
Setelah Qiara dan Kevin mengurus semua keperluan untuk Surya dipindahkan ke Jakarta. Mereka pun kemudian kembali untuk masuk ke rumah sakit yang di kelola oleh kelakuan Ardan.
" Kamu ini ya! Benar-benar menyebalkan! Sebentar lagi mau menikah malah banyak tingkah. Lihatlah, sekarang. Semua luka-lukamu ini akan membuatmu jadi tidak tampan saat kau bersanding di pelaminan!" ucap Qiara merasa kesal kepada Surya.
" Sudahlah Mah. Lagi pula luka-lukaku tidak apa-apa. Paling 2 hari dirawat di rumah sakit juga sudah sembuh. Please Mah! Jangan terlalu mendramatisir segala hal. Aku bukan anak kecil lagi," ucap Surya sambil meringis kepada ibunya yang selama ini memang selalu memanjakan dirinya.
Qiara mengkeplak kepala Surya, karena Qiara merasa kesal melihat putranya yang begitu menggampangkan kesehatannya sendiri.
" Kamu itu ya. Kalau diomongin selalu saja ngeyel dan banyak alasan!" ucap Qiara kesal luar biasa.
Surya hanya meringis saja dengan kelakuan ibunya yang begitu bar-bar. Surya melirik sekilas ke arah Hazel yang sejak tadi terus memperhatikannya.
Hazel tidak berani untuk berkata apapun. Zejujurnya Hazel benar-benar ketakutan kalau sampai Surya mengatakan kepada kedua orang tuanya tentang keinginannya untuk membatalkan pernikahan mereka. Yang sebetulnya hanya gurauan saja untuk menggoda Surya dan Volkan agar tidak ribut terus sepanjang hidup mereka.
Hazel dan Maura ingin melihat Volkan dan Surya berbaikan dan bisa menjadi sahabat baik seperti bersama Ardan.
" Sudah cepat bersiap-siap kita akan segera ke Jakarta!" ucap Kevin yang tidak senang melihat istrinya dari tadi terus saja mengomel kepada putranya yang sedang sakit.
Mereka pun semuanya kemudian kembali ke Jakarta. Rafi dan Dinda hanya bisa geleng-geleng kepala. Ketika mereka melihat keadaan Volkan yang sampai di perban leher dan juga tangannya dengan gips.
" Kamu ini ada-ada saja. Pernikahan kamu tinggal beberapa hari. Kau malah mencari masalah seperti ini!" ucap Dinda tidak kalah kesal seperti Qiara.
Sama seperti Surya, Volcan pun tidak berani mengungkapkan tentang keinginan kekasihnya yang meminta pembatalan rencana pernikahan mereka.
Valcon juga takut kalau itu akan mengundang masalah untuk kekasihnya yang tercinta.
Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Volcan terus menggenggam telapak tangan Maura yang hanya bisa diam menyesali semuanya.
" Maafkan aku," ucap Maura pelan, takut di dengar oleh Dinda dan Rafi yang duduk di kursi depan
Layla dan Ardan kembali ke Jakarta bersama. " Maafkan aku ya. Gara-gara aku yang ngotot untuk melihat villa keluarga aku, mereka jadi mengalami kecelakaan fatal seperti itu. Aku nggak bisa bayangin. Bagaimana perasaan kedua orang tua Surya, ketika mereka melihat mobil anaknya yang ringsek total." ucap Layla merasa sedih dan juga bersalah.
__ADS_1
Ardan meremas telapak tangan Layla dengan lembut lalu menciumnya pelan.
" Sudahlah sayang tidak usah dipikirkan lagi. Aku percaya, kalau semuanya pasti adalah kehendak dari yang maha kuasa. Kita tidak bisa mengendalikan semuanya sesuai kehendak kita." ucap Ardan berusaha untuk membujuk kekasihnya agar tidak sedih lagi.
Layla menyandarkan kepalanya di pundak Ardan dan memejamkan matanya dengan damai. Sungguh!!! Layla benar-benar dapat merasakan hatinya begitu tenang. Ketika dekat dengan Ardan.
Ardan adalah seorang pria yang sangat dewasa. Mandiri dan juga memiliki ketenangan batin yang sangat luar biasa. Layla benar-benar sangat salut dengan Ardan. Tidak seperti Surya dan Volcan yang memiliki temperamen tinggi dan tidak bisa untuk mengendalikan diri mereka saat emosi.
Begitu sampai di Jakarta, Ardan mengantar kan Layla sampai ke apartemennya. "Masuk, aku akan membuat kopi untuk kamu, kamu pasti lelah. Setelah mengendarai mobil seharian kan?" tanya Layla sambil menggengam tangan Ardan dengan erat.
Ardan seketika ingat dengan kejadian malam itu yang membuat dia menjadi kalang kabut sendiri gara-gara kedekatan bersama Layla.
" Sayang! Kayaknya lebih baik aku pulang deh. Aku tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa dengan kita berdua. Tenanglah sayang. Sebentar lagi pernikahan kita akan segera terjadi. Kita bisa melakukan apapun setelah itu!" ucap Ardan yang langsung berpamitan meninggalkan Layla di apartemennya.
" Baiklah hati-hatilah di jalan dan kau harus menghubungiku ketika sampai di rumah!" ucap Layla berusaha tersenyum pada Ardan.
Ardan mengecup kening Layla dengan lembut dan khusuk. Karena bagaimanapun dia takut kalau sampai nanti kebablasan lagi gara-gara mencium bibir Layla. Pengalaman malam itu benar-benar di jadikan pelajaran yang sangat berharga oleh Ardan.
Untung saja waktu itu Layla masih sadar dan mengingatkannya untuk tidak kelewatan. Kalau tidak, Ardan tidak bisa membayangkan Konsekuensi apa yang harus diterima ketika dia tidak bisa mengendalikan diri dari nafsu setan yang menggoda imannya.
" Aku harus memastikan kepada Volkan dan Surya. Apakah pernikahan itu akan kembali dilanjutkan bersama-sama atau tidak. Karena orang tuaku yang menyusun semuanya. Jangan sampai nanti sudah dipersiapkan mereka malah mangkir dan tidak mau melanjutkannya," ucap Ardan.
Begitu sampai di rumah sakit, Ardan langsung mencari Volkan.
" Bagaimana kabarmu Bro. Sudah kebaikan? Kita akan melanjutkan tentang pernikahan yang akan diadakan bersama atau tidak?" tanya Ardan pada Volkan dan Surya.
" Aku tidak tahu. Hal itu kan idenya para gadis kau tanyalah sama mereka!" ucap Volkan yang begitu pasrah dengan nasibnya sendiri.
Volkan tidak mau memaksakan sesuatu kepada Maura. Walaupun sebenarnya dia sangat takut kehilangan Maura.
Akan tetapi Ardan sadar bahwa memaksakan sesuatu kepada Maura tidak baik pada akhirnya. Apalagi masalah pernikahan yang akan mereka jalani seumur hidup mereka.
__ADS_1
" Kalau mereka semuanya tergantung pada kalian berdua. Kan kalian yang keberatan masalah menikah untuk digabungkan bersama." ucap Ardan yang duduk di sebelah Volkan.
Ruangan perawatan Surya dan Volcan memang sengaja digabungkan. Agar mereka mudah dalam berkunjung.
" Baiklah kami tidak masalah untuk menggabungkan resepsi pernikahan kita. Kayaknya asik juga kita bisa berkumpul di satu tempat. Dan suatu saat kita juga akan merayakan anniversary kita bersama-sama," ucap Surya tampak bersemangat dengan apa yang ada di pikirannya.
Volkan pun akhirnya menyetujui. Karena sejujurnya dia pun tidak memiliki ide yang lain soal pernikahan mereka.
Bagi Volkan, yang penting pernikahannya bersama Maura berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan.
" Di mana Maura sekarang?" tanya Ardan karena tidak melihat Maura ada di manapun.
" Tadi kami mengantarnya ke apartemennya. Supaya dia bisa beristirahat di sana. Kasihan dia, wajahnya tampak begitu kelelahan. Tetapi dia merasa tidak enak untuk meminta pulang. Aku memaksa dia untuk beristirahat di rumah saja," ucap Volkan sambil memejamkan matanya yang sudah mulai berat.
Tadi dokter memberikan obat tidur kepada Volkan untuk membuat dia beristirahat total dan tidak terlalu lelah karena ngobrol atau aktifitas lainnya.
Sama halnya dengan Surya yang mulai memejamkan matanya juga. karena Surya pun merasakan kantuk yang luar biasa.
Setelah melihat qsurya dan Volkan tertidur pulas, Ardan juga memberikan tubuhnya di sofa karena kedua orang tua Surya dan Volkan juga pulang ke rumah mereka untuk beristirahat. Kelelahan setelah melakukan perjalanan seharian tadi.
Ketiga pemuda tampan itu pun akhirnya tidur dengan begitu nyenyak. Karena kelelahan yang luar biasa.
***
Sementara itu Maura yang sekarang berada di dalam kamarnya. Maura terlihat sedang sibuk menelpon ibunya.
" Bagaimana kabarmu nak?" tanya Susan merasa khawatir dengan keadaan putrinya.
Susan sudah mendengar kabar dari Dinda tentang keadaan Volkan, setelah mengalami kecelakaan yang cukup fatal bahkan mobil Surya saja sampai ringsek dan tidak bisa dis service lagi. hanya membayangkannya saja sudah benar-benar membuat Susan tidak bisa bernafas.
Susan takut kalau terjadi apa-apa dengan calon menantunya. Bagaimanapun Susan tahu kalau Maura sangat mencintai Volkan.
__ADS_1
" Aku baik-baik saja Mah. Volkan juga sekarang sudah berada di rumah sakit dan kondisinya semakin stabil. Insya Allah rencana pernikahan tidak akan bergeser," ucap Maura berusaha untuk menenangkan ibunya yang pasti khawatir tentang rencana pernikahannya bersama Volkan.
" Syukurlah kalau rencana pernikahan kalian tetap dan tidak berubah. Mama berdoa semoga mereka segera baik-baik saja!" ucap Susan.