Maura Sang Gadis Bar-bar

Maura Sang Gadis Bar-bar
44. Menerima


__ADS_3

Setelah pulang dari pesta pertunangan Volkan dan Maura. Layla memutuskan untuk pulang ke kediaman keluarga Hutomo untuk berbicara dengan ayahnya masalah perjodohan yang ditawarkan oleh sang ayah pada dirinya dengan Ardan.


Danu menyambut kedatangan Layla ke mansionnya karena tidak biasanya Putri kesayangan mau datang ke mansionnya.


Sudah lama sekali Layla lebih memilih hidup di luar. Mandiri tanpa menggantungkan dirinya kepada ayahnya.


" Wah tumben sekali Tuan Putri keluarga Hutomo sudi mampir ke gubukku!" ucap Danu sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Putri kesayangannya.


Biasanya dirinya yang harus selalu mendatangi apartemen yang ditempati oleh Layla dan itu pun harus membuat janji dulu dengan Putri kesayangannya.


" Ih nggak usah lebay deh Pah!" ucap Layla kesal kepada ayahnya kemudian dia pun memeluk ayahnya dengan erat.


" Sayang!! Apa kau tahu? Papah sangat bahagia sekali melihatmu datang kemari. Ada apakah? Apakah kau membutuhkan bantuan papa?" tanya Danu sambil tersenyum kepada putrinya yang sekarang duduk di sampingnya.


" Papa, kapan rencananya Papa akan memperkenalkan Layla kepada calon suami dan calon mertua layla?" tanya Layla to the point karena dia tidak memiliki banyak waktu untuk berputar-putar.


Danu terlihat mengerutkan keningnya mendengarkan pertanyaan dari putrinya tercinta yang tumben sekali membicarakan hal itu dengannya.


" Memangnya kenapa? Apakah kau sudah berubah pikiran sayang? Apa kau sudah mau untuk menerima perjodohanmu!?" tanya Danu sambil menatap putrinya yang sekarang tampak tersipu malu.


" Papa kenapa sih suka banget membalas pertanyaan dengan pertanyaan lagi?" tanya Layla yang mulai kesal kepada ayahnya.


Danu tertawa terbahak melihat ekspresi putrinya yang sedang misuh-misuh kepadanya.


" Kapan kau ada waktu untuk bertemu dengan calon suamimu dan juga calon mertuamu?" tanya Danu merasa senang karena akhirnya putrinya mau juga diajak kompromi untuk pertama kalinya dalam hidup Layla.


Layla merasa bahwa dia memang harus membantu ayahnya yang sudah paruh baya. Dan selama ini selalu mengurus bisnis keluarga sendirian. Sementara dia lebih senang menghabiskan waktunya untuk menyenangkan dirinya sendiri. Tanpa memperdulikan sang ayah yang sudah semakin ringkih karena dimakan usia.


" Terserah Papa atur saja. Layla akan mengikuti semua pengaturan papa!" ucap Layla yang kemudian bangkit dari duduknya dan bersiap untuk meninggalkan Mansion ayahnya.


" Kamu mau ke mana sayang?" tanya Danu terlihat mengerutkan keningnya melihat putrinya yang bersiap meninggalkan dia lagi.


" Layla sudah selesai dengan urusan Layla. Jadi ya mau pulang lagi lah ke apartemen Layla!" ucap Layla tersenyum kepada ayahnya yang terlihat murung dan sedih.


Layla kemudian mendekati ayahnya bertanya kenapa sang ayah terlihat begitu sedih.


" Apakah Papa sedang menghadapi masalah? Kenapa tumben berwajah buram begitu?" tanya Layla yang kemudian kembali duduk di samping ayahnya.


Danu menatap lekat putrinya yang sudah hampir beberapa tahun jarang sekali dia lihat berada di kediaman itu. Ya tepatnya, setelah meninggalnya Ibu Layla. Layla lebih memilih untuk tinggal di luar daripada bersamanya.


Tampaknya Layla sampai sekarang masih belum bisa berdamai dengan kematian ibunya yang diakibatkan oleh sang ayah yang terlambat membawa sang ibu ke rumah sakit.

__ADS_1


" Papa hanya merasa sedih melihat kamu yang tidak pernah betah berada di rumah ini. Papa hanya memiliki anak seorang dan itu hanya kamu saja. Tetapi setiap hari rumah ini begitu sepi. Karena kau yang jauh lebih memilih untuk hidup dengan duniamu sendiri dan membiarkan Papa sendirian dan sangat kesepian!" ucap Danu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Layla merasa tersentak mendengarkan perkataan dari ayahnya yang sedang menyuarakan perasaan hatinya.


" Maafkan Layla Pah! Layla hanya merasa belum siap untuk berdamai dengan semuanya!" ucap Layla yang mulai menundukkan kepalanya.


Layla masih ingat betapa saat itu dirinya menangis terisak saat Ibunya hendak meninggal akan tetapi ayahnya dia cari tidak dia temukan di manapun juga.


Sampai akhirnya Laila menemukan keberadaan ayahnya di kamar pembantu mereka dan sedang bercinta sangat panas dengan Susi. Ah, hati Layla sampai saat ini masih merasakan sakit yang tak berdarah.


Mengingat hal itu Layla pun kemudian langsung menghapus air matanya dan beranjak dari tempat duduknya bersiap untuk meninggalkan ayahnya.


" Layla pergi dulu Pah!" setelah mengatakan itu Laila pun langsung berlari meninggalkan Danu yang mulai menangis tersedu.


" Maafkan Papa Layla. Papa tahu Papa sudah berbuat kesalahan yang sangat fatal kepadamu dan juga kepada ibumu. Akan tapi apakah tidak ada kesempatan untuk papamu bisa memperbaiki semuanya?" tanya Danu dengan air mata yang terus mengalir di kelopak matanya yang sudah mulai keriput karena dimakan usia.


Danu kemudian masuk ke dalam kamarnya ketika dia melihat Susi yang tadi melintas di ruang tamu. Karena wanita itulah, sampai saat ini anaknya belum juga mau memaafkan dia. Bahkan Layla tidak pernah mau untuk memperkenalkan Danu sebagai Ayahnya di hadapan teman-temannya.


Banyak alasan yang menjadi penyebab hal itu dilakukan oleh Layla.


Kalau bukan karena Layla yang begitu membenci Susi. Mungkin Wanita itu sudah menjadi Nyonya rumah di kediaman Danu sejak dulu. Akan tetapi sampai saat ini Danu masih menjadikan wanita itu sebagai pembantu di rumahnya dan tidak lebih daripada itu.


" Tuan apakah Anda baik-baik saja?" tanya Susi yang merasa khawatir dengan Danu yang sejak kepulangan Layla hanya mengurung diri di dalam kamarnya.


Sementara itu Layla yang saat ini masih belum bisa berdamai dengan masa lalunya bersama dengan sang ayah. Saat ini di sedang menghabiskan waktunya di taman sendirian dan kesepian.


Semenjak Maura memiliki hubungan dengan Volkan. Maura lebih banyak menghabiskan waktunya bersama kekasihnya membuat Layla menjadi kesepian dan kehilangan sahabat yang selalu menemani dia.


Sebenarnya Maura merasa kecewa kepada Layla yang dengan begitu sengaja telah membohonginya dengan berpura-pura menjadi gadis yang tidak memiliki apa-apa. Padahal sebenarnya Layla adalah anak konglomerat yang terkenal di ibukota yang memiliki banyak perusahaan terkenal.


" Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tiba-tiba saja Ardan sudah mengejutkan Laila dan duduk di sampingnya.


Layla benar-benar terkejut melihat Ardan yang tersenyum kepadanya.


' Ya ampun! Kenapa dunia ini sesempit ini?Kenapa aku harus selalu bertemu dengan laki-laki ini?' tanya Layla merasa pusing melihat pesona seorang Ardan yang sangat sulit untuk di tepisnya.


" Jawab dong! Ditanya kok kamu malah diam aja sih? Kamu tidak suka kalau aku juga di sini?" tanya Ardan menatap tajam kepada Layla yang lebih memilih menatap langit yang ada di atas kepalanya.


" Kenapa kamu berada di sini? Bukankah tadi kau pulang bersama dengan keponakanmu?" tanya Layla merasa acuh dengan Ardan.


Ardan tersenyum melihat Layla yang begitu biasa ketika bertemu dengannya. Padahal biasanya gadis-gadis akan selalu histeris ketika berhadapan dengannya.

__ADS_1


" Apakah kau memiliki kebiasaan untuk bertanya kembali untuk menjawab sebuah pertanyaan?" tanya Ardan pada Layla yang tiba-tiba saja matanya terlihat berderai dengan air mata membuat Ardan menjadi bingung di buatnya.


Melihat Layla yang terlihat sedang sedih. Akhirnya Ardan pun hanya menopang kepalanya dengan telapak tangannya dan memperhatikan Layla dari samping.


" Baiklah aku akan pergi dari sini. Tampaknya kedatanganku tidak kau sukai!" ucap Ardan yang kemudian bersiap untuk meninggalkan taman dan membiarkan Layla sendirian. Walaupun sebenarnya dia merasa khawatir melihat seorang perempuan sendirian saja di taman pada tengah malam seperti itu.


Melihat Ardan yang bersiap untuk pergi dan meninggalkannya. Laila pun kemudian melihat ke arah Ardan dengan lekat.


" Apa kau tahu kalau aku adalah calon istrimu?" tanya Layla menatap tajam kepada Ardan yang sepertinya terkejut mendengar pertanyaannya.


" Apa maksudmu?" tanya Ardan yang kembali duduk di samping Laila yang sekarang menatap ke arahnya.


Layla kembali melihat ke arah langit yang saat ini mulai nampak mendung.


" Ayo kita ke mobil saja. Sebentar lagi tampaknya akan turun hujan. Kau nanti bisa kehujanan kalau tetap bersikeras di sini!" ucap Ardan sambil mengulurkan telapak tangannya ke arah Layla.


" Katakan padaku! Apakah kau tahu kalau aku adalah calon istrimu?" tanya Layla lagi.


Terlihat Ardan yang tidak memperdulikan pertanyaan Layla dan dia langsung menarik tangan Layla untuk masuk ke dalam mobilnya yang tidak jauh lihat parkirkan di kursi yang saat ini mereka tempati. Karena hujan sudah mulai rintik-rintik dan dia khawatir kalau Layla akan kehujanan.


" Aku tidak mengerti maksud perkataanmu tadi. Tapi mungkin kita bisa berkenalan satu sama lain untuk lebih memperkenalkan diri kita lebih dekat lagi!" ucap Ardan yang terkesan berputar-putar membuat Layla menjadi kesal di buatnya.


Layla sudah bersiap untuk keluar dari mobil Ardan. Sampai pemuda tampan itu pun kemudian menarik tangannya.


" Baiklah aku akan menjawab pertanyaanmu!" ucap Ardan akhirnya menyerah juga.


Layla kemudian duduk kembali di tempatnya semula dan memperhatikan Ardan dengan seksama.


" Sejujurnya aku tidak tahu kalau kau adalah calon istri yang ditawarkan oleh Ayahku untuk menyelamatkan perusahaan kami saat ini. Sejujurnya aku masih bingung dengan kamu." ucap Ardan yang menatap Layla dengan lekat.


" Apa yang kau bingungkan tentang aku?" tanya Layla mulai tertarik dengan Ardan.


Layla untuk sejenak sudah mulai bisa melupakan tentang kesedihannya ketika mengingat tentang ayahnya dan juga almarhum ibunya.


Layla memang selalu berubah menjadi melow setiap kali dia mengingat tentang kematian ibunya yang sangat dramatis baginya.


Bagaimana mungkin ayahnya bisa melakukan hal seperti itu bersama pembantu mereka? Di saat Ibunya sedang berjuang melawan maut? Layla Sampai sekarang masih belum bisa memaafkan kesalahan ayahnya itu.


Terkadang ketika mengingat masalah itu membuat Layla sontak membenci ayahnya sampai ke tulang sumsum.


Layla sadar bahwa dirinya memang adalah putri satu-satunya dari keluarga Hutomo dan dia pulalah yang kelak akan bertanggung jawab untuk mengurus semua perusahaan ayahnya. Apabila sesuatu terjadi kepada ayahnya yang sudah tua.

__ADS_1


__ADS_2