Maura Sang Gadis Bar-bar

Maura Sang Gadis Bar-bar
65. Kebahagiaan berlipat


__ADS_3

Terlihat Rafi dan Dinda yang saat ini sedang duduk bersama dengan kedua orang tua mereka. Nur dan Ali, Dipta dan istrinya. Bima dan istrinya juga.


Mereka sangat begitu bahagia melihat pernikahan tiga pasang pengantin yang begitu lancar dan Jaya.


" Alhamdulillah keluarga kita tidak terpecah bahkan menambah keluarga baru!" ucap Kyai Ali saat melihat cucunya sekarang telah menikah dengan wanita yang dia cintai.


Dipta tersenyum mendengarkan perkataan sahabatnya.


" Aku ingat dulu sewaktu Raffi masih kecil. Dia begitu dekat denganku. Aku kira kita akan menjadi besan tapi ternyata kita tidak beruntung. Mereka malah menikah dengan keluarga yang lain. Tapi tidak masalah sih. Selama hubungan kekeluargaan kita tidak terpecah belah!" ucap Dipta tampak bahagia.


Semua orang tertawa mendengarkan ucapan Dipta. Bima tampak sedih hatinya karena harus menerima kenyataan perceraian antara Zidane dan Marcella.


Bima sejak tadi terus memperhatikan Zidane yang sedang menggandeng istri mudanya yang berasal dari Jepang itu di depan banyak tamu. Padahal Bima sudah mewanti-wanti kepada Zidane untuk tidak pernah membawa wanita itu ke Indonesia.


Karena Bima tidak mau menyakiti hati Marcella yang sangat dia sayangi.


" Sudahlah Bim. Kau tidak usah menangisi tentang Marcella dan Zidane kalau memang mereka sudah tidak berjodoh. Kita tidak bisa berkata apa-apa lagi. Cukup kita doakan mereka bahagia dengan pilihan hidup mereka yang sudah mereka pilih. Sekarang kita berdua sudah tua rasanya sudah tidak pantas untuk ribut dengan anak-anak karena masalah seperti ini!" ucap Dipta berusaha untuk menasehati sahabatnya.


Bima benar-benar merasa bersalah kepada Dipta karena dia tidak berhasil mendidik anaknya untuk mencintai Marcella.


" Aku hanya merasa sedih melihat Marcella yang sekarang tidak ada di antara kita. Hanya gara-gara Zidane yang begitu ceroboh telah membawa perempuan itu kemari!" ucap Bima sambil menggelengkan kepalanya.


Terlihat Sheila yang menggenggam telapak tangan suaminya dengan begitu erat. Sheilla tahu betapa menderita hati suaminya melihat rencana perceraian antara Zidane dan Marcella yang sebentar lagi akan segera diproses oleh pengadilan.


" Berdoalah yang terbaik untuk kedua anak kita dan semoga perceraian itu adalah kebahagiaan untuk mereka. Rasanya tidak adil juga untuk Marcella kalau kita membiarkan Marcella tetap menikah dengan Zidane. Sementara Zidane tidak bisa memberikan keadilan untuk kedua istrinya maupun kedua anaknya." ucap Sheilla tidak kalah sedih seperti suaminya.

__ADS_1


Dinda dan Raffi hanya bisa menatap satu sama lain. Melihat kesedihan wajah para orang tua yang telah membimbing mereka sejak dulu dengan penuh kasih sayang.


Rehan dan Aurel pun hanya bisa saling menatap satu sama lain. Mereka pun bisa merasakan penderitaan Bima dan Sheila mengenai pernikahan Zidane dan Marcella yang akan karam.


Aurel merasa sedih melihat pernikahan kakaknya yang diambang kehancuran.


Aurel dan Marcella adalah sahabat ketika mereka masih muda. Ya, hubungan kekeluargaan mereka memang sangat erat jadi tidak heran kalau mereka memiliki ikatan batin yang sangat kuat satu sama lain.


Riyanti dan Bagas pun tidak bisa berkata apa-apa. Mereka pun tidak bisa ikut campur dengan urusan Marcella maupun Zidane. Karena bukan ranah dan kewenangan mereka berdua.


" Sayang, ayo kita pulang. Acara resepsi juga sudah selesai. Nanti kalau terlalu malam berbahaya juga di jalan!" ucap Riyanti kepada Bagas.


Mereka sangat bahagia karena akhirnya pernikahan cucu mereka bisa lancar. Mereka sangat tahu perjuangan Volkan untuk bisa bersama dengan Maura.


" Ayo Sayang!" ucap Bagas sambil menggenggam telapak tangan Riyanti yang sudah mulai keriput.


" Baiklah kami berdua akan pulang duluan maklumlah kami sudah tua sudah sanggup untuk bergadang berlama-lama!" ucap Bagas berpamitan kepada mereka semua yang ada di satu meja bersamanya.


" Hati-hati dokter, Terimakasih karena sudah hadir di acara pernikahan cucu kita!" ucap Kyai Ali yang merasa senang dengan kehadiran Dokter Bagas dan Riyanti yang telah menjadi besan mereka dengan pernikahan Dinda dan Raffi.


" Iya Kyai sama-sama. Saya juga sangat senang dengan pernikahan volkan dan Maura. Semoga mereka menjadi keluarga yang Sakinah, mawadah dan warohmah! Baiklah semuanya. Saya permisi dulu bersama dengan istri saya!" ucap Bagas yang akhirnya melangkahkan kakinya dengan dibantu oleh Riyanti yang memapahnya.


Ali dan Nur pun akhirnya berpamitan kepada mereka. Karena mereka pun sudah lelah dan ingin beristirahat.


" Baiklah kami berdua pun ingin beristirahat karena sudah terlalu lelah seharian berada di ballroom ini!" ucap Nur sambil bangkit mengikuti suaminya yang bersiap untuk meninggalkan acara resepsi pernikahan cucu mereka semua.

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan semua orang Nur dan Ali pun meninggalkan ballroom dan kembali ke pondok pesantren.


***


Qiara dan Kevin yang sejak tadi duduk dengan Danu dan Susan tampak begitu akrab layaknya keluarga yang begitu harmonis.


" Saya senang sekali karena keluarga kita menjadi satu keluarga." ucap Danu kepada Kevin yang saat ini sedang tersenyum.


" Ya dengan pernikahan mereka kita menjadi saudara. Mereka sangat hebat sekali. Bisa menjaga persahabatan mereka yang sejak kecil terjalin. Bahkan sampai menikah menjadi tiga pasangan di satu tempat. Hal itu benar-benar sangat luar biasa bagi kami!" ucap Qiara yang begitu takjub melihat kecantikan dan ketampanan pengantin yang sedang berbahagia di pelaminan.


Mereka bisa melihat cinta dan kasih sayang yang begitu besar dari mata semua mempelai pengantin yang saat ini sedang berbahagia dengan pernikahan mereka.


" Kita doakan semoga mereka bahagia dan hubungan persahabatan mereka tidak akan lekang dimakan waktu. Seperti hubungan kekeluargaan para sesepuh mereka!" ucap Susan yang tadi melirik ke arah meja Dinda dan Raffi di mana para sesepuh ( Tokoh novel " Lurah Pondokku calon suamiku" ) tengah berkumpul dalam satu meja.


" Benar mereka sangat hebat sekali karena bisa menjaga hubungan persahabatan dan keluargaan hampir tiga generasi. Saya sungguh salut sekali dengan mereka!" ucap Kevin sambil tersenyum ke arah Danu.


Kevin dan Danu mulai bersahabat sejak malam itu. Bahkan mereka memiliki perjanjian untuk saling investasi dan bekerja sama di Perusahaan masing-masing.


" Semoga ya kita berempat pun bisa menjadi sahabat yang baik dan menjaga tali silaturahmi tanpa harus saling menyakiti satu sama lain." ucap Susan bahagia sekali.


Setelah para sesepuh meninggalkan meja mereka Dinda dan Raffi, Aurel dan Rehan kemudian bergabung bersama Susan dan Danu, Qiara dan Kevin.


" Maaf ya kami baru datang kemari karena tadi kami harus menemani para sesepuh keluarga kami!" ucap Dinda kepada besannya.


" Tidak apa-apa kami mengerti kok. Kami juga memiliki percakapan seru di sini bersama dengan Kevin dan Qiara," ucap Danu sambil melirik ke arah Kevin yang sedang tersenyum ke padanya.

__ADS_1


" Kami senang akhirnya pernikahan ini bisa terwujud. Semoga bisa mempererat tali silaturahmi kita semua!" ucap Rehan.


Semua orang yang hadir di pesta tampak begitu bahagia. Para mempelai pengantin pun terlihat begitu senang dengan acara yang begitu meriah dengan dihadiri oleh tamu undangan dari berbagai kalangan yang sudah diundang oleh Aurel dan Rehan sebagai pelaksana acara pernikahan mereka semua pada malam ini.


__ADS_2