
Volcan segera masuk ke dalam kamarnya. Setelah dia sampai di kediaman kedua orang tuanya.
" Kenapa kamu pulang malam sekali? Dari mana kamu?" tanya Rafi ketika melihat putranya yang hendak masuk ke dalam kamarnya.
" Tadi kan Papa menyuruhku untuk menyampaikan kepada Maura dan juga ibunya untuk pertemuan kita besok. Volkan butuh waktu untuk membujuk ibunya Maura agar mau menemui Papah dan Mamah!" ucap Volkan yang kemudian langsung masuk ke dalam kamar. Karena dia sudah sangat lelah dan ingin sekali beristirahat.
Raffi yang melihat putranya wajahnya tampak babak belur dia merasa penasaran.
" Siapa yang sudah menghajar wajahmu seperti itu huh?" tanya Rafi sambil mengangkat dagu putranya yang sekarang mulai lebam-lebam sehabis dipukul oleh Ardan karena kecemburuannya yang luar biasa terhadap sang sepupu yang akrab dengan Maura.
" Biasalah Pah. Namanya juga laki-laki!Sudahlah tidak usah diperpanjang!" ucap Volkan sambil menyingkirkan tangan ayahnya dari wajahnya yang mulai terasa pedas dan sakit.
Padahal sejak tadi dia tidak merasakan sakit sama sekali. Zekarang setelah berada di rumah dan tidak memikirkan apa-apa baru terasa luka itu sangat menyakitkan.
Tadi ketika berada di kontrakannya Maura, Maura sempat mengkompres lukanya dengan es jadi sakitnya tidak terlalu kentara.
" Kamu habis berantem dengan siapa? Cepat ngaku sama papa atau Papa tidak akan mau menemui calon mertuamu besok!" ancam Rafi memaksa kepada Volkan untuk bercerita tentang luka-lukanya yang sangat serius bahkan bibir Volkan sampai sobek.
' Kalau aku mengatakan aku habis berantem dengan Ardan. Pasti Papaku akan marah dan dia akan semakin ilfil dengan Maura. Kalau dia tahu sebab pertarunganku dengan Ardan. Ah, lebih baik aku bohong saja dengan Papa. sekarang sebaiknya Aku cari aman saja daripada nanti ribet sendiri!' bathin Volkan.
" Sudahlah Pah. Ini hanya pertarungan kecil antar laki-laki biasa. Tadi di jalan tidak sengaja berpapasan dengan anak-anak yang sedang mengganggu seorang gadis di taman. Volkan hanya membantunya saja Pah. Sudahlah Volkan sangat ngantuk. Papa apa tidak capek setelah bekerja seharian?" tanya Volkan sambil menatap ayahnya yang masih penasaran dengan luka-luka di wajah putranya yang berharga.
" Tumben kau membantu seorang gadis dari orang nakal. Bukannya biasanya kamu yang mengganggu mereka?" tanya Rafi dengan nada sarkas yang membuat volkan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Ah Papa ini ada-ada saja kenapa sih selalu saja menistakan putramu sendiri?" cicit Volkan benar-benar merasa sangat kesal kepada ayahnya sendiri yang sejak dulu selalu saja begitu kepadanya.
" Ini bukan masalah Papah menistakanmu atau tidak Volkan! Akan tetapi masalahnya adalah fakta bahwa kau memang selalu mengganggu anak gadis orang lain! Lihatlah bahkan pernikahanmu saja yang sudah hampir di depan mata dengan tidak sopannya kau main membatalkannya saja!" ucap Raffi sambil menggelengkan kepalanya benar-benar sudah kehabisan kata-kata untuk bicara dengan putranya sendiri.
" Ah sudahlah Papa bikin aku pusing saja sih. Sana tidur! Volkan juga mau tidur Pah!" ucapkan sambil membuka pintu kamarnya.
" Dasar anak tidak sopan! Berani-beraninya kau menyuruh-nyuruh papamu!" ucap Rafi sambil mengeplak kepala putranya yang benar-benar membuat dia hari ini benar-benar sangat marah dan juga kesal.
__ADS_1
Raffi bahkan sudah mendapatkan telepon dari Zidane yang sekarang di Jepang. Zidane marah dan protes dengan perbuatan putranya yang sembarangan dan sesuka hatinya membatalkan rencana pernikahannya dengan Hazel. Putrinya satu-satunya.
Padahal pernikahan mereka tinggal beberapa minggu lagi dan persiapan pun semuanya sudah final. Tiba-tiba saja semuanya harus dihentikan hanya karena keputusan dari Volkan yang di luar dugaan.
Raffi menarik nafasnya dalam-dalam kemudian dia pun meninggalkan putranya untuk beristirahat karena Bagaimanapun besok mereka mempunyai janji untuk bertemu dengan Maura dan juga ibunya.
Dinda yang saat ini sedang membereskan make up yang ada di wajahnya. Dinda tampak terkesiap melihat sang suami yang tidak senang wajahnya ketika masuk kamarnya.
" Ada apa Pah? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu? Apa ada masalah?" tanya Dinda sambil mendekati suaminya yang sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
" Mah. Apakah benar kita akan merestui pernikahan Volkan dengan Maura?" tanya Rafi sambil menggenggam telapak tangan istrinya kemudian menciumnya dengan lembut.
" Kita lihat saja besok hasil pertemuan kita dengan ibunya Maura. Entahlah Pah! Mama juga sebetulnya ragu apakah akan mengijinkan hubungan mereka atau tidak. Akan tetapi kita juga tidak bisa untuk mengesampingkan perasaan Volkan yang mencintai gadis itu!" ucap Dinda yang tampak sangat dilema memikirkan tentang masalah percintaan putranya.
" Kalau menurut Mama. Bagaimana Volkan selama ini? Sejak dia berhubungan dengan Maura?" tanya Rafi ingin mengetahui penilaian istrinya terhadap putranya.
Dinda tampak menerawang mengingat-ingat lagi apa saja yang dilakukan oleh putranya. Semenjak putranya itu berhubungan dengan Maura. Gadis sederhana yang bekerja di cafe milik mereka.
" Yah! Memang sih banyak perubahan positif yang ditunjukkan oleh Volkan sejak dia berhubungan dengan Maura! Setidaknya sekarang Putra kita tidak pernah membuat skandal lagi di luar sana. Tidak seperti ketika dia berhubungan dengan Hazel, yang hampir setiap minggu selalu saja terkena skandal yang membuat kita sekeluarga malu luar biasa!" ucap Dinda sambil tersenyum kepada suaminya yang tampak manggut-manggut dan setuju dengan apa yang dia katakan.
" Ya sudah Pah. Kita istirahat saja kita lihat saja besok ketemuannya akan seperti apa! Walaupun sebenarnya Mama cukup pesimis mengenai restu yang tidak mungkin mudah didapatkan oleh Volkan dari ibunya Maura!" ucap Dinda sambil menggelengkan kepalanya dan merasa pusing dengan nasib percintaan putranya yang berliku-liku dan penuh onak duri yang menghalangi mereka untuk bersatu.
" Kenapa?"
" Tadi Ardan menelpon Mama dia bercerita tentang Volcan yang datang menemui ibunya Maura di kediaman Ardan!" ucap Dinda sambil memeluk suaminya dan berusaha untuk tidur tetapi sulit sekali untuk bisa memejamkan mata sementara otak masih terus berpikir tentang nasib putranya.
" Memangnya kenapa Mah? Apa hubungan Ardan dengan ibunya Maura?" tanya Rafi penasaran sekali tentang calon besannya yang belum pernah bertemu dengannya.
" Hah Papa ini benar-benar ya! Ibunya Maura itu Susan Pah. Dia menjadi Baby Sister dari Noaf di rumahnya Ardan!" demi mendengar perkataan istrinya sontak Raffi menjadi terkejut bukan kepalang.
" Susan?"
__ADS_1
" Kenapa? Apakah Papa ingat kalau Papa mempunyai kenangan manis dengan orang bernama Susan?" tanya Dinda dengan wajah cemberut sambil menatap suaminya yang auto gugup seketika.
" Bukan begitu Mah! Papa hanya khawatir saja dengan putra kita. Pasti Susan tidak akan mudah untuk memberikan restu kepada Volkan. Apalagi dia akan tahu kalau Volkan pernah bertunangan dengan Hazel dan berniat untuk menikahinya. perjuangan volkan pasti tidak akan mudah untuk mendapatkan restu dari Susan!" Raffi tampak begitu frustasi memikirkan tentang putranya sendiri yang suka mencari masalah dan perkara.
" Heran sekali dengan anakmu itu! Sejak kecil dia senang sekali membuat kita pusing tujuh keliling dengan kelakuannya!" ucap Raffi sambil menatap sinis kepada Dinda yang tidak kalah jengkel terhadapnya.
" Dia itu juga anakmu! Kau kira Volcan bisa hadir ke dunia ini kalau Papa tidak berbuat sesuatu padaku huh?" tanya Dinda yang mulai kesal kepada suaminya yang tampaknya masih belum melupakan Susan.
Ada sejarah antara Raffi dan Susan yang dulu sempat pernah dekat walaupun hanya sebentar saja.
" Ah Mamah! Itu kan kejadian sudah lama sekali. Kenapa kau masih belum melupakannya sih? Lagi pula bukankah Susan sudah mempunyai anak dan sebentar lagi anaknya akan menjadi menantu kita?" tanya Raffi tampak begitu gugup dan tidak berani menatap istrinya.
" Halah kalau dulu kau tidak dimarahi oleh ayahmu. Kau tidak mungkin mau melepaskan janda seperti Susan ya kan?" tanya Dinda yang mulai dilanda api cemburu ketika mengingat kembali masa lalu mereka bertiga.
" Ya ampun mah itu kan kejadian sudah sangat lama sekali kenapa sih Mama tidak bisa melupakannya dan mengikhlaskannya?" tanya Raffi dengan sangat frustasi melihat istrinya yang masih mengingat kejadian yang bahkan sudah lebih 15 tahun yang lalu.
" Pa seorang wanita itu ahli sejarah yang palung handal! Dia akan mengingat apapun yang kau lakukan yang menyakiti hatinya. Makanya jadi laki-laki itu nggak usah banyak tingkah dan banyak gaya!" ucap Dinda sambil menatap sinis kepada suaminya yang mulai pasrah dengan emosi sang istri yang terpacu karena mengingat kembali masa lalu mereka bertiga yang sungguh tidak menyenangkan.
Rafi tampak sangat frustasi. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi besok. Ketika dirinya bertemu dengan Maura dan juga Susan yang dulu pernah hampir saja menjadi istri keduanya. Kalau bukan karena dimarahi oleh ayahnya tidak mungkin terlatih sampai meninggalkan janda muda itu.
" Sudahlah Mama tidur di kamar tamu saja!" ucap Dinda yang akhirnya malah memilih untuk meninggalkan Raffi tidur sendirian di kamar utama.
Raffi sampai merasa pusing melihat kelakuan istrinya yang hingga saat ini masih belum bisa berdamai dengan masa lalu yang hampir saja membuat rumah tangga mereka berantakan dan bercerai-berai.
Untung saja kedua orang tuanya langsung ikut menangani permasalahan mereka berdua sehingga akhirnya Raffi mau mengalah dan melepaskan perasaan sesaatnya kepada Susan dan memutuskan untuk melanjutkan pernikahannya bersama dengan Dinda.
" Ah belum apa-apa sudah kacau begini. Bagaimana nanti kalau Maura sudah menikah dengan Volcan? Pasti akan jauh lebih besar drama yang tercipta!" gocap Raffi benar-benar frustasi menghadapi sang istri yang bahkan sampai meninggalkannya sendirian di kamar dan lebih memilih tidur di kamar tamu.
Raffi hanya membiarkan saja Dinda melakukan apa yang dia mau karena dia pun sedang malas untuk berdebat.
" Biarlah paling besok juga kembali lagi. Kalau suasana hatinya membaik, Dinda pasti akan kembali ke kamar ini. Sekarang lebih baik tidur saja!" ucap Raffi akhirnya menyerah dan memilih untuk memejamkan matanya daripada harus ribut bersama dengan istri.
__ADS_1
Sementara itu Dinda yang sekarang berada di dalam kamar tamu tampak sangat kesal dan jengkel karena ternyata suaminya tidak mengejarnya.
" Dasar tidak peka dan pria menyebalkan!" tidak ada habisnya Dinda marah-marah pada tengah malam itu hingga akhirnya dia kelelahan sendiri dan kemudian tertidur di kamar tamu yang letaknya berada di samping kamar utama.