Maura Sang Gadis Bar-bar

Maura Sang Gadis Bar-bar
16. Simpatik


__ADS_3

Maura langsung mendekati Ardan yang saat ini sedang menangis di Pusara Sakinah yang baru saja meninggal.


Terlihat Ardan yang menangis dipelukan Maura. Sehingga membuat Volkan tampak cemburu melihat wanita yang mulai dia sukai berada dipelukan sepupunya.


Melihat adegan mengharukan itu, membuat keluarga Hazel dan keluarga Volkan percaya bahwa Ardan dan Maura benar-benar memiliki hubungan spesial seperti yang dikatakan oleh Volkan tadi malam.


" Gadis itu benar-benar gadis yang baik. Dia tidak keberatan sama sekali saat melihat kekasihnya menangisi mantan pacarnya yang baru saja meninggal. Lihatlah bagaimana dia begitu sabar sekali menghibur Ardan yang sedang bersedih hatinya karena Sakinah yang baru saja meninggal!" ucap Hazel pelan, saat dia mengomentari interaksi antara Maura dan Ardan yang begitu intim.


Volkan sebenarnya tidak tahan lagi melihat Maura yang sudah dia klaim sebagai kekasihnya sejak kejadian di hotel itu yang saat ini sedang memeluk Ardan dengan erat.


Maura tidak melihat kehadiran Volkan di antara mereka. Karena Volkan yang sejak tadi terus menyembunyikan wajahnya di belakang kedua orang tuanya. Volkan takut melihat Maura yang akan marah kalau melihat dia bersama dengan Hazel dan keluarga nya.


Volkan mengingat ekspresi kemarahan di wajah Maura ketika dia mengatakan tentang Hazel yang sekarang menjadi tunangannya.


Ketika dirinya mengatakan akan bertanggung jawab atas kejadian malam itu kepada Maura. Walaupun itu semuanya hanyalah permainan Volkan untuk membuat takluk seorang Maura sang gadis barbar di hadapannya.


Setelah semua pe takziah pulang, Maura kemudian mengajak Ardan untuk pergi meninggalkan pemakaman. Karena hari semakin sore.


Maura melakukan itu hanya karena dia merasa berterima kasih kepada Ardan yang sudah menolong dia dari seorang Volkan yang sempat berniat memperkosanya sewaktu di ruangannya.


Maura tidak tahu kalau sekarang statusnya adalah sebagai kekasih pura-pura Ardan di mata keluarganya gara-gara cerita yang dikarang oleh Volkan untuk menutupi keburukannya yang telah menginap bersama dengan Maura di hotel pada malam itu.

__ADS_1


" Ayo kita pulang. Sebentar lagi akan turun hujan. Tidak baik kalau kau tetap berada di sini!" ucap Maura menasehati Ardan yang tampak begitu terpukul atas meninggalnya Sakinah yang tiba-tiba.


Ardan tampak menangis di pelukan Maura yang terus-menerus punggungnya dengan lembut berusaha memberikan penghiburan terbaik untuk Ardan yang saat ini sedang sedih hatinya.


Melihat semua keluarganya sudah pergi meninggalkan pemakaman. Begitu juga dengan Hazel dan keluarganya. Volkan pun kemudian menarik tangan Maura yang saat ini masih begitu setia bersama dengan Ardan.


" Ardan kau pulanglah sekarang. Aku ada keperluan bersama dengan Maura!" Ucap Volkan yang langsung menarik tangan Maura dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu Volcan langsung melarikan mobilnya menuju ke sebuah taman yang sangat indah.


Maura yang masih shock dengan kelakuan Volkan yang tiba-tiba membawanya pergi dari pemakaman. Maura tampak cemberut di hadapan Volkan yang sejak tadi terus menatap Maura dengan lekat.


Sebenarnya Volkan ingin sekali memeluk Maura tetapi melihat Maura yang terus cemberut dan mengerucutkan bibirnya. Membuat Volkan mengurungkan niatnya.


" Kamu tuh apa-apaan sih? Main narik-narik tangan orang saja tanpa permisi. Kamu tidak tahu kan? Kalau sekarang Ardan tuh sedang butuh teman untuk menemani dia setelah kekasihnya meninggal?" tanya Maura sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Amarahnya masih belum reda melihat Volkan yang terlihat tidak senang.


Tetapi Maura terus memberontak dan tidak mau dipeluk oleh Volkan. Tadi saat dia hendak pulang bersama dengan Ardan, sekilas Maura melirik ke arah Hazel dan keluarganya yang berdiri tidak jauh dari Volkan. Maura bisa melihat bahwa mereka datang bersama dengan volkan dan keluarga.


" Lepasin kamu apaan sih? Kamu tidak ingat kalau kamu itu sudah punya tunangan huh? Kenapa kau masih saja melakukan hal seperti ini kepadaku?" tanya Maura dengan geram sambil berusaha terus melepaskan diri dari pelukan Volkan yang seakan hendak meremukan tubuhnya yang mungil.


Akan tetapi Volkan sama sekali tidak memperdulikan amarah Maura saat ini. Karena hatinya pun sedang dilanda cemburu ketika dia mengingat Maura yang yang terus memeluk Ardan di hadapan umum. Sehingga semua orang percaya bahwa Ardan memang benar-benar kekasih Maura.


" Bukankah aku sudah mengatakan padamu? Kalau mulai sekarang kau adalah milikku huh? Karena aku sudah menstampelmu dan kau selamanya akan menjadi milikku!" ucap Volkan dengan amarahnya yang sontak mencium Maura dengan ganas.

__ADS_1


Kecemburuan dan Kemarahan di hati Volkan membuat dia lupa kalau saat ini mereka sedang bersama di taman. Area publik. Di mana banyak orang yang kemungkinan sedang berlalu lalang.


" Kamu brengsek!" ucap Maura yang langsung menampar wajah Valcon dengan sangat keras sehingga Volkan tersadar dengan semua kelakuannya yang benar-benar absurd.


Maura langsung meninggalkan Volkan yang masih bengong di tempatnya. Setelah mendapatkan tamparan keras di pipinya dari Maura yang merasa terhina dengan kelakuan Volcan yang tidak menghargainya sebagai seorang wanita.


" Cukup sudah semua penghinaanmu padaku Volcan! Dan jangan pernah kau tunjukkan lagi wajahmu di hadapanku! Kau urus saja tunangan cantik kamu itu!" ucap Maura sangat kesal sekali.


Bagaimana Maura tidak kesal? Ketika dia kembali mengingat apa yang telah dilakukan oleh Hazel kepadanya. Ketika tadi pagi datang ke cafe dan melihat dirinya.


Flash back


" Eh, kamu kan yang sudah tidur di hotel dengan tunangan aku itu? Eh ngaca yah! Siapa kamu dan siapa aku! Kita tak akan pernah selevel untuk bersaing jadi lupakanlah keinginanmu untuk mendapatkan Volkan! Karena dia selamanya hanya akan menjadi mimpi buruk kamu!" ucap Hazel yang entah kenapa hari itu tampak begitu barbar dan tidak punya sopan santun.


Padahal selama ini Hazel berpenampilan seperti wanita sholehah. Apalagi ketika dia berhadapan dengan keluarga Volkan yang agamis. Mengingat kakeknya Volcan adalah seorang Kyai yang memiliki pondok pesantren yang memiliki banyak Santri.


Pondok pesantren sang kakek sekarang dikelola oleh pamannya Volcan yang memiliki basic sebagai seorang pendidik dan lulusan Mesir, Kairo. Bernama Kyai Ilham yang seorang Hafizh dan pernah menjadi muadzin di masjid Madinah karena kepintaran dan kecakapannya dalam menghafal Al-quran.


Ayahnya Volcan sesekali ikut mengajar juga di pondok. Walaupun tidak menetap di sana, tetapi namanya masuk ke dalam jajaran pengurus inti.


Ayahnya Volkan lebih senang mengurus bisnis keluarga nya dan juga bisnis pondok pesantren yang hasil keuntungan yang digunakan untuk membiayai operasional pondok pesantren dan menggaji para dewan ustad dan assatidz di sana.

__ADS_1


" Apa maksudmu? Siapa kau?" tanya Maura masih belum ngeh tentang Hazel yang sekarang sedang marah kepadanya.


__ADS_2