
Maura pun kemudian kembali ke kontrakannya bersama Layla. Setelah berpamitan kepada ibunya sepanjang perjalanan Maura terus memikirkan tawaran Ardan untuk bekerja sebagai asistennya dan tinggal di kediamannya.
" Apakah yang dikatakan Ardan benar kalau aku bisa berlindung di belakangnya untuk bebas dari gangguan Volkan? Aku tidak mau dicap sebagai perampas kekasih orang lain. Apalagi pernikahan mereka sudah dipersiapkan." Maura benar-benar dilema dan terus berpikir untuk menghindari Volkan yang sejak kemarin selalu mendesaknya untuk menikah dengan Volkan.
Setelah sampai di kontrakan, Maura kemudian turun dari taksi dan berjalan menuju kontrakannya yang agak jauh dari jalan utama.
Maura berjalan dengan gontai dan tampak lesu. Jadi tidak fokus dengan jalanan yang dia lalui. Sehingga dia tidak menyadari kalau sejak tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikannya dari pinggir jalan.
" Kenapa kamu tidak mengangkat teleponmu huh? Apa kau tahu seharian aku mencarimu kemana-mana?" tanya Volkan yang langsung mencekal tangan Maura dan menatapnya dengan amarah.
Maura sangat terkejut melihat Volkan yang tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapannya dengan mencekal tangannya.
" Kamu sedang apa di sini? Ini sudah malam loh?" tanya Maura dengan gugup sekali.
" Aku menunggu kedatanganmu. Dari tadi siang aku ada di sini. Kamu ke mana saja? Kenapa kau tidak datang ke tempat di mana Kita harusnya melakukan pernikahan hari ini?" tanya Volkan yang tampak begitu marah kepada Maura.
Maura kesulitan menelan salivanya sendiri. Apalagi dia melihat kilatan di mata Volkan yang sangat menakutkan baginya.
Sepanjang Maura mengenal Volcan. Baru kali ini dia melihat amarah sebesar itu di mata laki-laki tampan yang sekarang sedang berdiri di hadapannya.
" Maafkan aku tapi ibuku tidak memberikan restu untuk kita menikah. Oleh karena itu aku tidak akan menikah denganmu!" ucap Maura sambil meninggalkan Volkan yang langsung menarik tangan Maura untuk masuk ke dalam mobilnya.
Maura berusaha keras untuk melepaskan diri dari Volkan tetapi gagal. Sekarang Maura berada di dalam mobil Volcan dengan wajah tertunduk. Sejujurnya Maura merasa sangat ketakutan melihat kilatan di mata Volcan.
" Kamu tidak bisa seenaknya saja begitu. Aku sudah mempersiapkan semua berkas-berkas pernikahan kita!" ucap Volkan merasa kecewa.
__ADS_1
" Maafkan aku Volcan. Tapi sungguh, aku tidak bisa melanjutkan rencana itu .Ibuku sangat marah kepadaku. Kecuali kamu membatalkan rencana pernikahanmu dengan Hazel dan meninggalkan dia. Mungkin aku masih bisa mempertimbangkan untuk kembali membujuk ibuku untuk merestui pernikahan kita berdua!" ucap Maura dengan suara gemetar dan ketakutan.
" Sekarang kita menikah siri saja dulu. Setelah kita berhasil membujuk kedua orang tua kita, kita akan menikah secara resmi! Bagaimana?" tanya Volkan dengan penuh harapan.
Volcan mendengus kesal ketika melihat Maura yang menggelengkan kepalanya tanpa berpikir dulu. Dia kecewa sekali pada Maura yang ternyata tidak mau memperjuangkan cinta mereka berdua.
" Katakan padaku! Apakah kau mencintaiku?" tanya Volkan dengan suara terdengar sangat dingin sekali. Hati Maura seakan membeku di tempat. Melihat kilatan amarah di mata Volkan.
" Jawab Maura! Apakah kau mencintaiku?" tanya Volkan dengan membingkai wajah Maura dengan kedua telapak tangannya.
Mata Maura tampak berembun membuat Volkan menjadi merasa bersalah karena sudah membuat ketakutan gadisnya.
Volcan kemudian mencium bibir Maura dengan lembut, lalu menarik tubuh Maura agar masuk ke dalam pelukannya.
Maura tidak berani untuk menjawab pertanyaan Volcan. Karena bagaimanapun dia tidak paham tentang perasaannya sendiri.
" Tolonglah Maura. Katakan padaku! Apakah kau mencintaiku?" tanya Volkan lagi.
Maura hanya bisa memendamkan kepalanya di dalam pelukan Volkan. Laki-laki yang selama beberapa hari terakhir selalu saja mengganggu hidupnya dengan semua tingkah absurdnya yang membuat Maura kehilangan akal.
Volkan bisa merasakan kalau saat ini dada Maura sedang bergemuruh. Terdengar dari detak jantungnya yang begitu kencang.
" Percayalah sayang! Kau harus percaya kepadaku. Aku pasti akan memperjuangkan cinta kita berdua!" ucap Volkan dengan suara bergetar yang membuat Maura merasa sangat terharu akan kekuatan cinta seorang Volkan untuknya.
" Bisakah kita menjalani dulu hubungan ini untuk saling mengenal satu sama lain? Lagi pula aku juga masih harus kuliah. Kau juga harus meniti karier kamu dulu. Kita tidak bisa menikah begitu saja tanpa restu dari orang tua kita!" ucap Maura dengan suara yang bergetar pada sejujurnya dia pun tidak yakin dengan hubungan itu.
__ADS_1
Hati Volcan merasa senang sekali ketika dia mendengarkan perkataan Maura yang mengajak dirinya untuk berpacaran dulu dengan gadis pujaan hatinya.
" Aku tahu di dalam Islam tidak ada istilah pacaran. Tetapi untuk kita menikah muda pun, rasanya sangat sulit. Karena kita sama-sama tidak memiliki restu dari kedua orang tua kita. Aku mohon. Tolong jangan memaksakan sesuatu. Karena pasti tidak akan baik pada akhirnya!" ucap Maura pelan dan sendu, sambil mendoakan kepalanya dan menatap Volkan yang langsung menganggukan kepalanya dan setuju dengan keinginan Maura.
" Baiklah kita akan menjalani hubungan ini dulu. Sampai kita mendapatkan restu dari kedua orang tua kita. Aku berjanji padamu sayang. Secara perlahan-lahan aku akan meninggalkan Hazel dan membatalkan pertunangan kami berdua! Tolong percaya ke padaku!" ucap Volkan sambil mencium kening Maura berusaha memberikan rasa aman kepada kekasihnya.
Kedua insan yang sedang saling jatuh cinta itu pun, kemudian hanya terdiam di mobil Volkan. Keduanya menyisapi perasaan cinta yang saat ini membuncah di dada mereka.
" Aku harus pulang Volkan. Aku takut kalau Layla khawatir dengan keadaanku!" ucap Maura berusaha mengurai pelukan volkan dari dirinya.
Volkan walaupun merasa kesulitan untuk berpisah dengan Maura. Dia pun kemudian mengantarkan Maura sampai ke depan pintu kontrakan kekasihnya.
" Baiklah kekasihku yang tercinta. Sekarang kau beristirahatlah dengan baik. Besok pagi-pagi aku akan menjemputmu. Kita akan berangkat ke cafe bersama!" ucap Volkan sambil mencium bibir Maura dengan lembut.
Wajah Maura sampai merona mendapatkan perlakuan begitu lembut dari Volcan.
Maura hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian Maura terlihat melambaikan tangan kepada Volkan yang kembali masuk ke dalam mobilnya kemudian meninggalkan kontrakan Maura dengan perasaan bahagia.
Walaupun mereka berdua tidak jadi menikah. Setidaknya sekarang status Volcan sudah meningkat yaitu sebagai kekasih Maura. Bagi Volkan itu sudah cukup untuk saat ini baginya dia akan meyakinkan Maura untuk menerima lamarannya dan menikah dengannya.
Dengan perasaan bahagia Volvan pun kemudian melajukan kendaraannya untuk pulang ke kediamannya. Volkan langsung masuk ke dalam kamarnya begitu sampai di rumah. Sangking senangnya Volkan sampai tidak melihat bahwa kedua orang tuanya sejak tadi menunggunya di ruang tamu.
" Volcan! Kemarilah, Nak. Kami berdua ingin berbicara denganmu!" panggil Rafi ketika dia melihat putranya pulang dari luar.
Raffi dan Dinda tampak heran ketika melihat wajah Volcan yang begitu berseri dan begitu bahagia. Tidak seperti biasanya selalu murung dan tidak senang.
__ADS_1