
Malam itu terlihat Volcan yang menunggu Maura pulang kerja. Bersama dengan Layla Maura masuk ke kontrakan yang mereka tempati bersama.
Maura sudah lama berpisah dengan ibunya yang bekerja di kediaman Ardan sebagai pengasuh dari keponakannya yang telah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya sejak kecil.
" Maura di depan ada Volkan mencarimu. Katanya dia gak mau pergi dari sini kalau belum bertemu denganmu!" ucap Layla.
Layla menemui Maura dibelakang kontrakan mereka, sambil duduk di samping Maura yang saat ini sedang menonton televisi di kursi yang mereka susun layaknya nonton layar lebar di taman belakang kontrakan mereka sambil makan camilan yang tadi mereka beli dalam perjalanan pulang ke kontrakan mereka.
" Kamu kenapa sih Lalya, pakai acara bilang kalau aku ada di rumah segala sama dia!" sungut Maura merasa kesal sekali karena harus bertemu dengan volkan yang playboy.
" Kenapa sih tibang temui aja geh? Nggak rugi juga kan?" tanya Layla sambil mengambil camilan yang berada di tangan Maura.
Dengan perasaan malas Maura pun kemudian menemui polwan yang masih menunggunya di depan kontrakan mereka.
" Mau apa sih?" tanya Maura kesal bukan kepalang. Melihat Maura yang keluar dari kontrakannya. Volkan auto menarik tangannya dan membawa Maura masuk ke dalam mobilnya. Volkan tidak memperdulikan ketika Maura terus berusaha untuk memberontak dan melepaskan diri dari cengkraman tangannya yang sangat kekar dan kuat.
Saat ini Maura sedang liburan semester dan dia memanfaatkan liburan itu untuk bekerja. Karena dia tidak mau kalau sampai menghabiskan waktunya hanya untuk main-main saja. No! Bukan Maura banget!
Bulan depan Maura bisa kembali masuk ke tempat kuliahnya dan hanya tinggal menunggu satu minggu lagi.
Saat ini Maura dan Layla sudah bersiap untuk mengajukan perpindahan shief kerja di tempat kerja mereka agar bisa kembali ke tempat kuliah mereka di pagi hari dan bekerja di cafe pada malam hari sehingga tidak mengganggu waktu kuliah mereka.
" Kamu apa-apaan sih Volcan? Pakai acara maksa-maksa orang kamu nggak ada kerjaan kah?" sungut Maura merasa kesal sekali dengan tingkah Volkan yang selalu berbuat sesuka hatinya.
__ADS_1
Setelah memasangkan seat Bell untuk Maura, Volkan langsung melajukan kendaraannya untuk menjauh dari kontrakan yang ditempati oleh Maura dan Layla.
Sepanjang perjalanan itu tidak ada hentinya Maura terus ngomel-ngomel dan protes dengan apa yang dilakukan oleh Volkan dengan cara menculiknya seperti itu.
" Cepat katakan apa yang kau butuhkan dariku huh?" tanya Maura yang mulai kesal sekali dengan Volkan yang sejak tadi terus saja diam dan fokus untuk menyetir.
" Sebenarnya kau mau membawaku ke mana? Jangan katakan kalau kau mau melakukan hal gila lagi seperti dulu!" Maura sudah ketakutan memikirkan apa yang ada di kepalanya saat ini.
Terlihat Volcan yang tersenyum simpul mendengarkan pertanyaan Maura.
" Sepertinya ide yang bagus. Kita mau pergi ke hotel bintang lima atau yang kelas melati saja? Tampaknya kalau ke kelas melatih akan lebih aman karena pasti tidak akan ada wartawan usil di sana!" Demi mendengarkan perkataan Volcan Maura sampai gemes dibuatnya.
" Awas kalau kau berani!" ancam Maura sambil mengepalkan kedua tangannya ke hadapan Volcan yang masih saja tersenyum penuh kebahagiaan karena akhirnya bisa melihat amarah Maura lagi.
" Kita lihat saja setelah berada di hotel apa yang akan kau katakan lagi. Aku masih ingat loh, saat kamu mendesah keenakan waktu itu! Hahaha! Kau sangat sexy sekali!" ucap Volkan sambil tertawa terbahak-bahak.
Kelakuan Volkan yang absurd itu benar-benar sukses membuat Maura klapakan sehingga Maura merasa malu sekali dan menutup mulutmu Volkan pakai telapak tangannya agar berhenti berbicara omong kosong seperti itu lagi.
" Diam kau! Dasar mesum! Kurang ajar kau Volkan!" sengit Maura kesal setengah mati.
Valcon benar-benar merasa senang hatinya karena sudah berhasil menggoda Maura yang terlihat begitu lucu saat Maura tersipu seperti itu. Wajahnya sampai tersipu malu. Layaknya tomat busuk yang benar-benar sangat menggemaskan di mata Volcan yang sedang mabuk cinta kepada Maura.
Volcan kemudian membelokkan mobilnya menuju sebuah cafe yang tidak terlalu jauh dari kontrakan Maura hanya sebuah cafe kecil yang tidak terlalu mewah maupun glamour.
__ADS_1
Berdasarkan pengalaman terakhir. Volkan tidak mau lagi mengulang kebodohannya dengan membawa Maura ke tempat-tempat mewah yang sudah pasti akan dikunjungi oleh orang-orang dari kelasnya yang kaya dan raya serta mencari tempat bergengsi untuk menghabiskan uang dan juga Waktu mereka.
Selain itu Volkan juga berusaha menghindari teman-temannya mungkin saja mengenal dia ataupun mengenal Hazel.
Maura merasa lega sekali melihat Volkan yang membawanya ke sebuah kafe yang cukup romantis setidaknya bukan hotel yang seperti dikatakan oleh Volkan tadi.
" Bagian administrasi bilang kalau kau dan Layka meminta untuk dipindahkan ke shift malam? Kenapa?" tanya Volcan ketika mereka sedang memilih menu untuk makan malam bersama dengan Maura.
" Kuliah kami akan segera dimulai. Jadi aku ingin konsentrasi kuliah di pagi hari sampai sore hari. Setelah itu aku akan bekerja di cafe milih kedua orang tuamu pada malam hari!" ucap Naura masih sibuk memilih makan malam yang hendak dia santap.
" Apa nanti kau tidak kecapean?" tanya Volkan merasa tidak suka kalau Maura yang sudah dia stempel sebagai miliknya harus bekerja keras seperti itu hanya untuk menyambung hidupnya yang sulit sekali.
" Aku bisa mengirimkan uang untukmu setiap bulannya. Asal kau mau menikah denganku secepatnya." ucap Volkan yang membuat Maura langsung melotot sempurna padanya.
" Menikah denganmu? Apa kau gila?" tanya Maura benar-benar tidak habis pikir dengan pola pikir yang dimiliki oleh Volkan.
" Kau ingatkan? Kalau aku sudah pernah menstempel dirimu. Aku hanya takut kamu hamil tanpa suami. Aku ingin bertanggung jawab dengan kamu dan anak kita!" Volcan memang benar-benar layak menjadi seorang aktor tingkat tinggi karena aktingnya benar-benar sangat meyakinkan.
Demi mendapatkan apa yang dia inginkan Volkan sampai rela mengarang cerita bahwa dia sudah menodai Maura.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Volkan seketika Maura menjadi gemetar. Tampak Maura terdiam dan mengingat sesuatu.
" Ah ya Tuhanku! Kau benar Volkan! Sejak hari itu, aku sudah terlambat haid sekitar 2 minggu. Apa jangan-jangan aku hamil anak kamu?" ucap Maura panik.
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan oleh Maura sontak Volcan sampai tersedak dan Volkan juga sampai menyemburkan apa yang ada di dalam mulutnya. Hingga membuat Maura jengkel dibuatnya karena semburan itu langsung mengenai wajahnya.