Maura Sang Gadis Bar-bar

Maura Sang Gadis Bar-bar
20. Derita seorang Marcella


__ADS_3

Zidane yang merasa terkejut mendengarkan ucapan putrinya sontak dia pun kemudian menghubungi Marcella.


" Apa yang telah kau lakukan sebagai ibu dari Hazel? Kenapa putri kita sampai mengatakan akan menjual ginjalnya hanya untuk bertemu denganku? Apa yang sudah kau tanamkan ke dalam kepala putri kita itu?" tanya Zidane dengan emosi yang meledak karena dia benar-benar merasa kesal dan juga khawatir.


Marcella yang masih bingung dengan maksud perkataan Zidane. Dia tidak bisa mengatakan apapun kepada pria yang hingga saat ini masih berstatus sebagai suaminya walaupun pernikahan mereka sudah dikatakan jauh dari kata sempurna.


Zidane lebih banyak menghabiskan waktunya di Jepang daripada di Indonesia.


Selalu Akeno yang menjadi alasan Zidane untuk menetap di sana. Dan Marcella selalu ingat pesan dari ayah mertuanya kalau Akeno harus selalu menjadi prioritas Zidane karena anak itu yang kelak akan menjadi penerus nama keluarga suaminya.


" Kamu bicara apa sih Mas? Aku jadi tidak mengerti loh!" ucap Marcella sambil mengelus dadanya berusaha untuk sabar dan sabar dalam menghadapi suaminya.


Marcella sebenarnya ingin sekali untuk segera bercerai dengan Zidane yang tidak pernah adil dalam memperlakukan dirinya. Akan tetapi Dipta meminta kepada putrinya untuk tetap bersabar karena sebenarnya dia pun merasa tidak enak kepada Bima kalau sampai anak mereka bercerai.


Bima sangat menyayangi Marcella dan juga halte bahkan hampir 70% harta kekayaan keluarganya sudah dilimpahkan kepada Hazel dan Marcella. Katanya untuk jaga-jaga kalau sampai suatu saat Zidan meninggalkan Marcella tanpa memberikan apapun kepada menantu tersayangnya.


Bima tidak pernah merasa khawatir dengan Ayumi dan Akeno. Karena Ayumi sendiri adalah anak tunggal dari keturunan keluarga Omega yang sangat kaya raya di Jepang.


Ayumi pun pernah mengatakan kepada Bima, bahwa dia dan anaknya tidak membutuhkan harta kekayaan dari keluarga suaminya. Dia hanya menginginkan Zidane untuk berada di sampingnya dan putranya yang selalu sakit karena hanya memiliki satu ginjal saja.


" Tadi Hazel meneleponku. Dia mengatakan kalau dia akan menjual satu ginjalnya. Hanya untuk membuat aku memperhatikan dia juga seperti aku memperhatikan Akeno!" ucap Zidane menerangkan semuanya kepada Marcella sehingga Marcella auto melotot dan terkejut mendengarkan hal tersebut.


Marcella langsung menutup telepon dari suaminya dan langsung mencari Hazel di kamarnya.

__ADS_1


" Hazel sayang. Buka pintu kamarmu Nak! Mama perlu bicara denganmu sayang!" ucap Marcella berteriak di luar pintu karena dia merasa khawatir sekali dengan putrinya.


Marcella pernah kehilangan seorang Putra yang sangat dia sayangi. Jadi dia tidak mau lagi mengalami nasib seperti itu kehilangan anak tanpa bisa melakukan sesuatu.


Marcella masih merasakan sakitnya kehilangan anak hingga saat ini. Bahkan karena masalah itu, dia pun bukan hanya harus kehilangan putranya tetapi juga harus kehilangan cinta suaminya yang merasa kecewa kepada dirinya yang gagal menjaga putra mereka yang tampan karena penyakit epilepsi yang terlambat ditolong oleh tim paramedis.


" Hazel Sayang! Cepat buka pintunya mama butuh bicara denganmu!" ucap Marcella dengan suara yang semakin tidak sabar.


Sementara itu Hazel yang sedang berada di kamarnya, dia saat ini sedang menangis tersedu-sedu. Karena ayahnya yang sudah menyakiti hatinya dan hati ibunya.


Dengan perasaan malas dan kesal Hazel pun kemudian membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan ibunya untuk masuk ke dalam kamarnya


Marcella langsung memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang. Ciuman kasih sayang yang bertubi-tubi terus dia daratkan di wajah sang putri tersayang.


Hazel mendengus kesal kemudian dia menjauhkan tubuhnya dari Marcella.


" Tidak Mah. Hazel melakukan itu hanya untuk menggertak papa saja. Untuk mengingatkan Papa. Bahwa dia juga memiliki kewajiban untuk berada bersama dengan kita. Bukan hanya terus memperhatikan tante Ayumi dan Akeno. Kita juga keluarganya Mah. Papa tidak adil selama ini kepada kita Mah!" ucap Hazel dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Marcella merasakan sakit hati dan juga kesedihan putrinya. Karena dia sendiri pun merasakan hal yang sama. Akan tetapi, kembali lagi, Marcella tidak bisa berbuat banyak tentang hal yang di keluhkan oleh Hazel saat ini. Karena dia tidak bisa mengatur Zidane untuk tetap berada bersama dengan mereka di Indonesia.


Bagaimanapun Marcella sangat paham tentang keadaan Akeno yang selalu harus tergantung dengan obat-obatan dan team paramedis. Apalagi usia Akeno masih berusia 17 tahun. Marcella tahu, Hidup dengan satu ginjal benar-benar sangat sulit untuk remaja tanggung seperti Akeno. Marcella selama ini selalu bersabar dengan Zidane karena hal itu.


" Kita di sini tidak terlalu membutuhkan papamu Hazel. Akeno dan tante Ayumi jauh lebih membutuhkan papamu saat ini. Kau tahu kan? Kalau kondisi Akeno selalu naik turun? Papamu pasti sangat khawatir dengan kondisi adikmu." ucap Marcella mencoba untuk menasehati Hazel agar bisa memahami kondisi ayahnya.

__ADS_1


" Dia bukan Adikku Mah! Tolong Mama jangan selalu mengatakan kalau Akeno penyakitan itu adalah adikku! Karena selamanya aku tidak akan pernah sudi!" ucap Hazel mulai mengamuk kepada ibunya.


Marcella mulai kehilangan akal untuk berbicara dengan Hazel yang sekarang mulai histeris dan menangis.


" Ya sudah! Kau istirahatlah sayang! Kau ingat Hazel! Jangan melakukan hal-hal yang bodoh yang nantinya akan kau sesali! Paham?" tanya Hazel mencoba untuk mengkonfirmasi kepada putrinya. Apakah Hazel sudah bisa mengerti dengan perkataannya.


Marcella langsung mengecup kening putrinya setelah melihat Hazel menganggukan kepala.


Marcella kemudian keluar dari kamar Hazel dan menghubungi Zidane.


" Tenanglah aku sudah menasehati agar dia tidak melakukan hal konyol seperti itu!" ucap Marcella memberitahukan kepada Zidane.


" Baguslah kalau begitu! Setidaknya kau lakukanlah tugasmu sebagai seorang ibu! Jangan hanya pintar kau bergaul dan terus bersosialita dengan semua teman-teman high societymu itu. Kau urus juga anakmu yang bengal itu!" ucap Zidane dengan suara bariton yang kemudian langsung menutup panggilan telepon dari Marcella.


Marcella hanya bisa mengelus dada dan menghapus air mata yang mengalir di pipinya setelah mendapatkan kata-kata kasar dan keras dari Zidane yang hingga saat ini terus memperlakukannya seperti seorang musuh.


Marcella kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan menangis pilu. Meratapi nasibnya yang seperti tidak pernah kembali merasakan kebahagiaan sejak kematian Putra pertama mereka.


Sementara itu Volcan. Dia sedang berusaha untuk menemui Maura yang sekarang sudah mulai susah untuk diajak bertemu.


Sejak hari itu, Maura sadar bahwa Volkan adalah milik Hazel sebagai tunangannya. Maura tidak mau mengganggu hubungan orang lain. Apalagi pernikahan mereka sudah ditentukan oleh keluarga besar mereka.


Maura juga seorang wanita dan dia bisa merasakan perasaan Hazel ketika dirinya mengetahui tunangannya bermain gila dengan wanita lain di luar sana.

__ADS_1


__ADS_2