
Maura mengerutkan keningnya ketika dia melihat Volcan yang terus memperhatikannya tanpa berkedip sama sekali.
" Sedang apa kau di sini gadis barbar? Apa kau tahu gara-gara Kau yang sudah sangat lancang menendang aset berhargaku, aku sampai puasa selama beberapa hari dengan kekasihku!" ucap Volkan tanpa di saring sama sekali yang sontak mengundang gelak tawa Maura ketika mendengarnya.
Volkan sampai merasa tersinggung gara-gara melihat Maura yang tertawa di atas penderitaannya.
" Diam kau gadis gila! Jangan berani-berani kau menertawakan aku! Cepat kau keluar dari cafe ini. Karena aku tidak mengijinkan kamu untuk bekerja di tempat ini!" ucap Volkan sambil menarik lengan Maura yang membuat dia naik darah seketika.
" Apa yang sedang kau lakukan Volkan? Huh? Berani-beraninya kau mengusir karyawan papa?" tiba-tiba saja Raffi sudah berdiri di hadapan Volcan dengan berkacak pinggang.
Valcan yang terkejut melihat ayahnya berada di hadapannya. Dia seketika melepaskan cekalan tangannya dari lengan Maura.
Raffi yang dan Dinda langsung masuk ke dalam Cafe. Di mana tadi di kejauhan mereka melihat Volcan yang sedang mengintimidasi karyawan baru yang kemarin baru saja diterima oleh Raffi langsung.
Maura dan Layla yang melihat pengumuman pencarian karyawan baru di cafe milik Raffi langsung datang dan menghadap Raffi secara langsung.
Kemarin Raffi dan Dinda sendiri yang mewawancarai mereka berdua. Jadi mereka sangat tahu kualitas Maura dan Layla.
Apalagi Raffi sudah menyelidiki latar belakang Layla yang ternyata tidak biasa. Layla adalah anak seorang pengusaha yang sangat terkenal. Entah apa yang sedang dilakukan oleh Layla dengan cara menyamar menjadi orang miskin yang sekarang bahkan hidup di kontrakan bersama dengan Maura.
Hanya sesekali Layla tinggal di apartemen pribadinya. Itupun hanya untuk mengelabui kedua orang tuanya saja. Agar mereka tidak curiga dengan kehidupan yang dijalani oleh Putri mereka di luar sana. Tanpa sepengetahuan mereka tentu saja.
" Apakah Papah yang sudah menerima gadis barbar ini untuk bekerja di cafe kita?" tanya Volkan merasa tidak senang.
__ADS_1
Dinda mendekati Maura dan kemudian dia bertanya tentang keadaan gadis itu.
" Apa kau baik-baik saja Sayang? Kau tidak apa-apa kan? Apakah putraku telah menyakiti kamu?" tanya Dinda merasa cemas sekali.
Dinda kemudian menatap tajam kepada volkan yang sekarang sedang menundukkan kepalanya.
" Volcan! Apakah orang tuamu mengajarkan kamu untuk bertindak kasar terhadap seorang perempuan?" tanya Dinda sambil melotot kepada Volcan yang tidak percaya bahwa ibu dan ayahnya membela Maura yang sudah membuat Dia menderita selama satu minggu lebih karena perbuatan Maura yang lancang menendang aset berharga miliknya.
" Dia itu bukan perempuan Mah! Dia itu gadis barbar yang tidak punya etika dan kesopanan! Dia sudah membuat Volkan satu minggu lamanya menahan rasa sakit gara-gara perbuatan dia yang telah lancang menendang ____" seketika ucapan Volkan pun mulai terhenti. Karena saat ini dirinya sedang menjadi pusat perhatian para pengunjung cafe. Bagaimanapun dia tidak bisa untuk mempermalukan dirinya sendiri dengan mengatakan kejadian memalukan itu di hadapan publik.
" Apa yang sudah dia tendang Volkan?" tanya Raffi merasa penasaran dengan kelanjutan ucapan putranya.
Volkan meringis, merasa salah tingkah sendiri dengan ucapannya. Sementara itu Maura terlihat memeletkan lidahnya dan mengejek ke arah Volkan yang tidak mampu menjawab pertanyaan ayahnya.
" Tidak Pah. Tidak apa-apa kok! Ya sudah kita lupakan saja." ucap Volkan pasrah sambil mengacungkan kepalan tinjunya ke hadapan Maura yang sekarang sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Volkan!" tegur Dinda yang melihat apa yang telah dilakukan oleh putranya kepada Maura.
" Maafkan Putra kami ya? Dia memang sangat manja sekali. Maklumi saja ya? Karena semua keinginannya selalu kami penuhi, sehingga dia tidak pernah menghargai perasaan orang lain!" ucap Dinda sambil mengelus lengan Maura yang tersenyum kepadanya.
" Mama apa-apaan sih? Kenapa malah menistakanku di hadapan perempuan barbar itu?" protes volcan tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh ibunya di hadapan Maura.
" Jadi kau sadar ya? Kalau dirimu itu nista?Makanya rubahlah kelakuanmu agar kau dimuliakan oleh kedua orang tuamu di hadapan orang lain!" ucap Raffi sambil memukul bahu putranya dengan perlahan. Membuat Volkan merasa malu dihadapkan Maura yang terus aja mengejeknya penuh dengan kemenangan.
__ADS_1
' Awas kau gadis bar-bar! aku tidak akan pernah memaafkanmu!" ucap Volkan di dalam hatinya karena kesal sekali dengan kelakuan Maura yang tidak ada habisnya membuat dia marah sejak pertemuan pertama mereka.
" Ya sudah Maura. Kau kembalilah bekerja ya? Tidak usah kau pedulikan Volkan lagi. Kalau nanti dia berbuat semena-mena terhadapmu, kau laporkan saja padaku!" ucap Dinda mengulas senyum kepada Maura.
Maura yang tidak menyangka bahwa ternyata kedua orang tua Volkan begitu baik terhadap dirinya. Dia pun hanya mengangguk saja.
Setelah merasa urusan Maura dan Volkan sudah beres. Raffi dan Dinda pun kemudian melanjutkan aktivitas mereka untuk memeriksa kebutuhan Cafe.
" Lihat saja ketika kau berada di luar Cafe, maka aku pasti akan membalas semua perbuatanmu kepadaku!" ancam Volkan kepada Maura saat kedua orang tuanya sudah pergi meninggalkan mereka berdua.
" Nyonya! Ini putra Anda mengintimi___" kata-kata Maura seketika terhenti. Karena mulutnya sudah dibungkam oleh Volcan dengan telapak tangannya dan Volkan juga langsung membawa Maura ke dalam ruangan nya yang tidak terlalu jauh dari keberadaan mereka saat ini.
Di dalam ruangan Volcan terus membekap mulut Maura. Akan tetapi siapa yang akan menyangka kalau Maura malahan mengangkat sikunya ke arah aset berharga milik Volcan dan menendang nya sekali lagi.
Terlihat Volcan kembali meringis karena perbuatan Maura yang kembali menganiaya diri aset kebanggaannya.
" Oh ****! Kau gadis super kurang ajar! Awas kau, kalau sampai asetku gak mau bangun lagi gara-gara perbuatan kamu, aku berjanji akan menghukum kamu dengan hukuman yang setimpal!" ancam Volkan kesal sekali.
Akan tetapi bukannya merasa takut. Maura malah memeletkan lidahnya ke arah Volkan dan terus memancing kemarahan Volcan kepada dirinya.
Volcan meringis kesakitan, terlihat Volkan menggeretakkan giginya menahan rasa sakit yang luar biasa pada aset kesayangannya.
Melihat Maura yang terus saja tertawa di atas penderitaannya. Membuat Volkan menjadi kehilangan akal. Dia pun langsung menerkam tubuh Maura dan mencium bibirnya dengan rakus agar menghentikan gadis itu dari menertawakan dirinya terus menerus.
__ADS_1
Volcan membaringkan tubuh Maura di sofa yang ada di dalam ruangannya dan terus mencium bibir Maura dengan penuh hasrat yang berada di dalam dirinya yang terpancing karena rasa ego dan amarah yang du bangunkan oleh Maura.