Maura Sang Gadis Bar-bar

Maura Sang Gadis Bar-bar
12. Keusilan yang terlalu


__ADS_3

Volkan berusaha untuk memeluk Maura yang saat ini terlihat begitu rapuh dan juga sedih. Terlihat dari matanya yang memerah dan air mata tanpa disadari menetes di kelopak mata Maura sehingga membuat Volkan benar-benar merasa bersalah dengan keusilannya.


' Tapi kalau aku berterus terang sama dia, bahwa sebenarnya tidak terjadi apa-apa diantara kami tadi malam. Gadis ini pasti akan tetap kurang ajar padaku. Biarlah tidak apa-apa aku membohonginya sedikit. Bagiku sekarang yang terpenting dia menjadi jinak padaku!' bathin Volkan sambil memeluk tubuh Maura yang masih terisak sedih.


Sejenak Volkan merasa seperti di cubit hati nya. Ketika dia mendengarkan semua perkataan Maura yang mengingatkan dia tentang tunangannya Hazel yang sudah bertahun-tahun berhubungan dengannya.


Bisa dikatakan Hazel adalah teman masa kecil Volkan yang sudah biasa bergaul dengannya sejak mereka masih kanak-kanak. Bahkan mereka selalu satu kelas ketika masih sekolah dulu.


Kalau Volcan ditanya apakah dia mencintai Hazel, dia pasti tidak akan bisa menjawabnya dengan baik. Karena dia pun tidak mengerti tentang perasaannya terhadap Hazel.


" Percayalah padaku sayang. Kalau terjadi apa-apa denganmu di masa depan, aku pasti akan bertanggung jawab!" ucap Volkan yang auto mencium kening Maura yang saat ini berada di dalam pelukannya.


Maura yang biasanya begitu ganas dan juga barbar. Hari ini dia tampak begitu lemah dan begitu rapuh di dalam pelukan Volkan.


" Aku tidak tahu Volkan. Apakah aku bisa mempercayai atau tidak. Tetapi selama kau masih menjadi tunangan wanita itu, Aku tidak bisa mempercayai 100%!" ucap Maura terisak.


Entah setan apa yang merasuki Volkan saat ini. Tiba-tiba saja Volkan membingkai wajah Maura dan kemudian mencium bibir wanita itu yang begitu pasrah di dalam kuasanya.


Maura yang pada dasarnya memang sudah tertarik dengan Volkan, dia terus mengikuti alur yang di suguhkan oleh Volkan.


Sampai tiba kepada Volkan yang berusaha untuk melepaskan pakaiannya, Maura langsung menghentikannya.


" Baru tadi malam kau melakukannya kepadaku, kau sudah ingin melakukannya lagi huh? Itu yang namanya kau memanfaatkan aku!" Ucap Maura sambil menjebikkan bibirnya yang begitu menggemaskan di mata Volcan yang saat ini sedang bingung dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Volkan kemudian mengurungkan niatnya untuk melakukan sesuatu yang buruk kepada Maura. Karena bagaimanapun, dia tidak mau kalau sampai sandiwaranya hari ini akan terbongkar begitu saja saat mereka berhubungan dalam keadaan sadar begitu.


Ketika Maura mengetahui bahwa ternyata dia tidak pernah melakukan apapun kepadanya gadis polos itu, Maura pasti akan membunuh dirinya karena berani menipunya hanya untuk membuat gadis itu takluk padanya.


" Kau mau istirahat dulu atau kita melanjutkan perjalanan lagi?" tanya Volkan yang mendudukkan Maura di atas pangkuannya.


Sementara hidung Volkan terus mengendus leher Maura yang membuatnya seakan candu dengan aroma tubuh gadis itu.


Maura yang merasa risih dengan Volcan yang terus mengedus-ngelus leher dan juga telinganya akhirnya memilih untuk bangkit dari pangkuan Volkan, tetapi Volkan tidak bersedia untuk melepaskannya begitu saja.


" Ayolah sayang. Kau diamlah! Aku senang melakukan ini denganmu!" bisik Volkan di telinga Maura yang mulai memerah karena malu melakukan hal seperti itu dengan tunangan orang lain.


Ketika Maura mengingat tentang status Volcan yang memiliki tunangan, Maura langsung menarik tubuhnya secara paksa membuat Volkan menjadi sangat kecewa kepadanya.


" Ayo kita kembali ke Jakarta karena aku harus bekerja. Bagaimanapun aku adalah karyawan baru di cafe itu. Bagaimana mungkin aku bolos begitu saja?" tanya Maura dengan gugup sambil mengalihkan pandangannya dari tatapan Volkan yang begitu menusuk jantungnya.


" Please jangan lakukan ini sama aku Volkan. Bagaimanapun kau sudah memiliki tunangan dan pernikahan kalian hanya tinggal masalah waktu. Jangan jadikan aku sebagai wanita yang merebut kekasih orang lain! Aku mohon!" ucap Maura dengan wajah memelas.


Mendengar perkataan Maura, Volcan hanya bisa mengacak rambutnya sendiri. Frustasi tingkat dewa. Dia benar-benar frustasi karena saat ini dirinya seperti terjebak di dalam permainan dirinya sendiri.


Awalnya Volcan hanya berniat untuk membalas dendam kepada Maura yang selalu menendang aset berharganya.


Volkan berniat hanya ingin memberikan pelajaran kepada gadis itu. Tetapi siapa yang menyangka, selama seharian ini dia bergaul dekat dengan Maura, ternyata Volkan menyadari, ada selasar aneh di dalam hatinya yang membuat dia percaya bahwa dirinya telah jatuh cinta terhadap Maura.

__ADS_1


Gadis barbar yang dalam sekejap telah menaklukkan hati seorang Volkan.


" Apa kau percaya kalau aku mengatakan bahwa aku tidak pernah menghabiskan waktuku bersama dengan tunanganku?" tanya Volkan saat mereka sudah ada di dalam mobil. Bersiap untuk kembali ke Jakarta.


Maura melirik sekilas ke arah Volcan yang sedang menceritakan tentang hubungannya bersama dengan Hazel.


" Hazel adalah teman masa kecilku. Masih bisa dikatakan sebagai orang terdekat dalam keluarga kami. Aku pun tidak tahu apakah perasaan yang dimiliki oleh kami adalah cinta sebagai pria dan wanita atau hanya perasaan nyaman sebagai sahabat. Tapi yang jelas, kami tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu kami berdua sebagai pasangan!" ucap Volkan sambil mencium telapak tangan Maura dengan lembut.


Maura sebenarnya merasa hatinya tidak nyaman. Melihat Volkan yang memperlakukan dirinya seperti itu.


" Fokuslah menyetir. Kalau terjadi apa-apa dengan kita berdua, pasti kedua orang tua kita pasti akan sedih!" ucap Maura mencoba mengingatkan Volkan yang sejak tadi sering melirik ke arahnya, alih-alih menyetir mobil.


Volkan ada seorang ahli dalam menyetir, jadi dia tidak masalah melakukan apapun ketika dia mengendarai mobilnya.


" Percayalah aku pasti akan memperjelas hubunganku dengan Hazel secepatnya. Jadi kau tidak usah takut untuk mencintaiku!" ucap Volkan sambil tersenyum kepada Maura yang seketika menjadi gugup di buatnya.


Maura bersikeras untuk melepaskan telapak tangannya dari genggaman Volcan. Walaupun pemuda itu bersikeras pula untuk tidak memberi keinginan gadis itu.


Tiba-tiba saja ponsel Volkan berdering dan itu berasal dari ayahnya. Volkan mengerutkan keningnya dan merasa bingung kenapa ayahnya menghubungi dia sekarang?


" Assalamualaikum!" ucap Volkan ketika dia menjawab telepon sang ayah.


" Waalaikumsalam! Volkan di mana kau sekarang?" tanya Raffi dengan suara bariton miliknya yang auto membuat Volkan menjauhkan ponselnya karena merasa sakit telinganya gara-gara sang ayah yang teriak.

__ADS_1


" Papa apaan sih? Pakai berteriak segala kayak gitu. Memang tidak bisa yah bicaralah biasa saja gitu? Valcon tidak budeg Pah!" protes Volkan ketika dia mendengar ayahnya sudah diam dan tidak berdaya lagi.


" Cepat kau pulang sekarang! Karena papa harus bicara serius denganmu! Papa menunggu kamu di rumah!" perintah Rafi dengan suara yang terdengar sedang marah.


__ADS_2