar dari mobilmu!" ucap Ardan.


" Aku akan pergi ke rumah Hazel, sejak tadi dia terus meneleponku. Apa puas kau sekarang huh?" tanya Volkan kesal sekali.


Ardan kemudian keluar dari mobil Volcan, akan tetapi, belum juga dia mengatakan apa-apa. Volkan sudah menarik tuas gasnya dan meninggalkan parkiran rumah sakit.


" Ya ampun! Ada apa dengan anak itu dan dengan temperamentalnya itu yang selalu membuat pusing kepala!" ucap Ardan sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sepupunya yang selalu saja membuat masalah di mana-mana.


Sementara itu Volkan yang sekarang sedang mengejar Maura yang sedang berjalan kaki untuk mencapai halte bus, dia langsung mengklakson Maura ketika dia melihat gadis itu di trotoar.


Maura yang melihat Volkan sekarang berada di sampingnya langsung mempercepat langkahnya dan tidak acuh dengan Volkan yang terus saja membunyikan klakson di sampingnya.


" Eh gadis gil! Cepat kau masuk ke mobilku sekarang juga. Kalau tidak mau aku tabrak!" perintah Volkan tanpa berpikir dulu.


Ketika Maura sudah sedikit lagi sampai ke halte bus, tiba-tiba saja tubuhnya sudah diangkut oleh Volkan dan di taruh di dalam mobilnya. Maura berusaha memberontak akan tetapi tenaga dia kalah jauh dari pria berbadan atletis itu. Volkan langsung mengunci seluruh pintu mobilnya dan menarik tuas gasnya dengan sangat dalam sehingga mobilnya meluncur secepat kilat.


Orang-orang yang ada di sekitar mereka hanya menjadi penonton saja dan tidak ada yang mau menolong Maura sama sekali.


" Mau apa kau sebenarnya huh? Kenapa tidak mau melepaskanku?" tanya Maura dengan mata berapi-api dan siap membakar Volkan dengan amarahnya yang sedang berkobar.


Akan tetapi Volkan diam saja dan tidak menanggapi apapun caci maki maupun perkataan Maura.

__ADS_1


Maura semakin ketakutan ketika melihat Volkan yang membawanya ke luar kota. Entah kemana laki-laki itu akan membawa dirinya.


Maura kemudian mengambil ponselnya dan berniat untuk menelpon Layla, agar sahabatnya itu bisa menolongnya dan mau membantu memanggilkan polisi ke tempat dirinya saat ini berada bersama Volkan.


Akan tetapi belum juga Maura bicara dengan Layla, ponselnya sudah diambil oleh Volkan dan dibanting ke arah dashboard mobilnya.


" Apa kau gila?" tanya Maura kesal luar biasa.


Volcan kemudian mengerem mobilnya ketika mereka berada di tempat yang sangat sunyi dan juga gelap.


" Kalau kau masih bertingkah, percayalah aku akan menurunkanmu di sini dan tidak akan peduli denganmu lagi!" ancam Volkan sambil menatap tajam Maura yang mulai gemetar ketakutan melihat lingkungan sekitar yang tidak ada siapapun lewat di jalanan itu.


Maura benar-benar kesulitan dan dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Tetapi kalau dia turun dari mobil itu pun, nasibnya juga dalam bahaya. Setidaknya kalau dia ikut dengan Volkan dia masih bisa mempertahankan diri dari laki-laki jahat yang ada di sampingnya.


" Kau sebenarnya mau membawaku ke mana?" tanya Maura berusaha sekuat tenaga untuk menekan perasaannya yang saat ini sedang kalut dan galau melihat perlakuan Volkan kepadanya yang sangat kasar.


Akan tetapi Volkan tidak menjawab pertanyaannya dia malah menarik tuas mobilnya kembali dan menjalankan mobilnya dengan sangat kencang sehingga membuat Maura menjadi gemetar ketakutan.


" Ya Allah apakah kau ingin bunuh diri huh? Kalau kau ingin mati matilah sendiri! Kau tidak usah mengajak anak orang lain!" ucap Maura gemetar ketakutan dan terus berpegangan ke arah lengan Volkan yang sejak tadi terus menyetir dengan mengebut.


Maura bahkan sekarang menyembunyikan wajahnya di bahu Volkan karena saking takutnya dia melihat jalanan yang begitu kencang berlalu di hadapannya.

__ADS_1


" Please ya Allah! Tolong kau hentikan mobil ini! Ya Allah kau benar-benar bisa membunuh aku secara perlahan karena jantungan!" ucap Maura terus merancau. Bahkan dia sekarang sudah mulai memeluk Volkan dengan erat karena rasa takut yang luar biasa.


__ADS_2