
Tepat pukul 6 pagi, seorang perawat datang, "selamat pagi," ucapnya dengan senyum ramah.
"Pagi," empat sekawan yang berada di ruangan tersebut kompak menjawab, hal itu membuat perawat tersebut mengulum senyumnya.
"Oh ... pasien sudah bangun? izinkan saya mengukur tekanan darah anda,"
Haris yang mendengar hal itu pun berdiri perlahan dari sofa tempat ia duduk, "tidak apa kalau anda ingin tetap duduk di sana." perawat itu seolah paham bahwa pasien tengah menahan rasa sakit nya.
kemudian dia pun mulai melakukan tugasnya, "apa anda ingin mandi?" tanya perawat itu ditengah tengah aktivitasnya.
"Boleh kah?" tanya Haris bersemangat, yang terus terang saja sudah merasa ingin berenang.
"Boleh, tapi hanya di lap menggunakan handuk basah," jawab perawat itu dengan santai nya.
"Lalu siapa yang akan memandikan saya," tanya Haris dengan iseng nya.
"Tentu saja salah satu petugas kami," perawat itu berkata jujur karena memandikan pasien memang bagian dari job desc petugas medis seperti dirinya.
"Petugasnya laki laki atau perempuan?" Bagus bertanya dengan iseng nya.
"Kebetulan shift pagi hari ini, tidak ada petugas laki laki, jadi petugas perempuan yang akan memandikan anda."
Elena yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya pun melotot kaget mendengar ucapan perawat tersebut, sementara Bagus yang menyadari situasi hanya bisa bersiul jahil, "hati hati ada yang sedang cemburu ... " kemudian ia pun menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
Tentu saja Haris pun menyadari tatapan tajam yang diarahkan Elena kepadanya, tatapan penuh kemarahan.
"Saya permisi dahulu, seperti biasa, dokter alan akan berkunjung jam 8."
Perawat itu pun beranjak meninggalkan ruangan, meninggalkan ke empat orang tersebut dengan pikirannya masing masing.
Benar saja, tak lama seorang perawat wanita muncul, membawa sebaskom air hangat dan handuk, Elena semakin cemberut melihat keberadaan perawat tersebut, dia pun berdiri dari sofa, namun ketika berjalan melewati Haris, pria itu menahan lengannya, "mau kemana?" tanya nya risau, karena Elena tak juga menunjukan senyumannya.
__ADS_1
"Mau beli kopi, sekalian nongkrong, siapa tahu dapat kenalan dokter ganteng," jawab Elena sinis.
"Yaaa jangan pergi dong," pinta Haris dengan wajah memelas, namun Elena seolah tak menghiraukan permintaan Haris, "apa kamu mau melakukan nya?" tanya nya lagi.
Elena nampak terkejut, "maksud kamu?" tanya Elena.
"Kamu yang memandikanku." jawab Haris tanpa menghiraukan ada orang lain di sekitar mereka.
Bukan hanya Elena yang terbelalak kaget, Bagus dan Priyo pun menunjukkan ekspresi yang sama, namun mereka hanya diam menanti jawaban Elena.
Tentu saja wajah Elena langsung memerah, sebelumnya dia tak pernah berfikir akan hal itu, jika dirinya marah dan tak mengizinkan perawat memandikan Haris, apa dia sanggup melakukannya? sementara ada Bagus dan Priyo diantara mereka, tentu saja suasana akan jadi canggung, dan dirinya pasti dijadikan bulan bulanan oleh mereka.
"Uh ... eh ... aku ke cafe saja," jawab Elena, yang tak lagi dapat menyembunyikan wajah nya yang sudah seperti kepiting rebus.
"Jangan lama lama perginya," pinta Haris, dan dijawab anggukan oleh Elena.
Sepeninggal Elena, ketiga pria tersebut tertawa keras, ternyata Elena tidak berubah sejak dulu, dia masih tetap itik kecil yang polos dan pemalu. "bukankah dia manis dan menggemaskan?" Haris berujar lirih, namun masih terdengar di telinga Bagus dan Priyo.
Dan ternyata adegan selanjutnya sungguh diluar dugaan, alih alih membiarkan perawat melakukan tugasnya, Haris justru menyuruh perawat itu pergi kemudian meminta Bagus dan Priyo yang menggantikan tugas perawat tersebut untuk memandikannya.
"Kamu pikir aku pria murahan, yang membiarkan sembarang wanita menyentuh ku, BIG NO," Haris menekankan kalimat terakhirnya, "Hanya orang tua ku dan Itik kecil itu yang boleh menyentuh tubuh berhargaku," Haris menegaskan.
"Iya iya tau, yang lagi kasmaran, gak mau wanitanya cemburu," ucap Priyo menimpali ucapan Haris, pria itu mulai mencelupkan handuk kedlam baskom yang berisi air hangat, kemudian perlahan mengusap punggung sahabatnya tersebut, pria itu tampak luwes dan tak canggung melakukannya, pasalnya dia selalu melakukan hal yang sama ketika putranya sedang sakit.
"Apa yang ini juga perlu bantuan kami untuk membersihkannya?" Bagus mengarahkan tatapan jahilnya ke celana yang masih di kenakan Haris.
Haris mendelik marah, kemudian dia mengumpat, "dasar kampret, aku masihlah lelaki normal, jangan macam macam dengannya."
"Hahaha ... aku kira kamu bakal minta tolong untuk membersihkan benda pusakamu itu." Bagus tertawa keras.
Mau tak mau, Priyo pun ikut tertawa keras, sudah lama sekali mereka tak bercanda seperti saat ini, tepatnya sejak mereka kembali ke dunia nyata selepas kuliah, senda gurau benar benar hilang, berganti dengan kerasnya persaingan di dunia kerja.
__ADS_1
************
Satu jam kemudian Elena kembali, beberapa kantung plastik berisi makanan nampak memenuhi genggaman tangannya, dan dia tidak sendiri, elena bersama Syafira yang pagi itu nampak pucat dalam balutan pakaian kerjanya, "Selamat pagi semua?" sapa Syafira, senyuman tersungging di bibirnya, namun Elena menangkap ada sesuatu yang berbeda dari sekertaris Bagus tersebut.
"Selamat pagi Fira, apa kabar?" Haris balas menyapanya.
"Baik sekali pak, bagaimana kondisi anda saat ini?"
"Seperti yang kamu lihat, berkat mereka semua, aku bisa sembuh dengan cepat,"
"Syukurlah, saya ikut senang mendengarnya pak,"
Kemudian tatapan Syafira berubah, manakala pandangannya bertemu dengan Bagus, setidaknya itulah yang bisa di baca oleh Elena.
Syafira pun menghampiri Bagus dan menyerahkan berkas berkas pekerjaan yang memerlukan tanda tangan pria itu, sesekali mereka membahas masalah pekerjaan, namun terdengar kaku di telinga siapa saja yang mendengarnya, 'sebenarnya ada apa dengan mereka?' Elena membatin.
Tak lama Syafira pun buru buru pamit untuk kembali ke kantor pusat dan melanjutkan pekerjaannya, bahkan tawaran untuk sarapan bersama pun dia abaikan.
"Hanya perasaanku saja atau ada yang aneh dengan interaksi kampret itu dengan sekertarisnya?" Priyo berbisik di telinga Haris, dan mengulurkan sepotong sandwich untuk pria itu.
"Entah, aku juga merasa demikian," Haris menjawab.
Elena tak mau ketinggalan, ia pura pura mengambil air mineral di nakas, namun mulutnya tampak membisikkan sesuatu, "apa kalian juga merasakan apa yang aku rasakan?"
Priyo dan Haris kompak mengangguk.
Sementara Bagus yang masih jadi topik pembicaraan nampak bersandar di sofa, matanya menatap hampa kearah pintu, Elena mendekati pria itu kemudian mendudukkan dirinya di sofa.
"Ada apa? kamu seperti berharap Syafira tetap disini," tanya Elena santai, namun mampu membuyarkan lamunan Bagus.
Bagus membuang nafasnya, seperti sedang memikirkan beban berat, kemudian pelan dan tenang pria itu mulai bercerita.
__ADS_1
Tawa keras kembali menggema di ruangan tersebut, manakala bagus mengakhiri kisahnya,
"Jadi, akhirnya sekarang kamu benar benar jadi durjana kampret," Priyo tertawa paling keras sambil memegangi perutnya, sampai sampai air mata pun ikut mentes.