
20 menit berkendara, mereka pun tiba d tempat tujuan.
“Masuklah, tante Hesti pasti seneng melihat mu” ajak Haris begitu memasuki pekarangan rumahnya.
“Baiklah ... tapi apa tidak menggangu, malam malam begini bertamu” ujar Elena kikuk ketika Haris mempersilakan dia untuk masuk.
“Ayolah .. Kamu kan bukan tamu” Haris menarik tangan Elena dan membawanya memasuki Rumah, ternyata Hesti sedang duduk di teras dengan ponsel di tangannya.
“Oh hai sayang, kok cepet pulangnya, tante kira bakal lama reunian nya" sapa Hesti ketika melihat Haris berjalan mendekatinya, kemudian beliau membulatkan matanya, terkejut melihat siapa yang datang bersama sang keponakan.
“Elena ... “ Hesti serta merta memeluk erat Elena “Haris, kok gak bilang tante sih kalo mau bawa Elena ke rumah?” Tegur tante Hesti.
Ketertarikan Haris pada Elena, sudah bukan rahasia lagi bagi Hesti, karena Haris selalu mencurahkan isi hatinya pada sosok pengganti ibu nya tersebut.
Selain itu, secara pribadi Hesti memang menyukai Elena, gadis ceria itu sudah mencuri perhatian Hesti sejak lama, bahkan Hesti tak segan memasak makanan favorit Elena, jika kebetulan mendengar kabar Elena akan mampir ke rumah nya.
“Emang gak janjian tante, janjiannya sama Bagus, eh pas Haris datang, si kampret itu malah pergi” cebik Haris sebal.
“Haris Cuma mau ambil helm dan hodie buat Elena, kasian anak orang, takut masuk angin” Haris pun berlalu meninggalkan Elena dan Hesti.
“Apa kabar tante?” sapa Elena membuka percakapan, setelah mencium punggung tangan Hesti.
Hesti memeluk Elena sesaat “baik, tante baik ... Kemana aja kamu kok gak pernah main ke rumah?” tanya Hesti.
Elena tersenyum ramah “maaf tante, tapi 8 tahun ini saya belajar dan tinggal di negri gingseng”
“Waaaaahhh tante baru tau, pantas kamu gak pernah Ada kabar, kalau Bagus masih beberapa kali main ke sini, jadi lumayan lah mengobati kangen tante sama kalian ber empat” sekali lagi Hesti memeluk Elena, Elena pun tak segan membalas pelukan Hesti.
“Mama ... “
Sebuah suara manja datang dari dalam rumah “ada apa sih kok rame bener?” si pemilik suara menampakkan wajahnya dari balik pintu, dia pun memekik keras ketika melihat siapa yang sedang berada di sana.
"Oh my god ... “ tanpa malu dia memeluk Elena yang tengah berada d dekat sang mama “kak Elena ... Kangen iiihhh”.
Dialah Hana, adik sepupu Haris, dulu saat mereka berkumpul di rumah Haris, Hana paling suka menempel pada Elena, yaaah karena Elena satu satunya gadis diantara para jejaka.
“Udah gadis aja kamu” goda Elena sambil mencolek dagu Hana.
“Iiiih emang dari dulu aku kan gadis”.
“Iya kalo dulu gadis bawel, sekarang nenek lampir, cerewetnya bikin gendang telinga mau pecah” Haris yang keluar dari pintu langsung menyahut obrolan para wanita tersebut.
__ADS_1
“Biarin ... Weee” Hana menjulurkan lidahnya cuek mendengar celetukan Haris, kemudian kembali bergelayut manja di lengan Elena.
“Harap maklum yah Elena, mereka memang selalu seperti ini kalau ketemu, bawaan nya berantem melulu” Hesti mencoba menengahi, perdebatan anak dan keponakannya tersebut.
“Gak papa tante, seru kali punya teman berantem, Elena ga punya temen berantem, karena sejak kak Eliza kuliah, dia sekaligus kerja, jadi membosankan” curhat Elena singkat.
“Ini pakailah” Haris menyodorkan hodie miliknya untuk d pakai Elena “gak usah kali, aku udah pake sweater” tolak Elena halus seraya menjauhkan lengan Haris yang menyodorkan Hodie kearahnya.
“Bawel, kamu lama lama mirip Hana, udah pake aja, lagi pula ini sudah malam, aku gak mau jadi sasaran amukan tante Marisa, beliau pasti marah kalau anak gadisnya sakit” Haris terus berbicara sementara tangannya sibuk memakaikan Hodie ke badan Elena, tentu saja hodie itu nampak kebesaran di badannya yang mungil.
Elena memajukan bibirnya, sebel sekaligus tidak bisa menolak sikap Haris “ish ... dasar berlebihan” kemudian tanpa persetujuan pula, Haris memasangkan Helm ke kepala Elena.
"Kakak nginep aja yah, Hana masih kangen" bujuk Hana.
"Nggak sekarang yah, mungkin lain kali" tolak Elena halus.
Klik
Suara kait pengaman Helm berbunyi pertanda Helm sudah terpasang aman “dah siap, ayok aku antar pulang”.
“Aku udah kaya ondel ondel yah” bisik Elena ke telinga Hana.
Mereka pun tertawa cekikikan bersama.
“Ciyeeeee yang udah berani ngaku ... Udah kak, langsung d lamar aja” goda Hana.
“Berisik ... “ teriak Haris sambil berlalu.
“Tante ... Elena pamit yah, takut mang ojek ngambek” elena pun bercipika cipiki dilanjutkan mencium punggung tangan Hesti.
“Iya ... Hati hati, lain kali tante masak soto ayam favorit kamu” balas tante Hesti, Elena balas mengangguk Cepat.
“Hana ... Kakak pulang dulu yah” Elena hanya melambai ke Hana, kemudian berjalan cepat menyusul Haris.
“Hati hati kak” teriak Hana ketika Elena menjauh.
“Mereka pasangan serasi ya mah, Hana gak sabar pengen lihat mereka menikah” hana memeluk lengan sang mama seraya membayangkan pernikahan kakak sepupunya tersebut.
“Hush ... Jangan ikut campur kamu, soal asmara itu urusan mereka, kamu masih kecil” tante Hesti menimpali omongan Hana seraya masuk kembali ke rumah.
"Tuhan, aku memang bukan ibu yang melahirkannya, tapi jika aku boleh meminta, aku berharap mereka berjodoh di kemudian hari".
__ADS_1
Hana hanya mengangkat bahunya pasrah, dia tau kalau Harus sangat mencintai Elena, tapi entah ada apa dengan mereka. Hingga masalah cinta ini tidak juga bertemu titik pernikahan, malah mereka semakin jauh.
Hana memang sangat dekat dengan Kakak sepupunya tersebut, walaupun ketika mereka bertemu hanya pertengkaran yang mewarnai hari hari nya, namun 8 tahun ini Hana merasa hidup nya sepi tanpa sang kakak.
...****************...
Setelah 30 menit berkendara mereka pun tiba di gerbang depan rumah besar keluarga Harun Sebastian, Elena pun turun dari motor, suasana kikuk kembali mendera kedua nya, entahlah, padahal dahulu mereka biasa berkendara, bercanda, bahkan makan bersama, tapi kini Elena seakan benci suasana ini, dia ingin bercanda ria dengan Haris seperti dulu, dia merindukan kejahilan teman teman nya, rindu di dekat mereka, rindu pada masa masa yang tidak akan kembali lagi, yaitu masa muda mereka ...
Ah sudahlah ... batin Elena.
“Elena ... Apa kamu marah?” tanya Haris ragu.
“Tidak, kenapa kamu pikir aku sedang marah?” tanya Elena Heran.
“Saat d perjalanan tadi kamu hanya diam, biasanya kamu hampir membuat gendang telingaku pecah”
Elena tertawa, membuat Haris gemas ingin mencubit pipinya, tapi dia sadar Elena tidak suka itu “maaf yah, itu sudah bawaan alami, tapi sejak tinggal d luar negri, aku hampir hampir tidak bisa cerewet, entahlah mungkin karena keterbatasan bahasa” jawab Elena sambil tersipu.
“Ris ... Bisakah kita seperti saat kuliah dulu?” Tanya Elena sambil menarik narik lengan jaket Haris, kemudian menggoyang goyangkan ke kiri dan ke kanan.
Apa aku tidak salah lihat, pikir Haris, kalau Elena bersikap seperti ini, dia terlihat seperti gadis yang enggan berpisah dengan kekasihnya, dan lihatlah pipi nya sudah mulai merona.
“Hei nona muda, apa kamu sedang menggodaku?” tanya Haris bingung.
Sontak Elena terkejut, sontak melepaskan tangannya. “ih tentu saja tidak, buat apa aku menggoda temanku” cebik Elena sebel
Harus terkekeh “kau tau, kita sudah bukan anak remaja lagi, kita dua orang dewasa, kalau kamu melakukan ini di tempat remang remang kemudian dilihat warga, kita bisa di grebek dan dipaksa menikah” Elena membulatkan matanya, terkejut dengan celotehan Haris.
Plak
Elena memukul lengan Haris “jaga bicaramu, gak lucu tau, siapa juga yang mau jadi istrimu”
Haris meringis memegangi lengannya “Iiih siapa tau, setelah terpaksa menikah, kamu jadi beneran cinta padaku”.
Elena mendengus sebal, sambil menutup telinganya “aku gak denger, aku anggap kamu gak pernah ngomong gitu” balas Elena, tapi wajahnya makin memerah menahan malu.
Haris tertawa geli, tak tahanlah kalau suasana sudah seperti ini, dia ingin terus membuat gadis dihadapannya tersipu malu.
“tenang saja, aku memang sudah lama mencintaimu, tapi aku tidak akan tega memaksamu menerima cintaku apa lagi terpaksa menikah denganku” Haris mengacak rambut Elena “dan kamu jangan manja lagi, kita harus serius dalam pekerjaan” Haris kembali memakai Helm nya “masuklah ini sudah malam”.
“Tidak, aku akan menunggu kamu pergi, jangan khawatir, security bahkan sudah membukakan pintu gerbang” terus terang Elena tak ingin beranjak sebelum Haris berlalu.
__ADS_1
“Baiklah terserah kau saja” Haris menurunkan kaca Helm nya, sekarang wajahnya benar benar tak terlihat
“Eh tunggu ... “ Elena berusaha menggapai lengan Haris, namun pria itu sudah melajukan motornya.