Maura Sang Gadis Bar-bar

Maura Sang Gadis Bar-bar
47. introgasi


__ADS_3

Danu mempersilahkan kepada Ardan untuk duduk di hadapannya sementara Layla, Dia sedang di dapur untuk mempersiapkan sarapan untuk mereka bertiga.


Layla tidak tahu kalau ayahnya akan datang ke apartemennya. Jadi dia tadi hanya membuat porsi sarapan untuk dua orang jadi sekarang dia kembali membuat sarapan untuk ayahnya.


Sementara itu Danu dan Ardan saling berhadapan di ruang tamu dengan suasana yang terasa begitu canggung dan kaku.


" Jadi kamu adalah anak dari Rehan dan Aurel yang akan menikah dengan putriku?" tanya Danu kepada Ardan.


Ardan yang saat ini sedang merasa gugup dan juga kaku berhadapan dengan Danu untuk pertama kalinya dia kesulitan untuk menjawab pertanyaan sederhana itu.


" Papa ini kenapa sih? Datang-datang langsung introgasi kayak gitu. Lihat tuh Ardan sampai gugup gitu!" protes Layla kepada ayahnya.


Danu hanya mendengus kesal kepada putrinya yang sekarang lebih membela orang luar daripada dirinya sebagai ayahnya.


" Aku itu ayahmu Jadi kau sebaiknya membelaku bukannya membela dia!" ucap Danu yang mulai posesif terhadap putrinya sendiri.


Layla memutar bola matanya malas mendengarkan perkataan ayahnya yang tidak faedah menurutnya.


" Sudah ayo kita sarapan sama-sama aja. Nanti papa bisa terlambat ke kantor dan Ardan juga harus segera berangkat ke rumah sakit karena Katanya ada operasi di pagi hari!" ucap lailah mencoba untuk menyelamatkan calon suaminya dari introgasi ayahnya yang dia tahu selalu punya banyak cara untuk menekan siapapun.


Padahal Danu hanya ingin mengenal Ardan lebih dekat mengingat laki-laki itu adalah calon dari putrinya yang telah dia pilih.


Secara resmi keluarga mereka memang belum bertemu untuk meresmikan niat mereka untuk menjodohkan Layla dan Ardan. Tetapi siapa yang menyangka kalau pasangan itu sudah bertemu duluan dan membuat dan semakin bersemangat untuk melanjutkan rencananya menjodohkan mereka berdua.


" Kau belum menikah dengan Ardan tapi sudah selalu membelanya dan menentang Papa terus! Ckckck!" ucap Danu berdecak kesal kepada putrinya.


Laila hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal mendengarkan protes dari ayahnya tadi.


" Papa gimana sih? Kalau Layla menolak Perjodohan ini, Papa pasti sedih sekarang Layla berusaha untuk menerima perjodohan. Papa malah seperti yang cemburu jadi Layla harus bagaimana Pah?" tanya Layla jadi pusing sendiri dengan kelakuan ayahnya yang absurd menurutnya.


Ardan hanya menjadi pendengar di antara ayah dan anak yang kelihatannya selalu berdebat dalam hal apapun.


" Papa hanya merasa cemburu melihat putri papa sekarang sudah membela laki-laki lain di hadapan Papa tanpa merasa takut ataupun malu!" ucap Danu tersenyum kepada Ardan yang langsung menundukkan kepalanya.


Suasana di dalam ruangan makan itu terasa begitu mencekam karena Ardan yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan saja semua interaksi antara Laila dan Danu.


Ardan tahu bahwa ada sesuatu yang tidak bisa terucapkan di antara mereka berdua. Mungkin itu adalah hal yang membuat Layla tadi malam menangis tetapi Ardan tidak mau ikut campur dengan hal tersebut karena itu bukan ranahnya untuk melakukan hal tersebut.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan. Mereka pun kemudian bangkit dari meja makan dan menuju ke ruang tamu.


" Baiklah om saya harus segera kembali ke rumah sakit. Terima kasih atas sarapannya dan juga tumpangannya!" ucap Ardan berpamitan kepada Danu yang tampak kecewa karena Ardan yang langsung pergi begitu saja. Padahal dia masih ingin berbincang dengan calon menantunya.


Akan tetapi Danu sadar bahwa memang waktunya tidak tetap pagi-pagi begini adalah waktu sibuk untuk berangkat ke kantor apalagi tadi mulailah mengatakan kalau Ardan memiliki jadwal operasi di rumah sakit.


" Ardan. Tunggulah aku akan berangkat denganmu. Bukankah mobilmu tadi malam dibawa oleh temanmu? Aku akan mengantar kamu ke rumah sakit!" ucap Layla yang kemudian menuju ke dalam kamarnya dan bersiap-siap untuk berangkat kerja.


Danu tampak begitu bahagia melihat interaksi Layla dan Ardan yang begitu alami dan nyaris tanpa Kepalsuan.


' Tampaknya rencana Perjodohan itu akan berhasil kalau melihat interaksi antara Layla dan Ardan,' bathin Danu merasa sangat bahagia karena usahanya tidak sia-sia.


Danu kemudian berpamitan kepada Layla dan Ardan yang juga siap untuk berangkat ke rumah sakit tempat Ardan bekerja.


Tempat kerja Layla di satu tempat bersama dengan Ardan. Karena memang Cafe tempat Layla bekerja berada di dalam rumah sakit milik kedua orang tua Ardan yang di kelola oleh Rafi dan Dinda.


" Menurutmu apakah Papamu menyukaiku?" tanya Ardan saat mereka sudah berada di dalam mobil dan meluncur ke rumah sakit.


Layla melirik sekilas ke arah Ardan yang terlihat masih gugup walaupun pertemuannya dengan ayahnya tadi hanyalah sebentar saja.


Laila tampak tertawa membuat Ardan menjadi bingung sendiri.


" Tidak apa-apa sih. Aku hanya merasa aneh aja dengan kamu dan juga Papaku!" Ardan mengerutkan keningnya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Layla.


" Iya kalian lucu!" ucap lailah kembali terkikik yang membuat Ardan menjadi salah tingkah.


Layla paham kalau dirinya dan Ardan saat ini masih dalam tahap saling mengenal satu sama lain dan waktu mereka sangat singkat karena setelah pertemuan keluarga akan langsung diputuskan tanggal pernikahan mereka berdua.


Perusahaan dan Rumah Sakit milik keluarga Ardan sedang benar-benar membutuhkan dana segar dalam waktu dekat. Oleh karena itu pernikahan mereka harus segera dilangsungkan agar bisa mendongkrak popularitas dan kepercayaan pihak lain kepada rumah sakit milik keluarga Ardan.


" Aneh ya? Seorang wanita yang bekerja Cafe menggunakan mobil sport seperti ini pasti semua orang tidak akan ada yang percaya!" ucap Ardan sambil tersenyum kepada Layla.


" Stop untuk menggodaku ya! Aku hanya ingin menikmati hidupku tanpa harus embel-embel sebagai tuan putri dari keluarga Hutomo yang terhormat!" ucap Layla sambil mengarahkan pandangannya ke jalanan.


Bagaimanapun juga duduk satu mobil bersama dengan Ardan benar-benar membuat jantungnya tidak sehat sejak tadi terus berdetak sangat cepat.


Begitu pula dengan Ardan. Ardan merasakan sesuatu yang berbeda ketika dia bersama dengan Layla.

__ADS_1


Perasaan itu tidak sama dengan ketika dirinya dulu bersama dengan Sakinah, mantan kekasihnya yang sekarang sudah berada di kuburan karena sudah meninggal.


" Apakah kau merasa bosan untuk menjadi seorang tuan putri sehingga ingin mencicipi nasib sebagai rakyat jelata?" Layla sampai memukul lengan Ardan karena merasa kesal.


Ardan hanya tersenyum mendapatkan pukulan itu dari Layla karena hanya sekedar elusan semata tidak masalah untuk dirinya.


" Aku sudah lama kok hidup di luar dan tidak bersama dengan ayahku lebih tepatnya sejak Ibu meninggal." tiba-tiba saja Laila merasa sedih ketika dia mengingat tentang ibunya.


Ardan bisa merasakan Aura kesedihan di dalam suara Layla sehingga dia tidak melanjutkan perkataannya.


" Maafkan aku yang sudah membuatmu menjadi sedih karena mengingatkan hal yang menyakitkan hatimu!" ucap Ardan sambil mengelus telapak tangan Layla yang saat ini berada di pangkuan Layla.


Mendapat perlakuan Manis dari Ardan, Layla seketika merona pipinya. Merasa malu.


Bagaimanapun hal itu terlalu cepat untuknya. Seumur hidup Layla tidak pernah berdekatan dengan laki-laki seperti itu.


Selama ini pergaulan Layla benar-benar terjaga karena dia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama dengan Maura daripada bergaul dengan para pemuda yang tertarik dengan dirinya.


Setelah mereka sampai di rumah sakit terlihat Ardan yang kemudian langsung mendatangi temannya yang kemarin membawa mobilnya.


" Terima kasih ya Bro dan Maaf sudah merepotkanmu malam-malam!" ucap Ardan mengucapkan terima kasih pada sahabatnya.


" Santai Bro, tidak apa-apa. Ohh ya, kau tidak perkenalkan wanita yang berdiri di samping?" tanya sahabatnya Ardan.


Ardan sontak melirik ke arah Layla yang sudah bersiap untuk meninggalkannya.


" Perkenalkan dia adalah Layla Hutomo, calon istriku?!" Layla melotot sempurna karena mendengarkan Ardan yang memperkenalkan dirinya sebagai calon istri dari Dokter tampan yang berdiri di sampingnya saat ini sambil tersenyum kepadanya.


" Halo namaku adalah dokter Rama!" Laila hanya tersenyum menyambut huluran tangan dari Rama.


Layla hanya bisa tersenyum keki karena merasa malu dan juga gugup kepada sahabatnya dokter Ardan yang auto memperhatikan dia dari ujung rambut hingga ujung kaki.


" Kalau tidak salah aku pernah melihat dia. Bukankah dia adalah pelayan yang bekerja di cafe milik keluarganya Volcan?" tanya Rama.


Layla hanya menundukkan kepalanya. Mendengarkan pernyataan dari Rama yang langsung mengenali dirinya sebagai pelayan yang bekerja di cafe miliknya raffi dan Dinda.


" Ah pasti Tuan Putri yang menyamar menjadi rakyat jelata ya?" ucap Rama yang tersenyum sumringah melihat Layla yang malah menatapnya dengan lekat.

__ADS_1


Ardan menjadi tidak enak kepada Layla mendengarkan perkataan Rama yang terlalu blak-blakan menurutnya.


__ADS_2