Maura Sang Gadis Bar-bar

Maura Sang Gadis Bar-bar
28. Cemburu buta


__ADS_3

Volcan terus memperhatikan mereka yang sekarang sudah bersiap-siap untuk pergi dari cafe milik nya.


Sebenarnya sejak tadi Volkan ingin sekali mendekati Maura dan melarang wanitanya untuk pergi bersama dengan Ardan. Tetapi kedua orang tua Volkan hari ini datang ke kafe dan terus memperhatikan dirinya.


Raffi tampak sibuk sekali mempersiapkan pesta pernikahan Volkan dan Hazel yang akan segera dilaksanakan sekitar 2 minggu lagi.


Hari ini Raffi dan Dinda menjadwalkan untuk Volkan dan Hazel bersiap-siap untuk memesan gaun pernikahan mereka berdua.


" Volcan. Cepatlah kau datang ke perusahaan Hazel dan pergilah sekarang juga ke butik untuk memesan gaun pernikahan kalian. Papa tadi sudah mereservasi butiknya." ucap Raffi ketika dia masuk ke dalam ruangan putranya yang auto melotot dan kaget luar biasa dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya tadi.


" Apa maksud Papa dengan mengatakan harus seperti itu? Memangnya siapa yang akan menikah?" tanya Volkan sambil mengerutkan keningnya.


Raffi menatap putranya dengan tajam. Tampak kekecewaan di matanya melihat ketidak bertanggungjawaban putranya dengan pilihan hidupnya sendiri.


" Kalian sudah bertunangan lebih dari 2 tahun Volkan! Apakah salah kalau sekarang papa mengatur pernikahanmu dengan Hazel?" tanya Raffi sambil menatap tajam ke arah putranya yang sekarang malah pergi ke luar cafe meninggalkannya tanpa mengatakan apapun kepadanya.


Raffi mengikuti putranya yang pergi entah ke mana dengan wajah penuh kemarahan.


" Ada apa Pah? kenapa Volcan pergi dengan wajah seperti itu?" tanya Dinda merasa heran dan juga ketakutan karena tidak biasanya Volkan berwajah begitu menakutkan dengan amarah yang begitu terlihat di wajahnya.


" Papa juga tidak tahu mah. Kenapa anak kita begitu marah setelah tadi Papa mengatakan kalau dia harus segera berangkat dengan Hazel untuk memesan gaun pernikahan mereka. Volkan langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun kepada papa!" ucap Raffi menerangkan segalanya kepada sang istri yang tampak khawatir dengan keadaan putranya.


" Mama akan pergi ke butik sekarang juga Mama akan melihat ada apa di sana. Papa sebaiknya di sini saja untuk mengawasi Cafe!" setelah mengatakan itu kepada Rafi, Dinda langsung keluar dan mengejar mobil putranya yang tadi pergi begitu saja.


" Ada apa sih sebenarnya denganmu nak? Kenapa akhir-akhir ini kelakuanmu sangat aneh dan benar-benar membuat kedua orang tuamu selalu merasa bingung. Kamu kenapa tidak mau bercerita kepada Mamamu? Tentang apa yang sedang kau rasakan?" tanya Dinda sambil mengemudikan mobilnya sendiri karena dia tidak mau kalau sampai ada orang lain yang melihat aib keluarganya.


Dinda tahu kalau saat ini putranya sedang bimbang untuk memutuskan apakah akan melanjutkan pernikahannya bersama dengan Hazel ataukah membatalkannya.


Feeling Dinda sebagai seorang ibu. Bahwa saat ini anaknya telah menemukan tambatan hati yang lain yang membuat dia tidak merasa yakin untuk melanjutkan rencana pernikahan bersama dengan Hazel.


Dinda sebenarnya merasa kecewa kepada putranya yang telah bermain api dengan hati seperti seorang wanita seperti Hazel.


Walaupun hanya memikirkannya saja, tetapi untuk saat ini kebahagiaan putranya adalah segalanya. Oleh karena itu Dinda ingin sekali mengorek apa sebenarnya ada di dalam pikiran putranya saat ini.

__ADS_1


Dinda berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia pasti akan membantu putranya untuk keluar dari masalah yang begitu pelik kalau sudah berurusan dengan keluarga besar sahabat mereka.


" Akan menjadi sesuatu hal yang sangat riskan kalau sampai pernikahan sudah dipersiapkan akan tetapi Volkan tidak mau untuk melanjutkannya. Aku harus segera mencari tahu apa yang saat ini sedang terjadi terhadap Putraku!" ucap Dinda dengan penuh keyakinan dan juga kemantapan.


Sementara itu Volcan yang saat ini sedang berada di butik dan bertemu dengan Hazel yang ditemani oleh Marcella.


" Assalamualaikum Volcan. Bagaimana kabarmu Nak? Lama sekali tante tidak bertemu denganmu. Kau sekarang sangat jarang main ke rumah kami!" ucap Marcella mencoba untuk ramah kepada calon menantunya yang datang ke butik dengan wajah yang tidak bersahabat.


" Waalaikumsalam tante. Maafkan Volkan Tan. Bolehkah Volkan berbicara dengan Hazel?" tanya Volkan kepada Marcella yang merasa tidak nyaman melihat wajah volcan yang berkerut dan tidak bersahabat.


Hazel yang melihat calon suaminya datang ke butik dengan tatapan yang begitu misterius. Dia pun mulai merasa deg-degan hatinya. Takut ada sesuatu yang buruk yang akan disampaikan oleh Volkan kepadanya.


Sebagai seorang wanita Hazel bisa merasakan kalau memang ada sesuatu yang berbeda dari tunangannya. Sudah lebih dari satu bulan ini Volkan tidak pernah mau untuk menghubunginya ataupun meminta bertemu dengannya. Tidak seperti dulu-dulu yang selalu nempel dan lengket dengan dirinya.


" Sayang apa yang terjadi denganmu? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu apakah kau ada masalah?" tanya Hazel yang langsung berniat untuk mencium pipi kanan dan kiri Volkan ketika mereka bertemu. Akan tetapi Volkan seakan menghindarinya begitu saja.


Marcella mengerutkan keningnya melihat putrinya diperlakukan tidak baik oleh calon suaminya.


" Ada apa di Volkan? Apakah itu sikap dari seorang calon suami terhadap calon istrinya?" tegur Marcella merasa tidak Senang putrinya diabaikan begitu saja oleh Volkan di depan matanya.


Dinda yang baru saja datang ke butik dia tergopoh-gopoh langsung mendekati Volcan.


" Maafkan ya jeng! Volkan dari kemarin sakit dan dia tidak enak badan. Ayo sayang sekarang kita pulang saja. Biarkanlah nanti masalah gaun pengantin diurus oleh Hazel saja!" ucap Dinda berusaha menarik tangan putranya untuk ikut dengannya. Tetapi Volkan langsung menghempaskannya dan menatap tajam kepada ibunya.


" Mah Volkan tidak mau melanjutkan lagi pernikahan ini. Tolong hentikan semua ini Mah! Volkan sudah tidak mencintai Hazel lagi! Volkan mohon Mah. Tolong hentikan semua kegilaan ini. Volkan tidak mau menikah dengan wanita yang tidak kucintai!" namun tiba-tiba saja Dinda langsung menampar pipi Volkan dengan sangat keras.


Semua orang yang berada di ruangan Itu tampak tegang dan mulai pusing. Melihat adegan yang begitu dramatis antara anak dan ibunya.


Hazel sudah menangis sejak tadi di pelukan ibunya. Dia sedih sekali mendengarkan calon suaminya mengatakan bahwa sudah tidak mencintainya lagi dan ingin membatalkan rencana pernikahan mereka berdua yang hanya tinggal 40% lagi Fix dan siap untuk terlaksana.


Akan tetapi sekarang tanpa peringatan sebelumnya. Tiba-tiba saja Volkan datang dan mengatakan ingin membatalkan rencana pernikahan mereka.


Bukan hanya Marcella dan Hazel yang terkejut mendengarkan perkataan Volkan. Dinda pun tidak kalah terkejutnya dan dia sangat kecewa dengan putranya yang tidak bertanggung jawab dengan hubungannya bersama Hazel.

__ADS_1


" Kenapa Mama menampar Volkan? Apakah salah mah kalau Volkan ingin berusaha dan memperjuangkan cinta dalam hidup Volkan? Apakah mama rela kalau volcan harus hidup dengan wanita yang tidak kucintai?" tanya Volkan dengan mata memerah karena merasa kecewa dengan ibunya yang tidak berpihak kepada dirinya.


" Mama kecewa denganmu Vokan! Kenapa kau harus melakukan hal seperti ini di saat kita sudah mempersiapkan segalanya? Kalau kau memang berniat untuk membatalkan pernikahan kalian. Kenapa tidak kau katakan sejak dulu? Apakah ini adalah sebuah tanggung jawab dari seorang laki-laki yang telah melamar seorang wanita dari kedua orang tuanya?" tanya Dinda dengan tatapan penuh kekecewaan terhadap putranya.


Volkan meraup wajahnya dengan kasar dan dia melirik ke arah Hazel yang masih menangis di dalam pelukan Marcella.


" Volkan sudah mengatakan berkali-kali kepada Hazel. Untuk kami membatalkan rencana pernikahan ini. Tetapi dia tetap kekeh dan tidak mau menerima keputusan Volkan. Inilah yang terjadi sekarang. Semua ini bukan salah Volkan mah!" ucapkan sambil menatap tajam kepada Marcella dan juga Hazel.


Dinda mendekati Hazel yang masih terisak di dalam pelukan ibunya.


" Tolong katakan pada mereka Hazel masalah kebenarannya. Bahwa aku sudah berkali-kali kepadamu meminta untuk membatalkan rencana pernikahan kita!" ucap Volkan menatap tajam kepada Hazel yang terus menangis tanpa henti meratapi nasibnya yang ditinggalkan oleh calon suaminya begitu saja tanpa penjelasan apapun.


" Bagaimana aku akan sanggup mengatakan kepada kedua orang tua kita? Untuk kita membatalkan pernikahan kita? Sementara mereka benar-benar berharap agar kita berdua bisa merlangsungkan pernikahan kita. Katakan padaku Volkan apa salahku sehingga kau melakukan hal seperti ini terhadapku?" tanya Hazel dengan mata yang memerah dan terus terisak dalam sedihnya.


" Aku tidak mencintaimu lagi Hazel. Apakah kau bersedia menikahi laki-laki yang tidak mencintaimu lagi?" kayak Volcan sambil menatap tajam Hazel yang sekarang mendekat ke arahnya.


" Aku tidak masalah dengan itu Volkan. Aku percaya dulu aku pernah bisa membuatmu jatuh cinta padaku. Kelak aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta padaku lagi!" ucap Hazel sambil mengguncangkan telapak tangan Volcan dan menangis di hadapannya.


Marcella yang tidak terima putrinya diperlakukan seperti itu oleh Volkan. Dia langsung menarik telapak tangan Hazel dan membawanya pergi dari tempat itu.


" Kita batalkan saja pernikahan mereka berdua. Aku juga tidak rela kalau sampai putriku disakiti oleh anakmu!" ucap Marcella merasa kesal dan marah melihat putrinya diperlakukan tidak adil oleh calon suaminya.


Tubuh Dinda terasa lemas seketika mendengar keputusan dari Marcella.


Valcon hanya menatap ibunya yang saat ini sedang terduduk lemas di sofa dan terus menetapnya dengan hopeless dan kecewa terhadapnya.


" Maafkan Volkan Mah. Tapi Volkan tidak bisa untuk melanjutkan ini semua!" ucap Volkan sambil menggenggam telapak tangan ibunya yang sejak tadi terus menangis terisak.


" Kamu ternyata laki-laki yang sangat jahat dan juga kejam Volkan. Mama tidak mengira kalau mama ternyata telah salah mendidikmu menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab!" ucap Dinda dengan air mata yang terus menetes di kelopak matanya.


Volkan berusaha untuk memeluk ibunya. Tetapi Dinda terus saja menghindari putranya dan mendorong Volkan untuk menjauh darinya.


" Valcon tidak bisa mah untuk melanjutkan semua ini. Volkan sudah berusaha untuk mencintai Hazel, tetapi gagal! Maafkan Volkan Mah!" ucapan sambil mencium telapak tangan ibunya yang terus bergetar dalam tangis menyesali semua perbuatan putranya yang telah mengecewakan semua orang.

__ADS_1


Entah siapa yang telah membuat putranya menjadi laki-laki berhati dingin yang tidak memperdulikan siapapun lagi. Hanya ego dan juga kesenangannya sendiri yang dia perhatikan. Tetapi putranya telah melepaskan tanggung jawabnya sebagai anak tunggal di dalam keluarganya.


" Kau sadar bukan Volcan? Kalau kau telah merusak hubungan kekeluargaan antara keluarga kita dan keluarga Hazel? Sekarang mama tidak tahu. Bagaimana harus berhadapan dengan keluarga Hazel setelah perbuatan burukmu ini!" ucap Dinda sedih.


__ADS_2