
Terlihat Rafi dan Dinda yang saat ini sedang berada di cafe miliknya.
" Apa yang terjadi Pah? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" tanya Dinda merasa khawatir dengan kondisi suaminya.
" Tidak apa-apa Mah. Papa hanya sedang memikirkan apa yang akan kita lakukan terhadap anak-anak?" tanya Raffi kepada istrinya yang sedang duduk di sampingnya.
Dinda menggenggam telapak tangan Raffi yang dia tahu saat ini pasti sedang resah memikirkan kedua Volcan dan Maura yang sebentar lagi akan kembali dari bulan madu mereka.
" Biarkan mereka memilih kehidupan yang ingin mereka jalani. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung mereka!" ucap Dinda kepada suaminya.
Terlihat Rafi yang melirik ke arah Dinda yang selama ini sangat setia mendampingi hidup nya dalam situasi apapun.
" Akan tetapi kita juga memiliki kewajiban untuk membimbing mereka agar menjalani kehidupan yang baik bukan?" tanya Rafi.
" Sama seperti kita berdua saat awal-awal menikah dulu." sambung Rafi.
Dinda tersenyum kepada suaminya yang begitu mengkhawatirkan tentang rumah tangga anaknya yang baru seumur jagung.
" Percayalah kepada mereka berdua. Aku yakin mereka pasti sudah memiliki gambaran masa depan yang ingin mereka jalani!" ucap Dinda sambil menarik tangan suaminya mengajaknya untuk pulang ke rumah karena jam kerja Sudah selesai.
Para karyawan pun sudah selesai membereskan kafe mereka dan bersiap untuk pulang ke rumah mereka. Akan tetapi mereka berdua masih berada di kantor Rafi.
" Ayolah kita pulang dulu dan beristirahat. Aku lihat kau terlalu lelah akhir-akhir ini!" ucap Dinda kepada Rafi yang terlihat begitu lesu.
Masalah persiapan pernikahan dan juga masalah pekerjaan memang telah membuat Rafi sangat kelelahan. Waktu istirahatnya benar-benar tersita sangat banyak.
" Tapi pekerjaan masih banyak sayang. Aku belum memeriksa kas masuk untuk hari ini!" ucap Rafi menolak keinginan istrinya.
Akan tetapi Dinda langsung membereskan semua file-file yang ada di atas meja suami tercintanya.
" Ayolah sayang! Semua pekerjaan ini tidak akan lari kemana-mana. Akan tetapi kesehatan kamu benar-benar sesuatu yang sangat penting untukku! Menurut lah padaku untuk kali ini!" ucap Dinda bersikeras meminta kepada suaminya untuk beristirahat dan pulang ke rumah mereka.
Dengan sangat terpaksa Rafi pun kemudian mengikuti Dinda untuk pulang ke rumah mereka yang letaknya tidak terlalu jauh dari Cafe milik mereka.
Dalam perjalanan mereka pulang, Mereka bertemu dengan Aurel dan Rehan.
__ADS_1
" Rafi Kenapa wajahmu begitu pucat?" tanya Rehan kepada sahabatnya.
" Benar sekali! Kenapa wajahmu terlihat begitu pucat? Periksalah kesehatan kamu. Selama masih dalam tahap baru gejala. Penyakit kalau sudah parah akan sangat sulit untuk diobati!" ucap Aurel menasehati Rafi.
" Ayo ke ruanganku biar aku memeriksamu!" ucap Rehan kepada Rafi.
Rehan benar-benar sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya.
" Benar sayang. Ayo kita periksakan dulu kesehatanmu aku juga khawatir dengan kondisimu. Sejak beberapa hari ini kau sangat sulit untuk tidur." ucap Dinda yang berusaha untuk membujuk suaminya untuk diperiksa oleh kakaknya.
" Aku hanya kelelahan saja. Untuk saat ini, tidur sudah cukup untukku! Kalian tidak usah berlebihan!" sanggah Rafi kepada Mereka.
" Benar Rafi! Ayolah kau jangan bandel begitu. Tidak lama untuk diperiksa!" ucap Rehan yang akhirnya menarik pangan sahabatnya untuk masuk ke dalam ruangannya.
Akhirnya dengan sangat terpaksa Raffi pun mengikuti keinginan mereka semua yang memang sangat mengkhawatirkan kondisi tubuhnya yang sedang lemah.
Sejak tadi pagi. Sebenarnya Raffi merasa tubuhnya sakit-sakit dan juga lemas sekali.
Akan tetapi Raffi memaksakan dirinya untuk tetap berangkat bekerja mengingat di cafe saat ini sedang sibuk sekali. Apalagi setelah volkan dan Maura yang berangkat pergi untuk berbulan madu pekerjaan seperti menumpuk dan tidak ada habisnya.
Setelah Raffi membaringkan tubuhnya di atas ranjang pemeriksaan Rehan pun kemudian langsung mengambil steretop miliknya.
" Kamu kelelahan Rafi. Tolong jangan terlalu memporsir kegiatanmu! Kau tetap harus memperhatikan kesehatanmu juga!" ucap Rehan yang kemudian memberikan beberapa vitamin untuk sahabatnya.
" Kau itu sudah seperti kakek-kakek, cerewet sekali!" ucap Rafi yang kemudian duduk di ranjang. Akan tetapi karena kepala nya merasa pusing, Rafi kembali membaringkan tubuhnya di ranjang.
" Pusing kan?? Indah pojoklah suamimu untuk dirawat selama beberapa hari di rumah sakit! Tubuhnya selama beberapa hari ini telah diporsir luar biasa untuk bekerja. dia harus mendapatkan infus untuk kembali memulihkan staminanya!" ucap Rehan sambil melihat ke arah adiknya.
Dinda kemudian mendekati Raffi dan meminta suaminya untuk mau mengikuti saran kakaknya.
" Baiklah Terserah kalian!" akhirnya Raffi tidak bisa berdaya karena memang tubuhnya saat ini benar-benar lemas dan tidak bisa diajak kompromi.
Setelah meminta kepada suster untuk mengambilkan kursi roda dan menyiapkan ruangan untuk Raffi Mereka pun kemudian membawa Raffi ke ruangan perawatan.
Dinda benar-benar mengkhawatirkan kondisi suaminya yang terlihat sangat pucat wajahnya.
__ADS_1
" Ya Allah sayang. Aku sudah beberapa kali memintamu untuk beristirahat tetapi kau selalu bandel!" ucap Dinda setelah infus terpasang di tangan suaminya.
Raffi hanya tersenyum kepada istrinya yang begitu khawatir dengan dirinya.
" Sudahlah sayang. Aku hanya perlu diinfus saja besok juga sudah bisa pulang!" ucap Rafi berusaha menenangkan dan menghibur istrinya yang terlihat begitu sedih melihat dirinya sekarang terbaring begitu lemas di atas bed rumah sakit.
Rehan dan Aurel yang tadinya berniat untuk pulang akhirnya menggagalkan niat mereka dan menemani Dinda di rumah sakit.
Bagaimanapun Raffi adalah sahabat dan juga adik iparnya Rehan tidak bisa menutup mata begitu saja dengan kondisi Rafi.
" Aku akan menyiapkan beberapa tes lainnya untuk memastikan bahwa tubuhmu benar-benar Fit dan sehat. Aku takut Raffi kalau ada penyakit tersembunyi yang belum kita ketahui jadi kita akan melakukan beberapa tes untuk tubuhmu!" ucap Rehan sambil menyentuh bahu sahabatnya.
Raffi hanya menggelengkan kepalanya melihat semua orang yang ada di dalam ruangan itu begitu khawatir dengan dirinya.
" Aku hanya kelelahan bekerja saja tidak usah berlebihan begitulah. Kau tahu kan setelah pernikahan Volcan kehidupan kami benar-benar sangat sibuk. Sekarang semua pekerjaan Volkan menjadi tanggung jawabku. Aku benar-benar tidak mempunyai waktu untuk beristirahat dengan baik!" ucap Raffi.
" Oh ayolah! Bukankah kami juga sama? Setelah pernikahan Ardan dan Layla kami pun harus menghandle pekerjaan Ardan di rumah sakit. Kau tahu setiap hari berapa operasi yang harus kutangani untuk menggantikan Ardan?" tanya Rehan kepada Rafi.
Raffi menatap sahabatnya dengan lekat.
" Ayolah bro! menurut lah denganku Kau harus melakukan medical check up seluruh tubuh. Agar kita bisa mengetahui kalau misalkan ada penyakit yang tersembunyi di dalam tubuhmu!" ucap Rehan memaksa sahabatnya untuk menurut kepadanya.
" Baiklah lakukanlah apapun yang kalian inginkan! Aku manut!" ucap Raffi akhirnya menyerah karena dia tahu tidak akan pernah menang melawan Rehan apalagi mereka bertiga menyerangnya semua dengan begitu kompak.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Raffi. Rehan pun kemudian langsung mengatur untuk melakukan medical check up terhadap sahabatnya.
" Baiklah kalian tunggulah Rafi di sini. Aku akan menyiapkan semuanya agar bisa selesai hari ini juga!" ucap Rehan kepada istrinya dan juga adiknya.
" Baiklah sayang aku akan menunggumu di sini." ucap Aurel yang kemudian mendampingi Dinda untuk bersama dengan Raffi di rumah sakit.
Sementara Rehan menyiapkan semua medical check up untuk Raffi. Setelah semuanya siap Rehan pun kemudian membawa Raffi untuk segera diperiksa oleh suster yang bertugas melayani Rafi yang akan melakukan medical check up.
Dengan sangat pasrah Raffi hanya mengikuti semua yang diatur oleh sahabatnya.
" Kalian benar-benar berlebihan sekali. Padahal aku hanya kelelahan saja!" ucap Raffi merasa kesal.
__ADS_1
Akan tetapi Raffi pun sadar bahwa mereka melakukan itu karena menyayanginya dan khawatir dengan kondisinya.
" Kami sangat menyayangimu Raffi! Oleh karena itu kami ingin menjagamu dengan baik!" ucap Rehan sambil melakukan tugasnya melakukan pemeriksaan atas tubuh sahabatnya yang masih belum ikhlas di lakukan pemeriksaan atas tubuh nya.