Maura Sang Gadis Bar-bar

Maura Sang Gadis Bar-bar
62. Persiapan fix


__ADS_3

Mereka semua akhirnya keluar dari butik. Setelah membawa pulang pakaian pengantin mereka masing-masing.


Tampak kebahagiaan di wajah mereka yang akan menyambut pernikahan putra-putrinya.


" Ah lelah sekali. Akhirnya semuanya akan segera selesai persiapan sudah fix dan kita tinggal menunggu hari H," ucap Aurel yang begitu bahagia karena rencana perjodohan Ardan dan Layla berjalan dengan lancar.


Terlihat Ardan dan Laila Saling mencintai satu sama lain dan itu sangat membahagiakan Aurel dan Rehan.


" Mamah sebaiknya jangan terlalu lelah. Bagaimana nanti kalau pas hari pernikahan Mama malah drop?" tanya Rehan sambil menatap istrinya yang tampak begitu bahagia sekali dengan pernikahan putranya yang sebentar lagi. Hanya tinggal menunggu hari.


" Tenang saja Pah. Mama tahu kok apa yang Mama lakukan!" ucap Aurel tersenyum.


Sementara itu Ardan tampak tersenyum mengingat kembali momen-momen bahagia ketika tadi berada di butik bersama dengan Layla. Layla pulang bersama Danu hal itu dilakukan agar mempelai pengantin tidak bertemu sampai hari H. Biar rindu katanya.


" Lihatlah Pah. Anak kita dari tadi terus saja senyum-senyum sendiri. Pasti dia sudah tidak sabar untuk menunggu pernikahannya bersama dengan Layla." ucap Aurel yang menggoda putranya.


Ardan langsung menolehkan pandangannya menatap Aurel yang sedang tersenyum kepadanya.


" Mama apa sih? Aku biasa aja kok!" ucap Ardan yang terlihat begitu bahagia.


" Alah gak mau ngaku!" ucap Aurel menggoda putra kesayangan nya.


Ardan hanya terbahak mendengarkan godaan dari ibunya yang selama ini paling mengerti tentang kondisi dirinya.


Aurel sangat bahagia karena akhirnya anaknya bisa menemukan senyumnya kembali setelah meninggalnya Sakinah karena penyakit kanker.


" Mama senang sekali karena akhirnya kamu bisa bahagia juga!" ucap Rehan melihat putranya yang wajahnya cerah ceria.


Setelah mereka sampai di kediaman masing-masing masuk ke dalam kamarnya.


Susan yang sekarang sedang berada di kamar Noaf, didatangi oleh Aurel.


" Susan sudah biarkan saja Noaf, biarkan dia tidur sendiri. Kau Istirahatlah dulu. Bukankah kau juga sangat lelah setelah mempersiapkan pernikahan Maura?" tanya Aurel melihat Susan yang begitu telaten mengasuh Noaf.


Susan kemudian menyelimuti Noaf agar tidak kedinginan di saat tidur.


" Tidak apa-apa nyonya. Tuan muda Noaf senang sekali kalau dibacakan dongeng sebelum tidur. Saya juga suka melakukan hal itu," ucap Susan dengan sopan.


" Kita sebentar lagi akan menjadi saudara. Karena Maura akan menikah dengan keponakanku. Jadi kau tidak usah terlalu terbebani dengan tugas kamu. Nanti saya akan mencoba untuk mencari pengasuh lain supaya kau tidak usah terlalu capek dalam mengurus Noaf!" ucapnya mantap.

__ADS_1


Susan langsung menggelengkan kepalanya. Tidak terima kalau sampai dia digantikan oleh orang lain.


" Tidak Nyonya! Tolong jangan lakukan itu. Kalau saya tidak punya pekerjaan. Bagaimana saya bisa hidup?" tanya Susan merasa keberatan sekali dengan ide Aurel.


" Kamu tidak usah khawatir kau tidak akan saya pecat Kok saya cuma ingin mencari teman agar kamu tidak terlalu capek dalam mengurus Noaf yang saya tahu dia itu sangat nakal dan juga sangat bandel!" ucap Aurel.


Susan langsung menggelengkan kepalanya,


" Tidak Nyonya. Tuan muda Noaf sangat baik dan dia tidak bandel. Dia selalu menurut kepada saya." ucap Susan.


" Saya ingin bekerjanya Nyonya. Saya tidak mau menggantungkan hidup saya terhadap anak saya. Saya tidak mau menjadi beban. Apalagi saya masih mampu untuk menghidupi diri saya sendiri!" ucap Susan dengan mata berkaca-kaca.


" Saya tidak bermaksud untuk memecatmu. Tenanglah Susan. Lagi pula Noaf tidak bisa hidup tanpa kamu. Dia sudah terlalu tergantung denganmu! Aku gak akan bisa menangani Noaf Kalau tidak ada kamu di sini." ucap Aurel yang kemudian berpamitan kepada Susan.


Noaf yang sudah terlelap dalam tidurnya. Akhirnya ditinggalkan oleh Susan. Karena dia juga membutuhkan istirahat. Kamar Susan dan Noaf tidak terlalu jauh. Hanya bersebelahan saja. Jadi kalau Noaf mau mencarinya dia bisa langsung masuk ke sana. Susan tidak pernah mengunci kamarnya berjaga-jaga kalau sampai Noaf membutuhkannya.


Sementara itu Aurel yang saat ini sedang bersama dengan Rehan di kamarnya, terlihat sedang berdiskusi tentang Susan.


" Mamah salut sekali dengan Susan. Dia sangat senang bekerja dan tidak mau untuk diberikan keringanan olehku. Hanya karena sebentar lagi kita akan menjadi keluarga!" ucap Aurel sambil memeluk suami nya yang sejak tadi sudah menguap karena rasa kantuk yang sudah menyerang Rehan.


" Mah ngobrolnya besok lagi. Bukankah seharian ini kita sudah sangat lelah karena mempersiapkan pernikahan anak-anak?" tanya Rehan yang sudah tidak kuasa menahan rasa kantuknya.


***


Sementara itu Raffi dan Dinda pun sudah bersiap-siap untuk tidur dan beristirahat.


" Pah nanti kalau mereka sudah menikah. Apakah akan tinggal di sini ataukah di apartemen Volkan yang sekarang ditempati oleh Maura?" tanya Dinda pada Rafi.


Raffi yang sejak tadi sudah menguap dia hanya menanggapi perkataan istrinya sekedarnya.


" Biarkan mereka maunya apa. Kita tidak usah terlalu menekan mereka! Takutnya nanti mereka malah menjadi tidak nyaman!" ucap Rafi berpesan kepada istrinya.


" Mama tidak menekan kok. Kan Mama cuma bertanya saja sama Papa!" ucap Dinda misuh-misuh karena selalu saja di salah artikan oleh suaminya.


" Sudahlah Mah! Ayo cepat istirahat. Papa sudah capek sekali! Besok banyak sekali persiapan yang harus kita urus dan butuh energi yang sangat banyak!" ucap Raffi sambil menarik Dinda ke dalam pelukannya.


Dinda akhirnya menuruti keinginan Raffi untuk segera beristirahat. Enak sekali rasanya berbaring di ranjang. seharian Mereka sibuk ke sana kemari mengurus rencana pernikahan anak mereka yang akhirnya digabungkan dalam satu tempat di ballroom hotel milik keluarga Pratama.


***

__ADS_1


Volkan yang saat ini sedang berada di kamarnya. Dia terlihat begitu sibuk chatting bersama dengan Maura.


Walaupun mereka seharian sudah berada di satu lokasi tetapi mereka tidak bisa melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan mereka.


Mode Chatting on


" Sayang aku kangen!!" ucap Volkan.


" Ih, apaan sih? Kan kita tadi sudah seharian bersama! Masa masih kangen sih?" tanya Maura merasa berdesir darahnya.


" Apaan? Kamu di dekatin bentar aja langsung lari. Bikin gemes aja!" protes Volkan dengan emot gemes luar biasa.


Maura tampak tersenyum membaca protes dari Volkan.


" Sayang, kok ga balas? Kamu udah tidur?" tanya Volkan mulai keluar manja dan uringan nya lagi.


" Apa?" tanya Maura mulai lelah ngetik dari tadi.


" Ko kamu ga jawab kangen aku sih?" tanya Volkan dengan emot sok imutnya.


" Aku sudah ngantuk sayang. Tidur dulu ya? Besok lagi!" ucap Maura.


" Aduh sayang! Jangan dong! Aku kan masih ingin ngobrol sama kamu!" protes Volkan.


Akan tetapi sampai setengah jam juga tidak mendapatkan balasan dari Maura yang ternyata Sudah terlelap tidur.


" Sayang?" tanya Volkan


Lima menit kemudian, " Sayang apa kau udah tidur?" tanya Volkan mulai kesal.


Lima menit kemudian, " Ih nyebelin banget! Masa di tinggal tidur gitu aja sih?"


Karena merasa kesal Volkan pun akhirnya menaruh ponselnya di atas nakas dan mulai menetap dinding kamarnya.


Mode chatting off


Volkan akhirnya memutuskan untuk tidur juga. Karena bagaimanapun dia juga sudah lelah karena seharian mengurus pesta pernikahan mereka yang tinggal dua hari lagi.


Volkan benar-benar tidak percaya kalau dirinya akan menikah dengan Maura secepat itu. Bahkan tidak sampai 1 tahun dari perkenalan keduanya.

__ADS_1


Volkan merasa berterima kasih kepada Hazel yang telah mencetuskan ide untuk menyatukan pernikahan mereka bertiga. Sehingga dia bisa mempercepat waktu pernikahannya yang sebenarnya telah direncanakan setelah Maura lulus kuliahnya.


__ADS_2