
Setelah dokter Melisa meninggalkan maja makan mereka berdua. Layla dan Ardan pun kemudian memutuskan untuk menyelesaikan acara makan malam mereka dengan tenang tanpa keributan apapun.
Ardan kemudian mengantarkan Layla sampai ke dalam apartemennya.
" Wah sudah larut malam. Kau tidur di sini saja. Di apartemen ini ada dua kamar. Kau bisa menggunakan kamar satunya lagi. Pasti jam segini sudah tidak ada lagi taksi!" ucap Layla kepada Ardan yang tadi sudah bersiap untuk meninggalkan apartemennya.
Ardan hanya menatap Layla dengan lekat. Menimbang-nimbang tawaran Layla yang meminta dia untuk tinggal di apartemen nya.
" Jangan berpikir macam-macam!" ucap Layla yang kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Ardan masih bengong di tempat. Akhirnya karena merasa lelah Ardan pun kemudian masuk ke kamar tamu yang ada di dalam apartemen milik Layla.
" Wah gila ini adalah pertama kalinya aku tinggal di dalam apartemen seorang perempuan!" ucap Ardan sambil meraup wajahnya dengan kasar.
Dahulu ketika dia berhubungan dengan Sakinah paling banter dia hanya mengantarkan kekasihnya itu pulang ke rumah tanpa mampir atau bertemu dengan keluarga kekasihnya.
Kelelahan yang luar biasa membuat Ardan akhirnya terlelap juga dalam tidurnya. Hingga pagi menjelang dan membuat Ardan terjaga dalam tidurnya ketika dia mencium aroma masakan dari arah luar kamarnya.
" Hei, siapa yang masak pagi-pagi begini?" tampaknya Ardan lupa kalau saat ini dia sedang ada di dalam apartemen milik Layla.
Ardan terperanjat ketika dari balik pintu kamar terdengar suara Layla yang mengetuk dan memanggil namanya.
" Suara seorang wanita?" tanya Ardan yang masih belum ngeh dengan situasi yang terjadi saat ini kepadanya.
Ardan kemudian membuka matanya dan duduk sambil bersandar di dashboard ranjang. Untuk sejenak Ardan terus memperhatikan apa-apa saja yang ada di dalam kamar itu yang terasa begitu asing di matanya. Kepala Ardan pening sejenak.
" Ardan! Apa kau belum bangun juga? Ayolah keluar kita makan sarapan bersama!" ucap Layla dari balik pintu kamar mandi.
Ardan diam sejenak memikirkan kembali apa yang ada di hadapannya sekarang.
" Ah, Layla! Dia adalah calon istriku yang ditunjuk oleh ayahku!" ucap Ardan pada akhirnya mulai ngeh dengan apa yang terjadi kepada dirinya.
Saat Ardan melihat ponsel yang dia taruh di atas nakas. Ardan terkesiap melihat begitu banyak panggilan dari ibunya.
" Oh Tuhanku! Mama pasti khawatir sekali dengan diriku yang semalam tidak pulang!" ucap Ardan sambil menepuk keningnya yang terasa pusing memikirkan alasan apa yang akan dia berikan kepada ibunya.
Ardan pun kemudian menelepon ibunya karena dia khawatir kalau ibunya nanti berpikir macam-macam kepada dirinya.
Wajar saja kalau Aurel merasa khawatir dengan keadaan putranya karena tidak biasanya Ardan tidak pulang ke rumah tanpa memberikan kabar apapun kepadanya.
__ADS_1
Tadi malam Ardan terlalu lelah sehingga tanpa sadar dia terjatuh tidur di atas ranjang. Setelah dia masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan oleh Layla di apartemen calon istrinya sendiri.
Ardan tersenyum ketika memikirkan tentang statusnya bersama dengan Layla.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Mama ini Ardan!" ucap Ardan memberikan salam kepada ibunya.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Anakku kau ke mana saja semalaman? Kau benar-benar membuat Mama khawatir dengan keadaanmu!" ucap Aurel yang terdengar benar-benar cemas.
Ardan kemudian menjelaskan semuanya kepada Aurel. Dia tidak mau kalau sampai nanti ibunya berpikiran negatif terhadap dirinya dan Layla. Sehingga Ardan pun mengatakan semuanya dengan jujur kepada ibunya tercinta.
" Jadi kau sudah bertemu dengan calon istrimu?" tanya Aurel mencoba untuk mengkonfirmasi semuanya kepada putranya.
" Iya mah kemarin tanpa sengaja bertemu di acara pertunangan Volkan dan tadi malam tanpa sengaja juga Ardan bertemu dengan dia di taman kota!" Ardan memang paling tidak bisa berbohong kepada ibunya karena dia pasti akan merasa tertekan kalau sampai berani melakukan itu.
Aurel merasa senang sekali kalau ternyata putranya sudah bertemu dengan calon menantunya yang sudah dipersiapkan oleh suaminya dalam rangka menolong perusahaan yang saat ini sedang koleksi dan membutuhkan dana segar yang tidak sedikit.
" Ya sudah nak kau hati-hati ya? Ingat sayang! Jagalah batasan kalian. Karena bagaimana pun kalian belum menikah. Mama tidak mau kamu mengecewakan mama!" ucap Aurel memperingatkan putranya untuk selalu menjaga diri ketika bersama dengan calon istrinya.
" Iya mah tenang saja. Ardan tahu kok apa yang harus Ardan lakukan. Ya sudah Ardan pergi dulu ya? Sebentar lagi juga Ardan pulang ke rumah kok!" setelah berpamitan Ardan pun kemudian menutup telepon tersebut dan pergi ke kamar mandi untuk melakukan shalat subuh sebelum dia pergi keluar dari kamar.
Tanpa Ardan ketahui Layla sejak tadi terus mendengarkan percakapannya dengan ibunya.
Kalau bukan karena ingin menyelamatkan karyawan dan juga para dokter yang menggantungkan hidup mereka di rumah sakit dan juga perusahaan milik keluarga mereka, Ardan pun tidak akan mau untuk melakukan hal seperti itu. Menikah dengan orang yang tidak dia cintai, hal itu bukanlah sesuatu yang mudah.
" Baiklah mari kita mencoba untuk bersikap yang terbaik dalam perjodohan ini dan semoga tidak mengecewakan siapapun!" ucap Layla yang kemudian meninggalkan kamar Ardan yang saat ini sedang di kamar mandi dan mempersiapkan diri untuk salat subuh.
Sementara Layla mulai membersihkan apartemennya agar terlihat rapi dan bersih. Bagaimanapun dia tidak mau malu di hadapan calon suaminya yang saat ini sedang ada di dalam kamar tamu yang ada di apartemen miliknya.
Desa at Laila sedang sibuk membereskan apartemennya tiba-tiba pintu apartemennya berdering belnya tanda seseorang telah datang untuk bertamu padanya.
" Ya ampun! Siapa pagi-pagi begini sudah datang?" tanya Layla cemberut.
Tampaknya Layla melupakan kebiasaan ayahnya yang suka datang pagi-pagi untuk sarapan di rumahnya.
Layla pun kemudian membuka pintu apartemen dan melihat ayahnya yang sudah berdiri di hadapannya dengan senyum bahagia sekali.
" Selamat pagi Putri kesayangan papa!" ucap Danu sambil mencium pipi Layla dengan lembut.
" Layla. Apa kau bisa meminjamkan ke baju trainingmu? Aku lupa pakaianku tadi aku masukkan ke keranjang baju kotor!" ucap Ardan yang tiba-tiba saja keluar dari pintu kamarnya dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
__ADS_1
Laila dan Danu tanpa terkesiap melihat Ardan yang sekarang toples di hadapan mereka.
" Astaghfirullahaladzim Layla apa-apan ini, sayang? Kamu kenapa tega melakukan ini sama Papa?" tanya Danu mulai berpikir macam-macam tentang putrinya karena melihat seorang laki-laki yang tidak dia kenal berada di apartemennya hanya dengan menggunakan handuk saja.
Terlihat Layla menepuk jidatnya yang terasa pusing melihat kelakuan Ardan yang baginya aneh-aneh saja.
" Maafkan saya, Layla tolong kirim kan pakaian untuk aku. Aku tunggu di kamarku!" ucap Ardan yang kemudian masuk ke dalam kamar kembali dengan wajah merah karena malu di lihat oleh Danu.
Danu masih membeku di tempat melihat Layla dan Ardan yang sudah masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
" Layla siapa yang ada di kamar sebelah?" tanya Danu merasa penasaran dengan kehadiran Ardan di apartemen putrinya.
" Memangnya papa tidak pernah bertemu dengan calon suami yang papa jodohkan denganku?" tanya Layla terlihat mengerutkan keningnya karena merasa heran dengan ayahnya sendiri.
" Ayah bertemu dengan dia dulu waktu dia masih kecil. Kalau sekarang tidak pernah bertemu lagi. Karena dia katanya melanjutkan studinya di luar negeri dan baru pulang beberapa bulan yang lalu bersama dengan sepupunya!" ucap Danu sambil duduk di ranjang milik putrinya.
Karena merasa penasaran. Danu pun terus memperhatikan kamar putrinya barangkali ada hal yang aneh yang tertangkap matanya Karena bagaimanapun dia harus menjaga Putri kesayangannya dari hal yang tidak seharusnya dilakukan sebelum pernikahan Laila dengan pria yang sudah dia persiapkan.
Layla tampak sibuk mencari pakaiannya yang kira-kira bisa digunakan oleh Ardan.
Mata Layla tertuju ke pada sebuah training yang sudah lama tidak dia gunakan.
" Papa mencari-cari apa? Tidak ada apa-apa di kamar ini. Sudahlah Pah! Ayo keluar dari kamar aku. Aku akan memberikan pakaian ini untuk Ardan. Kasihan dia pasti kedinginan." ucap Layla.
" Ardan?" tanya Danu mulai ngeh dan mengikuti putrinya menuju kamar di mana Ardan saat ini sedang menunggunya dengan dada yang berdebar-debar sangat kencang.
" Apakah maksudmu dia adalah Ardan calon suamimu?" tanya Danu ya begitu excited mendapatkan kabar tersebut.
Dia tidak mengira kalau ternyata anak-anak yang akan dia jodohkan telah bergerak begitu cepat. Padahal belum memperkenalkan secara resmi tapi mereka bahkan sudah tidur dalam satu apartemen. Danu sangat pening kepalanya memikirkan apa kira-kira yang sudah terjadi di apartemen itu di antara mereka berdua.
Setelah Layla memberikan pakaian training itu kepada Ardan. Ardan pun kemudian menggunakannya dan keluar dari kamar menemui Danu secara terhormat.
" Maafkan saya Om yang sudah membuat Om kaget dengan kehadiran saya di sini!" ucap Ardan dengan menundukkan kepalanya karena merasa malu di hadapan Danu yang dari tadi terus memperhatikan dia.
" Katakan padaku! Apakah benar kau adalah calon suami yang sudah saya persiapkan untuk Layla?" tanya Danu penasaran sekali.
Layla kemudian menceritakan semua kejadiannya yang membuat Ardan terpaksa harus menginap di apartemen miliknya.
" Om jangan khawatir kami tidak melakukan apa-apa kok kami tidur di kamar yang terpisah dan baru bertemu di pagi hari ini!" ucap Ardan berusaha untuk meyakinkan Danu bahwa apa yang dikatakan dia adalah kebenaran.
__ADS_1
Danu bisa melihat bahwa kedua orang yang ada di hadapannya sekarang sedang mengatakan hal kejujuran bukan kebohongan.