Maura Sang Gadis Bar-bar

Maura Sang Gadis Bar-bar
24. Akhirnya


__ADS_3

Maura yang sebenarnya merasa senang dengan kehadiran Ardan dia pun tampak tersenyum bahagia.


" Kok kamu bisa ada di sini sih?" tanya Maura masih merasa excited kembali bertemu dengan Ardan.


Terakhir kali dirinya bertemu dengan Ardan adalah di pemakaman Sakinah. Kekasih Ardan yang meninggal karena penyakit kanker. Maura pada saat itu benar-benar merasa kasihan dan juga terharu melihat kisah cinta Ardan yang kandas dan harus dipisahkan oleh maut.


Maura benar-benar sangat kagum dengan sosok Ardan yang bisa menjaga cintanya begitu dalam hanya untuk satu wanita seperti Sakinah yang berjuang melawan penyakitnya hingga akhir dan sekarang bahkan telah meninggal karena penyakitnya itu.


" Ini adalah rumah orang tuaku Maura. Tentu saja, sekarang aku ada di sini. Jadi kau adalah putri dari Bi Susan yang menjadi pengasuh keponakanku?" tanya Ardan begitu excited melihat Maura yang saat ini ada di dalam rumahnya.


Maura hanya mengangguk saja menanggapi pertanyaan dari Ardan.


Ardan melihat ibunya Maura sekarang sedang sibuk menyuapi keponakannya. Ardan pun kemudian memiliki inisiatif untuk mengajak Maura duduk di taman belakang. Sehingga mereka bisa berbicara secara bebas tanpa harus merasa takut untuk diawasi ataupun dilihat oleh ibunya.


" Ayo kita duduk di belakang saja. Tampaknya kau harus menceritakan kepadaku. Apa alasanmu sampai berada di rumah ini saat ini. Kelihatannya selama beberapa tahun Bi Susan bekerja di sini, aku tidak pernah melihatmu masuk ke rumahku ini!" ucap Ardan sambil tersenyum kepada Maura yang langsung menundukkan kepalanya.


Maura karena merasa berterima kasih kepada Ardan yang dulu pernah menolongnya. Dia pun mengikuti Ardan yang mengajaknya untuk berbicara di taman belakang.


" E... sekarang ceritakan semuanya padaku!" ucap Ardan sambil meletakkan tangan di kepalanya untuk menahan kepalanya agar tetap seimbang.



Kebersamaan Volkan dan Maura


Maura kemudian menceritakan semua yang terjadi selama seharian kepada Ardan.

__ADS_1


Ardan sampai menggeleng-gelengkan kepalanya sangking tidak percayanya bahwa sepupu gilanya itu benar-benar mengajak Maura untuk menikah dengannya.


" Jadi tujuanmu datang kemari adalah untuk meminta izin kepada ibumu mengenai pernikahan itu?" tanya Ardan pura-pura tidak mengetahui tentang cerita itu. Padahal mah dia tadi sudah mendengar semua cerita Maura kepada Susan ketika tanpa sengaja dirinya lewat di depan kamar Noaf.


" Ibuku marah besar karena aku akan menikah dengan laki-laki yang sudah memiliki tunangan. Ibuku tidak mau kalau aku merebut kebahagiaan orang lain!" ucap Maura sambil menundukkan kepalanya.


Ardan menatap Maura dengan lekat dia tahu bahwa gadis yang ada di hadapannya adalah wanita yang baik dan tidak mungkin melakukan hal yang akan membuat hati orang lain bersedih hanya karena untuk kesenangannya sendiri.


Hal itu benar-benar membuat hati Ardan menghangat dan sangat senang terhadap Maura yang baik hatinya.


" Begini saja Maura. Untuk sementara kau tinggallah di rumah ini. Kau bisa membantu ibumu untuk menjaga Noaf atau kau bisa juga bekerja untuk menjadi asistenku. Aku yakin Volcan tidak akan berani macam-macam kalau kau dekat bersama denganku!" ucap Ardan sambil menatap lekat manik Maura.


Maura terlihat sedang berpikir keras. Dia pun sangat takut untuk bertemu lagi dengan Volkan. Karena pasti Volkan akan tetap saja memaksanya untuk menikah dengannya.


Selama beberapa hari bergaul dengan Volcan Maura bisa menangkap bahwa Volcan adalah tipe laki-laki yang tidak suka dibantah dan suka memaksakan kehendaknya terhadap orang lain.


Hanya saja keadaan dan situasi yang tidak memungkinkan untuk cinta mereka bersatu.


Maura terlihat sedang melamun saja sejak tadi dan tidak mau menjawab pertanyaan Ardan. Membuat Ardan mulai mengerutkan keningnya karena penasaran dengan apa yang ada di dalam kepala Maura saat ini.


" Kangan katakan padaku, kalau kau juga jatuh cinta kepada Volcan!" ucap Ardan sambil menatap tajam kepada Maura yang terkejut mendengarkan perkataannya.


Sejujurnya Maura pun tidak mengerti tentang perasaannya kepada Volkan. Akan tetapi yang jelas, dia merasa senang sekali ketika dia bersama dengan Volkan.


Tanpa disadari oleh Maura. Maura terlihat melirik sekilas pada ponselnya yang saat ini memasang wallpaper foto kebersamaan mereka berdua yang tampak begitu bahagia.

__ADS_1


Tiba-tiba saja hati Maura seakan terhiris sembilu. Ketika dirinya mengingat kembali perjalanan hidupnya sejak mengenal Volcan yang telah membuat hidupnya 180 derajat berubah total.


Sejak mengenal Volkan. Tidak ada lagi hari kedamaian di dalam hidup Maura. Setiap hari hanya ada debaran jantung yang tidak karuan. Desiran darah yang kencang sehingga membuat kepalanya pening.


Volcan benar-benar telah mengalihkan dunia hitam putih seorang Maura menjadi dunia penuh warna dan penuh petualangan.


Terlihat Maura yang menyunggingkan senyum di bibirnya. Ketika dia mengingat kembali kebersamaannya bersama Volkan beberapa saat yang lalu.


" Apakah kau mencintai Volkan?" tanya Ardan lagi ketika dia melihat maurah yang seperti hanyut di dalam lamunannya sendiri.


Terlihat Maura yang mulai gugup dan kini mulai tersenyum kepada Ardan.


" Keluarlah dari Cafe kedua orang tua Volkan dan bekerjalah denganku. Kau tinggalah di sini bersama dengan ibuku. Aku berjanji padamu. Aku pasti akan selalu berusaha untuk melindungimu dari pengaruh seorang Volkan sang casanova yang suka membuat masalah!" ucap Ardan terus berusaha untuk membujuk Maura.


Terlihat Maura yang terus menarik nafasnya dengan berat tampak sekali kalau mau orang tidak merasa senang dengan tawaran Ardan.


" Aku curiga kalau kau memang jatuh cinta kepada Volkan. Atau jangan-jangan, kalau Ibu kamu mau m erestui pernikahan kalian, maka Kau pasti akan dengan senang hati lari kepelukan Volkan. Apa itu benar?" tanya Ardan menyelidiki perasaan Maura saat ini.


Maura terlihat gelagapan. Merasa malu dan bingung karena perasaannya saat ini telah diketahui dengan sangat valid oleh Ardan.


" Sudahlah Ardan. Kau tidak usah ikut campur urusanku dengan Volcan. Aku yakin kok, kalau aku bisa menghadapi dia. Walaupun tanpa harus bekerja bersamamu sekalipun!" ucap Maura dengan penuh keyakinan.


Ardan terlihat kecewa karena mau Rah menolak tawarannya untuk bekerja sebagai asistennya dan tinggal di rumahnya bersama sang Ibu tercinta.


" Sekarang pulanglah ke rumahmu. Coba kau pikirkanlah lagi. Apa yang aku tawarkan pada kamu tadi adalah caraku untuk melindungi kamu dari Volkan. Karena aku sangat yakin, aku pasti bisa melindungimu ketika kau berada disampingku!" ucap Ardan masih belum menyerah juga untuk membujuk Maura agar mau menerima tawarannya tadi.

__ADS_1


Maura kemudian berpamitan kepada ibunya untuk kembali ke kontrakan miliknya bersama dengan Layla. Dengan perasaan yang bercampur aduk, karena dia juga takut akan bertemu dengan Volkan di sana.


__ADS_2