Maura Sang Gadis Bar-bar

Maura Sang Gadis Bar-bar
33. Pasrah saja


__ADS_3

Maura hanya menganggukan kepala mendengarkan apa yang dikatakan oleh Volkan. Banyak yang ingin dia katakan kepada kekasihnya tetapi lidahnya terasa kelu. Karena bagaimanapun dia masih melihat kemarahan di wajah Volkan. Karena tadi mendengarkan kata-kata ibunya yang begitu keras dan menyakitkan hati Volkan.


" Maafkan ibuku! Aku mohon! Semoga kau bisa memaafkannya dan jangan pernah membencinya!" ucap Naura Akhirnya bisa mengatakan sesuatu kepada kekasihnya yang saat ini masih fokus menyetir.


Perasaan Maura benar-benar sangat kacau dan tidak bisa berpikir jernih. Begitu banyak ketakutan dan juga kesedihan yang bercampur aduk di dalam hatinya. Entah yang mana yang lebih dominan tetapi yang jelas Maura sangat sulit untuk mendefinisikan perasaannya saat ini terhadap Volkan.


" Malam ini kau tinggal di apartemenku saja. Jangan pulang ke kontrakanmu. Biar besok kita bisa berangkat pagi-pagi ke cafe bersama-sama. Ya, kita berdoa saja semoga ibumu mau datang dan bertemu dengan kedua orang tuaku!" ucapkan sambil meremas telapak tangan Maura yang terasa begitu dingin sekali.


Maura saat ini memang sedang gugup Setengah Mati karena dia seumur hidup tidak pernah melihat ibunya semarah itu selama ini ibunya selalu bersikap baik dan sayang kepadanya karena mereka berdua saling memiliki satu sama lain.


" Volkan. Bagaimana kalau kedua orang tuamu tidak merestui hubungan kita? Aku sangat takut kalau sampai nanti ibuku jadi terbawa dalam masalah kita berdoa! aku hanya memiliki ibuku saja Volkan! Aku tidak mau memberikan kesusahan dan kesulitan kepadanya!" ucap Maura dengan suara gemetar sambil terus menatap kepada Volkan yang masih fokus menyetir.


" Percayalah padaku. Aku tidak akan pernah membiarkanmu ataupun ibumu dihina oleh kedua orang tuaku dan mereka juga adalah orang baik. Aku yakin kalau mereka tidak akan pernah menyakiti kalian!" ucap Volkan sambil mencium telapak tangan Maura yang berada di dalam genggamannya dengan begitu lembut dan penuh perasaan.


Kelembutan yang ditawarkan oleh Volkan benar-benar membuat Maura merasa sangat nyaman berada di samping kekasihnya.


" Ayo sekarang turunlah. Apartemenku ada di dalam gedung ini!" ucap Volkan sambil membuka seatbelt dan kemudian turun dari mobil.


Maura tampak ragu-ragu untuk mengikuti keinginan volcan dia masih terdiam di dalam mobil.


" Kenapa?" tanya Volkan heran.


" Kalau kau dan aku malam ini bersama. Hal itu akan semakin membuat kedua orang tuamu membenciku. Tolong Volkan Kau hanya mengantarkanku sampai apartemen kamu dan setelah itu kau pulang ke rumah kedua orang tuamu. Jangan tidur di sini bersama aku. Biarkan aku sendirian di sini!" Ucap Maura memberikan syarat kepada Volkan kalau mau dia untuk tinggal di apartemen miliknya.


Volcan terlihat menarik nafasnya dalam-dalam dan kemudian terlihat kesal kepada Maura. Volkan merasa kesal karena Maura seperti yang tidak mempercayainya sebagai seorang laki-laki.


" Aku hanya mengantarkanmu saja sampai apartemen aku. Sudahlah Maura. Kau jangan berpikir macam-macam tentangku!" ucapkan sambil menggenggam telapak tangan Maura dan kemudian mengajaknya pergi ke apartemen miliknya.


Maura merasa lega setelah mendapatkan janji dari kekasihnya.

__ADS_1


Walaupun Maura tidak tahu apa yang saat ini sedang dihadapi. Akan tetapi Maura merasa tenang karena ada Volkan di sampingnya yang akan selalu menjaga dan melindunginya dari orang-orang yang memandang rendah cinta mereka berdua.


' Ya Tuhan kami berdua hanyalah sepasang kekasih yang sedang berjuang untuk mewujudkan cinta kami. Kami tidak ada niat untuk menyakiti siapapun. Tuhan, tolong restui dan juga perlancar semua urusan kami tampa harus ada orang yang tersakiti!' doa Maura dengan khusyuk ketika langkah kakinya mengikuti Volkan yang sekarang akan mengajaknya menuju apartemennya.


" Nanti kalau kita berdua menikah kita akan tinggal di apartemen ini! Kau bisa menempati apartemen ini sampai pernikahan kita datang. Aku tidak mau kalau harus melihatmu tinggal di kontrakan itu lagi bersempit-sempitan bersama dengan Layla." ucap Volcan sambil tersenyum kepada Maura yang hanya menundukkan kepalanya.


" Volkan, sebentar lagi aku akan mulai kuliah. Karena liburanku sudah berakhir. Bagaimana mungkin kita akan menikah?" tanya Maura tampak ragu-ragu dan juga takut kalau sampai keluarkan marah kepadanya.


Volcan kemudian membuka pintu apartemen dan mempersilahkan Maura untuk masuk ke dalamnya.


" Dengarkan aku sayang. Aku tidak akan pernah membiarkanmu susah ataupun aku melarangmu untuk kuliah. Sayang! Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan setelah pernikahan kita. Aku hanya memintamu untuk menjadi istriku dan melakukan tanggung jawabmu sebagai istri dan menantu dari kedua orang tuaku!" Ucap Volkan sambil membingkai wajah Maura dengan kedua tangannya sambil menatap kedua mata Maura dengan lekat.


" Baiklah sayang. Kau tidurlah sekarang. Kau bisa menggunakan pakaianku dulu kalau mau mandi. Pakaian yang ada di lemari kamarku. Besok aku akan membawakan gaun dan juga hijabmu. Tidurlah dan beristirahatlah dengan baik agar besok tubuhmu sehat dan juga Fit. Jangan memikirkan apapun. Ok? Cukup kau percaya padaku. Aku pasti akan menjamin semuanya baik-baik saja!" ucap Volkan sambil mencium kening Maura kemudian dia pun meninggalkan kekasihnya.


" Jangan lupa kuncilah apartemennya. Jangan membuka pintu untuk siapapun yang datang ke apartemen ini selain aku. Apa kau paham?" tanya Volkan berpesan kepada Maura sebelum dia meninggalkan kekasihnya sendirian di apartemen itu.


" Apakah kau perlu aku untuk menjemput Layla? Agar bisa menemanimu di sini?" tanya Volkan yang sebenarnya merasabtidak tega untuk membiarkan kekasihnya sendirian saja di sana. Bagaimanapun apartemen itu lama tidak dia tempati.


" Baiklah aku percaya kepadamu sayang. Sekarang kau Istirahatlah. Aku pergi dulu!" ucap Volkan sambil mencium kening Maura yang merasa sangat terharu dengan perhatian dan juga kasih sayang Volkan untuknya.


Akan tetapi kalau dia menetap di apartemen itu juga tidak mungkin dia lakukan. Pasti kedua orang tuanya akan marah dan Maura juga pasti tidak akan nyaman dengan kehadirannya di apartemen itu.


Setelah berpesan kepada Maura dan memberikan password kunci apartemennya Volkan pun kemudian meninggalkan Maura sendirian di apartemen itu.


Setelah kepergian Volkan, Maura kemudian menghubungi Layla menceritakan semua yang terjadi hari ini kepada sahabatnya.


" Berbahagialah Maura. Volkan tampaknya benar-benar mencintaimu. Bahkan dia sampai rela melepaskan petunangannya yang sudah sangat lama bersama dengan Hazel yang merupakan anak seorang konglomerat yang memiliki banyak harta benda!" ucap Layla yang tiba-tiba menghentikan kata-katanya.


" Iya Layla. Aku paham, apa maksudmu. Ya sudah aku tidur dulu ya? Aku sudah ngantuk sekali!" ucap Maura yang kemudian berpamitan kepada Layla yang merasa sangat bersalah karena sudah kesalahan bicara terhadap sahabatnya.

__ADS_1


" Maafkan aku Maura. Aku tidak berniat untuk menghinamu. Aku hanya menggeberkan fakta yang ada di hadapan kita! Kamu jangan marah ya, sama aku?" tanya Layla yang benar-benar merasa bersalah kepada sahabatnya yang pasti sekarang sedang tersinggung mendengarkan perkataannya tadi.


" Sudahlah Layla. Tidak masalah kok. Aku paham siapa Aku dan siapa Volkan juga siapa Hazel. Aku percaya kalau jodoh maut dan rezeki itu sudah ada yang mengatur di atas sana! pertemuanku bersama dengan volkan yang tanpa sengaja itu pasti sudah diatur oleh sang Maha Pemberi kehidupan! Aku saat ini hanya tinggal menjalani saja dengan keikhlasan dan siap mental untuk menerima segalanya!" ucap Maura berusaha untuk menenangkan sahabatnya agar tidak merasa bersalah lagi kepadanya.


" Baiklah Maura. Kau tidurlah. Aku juga mau tidur, karena besok banyak sekali pekerjaan yang harus dikerjakan!" ucap Layla yang kemudian menutup teleponnya.


Setelah menelpon Layla. Maurapun kemudian memutuskan untuk tidur dan beristirahat. Dia sampai lupa untuk mandi karena sangking lelahnya. Bahkan dia sampai tidak ingat untuk makan malam. Karena begitu stres dan sangat memusingkan sekali hal yang terjadi hari ini di dalam hidupnya.


...****************...


Sementara itu, sekarang Hazel di kediaman kedua orang tuanya. Hazel tampak sedang menangis semdirian sambil terus memandangi potret kebersamaannya bersama dengan Volkan dan Ardan di masa mereka masih kecil dulu.


" Aku tidak tahu Volcan. Apa yang salah kepadaku. Sehingga kau sampai tega untuk melakukan ini padaku!" ucap Hazel yang begitu sedih dengan aset percintaannya bersama dengan Volcan yang kandas begitu saja tanpa dia mampu untuk menghentikan semuanya karena semuanya terjadi begitu tiba-tiba dan tanpa peringatan sama sekali.


Maura gadis yang baru beberapa bulan bertemu dengan Volkan ternyata telah berhasil mencuri hati Volcan sehingga berpaling kepadanya.


" Valcon aku tahu bahwa kau memang selama ini tidak benar-benar mencintaiku mungkin hanya merasa bertanggung jawab saja atas masa kecil yang telah kita lewati bersama." ucap Hazel sambil memeluk Potret mereka bertiga.


" Mungkin kau merasa tidak enak kepada kedua orang tuamu yang sejak dulu selalu menginginkan kita untuk berjodoh. Seharusnya dari dulu kau memberontak dan menolak keinginan kedua orang tuamu. Kenapa harus sekarang Volkan? Di saat pernikahan kita sudah dipersiapkan dan hampir 80% sudah siap. Hanya tinggal menunggu hari saja. Kenapa kau malah memutuskan untuk tidak menikah denganku? Kau ada laki-laki yang paling kejam yang pernah ku tahu dan kau tidak berprasaan sama sekali!" ucap Hazel masih dengan air mata yang terus menetes di pipinya.


Marcella yang saat ini sedang berdiri di depan pintu kamar putrinya tampak menangis terisak dia merasa sangat sedih sekali melihat putrinya yang saat ini begitu tertekan.


" Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Mas Zidane pasti akan sangat marah kalau mengetahui kejadian ini. Mas Zidane pasti akan menyalahkanku sebagai ibu yang tidak becus. Bahkan pernikahan anak kami saja sampai dibatalkan secara sepihak oleh calon suaminya!" ucap Marcella benar-benar merasa khawatir dengan sang suami yang selalu saja menyalahkan dia dalam segala hal.


Setelah melihat Hazel yang sekarang sudah tidur. Marcella pun kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Marcella tampak sedang memegang ponselnya. Dia terus menimbang dan menimbang. Apakah dia akan menghubungi Zidane ataukah tidak.


" Kalau jam segini Mas Zidane pasti masih sibuk bekerja. Sudahlah! Biarkan saja paling nanti, Raffi mungkin juga akan segera menyampaikannya sendiri kepadanya!" ucap Marcella yang akhirnya menutup ponselnya dan meletakkannya di atas nakas yang ada di samping tempat tidurnya.

__ADS_1


" Maafkan mama Hazel. Karena mama tidak bisa melakukan apapun untuk mempertahankan hakmu sebagai calon istri dari Volkan! Pernikahan tanpa cinta pun akan sangat menyakitkan untukmu. Kau sudah melihat sendiri bagaimana kisah cinta kedua orang tuamu yang hancur berantakan sekarang bukan?" tanya Marcella kepada dirinya sendiri.


Karena pikiran yang sangat lelah dan juga pening. Akhirnya Marcella memutuskan untuk tidur agar besok dia bisa memikirkan masalah putrinya lebih jernih lagi.


__ADS_2