Maura Sang Gadis Bar-bar

Maura Sang Gadis Bar-bar
48. Jalani aja


__ADS_3

Layla hanya tersenyum simpul mendengar ucapan dari ramah yang mengatakan bahwa dia adalah tuan putri yang sedang menyamar menjadi rakyat jelata karena dia bekerja di sebuah kafe.


" Baiklah Ardan. Aku bekerja dulu ya? Selamat menjalani aktivitas kalian berdua!" setelah mengatakan itu Laila pun kemudian pergi meninggalkan Ardan dan Rama yang terus memperhatikan semua gerak-geriknya.


Terlihat Rama yang begitu terpesona dengan Layla yang begitu anggun dan juga bersikap dan berpenampilan sederhana. Walaupun merupakan seorang tuan putri dari Hutomo grup yang terkenal.


" Kau sangat beruntung Bro akan menjadikan dia sebagai istrimu!" ucap Rama sambil tersenyum kepada Ardan yang hanya memutar bola matanya dengan malas. Ardan kemudian langsung meninggalkan sahabatnya yang masih membeku di tempat.


Ardan tahu bahwa dia memang telah menjadi seorang laki-laki yang beruntung karena bisa bersama dengan Layla. Gadis kaya yang sederhana yang tidak sombong. Walaupun anak seorang konglomerat yang terkenal di negeri ini.


Ardan langsung masuk ke dalam ruangannya dan bersiap-siap untuk melakukan operasi di pagi hari.


Dia membaca prosedur-prosedur yang akan dia lakukan untuk menjalani operasi itu. Setelah dia mengerti dia langsung masuk ke dalam ruangan operasi di mana pasien dan juga rekan-rekan lainnya sudah menunggu kedatangannya.


Ardan kemudian menyelesaikan tugasnya sebagai seorang dokter.


Sementara itu Layla sekarang berada di cafe. Dan melanjutkan tugasnya sebagai seorang waiters tanpa seorang pun tahu bahwa dia adalah putri dari Danu Hutomo.


Sampai saat ini Volcan maupun Laura masih merahasiakan tentang identitas Layla yang sesungguhnya dari siapapun.


Maura sudah tidak diijinkan untuk bekerja lagi oleh kedua orang tuanya Volcan tetapi diminta untuk fokus kuliah agar segera wisuda dan segara melaksanakan pernikahan dengan Volkan setelah selesai kuliahnya.


Maura bahkan sekarang sudah tinggal di apartemen Volkan sehingga Maura dan Layla bertetangga karena letak apartemen mereka berdekatan.


" Layla Apa kau juga tidak kuliah seperti Maura?" tanya Dinda saat melihat Layla yang bekerja begitu rajin di cafenya.


" Tidak tante!" ucap Layla sambil tersenyum kepada Dinda.


Layla tidak mau berbohong kepada ibunya Volkan. Karena dia tahu wanita itu adalah tante dari Ardan jadi dia tidak mau berbuat sembarangan kepada Dinda.


" Baiklah Tante tinggal dulu ya selamat bekerja!" ucap Dinda yang kemudian meninggalkan Layla dengan tugasnya.


Rencananya pertemuan keluarga secara resmi akan diadakan satu minggu lagi yang akan memperkenalkan mereka berdua kepada pihak keluarga masing-masing.


Akan tetapi Layla rasanya merasa begitu sangat tersiksa dengan tidak adanya keterbukaan di antara mereka.


Tetapi untuk mendahului perkenalan itu pun, Layla benar-benar tidak berani. Karena takut kalau ada hal yang tidak terduga di belakang Nanti yang akan menggagalkan rencana pernikahan mereka.


Di akui atau tidak. Layla merasa bahwa dia sudah nyaman bersama dengan Ardan. Walaupun seorang dokter tetapi Ardan adalah pribadi yang hangat dan juga welcome terhadap siapapun tanpa memandang harkat derajat dan martabatnya.


Di saat Layla sedang melamun, tiba-tiba saja volkan masuk ke dalam ruangan.


" Layla, Kenapa kau tidak ikut kuliah juga bersama dengan Maura?" tanya Volkan pada Layla.


" Aku tidak kuliah di Indonesia. Kuliahku di Melbourne. Tapi saat ini aku sedang cuti baru semester depan aku akan melanjutkan kuliah aku! Kenapa?" tanya Layla merasa terheran dengan kelakuan Volkan yang tumben-tumbennya perduli dengannya.

__ADS_1


" Kamu tahu kan kalau Ardan itu menyukai Maura? Aku tidak mau kalau sampai nanti Ardan mendekati calon istriku!" ucapan Volcan sukses mengejutkan hati Layla.


" Maksudnya?" tanya Layla merasa bingung dengan ucapan Volkan.


" Iya Ardan menyukai Maura. Aku bahkan pernah menghajar Ardan karena dia selalu datang dan menemui kekasihku. Aku hanya minta ke kamu kalau misalkan melihat Ardan dekat-dekat dengan Maura untuk langsung hubungi aku!" ucap Volkan yang kemudian meninggalkan Layla dalam kebingungannya.


" Itu hanya spekulasi Volkan saja! Aku yakin itu. Ah, tidak mungkin Ardan menyukai Maura!" ucap Layla terus berusaha untuk menyangkal apa yang disampaikan oleh Volkan padanya.


Sejujurnya saat ini Layla sudah merasa mulai menyukai Ardan secara perlahan. tidak sulit untuk menyukai pemuda tampan dan juga rendah hati itu.


Apalagi keluarga mereka sudah mengatur rencana pernikahan dengan begitu rapi jadi tidak akan ada kesalahan.


Sepanjang hari itu Layla tidak bisa untuk berkonsentrasi gara-gara perbuatan Volkan yang mengatakan kalau Ardan menyukai Maura.


Saat jam istirahat datang, Ardan terlihat mendatangi Layla dan mengajaknya untuk makan siang bersama. Mereka pergi ke sebuah restoran yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Ity untuk memudahkan mereka kalau tiba-tiba Ardan mendapatkan panggilan untuk pasiennya.


Layla yang saat ini hatinya sedang merasa terganggu gara-gara Volcan, ingin sekali bertanya kepada Ardan tentang kebenaran yang sesungguhnya.


Tapi Layla tidak mengerti. Kenapa lidahnya terasa kelu dan sangat sulit untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan.


" Ada apa? Kenapa kau dari tadi melamun terus?" tanya Ardan sambil mengelus lembut tangan Layla.


" Apa kau memiliki sesuatu yang ingin kau tanyakan padaku?" tanya Ardan sambil tersenyum kepada Layla.


Layla tetap terdiam. Dia terus menatap Ardan dengan lekat. Membuat Ardan benar-benar penasaran ada apa dengan Layla sebenarnya.


Layla kesulitan untuk berbicara sungguh aneh tidak seperti dirinya yang sepenuhnya.


" Ehmmm ehmmm," berkali-kali Layla berdehem untuk menetralkan perasaannya.


" Apa benar kalau kau menyukai Maura? Waktu itu, yang malam-malam Volkan memukuli kamu, apa itu gara-gara Maura?" tanya Layla sambil menundukkan wajahnya.


Terlihat Ardan tertawa terbahak-bahak, karena melihat ekspresi Layla ketika menanyakan hal itu ada Ardan.


" Kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu?" tanya Layla jadi keki sendiri di buatnya.


Layla sendiri tidak paham. Kenapa sejak hari itu dirinya selalu merasa malu dan berdebar sangat kencang ketika berdekatan dengan Ardan. Apakah itu artinya bahwa dia sudah jatuh cinta kepada pria yang ada di hadapan nya ini? Ah, Layla benar-benar frustasi dengan pikirannya sendiri.


" Dengarkan aku Layla. Aku mungkin memang menyukai Maura, tapi hanya sebatas suka bukan cinta. sampai saat ini belum ada seorangpun yang bisa membuatku jatuh cinta seperti aku mencintai alm. Sakinah." terlihat wajah Ardan yang sendu.


" Lalu bagaimana denganku? Apakah kau juga tidak mencintaiku?" tanya Layla dengan gugup dan jantung yang berdebar-debar.


Sungguh saat ini Layla seperti berdiri di tepi jurang dan dia tidak tahu. Apakah dia akan selamat ataukah akan terjun bebas ke dalam jurang yang tak bertepi.


Layla tidak mau kalau harus menjalani pernikahan tanpa cinta. Oleh karena itu dia ingin memastikan. Apakah Ardan mencintai atau tidak.

__ADS_1


" Jalani saja. Aku yakin suatu saat kita pasti bisa saling mencintai dengan berjalannya sering waktu!" WhatsApp Ardan mengulas senyum kepada Layla.


Layla tampak kecewa dengan jawaban Ardan. bukan jawaban seperti itu yang diinginkan oleh Layla.


' Apa benar seperti yang dikatakan oleh Volkan bahwa dia mencintai Maura? Tapi kenapa dia mau menerima perjodohan kalau dia tidak mencintaiku?' tiba-tiba saja Layla merasakan kebimbangan di dalam hatinya.


" Percayalah padaku Layla. Selama kita menjalani pernikahan kita. Aku berjanji pada mu tidak akan pernah dekat dengan wanita manapun. Aku akan selalu menjaga perasaan kamu!" janji Ardan kepada Layla yang sontak mengangkat wajahnya dan menatap pemuda tampan yang duduk di hadapannya.


" Kenapa?" tanya Layla gugup.


" Aku akan belajar untuk mencintaimu dengan sepenuh hati. Percayalah padaku Layla!" ucap Ardan dengan senyum yang mengembang di wajahnya yang tampan.


" Lalu bagaimana denganmu apakah Kau juga mencintaiku?" tanya Ardan mendalami wajah Layla dan mencari kejujuran di dalamnya. Akan tetapi Layla menundukkan kepalanya semakin dalam dan tidak mengizinkan Ardan dan untuk melihat kedalaman matanya.


" Ayolah Layla. Katakan padaku bagaimana perasaanmu? Apakah kau mencintaiku?" tanya Ardan sambil mengelus lembut tangan Layla yang sontakkan terkena aliran listrik.


Layla sampai gugup setengah mati. Baru kali ini Layla benar-benar berdekatan dengan seorang laki-laki. Jadi wajar kalau dia merasa sangat gugup seperti itu.


" Entahlah! Apakah itu termasuk cinta atau tidak. Tapi yang jelas aku merasa cemburu ketika Volkan mengatakan kalau kau mencintai Maura!" ucap Layla menundukkan wajahnya.


Terbit senyum bahagia di wajah Ardan. Ardan pun tidak mengerti. Kenapa dia merasakan kebahagiaan itu. Tapi yang jelas dia merasa senang mendapatkan pengakuan seperti itu dari Layla.


" Tampaknya aku juga mungkin sudah mulai jatuh cinta padamu. Ketika tadi siang melihat Rama yang begitu terpesona padamu, aku rasanya ingin sekali menonjok temanku itu! Haha. Aku benar-benar konyol kan?" tanya Ardan dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


Layla merasa senang mendapatkan pengakuan itu dari Ardan.


' Apakah benar kalau Ardan juga sudah mulai mencintaiku seperti diriku?' seketika rasa hangat menjalar di sekujur tubuh Layla.


Benar perasaan dicintai itu sangat menyenangkan dan saat ini Layla sudah merasakannya. bunga-bunga seakan bermekaran di wajahnya dan itu membuat Layla semakin terlihat cantik di mata Ardan.


" Ayo kita selesaikan makan siang kita. Karena sebentar lagi harus segera kembali ke cafe!" ucap Layla dengan buru-buru menyantap makanannya.


Sementara Ardan yang sudah selesai sejak tadi. Dia hanya memperhatikan Gadis itu menyelesaikan makanan yang tadi dipesan oleh mereka berdua.


Entah kenapa Ardan merasa begitu tak pesona melihat Layla yang makan dengan lahap dengan perasaan riang gembira.


Ardan sampai terus menggoyangkan kepalanya karena merasa dirinya seakan tersihir oleh pesona seorang Layla.


" Ada apa denganmu apakah ada masalah?" tanya Laila ketika melihat Ardan seperti orang bodoh terus menggoyang-goyangkan kepalanya dan memukul kepalanya sendiri.


" Tidak, tidak apa-apa. Kau makanlah!" ucap Ardan sambil tersenyum kepada Layla.


' Ah dasar Ardan bodoh bisa-bisanya kau tertangkap mata oleh Layla dengan kelakuan konyolmu itu!' batin Ardan merasa benar-benar malu kepada Layla.


Layla sudah selesai makan dan dia berniat untuk membayar makanan mereka. Akan tetapi Ardan langsung menghentikannya.

__ADS_1


" Aku yang mengajakmu makan. Bagaimana mungkin kau yang harus membayarnya?" tanya Ardan sambil menatap tajam kepada Layla yang kemudian membatalkan keinginannya tadi. " Perusahaan kami mungkin dalam keadaan kolaps, tetapi aku tidak semiskin itu untuk makan dibayarin oleh kamu!" ucap Ardan sambil tersenyum kepada Layla. Setelah selesai membayar makanan. Ardan dan Layla kemudian kembali ke rumah sakit dengan perasaan canggung di antara mereka berdua.


__ADS_2