
Keesokan paginya Volkan mendatangi Maura untuk berangkat kerja bersama-sama dengan gadis pujaannya. Maura benar-benar menjadi mood booster bagi Volkan.
" Ada apa? Kok tumben kamu sekarang pagi-pagi rajin sekali berangkat ke kantor sayang? Biasanya jam 9 atau jam 10.00 Kau baru berangkat!" tanya Dinda sambil tersenyum kepada Volkan yang duduk di meja makan dan bersiap untuk sarapan bersama dengan keluarganya.
" Iya Mah pasti karena waktu pernikahannya dengan Hazel semakin dekat. Sehingga membuat Volkan menjadi bersemangat dan bersiap untuk bertanggung jawab dengan anak orang lain. Betul bukan Volkan?" tanya Rafi kepada putra nya.
Volkan hanya tersenyum mendengarkan pertanyaan dari kedua orang tuanya yang merasa heran dirinya sekarang mulai rajin bekerja. Padahal sebelumnya dia paling malas kalau disuruh berangkat kerja pagi-pagi oleh kedua orang tuanya.
Setelah selesai sarapan. Volkan langsung berpamitan kepada kedua orang tuanya. Karena dia tidak mau kalau sampai Maura terlambat berangkat ke kafe.
" Hati-hati ya nak. Jangan ngebut-ngebut kalau menggunakan mobil sayang. Utamakan keselamatan!" pesan Dinda saat volkan berpamitan kepadanya dan mencium telapak tangannya dengan takzim.
Walaupun Volkan terlihat badung di luar. Tetapi dia adalah anak yang sangat menghormati kedua orang tuanya dan dia bisa dikatakan sebagai anak kebanggaan untuk kedua orang tuanya. Karena dia telaten dalam mengurus bisnis keluarga dan membantu kedua orang tuanya untuk mengurus kafe serta restoran milik mereka.
Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya. Volkan langsung melajukan mobilnya menuju kontrakan Maura dan bersiap untuk menjemput gadis impiannya.
" Sayang aku sudah ada di depan kontrakan kamu!" ucap Volkan ketika dia menelpon Maura yang juga sudah bersiap dengan Layla.
Volkan senang sekali karena akhirnya dia bisa berangkat bersama dengan kekasihnya menuju Cafe.
" Kalian berdua berangkat lah duluan. Aku akan menggunakan transportasi umum!" ucap Layla ketika Maura memintanya untuk ikut bersama dengan dirinya masuk ke mobil bersama dengan Volkan.
" Oh ayo lah! Kita sama-sama saja. Lagi pula kita bertiga akan pergi ke tempat yang sama. Ayolah Layla kau jangan membuatku merasa tidak nyaman begitu!" ucap Maura memaksa Layla untuk ikut bersamanya.
Volcan yang merasa mungkin saja Layla menolak pergi bersamanya karena takut dengan dia. Akhirnya dia pun membujuk Layla untuk ikut bersama dengan mereka.
" Ayolah Layla. Tidak masalah kau ikut dengan kami. Lagi pula mobil ini besar dan untuk memasukkanmu ke dalam mobilku, sepertinya tidak masalah!" ucap Volkan membantu marah untuk membujuk sahabat Maura agar ikut bersama dengan mereka.
Laya sebenarnya berniat untuk pergi ke apartemennya dulu untuk mengurus sesuatu. Karena sebentar lagi ayahnya akan datang ke Indonesia. Sehingga dia harus membereskan apartemennya tetapi melihat Maura dan Volkan yang begitu gigih membujuknya membuat Layla pun akhirnya menyerah.
' Ya sudahlah nanti jam istirahat siang aja aku datang ke apartemen untuk membereskan semuanya. Ah mungkin aku bisa menelpon bagian pembersih untuk membersihkan apartemenku!' bathin Layla yang akhirnya mengalah kepada sahabatnya dan ikut bersama dengan Volkan.
Hanya dalam waktu 15 menit mereka sudah sampai di Cafe. Tetapi mereka tidak turun benar-benar tepat di parkiran. Mereka turun di seberang jalan menjaga agar kedua orang tua Volkan tidak melihat mereka menggunakan mobil Volcan untuk berangkat ke cafe.
__ADS_1
Maura dan Layla tampak begitu berbahagia karena mereka akhirnya datang ke cafe tanpa harus takut terlambat.
Mereka pun masuk ke dalam Cafe dan mulai melakukan tugas mereka sebagai waiters dan membersihkan seluruh area Cafe sampai siap untuk beroperasi untuk hari ini.
Terlihat Ardan datang ke cafe tersebut untuk bertemu dengan Maura.
" Hallo Maura. Bagaimana kabarmu?" tanya Ardan menyapa Maura yang sedang membersihkan meja-meja yang ada di dalam Cafe milik kedua orang tua Volkan.
Rumah sakit itu adalah milik keluarga Ardan dan mereka bekerja sama untuk menjalankan bisnis di tempat yang sama.
" Aku baik, Terimakasih!" ucap Maura sambil tetap disibukan dengan pekerjaannya.
Sementara itu Volcan yang sekarang berada di ruang Manager tampak mengerutkan keningnya melihat keakraban Volkan bersama dengan kekasihnya.
" Kenapa sih Ardan sekarang kelihatannya sering sekali mendekati Maura? Padahal kan hubungan mereka hanyalah pura-pura saja. Dasar menyebalkan!" rutuk Volkan benar-benar merasa kesal melihat kekasihnya yang begitu dekat dengan sepupunya.
Volkan melihat bagaimana serunya mereka berbincang-bincang. Bahkan telepon darinya sejak dari tidak juga diangkat oleh Maura.
Volcan yang saat ini sedang dibakar api cemburu. Dia pun segera mendatangi Maura dan Ardan yang terkejut melihat kehadirannya diantara mereka berdua.
" Maura tadi saya mendengar kelihatannya ada orang yang menelponmu. Kenapa tidak kau angkat?" tanya Volkan sambil menatap tajam kepada Maura yang langsung memeriksa keberadaan ponselnya.
" Pardon! Ponselku ketinggalan di meja kasir. Sebentar aku akan cek dulu ya!" Maura pun kemudian meninggalkan Ardan dan volkan yang kemudian mereka terlihat berbicara dengan begitu asik layaknya dua saudara sepupu yang akur tanpa masalah.
" Ardan nanti siang kau ada acara atau tidak?" tanya Volkan sambil menyeruput minuman milik Ardan yang ada di hadapannya.
" Nanti siang aku ada acara untuk pergi ke mall bersama dengan Maura. Kami mau membeli sesuatu untuk keponakanku!" ucap Ardan sambil tersenyum kepada Volkan yang tampak sangat terkejut mendengarkan penuturan dari sepupunya.
" Memang ada acara apa? Sehingga kau butuh membeli sesuatu untuk Noaf?" tanya Volkan yang sebenarnya sedang marah dan kesal karena merasa cemburu kekasihnya telah berjanji untuk pergi bersama dengan sepupunya.
" Tidak ada acara apa-apa sih. Aku hanya ingin memberikan hadiah kepada Noaf karena dia selama ini selalu menjadi anak yang manis dan juga baik!" ucap Ardan sambil tersenyum kepada Volkan yang terlihat tersenyum kecut.
Volkan benar-benar tidak rela kalau sampai kekasihnya harus pergi bersama dengan Ardan. Oleh karena itu dia berusaha untuk mencari celah agar mereka berdua tidak bisa pergi bersama.
__ADS_1
Di dalam otaknya Volkan terus berusaha dan berpikir mencari celah. Untuk menghentikan mereka berdua pergi bersama pada jam makan siang nanti.
' Aku harus menghentikan mereka. Enak aja Ardan main ajak-ajak kekasih aku untuk menemani dia berbelanja. Lah terus, kalau Maura pergi dengan dia, lalu aku akan pergi dengan siapa?' tanya Volkan dalam hati dan terus saja menggerutu.
Sejujurnya selama ini Volkan tidak pernah marah apabila melihat Ardan pergi bersama dengan Hazel. Tetapi entah kenapa sekarang dia merasa begitu cemburu dan marah ketika melihat sepupunya ingin mensabotase Maura dan mengajak kekasihnya pergi bersamanya.
" Oh ya Ardan aku lupa kalau aku akan mengajak Maura untuk berbelanja beberapa bahan Cafe mungkin kau bisa mengajak Hazel untuk pergi bersamamu!" ucap Volkan sambil tersenyum kepada sepupunya.
Ardan mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ketika dia mendengarkan perkataan sepupunya yang terlihat begitu mendadak. Padahal seingatnya tadi Maura mengatakan kalau dia tidak ada acara kemana-mana pada saat jam istirahat nanti.
" Benarkah? Coba nanti aku bicara lagi dengan Maura kalau dia datang kemari!" ucap Ardan sambil tersenyum kepada Valcon yang langsung gugup dan gelagapan.
" Aku baru memiliki rencana ini dan belum mengatakannya kepada Maura. Jadi dia pasti mengatakan kalau tidak ada acara denganku. Sudahlah kau pergi bersama dengan Hazel saja. Kan biasanya juga kalian pergi bersama untuk membeli mainan buat Noaf kan?" tanya Volkan sambil tersenyum ke arah sepupunya yang sekarang menjadi curiga dengan gelagat Volkan yang sangat aneh dan tidak biasa.
" Ayolah Volkan! Kau jangan kekanak-kanakan aku hanya pergi sebentar bersama dengan Maura. Setelah Maula pergi bersamaku kau bisa mengajaknya untuk berbelanja denganmu semua keperluan Cafe. Dia juga seorang manusia bebas yang memiliki kegiatan privaai dan tidak harus selalu terikat dengan cafe-mu. Benar bukan?" tanya Ardan sambil tersenyum kepada polkan yang langsung tersenyum kecut karena merasa kesal dengan Ardan yang sekarang sangat sulit untuk dibujuk.
" Aku akan bertanya kepada Maura mengenai rencanamu tadi!" ucap Ardan ketika dia melihat Maura yang sekarang sedang berjalan ke arahnya.
' Pantas saja aku telepon dari tadi tidak diangkat juga. Ternyata teleponnya dia tinggalkan di meja kasir. Benar-benar sangat keterlaluan!' bathin Volcan merasa kesal dan jengkel kepada Maura yang seenaknya saja membuat janji bersama dengan Ardan.
Padahal dirinya sudah memiliki rencana besar untuk mengajak Maura makan siang bersama di luar.
" Baiklah Bro. Silahkan saja kalau aku ingin melanjutkan rencanamu untuk mengajak Maura pergi dengan kamu. Aku biar mengajak anak buah yang lain untuk berbelanja urusan kafe!" ucapkan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan mereka berbincang-bincang.
Walaupun hatinya sangat marah dan darahnya sudah mendidih sejak tadi. Tetapi dia harus menjaga imagenya dihadapan sepupunya. Jangan sampai Ardan bisa menangkap tentang hubungan mereka berdua dan melaporkannya kepada kedua orang tuanya. Maka itu akan menjadi suatu bencana yang sangat besar untuk hubungan mereka berdua kedepan nya.
Oleh karena itu, walaupun hatinya sangat marah. Tetapi Volkan membiarkan Maura untuk pergi bersama dengan Ardan.
" Maura kau sudah siap untuk pergi bersama denganku nanti siang kan?" tanya Ardan ingin mengkonfirmasi sekali lagi kepada Maura tentang rencana mereka berdua.
" Yah nanti kau datanglah kemari untuk menjemputku. Aku akan menunggumu di sini!" ucap Maura sambil mengulas senyum kepada Ardan yang merasa senang sekali.
Sementara itu Volkan yang sejak tadi masih berdiri tidak jauh dari mereka. Dia nampak mengepalkan kedua telalak tangannya ketika dia mendengarkan bahwa kekasihnya akan menunggu sepupunya itu di cafenya. Hal itu benar-benar membuat dia hampir gila. Karena di dimakan api cemburu yang berkobar di dadanya sekarang.
__ADS_1
Valkan langsung masuk ke dalam ruangannya dan terus memperhatikan interaksi antara Ardan dan Maura yang begitu akrab dan nyaris tanpa sekat di antara ke duanya.