Maura Sang Gadis Bar-bar

Maura Sang Gadis Bar-bar
35. Bertemu calon mertua


__ADS_3

Keesokan paginya Maura dijemput oleh Volcan untuk bertemu dengan kedua orang tuanya di cafe sesuai dengan perintah dari kedua orang tuanya kemarin.


" Bagaimana tidur nya nyenyak atau tidak?" tanya Volcan sambil mencium pipi Maura.


Ya, sekarang Volkan hanya berani melakukan itu kepada Maura. Karena dia takut dengan ancaman kedua orang tuanya. Kalau sampai dia berbuat macam-macam terhadap Maura.


" Nyenyak alhamdulillah. Bagaimana dengan kamu? Dapat semprot dari kedua orang tuamu atau tidak, secara kan, tadi malam kamu pulang malam sekali!" ucap Maura kepada Volkan ketika kekasihnya datang pagi itu untuk menjemput dia ke cafe.


Volkan tampak mendekati Maura yang saat ini sedang sibuk di dapur. Entah sedang masak apa. Volkan juga tidak tahu, Karena seingatnya Dia jarang sekali datang ke apartemen itu. Kalau tidak karena terpaksa kabur dari orang tuanya atau karena terpaksa ada masalah yang mengharuskan dia untuk menyendiri dan menyepi.


Kedua orang tua Volkan tidak mengetahui tentang apartemen itu. Karena memang dia beli dengan uangnya sendiri. Hasil dari pekerjaannya dalam membantu kedua orang tuanya yang selama ini selalu digaji besar seperti karyawan yang lainnya.


Volcan memiliki banyak tabungan dari hasil pekerjaan dia selama bertahun-tahun membantu kedua orang tuanya di cafe dan juga beberapa usaha yang lain yang dipercayakan oleh kedua orang tua padanya.


Oleh karena itu Volcan memiliki kepercayaan diri untuk memperjuangkan cintanya dengan Maura. Karena dia memiliki kekuatan dan juga kemampuan secara finansial. Walaupun ibarat kata kalau suatu saat kedua orang tuanya tidak merestui rumah tangga mereka. Tetapi dia bisa menjanjikan masa depan untuk calon istrinya yang dia cintai.


Terlihat Volcan mulai memeluk Maura dari belakang dan memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh kekasihnya.


" Aku cuma masak mie doang kok. Ama kopi buat sarapan kita. Karena di sini cuma ada itu doang Volkan. Nanti pulang dari Cafe kita berbelanja ya? Supaya nanti bisa memasak untukmu!" ucap Maura sumringah, sangat bahagia sekali.


Valcon terlihat begitu bahagia. Melihat Maura yang menjanjikan untuk memasak untuk dirinya. Ya dia sangat bangga karena akhirnya ada seorang wanita yang akan mulai dan ingin memperhatikan dirinya.


Selamat bertahun-tahun berhubungan dengan Hazel. Volkan tidak pernah merasakan diperhatikan seperti itu oleh Hazel. Karena selama ini Hazel lebih sibuk bergaul dengan teman-teman sosialitanya yang selalu menyita banyak waktu.


" Baiklah sayang. Kalau sudah selesai masaknya, ayo kita cepat makan. Segera makannya. Jangan sampai nanti malah terlambat untuk datang ke cafe. Nanti kau bisa dimarah sama calon mertuamu!" bisik Valcon di telinga Maura yang membuat Naura bergidik ngeri-ngeri sedap.


" Apakah kau benar? kalau orang tuamu akan memarahiku? Kalau kita terlambat?" tanya Maura dengan mata kelincinya yang benar-benar sangat menggemaskan bagi Volkan dan membuat dia ingin mencium Maura. Ah, Untung saja ketika dia mau berangkat menjemput Maura sudah diwanti-wanti oleh ayahnya untuk menghormati kekasihnya dan jangan berbuat macam-macam.


Ya, ucapan ayahnya itu menjadi rem yang sangat manjur dan sangat pakem bagi seorang Volkan sehingga dia bisa mengendalikan dirinya yang sejak tadi meronta. Walaupun Volkan terlihat badung di luar, tetapi dia masih menjaga sesuatu yang berharga itu hanya untuk istrinya suatu saat nanti dan Volcan masih berujung untuk mempertahankan prinsip itu.


Saat merasakan getaran-getaran aneh di dalam tubuhnya. Volkan pun langsung menarik diri dan segera duduk di kursi makan dan menikmati masakan yang tadi disuguhkan oleh Maura.


Maura tersenyum sangat bangga kepada kekasihnya. Karena tadi Volkan tidak melanjutkan apa yang dia inginkan padanya.


Yah Maura bisa merasakan ada sesuatu yang menempel di bagian belakang nya saat tadi Volkan memeluk dia dari belakang.


Maura terus tersenyum melihat wajah Volkan yang tampak begitu tersiksa karena harus menahan hasratnya yang terlihat sudah ada di ubun-ubun.


Terlihat Volcan yang dengan cepat menghabiskan makanannya dan kopinya. Kemudian mengajak Maura untuk segera keluar dari apartemennya.


" Thanks a lot!" ucap Maura di telinga Volkan ketika pemuda itu membuka pintu apartemen.


" For?"

__ADS_1


" For this!" ucap Maura yang kemudian mencium bibir Volkan sekilas. Membuat wajah Volkan semakin memerah dan terlihat sangat menggemaskan sekali.


" Jangan menggodaku! Apa kau tahu, aku menderita sekali sejak tadi?" tanya Volkan sambil cemberut ke arah Maura yang tertawa terbahak-bahak melihat ekspresinya yang lucu dan hal itu membuat Volkan semakin tampan saja di mata Maura.


" Ayo kita berangkat kerja sayangku, cintaku, hidupku!" ucapMaura kembali mencium bibir Volkan walaupun cuma sepersekian detik, akan tetapi sukses menyalurkan ribuan volt getaran listrik ke dalam tubuh Volkan yang sejak tadi menahan diri untuk tidak menyentuh kekasihnya.


" Ah dasar wanita jahat sejak tadi kau terus menggodaku kau tidak tahu betapa menderitanya aku sekarang!" cicit Volkan saat mereka berjalan beriringan sambil bergenggam tangan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai dasar.


Saat Maura hendak masuk ke dalam lift, secara tidak sengaja ekor matanya menangkap sosok Layla yang keluar dari lift yang lain dan kemudian berjalan tergesa-gesa menuju unit yang berada di seberang unit milik Volkan.


" Ada apa sayang?" tanya Volkan mulai heran melihat ekspresi Maura yang seperti melihat suami berselingkuh.


" Sebentar ya aku mau ngecek sesuatu! Kau tunggu di sini!" tanpa memperdulikan ucapan lautan lagi Maura langsung berlari mengejar Layla yang tadi masuk ke dalam unit apartemen yang ada di unit Volkan.


Layla tampaknya sedang buru-buru. Makanya dia tidak melihat Maura dan Volkan yang berdiri tepat dihadapannya tadi.


Sementara Valcon yang merasa terheran dengan apa yang dilakukan kekasihnya sekarang dia mulai mengejar Maura yang seperti sedang mengajar seseorang.


Ketika sampai di samping kekasihnya, Volkan hanya menatap Maura yang saat ini sedang berdiri di depan unit tetangganya yang tidak terlalu jauh dari unit miliknya.


" Apa yang sedang dia lakukan di sana? Setahuku unit itu kosong dan tidak pernah ditempati siapapun. Sama seperti unitku yang hanya didatangi kalau sedang ada masalah saja." monolog Volkan sambil melihat terus ke arah Maura yang masih berusaha memencet bel tetapi Maura tidak menampakkan wajahnya di depan pintu.


Karena Maura tidak mau kalau Layla bisa melihatnya berdiri di sana.


Maura terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Layla. Pikiran-pikiran aneh mulai menyusup di kepalanya.


" Layla? Apa yang kau lakukan di sini? Daddy? Siapa dia?" tanya Maura yang tampak kebingungan dan matanya terus-menerus melihat wajah sahabatnya yang tampak terkejut melihat Maura ada di hadapannya sekarang.


Volcan langsung memeluk pinggang Maura.


" Ada apa sayang?" tanya Volkan bingung melihat ekspresi Maura yang benar-benar persis seperti wanita yang habis menangkap selingkuh suaminya di sebuah hotel.


" Hai Layla kau tinggal di sini juga?" sapa Volkan saat dia melihat sahabat kekasihnya berdiri di depan pintu dengan wajah terkejut.


" Kalian menginap di apartemen ini?" tanya Layla terlihat canggung sekali.


" Tidak, aku hanya menumpang tidur saja di unit milik Volcan yang ada di gedung ini. Tapi Volcan tadi malam pulang ke rumahnya kok!" ucap Maura masih berusaha untuk mengontrol dirinya agar tidak sampai mengatakan sesuatu yang akan menyakiti sahabatnya. Ah, pening sekali!!


" Ah lihatkah aku! Betapa tidak sopan. Ayo masuk! Tapi maaf ya, apartemennya berantakan sekali karena lama tidak aku kunjungi. Daddy aku mau datang dan minta sarapan sama aku, makanya Aku sebelum berangkat ke kafe mau membereskan dulu tempat ini. Supaya diriku tidak ketahuan kalau aku tidak menempati apartemen ini. Aku takut kalau Daddy aku tahu kalau aku tinggal di kontrakan bersama dengan Maura!" ucap Layla canggung sambil mempersilahkan Maura dan Volcan masuk ke dalam unitnya yang sangat mewah.


" Ini apartemen milikmu Layla?" tanya Maura yang terus memperhatikan semua detail apartemen yang ada di hadapannya yang sangat cantik, mewah, elegan dan juga sangat luxurious.


" Bukan, ini apartemen Daddyku kok. Aku hanya menempatinya sesekali kalau dia akan datang kemari!" ucap Layla sambil pergi ke arah dapur untuk mempersiapkan kopi dan teh untuk tamunya yang tidak terduga

__ADS_1


" Kalian berdua sudah sarapan atau belum?" tanya Layla kembali dari dapur.


" Kami berdua sudah sarapan mie tadi, di unitku!" ucap Volkan membantu marah untuk menjawab karena sejak tadi kekasihnya terus bengong seperti orang linglung.


" Daddy? Maksud kamu?" tanya Maura yang otaknya sudah travelling dan berpikir yang tidak-tidak terhadap Layla.


Volkan hanya menyentuh telapak tangan kekasihnya dan menatapnya sambil menggelengkan kepalanya.


Tampaknya apa yang ada di dalam pikiran Maura dan Volkan hampir sama yaitu mereka berpikir kalau Layla adalah sugar baby seseorang yang dipanggil Daddy oleh Layla tadi. Ah, Maura sangat frustasi setelah berpikir itu. Ga nyangka aja!!


" Aku tinggal kalian dulu, disini, ya? Karena aku harus membuatkan sarapan untuk Daddy aku. Dia sebentar lagi datang kemari untuk sarapan denganku. Waktuku cuma sedikit doang! Gak apa-apa ya?" tanya Layla yang auto langsung berlari ke dapur dan mempersiapkan semua kebutuhan untuk dia memasak yang tadi dia bawa dari luar.


Maura dan Volkan hanya saling menatap satu sama lain dalam bingung dan juga dalam perasaan canggung yang menguasai pikiran mereka berdua.


Gara-gara memikirkan masalah Layla, sedikit banyak membantu Volkan mengalihkan dirinya. Sehingga tidak memikirkan hal yang tidak-tidak tentang Maura.


Demi menghormati Layla yang sudah menyiapkan kopi untuk mereka. Mereka pun menyesap kopi buatan Layla yang ternyata memiliki kualitas premium.


Volkan sampai membelalakkan matanya. Karena dia Type kopi seperti itu bukan kopi macam biasa ada di cafe ataupun warung biasa. Kopi seperti itu harus di pesan khusus dari Italia. Sejenak Volkan menatap Layla yang masih sibuk dapur dengan bahan-bahan makanan yang tadi dia bawa.


" Wah, keren. Aku nanti akan bertanya sama Layla. Di mana dia membeli kopi ini. Biar kita juga bisa menjualnya di cafe kita. Pasti akan sangat laku karena kualitas kopi seperti ini kualitas premium dan tidak bisa didapatkan di sembarangan tempat. Karena ke eklusifan yang di milikinya!" ujar Volkan yang masih menikmati kopi yang tadi disuguhkan oleh Layla untuk dirinya dan Maura.


" Apa kau yakin? Aku juga berpikir hal yang sama. Kopi ini benar-benar sangat enak sekali dan baru pertama kali aku mengkonsumsinya entah Layla dapat dari mana. Kopi mahal seperti ini!" ucap Maura sambil menundukkan kepalanya.


Selama ini Maura tahunya kalau Layla itu adalah gadis miskin yang hidup, hanya sebatang kara di kota Jakarta dan bekerja paruh waktu bersama dirinya. Bahkan Layla pun hidup di kontrakan miliknya dan berbagi biaya kontrakan bersamanya.


Sekitar 15 menit kemudian pintu apartemen Layla terdengar belnya yang di pencet secara tidak sabaran.


Maura dan Volkan hanya saling menatap satu sama lain dan mereka bersiap untuk berpamitan karena mereka tidak mau mengganggu acara orang lain.


Dengan terburu-buru, setelah mematikan kompor, Layla kemudian membuka pintu apartemennya.


Maura dan Volkan hanya bisa menatap ke dia manusia yang saat ini sedang berpelukan dan terlihat pria itu mencium pipi Layla.


" Kamu sedang ngapain sih sayang? Kok lama sekali membuka pintunya? Daddy tadi hampir berpikirlah kalau kau tidak ada di dalam!" ucap pria paruh baya yang terlihat sangat tampan dan kaya raya.


" Maaf Daddy, soalnya Layla tadi sedang masak dan sedang menerima tamu juga, teman-teman di tempat kerja!" ucap Layla sambil memeluk pinggang pria itu.


Maura tanpa kesulitan menelan salivanya sendiri melihat interaksi lain dengan pria paruh baya itu yang tampak begitu intim dan juga lekat sekali.


" Layla, kami berdua permisi dulu ya? Oh ya terima kasih atas kopinya sangat enak sekali!" ucap Volkan sambil menggenggam telapak tangan Maura dan bangkit dari kursi bersiap untuk meninggalkan apartemen Layla.


" Wah kalian menyukai kopi yang Om bawa untuk Layla?" tanya lelaki paruh baya itu sambil tersenyum kepada Maura dan Volkan yang siap meninggalkan apartemen Layla.

__ADS_1


__ADS_2