Maura Sang Gadis Bar-bar

Maura Sang Gadis Bar-bar
14. Terimakasih


__ADS_3

Setelah keluarga Hazel pulang. Tinggallah sekarang Volkan dan Ardan di kamar milik Volkan. Tampak Ardan menggelengkan kepalanya. Merasa tidak senang dengan apa yang dilakukan oleh sepupunya.


" Katakan padaku! Apakah kau berselingkuh lagi dengan gadis itu?" tanya Ardan sambil menatap tajam kepada Volcan yang terus menatapnya sejak tadi.


Volka mendekati Ardan dan dia berusaha untuk meyakinkan sepupunya bahwa dia tidak ada hubungan apa-apa dengan Maura.


" Ayolah Ardan! Gadis itu bukanlah tipeku. Aku tidak mungkin berselingkuh dengan dia. Kami hanya kebetulan saja bertemu di sana dan kebetulan juga ada orang iseng yang mempotretnya. Sudahlah! Ayo kita temui Sakinah di rumah sakit Bukankah katamu dia akan segera dioperasi?" tanya Volkan merasa sangat ibah dengan nasib Sakinah yang saat ini sedang berjuang maut.


Ardan seketika merasa sedih ketika dia diingatkan tentang Sakinah. Gadis yang selalu dia cintai sampai saat ini. Walaupun Sakinah telah menghianatinya berkali-kali tetapi Ardan tetap mencintai gadis itu.


Ardan memang tipe laki-laki setia yang apabila sudah memutuskan untuk mencintai seseorang, maka dia akan selalu berusaha untuk memberikan segala yang terbaik untuk wanitanya.


Walaupun sudah bertahun-tahun berlalu tetapi sampai saat ini Ardan belum pernah menemukan wanita yang berhasil menyentuh hatinya selain Sakinah.


" Sudahlah jangan menemui Sakinah lagi. Paling Kau hanya akan mengingatkan dia tentang penghianatannya kepadaku. Hal itu hanya akan membuatnya menjadi semakin terpuruk dan akan sulit untuk kesembuhan dia nantinya. Saat ini Sakinah benar-benar membutuhkan waktu untuk merecovery kembali kesehatannya!" ucap Ardan.


Walaupun merasa kecewa karena tidak dipercaya oleh sepupunya. Tetapi Volcan pun tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap Ardan yang dia tahu pasti sekarang sedang sedih sekali karena mengetahui wanita yang dia cintai sedang sakit keras dan berjuang dengan nyawanya di meja operasi.


" Ya sudah Bro aku pulang dulu! Aku mau kembali ke rumah sakit dan menjaga Sakinah karena dia kalau larut malam suka terbangun dan merasakan kesakitan!" Ucap Ardan yang kemudian berpamitan kepada sepupunya.


Volkan mengantarkan Ardan sampai ke mobilnya. Karena dia merasa berterima kasih kepada sepupunya yang sudah menolong dia sekali lagi dari masalah besar yang telah disebabkan oleh orang iseng yang memotret dirinya bersama dengan Maura saat mereka ada di hotel tadi malam.


" Aku bisa membantumu untuk bergiliran menjaga Sakinah!" ucap Volkan menawarkan bantuan kepada Ardan.

__ADS_1


Ardan menggelengkan kepalanya dan dia langsung berpamitan kepada Volcan untuk segera pergi ke rumah sakit. Karena sejak tadi suster yang menjaga Sakinah terus menghubunginya.


" Baiklah Bro. Hati-hatilah, besok pagi aku akan mengunjungi Sakinah dengan Hazel. Tadi dia bilang ingin sekali bertemu dengan Sakinah!" ucap Volkan memberitahukan tentang keinginan Hazel sebelum tadi dia meninggalkan kediamannya.


Ardan hanya menunjukkan kedua jempolnya kepada Volkan. Kemudian Ardan langsung meninggalkan kediaman Volkan.


" Ya ampun sampai sekarang ternyata Volcan masih belum juga berubah. Dia masih suka berpetualang dengan gadis-gadis di luar sana! Padahal pernikahannya dengan Hazel sudah dalam pengaturan. Hanya menunggu waktu saja! Benar-benar pria yang sangat nekat dan tidak menghargai hubungannya dengan tunangannya!" monolog Ardan menyesali tingkah laku sepupunya yang selalu saja membuat masalah untuk keluarga.


Begitu sampai di rumah sakit Ardan langsung menemui Sakinah yang baru saja keluar dari ruangan operasi.


Tadi ketika Volcan menghubunginnya, Ardan sedang menunggu Sakinah di depan ruangan operasi. Sakinah tidak mau memberikan beban kepada kedua orang tuanya sehingga sampai saat ini kedua orang tuanya masih belum mengetahui tentang penyakit yang sedang dia derita.


Hanya Ardan yang setiap hari selalu setia menemani dan menjenguk Sakinah dalam menghadapi penyakitnya yang mematikan.


Semua kesakitan dan penderitaan yang pernah diberikan oleh Sakinah seakan telah menghilang dan menguap begitu saja dengan penderitaan Sakinah karena penyakit kanker yang dia Derita.


Ardan masuk ke dalam ruangan perawatan Sakinah saat ini dia masih berada di bawah pengaruh obat bius setelah dioperasi tadi sore.


Ardan tampak berkaca-kaca matanya. Dia merasa sedih melihat gadis yang dia cintai yang dulu begitu cantik dan selalu ceria. Sekarang tampak begitu layu dan seakan tidak bisa untuk bangkit lagi.


" Cepatlah sembuh aku sangat merindukan kamu!" ucap Ardan sambil mengelus telapak tangan Sakinah yang masih belum sadar dari pengaruh obat bius.


Rasa sesak di hati Ardan ketika dia melihat wajah Sakinah yang semakin hari semakin pucat dan tubuhnya yang semakin kurus.

__ADS_1


Bahkan rambut Sakinah sudah banyak yang rontok akibat kemoterapi yang dia jalani selama ini.


" Kamu adalah wanita yang hebat dan kuat. Kau sanggup menghadapi semua ini hanya sendirian saja tanpa ada keluarga yang menemani kamu di sampingmu." ucap Ardan sambil mencium telapak tangan Sakinah yang terasa begitu dingin dan terlihat sangat kurus.


Kesedihan Ardan benar-benar menyesakkan hatinya. Ardan ingin selalu bersama dengan Sakinah untuk melewati saat tersulit dalam hidupnya. Dia mau saat Sakinah bangun nanti, dialah pria yang pertama di lihat oleh Sakinah. Dia juga mau ketika Sakinah menutup matanya untuk selamanya, dialah laki-laki yang terakhir dilihat olehnya.


Menyakitkan memang. Tetapi Ardan harus siap untuk skenario yang terburuk yang akan dia terima ketika melihat kondisi Sakinah yang setiap hari semakin drop.


Ardan terlihat mencari ponselnya. Dia berniat untuk menghubungi kedua orang tua Sakinah agar mereka mengetahui kondisi Sakinah saat ini. Bagaimanapun Ardan tidak mau kalau nanti sampai ada penyesalan di dalam hidup Sakinah sebelum semuanya terlambat.


" Assalamualaikum tante. Saya Ardan! Saya ingin menyampaikan kepada tante tentang keadaan Sakinah saat ini yang sedang dirawat di rumah sakit!" ucap Ardan merasa sedih. Suaranya bahkan terdengar bergetar karena tersekat di tenggorokannya.


Ardan tahu kalau Sakinah mengetahui dia menghubungi kedua orang tuanya. Pasti Sakinah akan murka kepadanya.


Akan tetapi Ardan harus menghubungi mereka karena bagaimanapun mereka adalah kedua orang tuanya dan memiliki hak untuk mengetahui kondisi Sakinah yang terbaru.


" Sakinah baru saja mengalami operasi Tante. Keadaannya sampai sekarang masih vegetatif. Apakah bisa kalian datang ke rumah sakit sekedar untuk bertemu dengan dia?" tanya Ardan merasa ragu.


" Dia sudah keluar dari rumah kami dan dia juga mengatakan bahwa dia bukan anggota dari keluarga kami! Apakah kami layak untuk memperdulikan dia?" tanya ibunya Sakinah.


Ardan terkejut. Ardan baru tahu kalau kedua orang tua Sakinah tidak mau memperdulikan anaknya sendiri. Mungkin itu juga yang menjadi alasan Sakinah menyembunyikan tentang penyakitnya terhadap mereka.


Ardan sendiri tidak mengetahui kenapa sampai ada orang tua yang tidak peduli dengan anaknya sendiri. Selama ini Sakinah tidak pernah menceritakan tentang keluarganya secara mendetail kepada Ardan.

__ADS_1


__ADS_2