
Setelah Elena menyelesaikan aktivitas mandinya, badannya terasa lebih segar, penat dan kantuknya pun seketika sirna, kini ia berdiri di depan cermin ditatap nya jejak kemerahan yang samar samar masih tertinggal dileher nya, "syukurlah bekas merah ini mulai pudar, besok pagi aku bisa pergi bekerja lagi", Elena pun berjalan menuju gazebo di halaman belakang rumahnya, tak lupa laptop dan ponsel dalam genggamannya.
Ting
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya, senyum ceria langsung terkembang di bibir merah muda nya, Han Yu Ra, mengirimkan banyak gambar padanya.
"Sorry yah lama" ucapnya begitu tiba di gazebo.
Aroma sabun, langsung menyeruak ke indra penciuman kedua pria yang ada di hadapannya.
Elena yang tengah sibuk dengan ponselnya, nampak tak sadar jika dirinya sedang di perhatikan, pandangan Bagus nampak penuh selidik curiga, sementara pandangan Haris nampak berbinar penuh cinta.
tak
Lemparan pulpen yang nyasar ke kening nya, membuat Elena menatap kedua pria dihadapannya "siapa yang lempar? ngaku !!!"
Namun kedua pria di hadapannya malah mengangkat kedua pundaknya.
"Dasar kampret kalian ... "
Bagus dan Haris tak kuasa menahan senyumnya.
"Lagian, dari tadi senyum senyum sendiri, kami nungguin mau bahas kerjaan nih, biar cepet kelar, trus kita pergi liburan" Bagus berkata penuh kekesalan.
"Hah, liburan kemana?" tanya Elena semangat.
"Tuh kan, denger kata liburan aja, langsung pada semangat, ayo kerja dulu, nanti aku kasih tau kalo udah beres"
"Siap boss" jawab Haris dan Elena bersamaan.
"Sorry, tadi aku lagi berbalas pesan, dengan Yu Ra, dia mengirim foto foto pernikahan sekertaris Jung"
"Sekertaris Jung? bukannya kamu di undang?" tanya Haris.
"Iya, tapi aku hanya menitipkan hadiah, tidak mungkin aku datang hanya untuk menghadiri pernikahan"
Sepanjang siang menjelang sore itu, Bagus berusaha keras untuk konsentrasi pada pekerjaan, namun nyatanya sia sia karena pikirannya sibuk dengan kecurigaan pada kedua sahabatnya, terlebih lagi ketika Bagus tidak sengaja melihat guratan merah yang sudah samar di kedua sisi leher Elena, makin meningkatlah tingkat kecurigaan nya.
Akhirnya setelah 3 jam mereka berkutat dengan pekerjaan.
"Ayo ke rumah Priyo"
Haris dan Elena langsung tersenyum bahagia "hah beneran? kamu gak bohong kan?"
"Nggak" jawab Bagus santai. "pesawat kalian besok pagi, aku berangkat malam ini, mau ke proyek dulu, baru nyusul kalian ke tempat Priyo" bagus menjelaskan detail rencananya "nanti aku kirim rincian, kendaraan apa saja yang bisa mengantar kalian ke tujuan"
"Haris menatap curiga, kenapa gak naik travel aja? biar gak turun naik angkutan umum?" Haris menggerutu.
"Rumah priyo tuh di kampung banget, mana ada travel yang mau nganter kesana"
"Oh gitu yah" tanya Elena polos.
"Kalo naik taksi?" Haris masih tidak mau menyerah.
"Kejauhan, kalau di tempuh dengan taksi, Ayolah, lagian biar seru, biar kalian tau rasanya naik kendaraan umum"
Akhirnya dengan berat hati, Haris pun menyetujui rencana Bagus.
...****************...
Dan disinilah mereka kini, setelah dari Airport naik bus kota, kemudian berganti naik angkutan pedesaan selama 1 jam, membuat Haris yang memang tidak pernah hidup didesa merasa sangat tidak nyaman, dan Haris semakin lemas ketika mengetahui sisa akses berikutnya harus di tempuh dengan ojeg.
__ADS_1
Namun tiba tiba dewa penolong mengirimkan kabar, Priyo bilang, dia sedang dalam perjalanan menuju rumah, sepulang mengantar beras pesanan distributor.
"kalian tunggulah, sekitar 30 menit lagi aku sampai"
ujar Priyo sebelum panggilannya berakhir.
"Gimana, apa kata priyo" tanya Elena yang sedang duduk diatas batu kali dengan ukuran cukup besar.
"Dia bilang suruh nunggu 30 menit, gapapa?"
"Gak papa" jawab Elena, matanya nampak berbinar menatap aliran sungai kecil di bawah telapak kakinya.
Tak membuang kesempatan, Haris pun memposisikan mini camera miliknya didekat ransel yang sudah ia turunkan dari punggungnya.
Dia tak ingin melewatkan kebersamaannya dengan Elena kali ini, setelah dirasa kamera dan tas aman dalam jangkauan penglihatannya, dia pun ikut mendudukkan dirinya di atas batu kali.
"Mau main air?" pancing Haris.
"Ngak ah, takut basah" jawab Elena polos.
"Main air ya pasti basah" Haris mulai mencipratkan air.
"Hei ... jangan macam macam yah" Elena mulai berteriak ketika cipratan air membasahi baju dan wajahnya.
"Nggaklah, aku gak macam macam, hanya satu macam" Haris mulai menggoda.
Pelan pelan Elena mencelupkan kaki nya ke air, wajah nya semakin berbinar merasakan sensasi dingin yang mulai menjalari kaki nya, kemudian kaki gadis itu mulai berayun pelan memainkan air.
Tiba tiba ide jail melintas di kepalanya, ayunan kaki yang awalnya pelan kini semakin kuat, hingga riak riak air pun tercipta, dan cipratan itu pun membasahi sebagian besar kaus yang dikenakan Haris.
"Ups ... sorry, sengaja" senyum jail tersungging di bibirnya.
"Aaaaahhh sengaja yah, awas kamu"
Hingga beberapa menit berlalu, tanpa dua orang itu sadari, kini ada penonton yang menyaksikan mereka bermain air.
"Yakin dua orang itu temennya mas bos?" tanya Marto.
Priyo hanya menatap kedua sahabatnya seraya mengulum senyumnya "mereka benar benar tidak berubah"
"Lucu ya mas bos, kaya Rio dan Sabrina kalo lagi main air" kini Marto pun ikut tersenyum.
"Kamu kalo mau ke warung, pergi aja, biar aku nunggu di sini"
"Tapi mas bos, gak ada warung di sekitar sini, paling deket 15 menit jalan kaki"
"iya yah, ya udah kita nunggu sampe mereka selesai main air"
Walau menggerutu, Marto tetap menuruti permintaan Priyo untuk menunggu Haris dan Elena yang masih sibuk bermain air.
Syukurlah, Tak lama setelah itu kedua orang yang kini basah kuyup itu menyadari kehadiran priyo.
Dengan riang Elena menghampiri Priyo yang tengah berkacak pinggang bersandar di mobilnya.
Untunglah Elena memakai baju berlapis, jadi ia tak khawatir bajunya tembus pandang.
Setelah berhadapan dengan Priyo dia pun mengulurkan kepalan tangannya, dan priyo pun melakukan hal yang sama.
"Apa kabar nona muda?"
Elena tak menjawab, tapi langsung memeluk erat, pria bertopi koboi di depannya, Priyo menepuk pelan punggung Elena.
__ADS_1
"Hei gadis kecil, sudah besar rupanya sekarang"
Elena mendongak kemudian mencebikkan bibir nya, kemudian kembali tersenyum.
Interaksi itu tak luput dari pengamatan Marto, "mas bos eling mas, sudah punya istri" Marto mengingatkan.
Priyo pun tertawa "apa yang kami pikirkan, gadis tengil ini sudah seperti adikku" Jawabnya.
Haris yang datang kemudian pun, langsung memeluk erat sahabatnya "Bisa nggak kalau kamu pindah ke kota aja, bisa mati di jalan aku, kalau angkutan yang harus aku naiki menuju rumah mu sangat banyak dan melelahkan" Haris langsung mengeluhkan unek unek yang sekak tadi dia pendam.
"Memang ada masalah? kami baik baik saja tinggal disini" jawab Priyo. "Lagi pula, kalau kamu memang keberatan naik angkutan umum, kamu kan tinggal telepon, aku bisa jemput di Airport"
"Bagus bilang rumahmu tuh di kampung banget, jadi aksesnya memang agak susah, harus beberapa kali naik angkutan umum, karena tidak bisa di jangkau travel juga" Haris kembali mengeluh, namun sedetik kemudian dia terkejut karena mendadak Priyo tertawa keras sampai terduduk dijalan berbatu.
"Aduh sakit perutku" ujarnya ketika akhirnya tawanya terhenti. "Hei dan sampai di sini kamu belum sadar kalau si kampret Bagus itu sudah berhasil ngerjain kamu?"
Haris menggeram kesal, rahang nya memengeras dan tangannya terkepal "Bagus kampret, awas kamu yah"
"Marto, kamu yang bawa mobil, sepertinya dua orang ini butuh sinar matahari"
Marto pun mengangguk, Priyo pun mengajak kedua sahabatnya untuk naik ke mobil dakar dengan bak terbuka di belakangnya, angin sepoi sepoi dengan aroma khas pedesaan menyeruak, ditambah dengan panasnya sinar matahari, membuat baju Yang dikenakan Elena pelan pelan mengering.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hahaha jangan marah bang, ntar gantengnya berkurang 😛😛😁
.
Dinikmati aja proses nya, jadi bisa berlama lama dengan gadis pujaan hati kan 🤭🤭
.
__ADS_1
like like like komen and vote please 🥰🥰🙏🙏