Maura Sang Gadis Bar-bar

Maura Sang Gadis Bar-bar
26. Diskusi


__ADS_3

Volcan mendatangi kedua orang tuanya yang tadi memanggilnya.


" Ada apa?" tanya Volcan sambil duduk di sebelah ibunya yang langsung menyambut Putra kesayangannya dengan pelukan dan ciuman hangat.


" Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Rafi begitu melihat putranya langsung duduk di sebelah sang istri tercinta.


" Baik-baik saja kau Pah. Memangnya kenapa sih? Kok tumben Papah nanyain pekerjaan Volkan? Biasanya juga enjoy aja nggak peduli dengan hidup Volkan seperti apa bukan?" rafi sontak memukul kepala Volkan dengan perlahan yang benar-benar telah membuatnya merasa sangat kesal sekali.


" Apa kau pikir selama ini kami tidak peduli denganmu?" tanya Dinda sambil mengelus tangan putranya yang sekarang lebih sering berada di luar. Jadi mereka bisa dikatakan jarang bertemu.


" Bukan begitu Mah. Maksud Volcan, tapi nggak biasa aja melihat Papa yang memperhatikan Volkan sebegitunya!" ucap Volkan sambil menatap ibunya.


" Papa ingin pernikahanmu dengan Hazel dipercepat. Kalau pekerjaanmu sudah beres semua. Segera persiapkan pernikahan kalian berdua. Tidaklah baik kalau memperlama tentang rencana pernikahan kalian berdua." ucap Raffi sambil tersenyum kepada putranya yang benar-benar terkejut mendengarkan perintahnya.


" Tidak Pah. Volcan tidak mau! Volkan belum siap untuk melakukan pernikahan bersama dengan Hazel!" Ucap Volkan yang kemudian meninggalkan kedua orang tuanya yang terlihat marah kepadanya.


" Volkan Papa belum selesai bicara denganmu!" ucap Rafi merasa kesal dengan kelakuan putranya yang pergi begitu saja meninggalkan dia.


" Pokoknya Volkan belum mau menikah, Pah! Titik! Kalau Papa mau memaksakan hal seperti itu, lebih baik Volkan meninggalkan rumah ini saja!" uca Volcan dengan mata berapi-api kemudian meninggalkan ayahnya dan juga ibunya yang terkejut mendengarkan ucapannya.


" Sebenarnya ada apa dengan dia Papa perhatikan akhir-akhir ini emosinya benar-benar tidak stabil. Dia terlihat sering sekali marah-marah! Apakah mama tahu penyebabnya?" tanya Raffi sambil melirik kepada istrinya yang langsung menggelengkan kepala.

__ADS_1


" Bukankah Papa tahu kalau mama selama ini selalu sibuk juga di cafe dan membantu papa mengurus bisnis kita?" tanya Dinda sambil melirik kepada suaminya yang terlihat tidak bahagia melihat perubahan putranya.


Terlihat rapi menarik nafasnya dalam-dalam.


" Ada apa sebenarnya? Kenapa kelihatannya Volkan seperti yang tidak menginginkan pernikahannya bersama dengan Hazel?" monolografi pada dirinya sendiri sambil terus memijit pelipis yang terasa sakit dan berdenyut-denyut sejak tadi.


" Papa menjadi tidak enak kalau sampai rencana pernikahan antara Hazel dan Volcan bermasalah. Bagaimanapun juga kita yang bertanggung jawab kepada Marcella dan juga Zidan yang sudah mempercayakan rencana pernikahan itu kepada kita!" ucap Rafi terlihat frustasi memikirkan tentang rencana pernikahan putranya.


" Sudahlah biar nanti mama yang akan bicara dengan Volkan Papa tidak usah terlalu memikirkan itu!" ucap Dinda juga Mulai merasa pusing dengan kelakuan putranya yang tidak bertanggung jawab dengan pilihan hidupnya sendiri.


Raffi dan Dinda pun kemudian memutuskan untuk beristirahat di kamar mereka sangking pusingnya memikirkan anak mereka mereka sampai melewatkan makan malam.


Sementara itu Valcon saat ini sedang sibuk menelpon Maura yang telah resmi menjadi kekasihnya.


" Iya aku akan menunggumu. Ya sudah, aku tidur dulu ya? Aku sudah capek sekali. Karena tadi bekerja seharian. Kamu ma enak jadi manajer kerjanya cuma tunjuk-tunjuk sama karyawan!" ucap Maura merasa kesal.


Volkan hanya tertawa mendengarkan keluhan sang kekasih.


Setelah berpamitan mereka pun kemudian menutup panggilan telepon terlihat lailah yang mendekati Maura.


Tidak lama kemudian Layla masuk ke dalam kamar Maura dan mengajak sahabatnya untuk naik ke atas rootrof dan menikmati bulan purnama yang sedang bersinar dengan indah sekali.

__ADS_1


Maura dan Layla memang memiliki hobi yang sama dan juga kesenangan yang sama. Jadi tidak heran kalau mereka hidup dalam satu kontrakan lebih dari 2 tahun lamanya.


Walaupun Layla memiliki mansion dan juga apartemen mewah. Tetapi dia lebih senang hidup bersama dengan Maura sebagai sahabat sejatinya.


Maura tidak tahu identitas Layla yang sesungguhnya. Hal yang Maura tahu, Layla adalah anak yatim piatu yang tidak memiliki keluarga di Jakarta. Oleh karena itu mereka hidup bersama di dalam satu atap dengan bernama kontrakan.


" Bagaimana Maura? Apa kalian tidak jadi menikah?" tanya Layla dengan jiwa kepo dan rasa penasaran yang meronta-rontak sejak berada di cafe tadi.


" Tidak aku tidak jadi menikah dengan Volkan karena ibuku tidak mau menerima pernikahan semacam itu!" ucap Maura yang hanya bisa menatap langit-langit malam di atas rootrof kontrakan mereka.


" Apa kau sudah yakin kalau kau akan berhubungan dengan Volkan? Tunangannya lumayan menyeramkan loh. Kau ingatkan? Waktu kemarin dia berpura-pura dan memfitnahmu? Hampir saja Kau dipecat oleh pemilik Cafe." ucap Layla mengingatkan sahabatnya untuk berhati-hati.


Terlihat Maura hanya menarik nafasnya dalam-dalam. Dia bisa mengerti kekhawatiran sahabatnya. Karena memang selama ini Layla lah yang selalu menjadi tempatnya untuk curhat dan mencurahkan semua perasaan dan masalah di dalam hidupnya.


" Apa kau tahu Maura? Kita mungkin harus keluar dari Cafe ketika hubunganmu dengan Volkan tercium oleh kedua orang tuanya!" ucap Layla menatap tajam wajah Maura yang menatapnya sekilas dan kemudian kembali menatap bulan dan bintang yang bersinar terang di atas langit.


" Aku tahu dan Kau pasti akan kena imbasnya juga. Ah! Entahlah Layla. Aku juga bingung sekali Layla. Aku sudah minta kepada Volcan untuk mengakhiri hubungan kami. Tetapi dia berisi keras tidak mau. Dia Mengamuk padaku Laila ketika aku tidak menginginkan hubungan ini!" ucap Maura yang langsung memeluk tubuh Layla yang mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang.


" Kau harus kuat kalau ingin berhubungan dengan Volkan. bagaimanapun keluarganya itu tidak sederhana. Kau tahu kan? Kalau kakeknya Volkan itu memiliki pondok pesantren yang besar. Aku yakin kedua orang tuanya akan marah kalau mengetahui sepak terjang anaknya di luar sana bersama denganmu." ucap Layla memberikan informasi kepada Maura tentang silsilah keluarga Volcan.


" Iya aku tahu. Volkan juga dulu pernah memberitahukanku. Ah sudahlah Layla. Aku pusing tahu. Layla sebaiknya kita tidur aja yuk, Kepalaku pusing tahu memikirkan semua ini. Biarkanlah yang harus terjadi maka biarkanlah terjadi. Aku pasrah saja lah!" bocap Naura yang akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


" Eh, sayangku! Kau tunggulah aku. Kenapa kau pergi begitu saja sih? Kita kan datang kemari bersama-sama jadi harusnya pergi juga bersama-sama bukan?" tanya Layla yang langsung berlari mengikuti Maura.


Sungguh suatu yang sangat menyenangkan ketika kita bisa bersama dengan orang yang menyayangi kita dengan tulus ikhlas tanpa memandang siapa kita.


__ADS_2