
Hazel langsung merubah raut wajahnya menjadi seperti korban ketika dia melihat kedua orang tua Volkan yang masuk ke dalam cafe dan melihat keributan yang tadi dia buat kepada Maura.
Maura hanya tersenyum sinis melihat perubahan wajah Hazel yang tiba-tiba menjadi kembali alim. Setelah tadi bersikap begitu barbar kepadanya. Wajah Hazel kini berlinang air mata setelah Hazel yang melihat kedatangan bosnya dan sekarang mendekat kepada mereka berdua.
" Ada apa ini Hazel? Kenapa kau menangis sayang?" tanya Dinda khawatir sambil memeluk Hazel yang masih tersisa di pelukan Dinda yang sekarang menatap Maura dengan tatapan kecurigaan.
Maura kemudian ditegur oleh Dinda dan Raffi setelah mendengarkan penjelasan dari Hazel yang mengatakan bahwa Maura baru saja telah menamparnya.
Dinda mengerutkan keningnya Merasa tidak senang bahwa calon menantunya ditampar oleh pegawainya. Tanpa Dinda sadari tangan Dinda auto menampar pipi Maura dengan keras, hal itu terpicu dari merasa tersinggung karena calon menantunya yang dia sayang telah disentuh oleh pegawainya.
" Jangan mentang-mentang karena kamu sudah menjadi kekasih Ardan, kamu jadi lupa tempat kamu berdiri. Sehingga membuat kamu bisa bertindak sewenang-wenang di cafe ini ya?" ucap Dinda merasa kesal sekali melihat air mata Hazel yang terus mengalir di pipinya. Hati Dinda sakit melihatnya.
Raffi tampak menggelengkan kepalanya. Seakan antara percaya dan tidak. Bahwa kejadian itu benar-benar terjadi. Karena bagaimanapun, selama satu minggu melihat kinerja Maura, dia tahu bahwa Maura adalah gadis yang baik dan juga rajin.
" Sudahlah Mah! Jangan membesarkan lagi masalah ini. Kita akan lihat CCTV dan membuktikan kebenaran dari kejadian ini!" ucap Raffi yang langsung meninggalkan mereka bertiga dan pergi menuju ruang operator CCTV yang mengawasi cafenya selama 24 jam.
Hazel merasa terkejut sekali mendengarkan Raffi akan melihat rekaman CCTV dan itu artinya bahwa kebohongannya akan langsung terungkap saat itu juga.
__ADS_1
Itu pasti akan sangat berbahaya untuk posisinya sebagai calon istri Volkan. Nama baiknya yang susah payah dia bangun akan hancur seketika, dimata calon mertuanya yang terkenal agamis dan pastinya tidak suka dengan kebohongan untuk memfitnah orang lain seperti yang telah dia lakukan.
Sementara itu Maura hanya tersenyum sinis melihat hal-hal yang sekarang tampak begitu gugup di dalam pelukan Dinda.
' Rasain lu mak lampir! Dasar perempuan munafik! Bisa-bisanya dia bersembunyi di balik jilbab besarnya itu, hanya untuk bisa mendapatkan seorang laki-laki seperti Volkan! Pantas saja Volkan mengatakan bahwa dia tidak pernah bisa mencintai wanita itu. Volkan pasti sudah tahu tentang tabiat asli tunangannya yang sangat menjijikan itu!' bathin Maura sambil terus melihat ke arah Hazel yang tampak begitu gugup dan gelisah sejak tadi.
Hazel sampai pucat wajahnya ketika dia melihat Raffi yang datang dengan membawa ponselnya dan kemudian memperlihatkan kejadian yang sesungguhnya yang terjadi di ruangan itu kepada istrinya.
Dinda sampai menggelengkan kepalanya merasa kecewa kepada Hazel yang ternyata telah berakting di hadapannya.
Hazel melirik sinis ke arah Maura yang sekarang sedang tersenyum penuh kemenangan ke arahnya. Karena semua perbuatan buruknya sudah diketahui oleh kedua orang tua Volcan.
" Om hanya kecewa sama kamu Hazel. Maura di sini hanya bekerja untuk mencari sesuap nasi untuk bisa bertahan hidup. Kau ini adalah anak orang kaya yang tidak pernah tahu susahnya mencari uang di luar sana. Tolong jangan lakukan lagi hal hina dan sangat memalukan seperti ini atau kami akan membatalkan rencana pernikahanmu dengan Volkan. Om tidak mau mempunyai menantu yang berpikiran licik dan picik sepertimu! Berubahlah untuk menjadi wanita yang baik Kalau kau memang masih menginginkan posisimu sebagai tunangan Volcan!" ucap Raffi meninggalkan mereka bertiga sambil terus mengurus dadanya untuk bersabar melihat kelakuan Hazel.
Bagaimanapun Hazel adalah putri dari sahabatnya. Tidak mungkin Raffi akan bersikap terlalu keras terhadap Hazel. Karena pasti akan menyakiti hati Marcella dan Zidane.
Dinda yang merasa kecewa dengan sikap Hazel yang sudah membohongi dan juga bermain trik dengannya. Dia langsung meninggalkan Hazel yang sedang menangis dan terus memohon maaf kepadanya.
__ADS_1
" Minta maaf lah kepada Maura yang sudah kau fitnah hampir saja tadi Aku akan memecat dia karena fitnah kejam yang sudah kau berikan kepadanya! Celakanya, aku telah menampar gadis baik itu hanya untuk menyenangkan dan menyempurnakan trik mu yang sangat licik dan kotor!" ucap Dinda kesal sekali kepada Hazel.
Dinda kemudian mendekati Maura. Dia lalu memegang pipi gadis itu yang tadi dia tampar dengan sangat keras karena sangking marahnya mendengar Hazel mengatakan kalau Maura telah menamparnya.
" Tolong maafkan saya Maura, Saya sudah berbuat tidak adil kepadamu. Saya hanya merasa shock mendengarkan apa yang dikatakan oleh calon menantu saya bahwa kamu sudah menamparnya!" ucap Dinda dengan wajah penuh penyesalan kemudian dia pun menggenggam kedua tangan Maura.
Maura langsung menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa itu tidak masalah untuknya yang penting semuanya sudah terungkap dan kebenaran pasti akan selalu menang. Maura senang karena kedua orang Volkan adalah orang-orang kaya yang baik dan berpihak kepada kebenaran tanpa pandang bulu.
" Tidak apa-apa Nyonya. Saya sudah biasa kok, mengalami nasib seperti ini. Difitnah dan direndahkan hanya karena status saya sebagai orang rendahan!" ucap Maura yang auto menundukkan kepalanya karena dia tidak berani menatap langsung mata Ibunya Valcon yang kemarin baru saja menyentuh dirinya. Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran Maura. Hal itu sesuai dengan yang diceritakan oleh Volkan kepadanya.
Walaupun sebenarnya Volkan hanya menge-prank Maura hanya untuk membuat dia takluk dan tunduk kepadanya.
" Oh tolong Maura. Jangan mengatakan hal seperti itu. Bagi saya di atas dunia ini semua manusia itu sama status dan martabatnya. Hanya keimanan dan ketakwaannya kepada Allah lah yang membedakan posisi kita. Maafkan sikap buruk saya tadi yang pasti sudah menyakiti harga dirimu!" ucap Dinda benar-benar merasa bersalah kepada Maura.
Volkan yang baru saja datang dari luar, dia merasa terkejut melihat ibunya sekarang memeluk Maura dengan begitu erat.
" Ada apa ini Mah? Kenapa Hazel menangis di lantai dan kenapa Mama memeluk Maura seperti itu?" Tanya Volkan sambil menatap mereka satu demi satu. Volkan merasa sangat penasaran dan ingin mendapatkan jawaban yang benar tanpa ada sesuatu yang ditutupi darinya.
__ADS_1