
Bagus mengacak acak rambutnya sendiri karena frustasi, belum lagi hilang rasa kesalnya, kedua orang tak diri itu langsung merazia seisi rumahnya.
Untuk seseeorang yang belum menikah, rumah Bagus terbilang besar, belum lagi letaknya strategis di perkotaan, dengan harga yang fantastis, tentunya ini juga rumah hadiah dari bos kesayangan nya, karena 5 kali Bagus mengabaikan jatah cuti tahunan yang dia miliki.
warna hitam, abu abu, dan cream tampak mendominasi seisi rumah, sama sekali tak ada sentuhan Tangan perempuan, tentunya tak banyak pula perabotan di sana, hanya ruang keluarga yang memiliki fasilitas lengkap, sofa yang nyaman, smart TV dengan ukuran cukup besar, peralatan audio, ditunjang dengan koneksi internet super cepat, serta koleksi DVD lama masih berbaris rapi disana.
Sungguh terlihat, jika pemilik rumah hanya ingin menghibur diri ketika pulang ke rumah.
Setelah sesaat mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, Haris mulai sibuk dengan koleksi DVD milik Bagus, sementara Elena langsung menuju dapur mencari sesuatu di lemari es.
“Waaaahhh kamu masih menyimpan semua ini?” Haris tak melepaskan pandangannya dari beberapa DVD dan VCD lawas yang berjajar d sana.
“Kenapa lemari es mu gak ada makanan, kamu gak pernah makan di rumah?” dari arah dapur Elena bersuara keras.
“Ini milikku, ternyata kamu yang menyimpannya, aku pikir sudah hilang” Haris tertawa girang, salah satu DVD lawas miliknya ternyata ada di sana.
“kenapa kamu tidak menikah saja, biar ada yang mengurus rumahmu” Elena berjalan menghampirinya, seraya menyesap minuman bersoda yang ia temukan d lemari es.
Bagus semakin jengkel melihat ulah teman temannya, tanpa ingin menghiraukan mereka, dia pun kembali kekamar memeluk bantal dan guling nya.
Elena mengejar bagus ke kamar
“Bagus ... Aku laper”
“Ya ... Makan sana” Bagus menjawab asal.
“Gak ada apa apa di dapur, kamu masak gih”
Bagus mendengus sebal, wajahnya semakin di tekuk
“Ada yah tamu gak berahlaq macam kalian, dateng ga di undang kaya jelangkung aja”. Bagus mengacak rambutnya.“udah gitu, minta makan pula” wajah bagus yang mulai jengkel, membuat Elena semakin bersemangat merengek.
“Ayolah ... Aku kangen banget sama nasi liwet dan sambel buatanmu, masa’ tamu di cuekin sih, tamu itu raja loh” ujar Elena tanpa rasa bersalah.
“Sudah lah, mending kalian pulang, dan makan d rumah, ini hari istirahat ku yang berharga” usir Bagus yang kembali menjatuhkan badannya ke kasur.
“Gak papa deh aku yang masak, kamu cukup kasih instruksi” ujar Elena memelas.
Mendengar kalimat sakti tersebut, sontak Bagus beranjak dari tidur nya, “iya iyaaaaa ayok” dengan malas Bagus berjalan keluar kamar, daripada rumahnya terbakar, karena Elena yang dia tau sama sekali tidak bisa memasak, “woi kampret, ayo jalan buruan” menyapa Haris yang masih sibuk main PS.
“Mau kemana?” tanya Haris, tanpa memalingkan wajahnya dari layar tv.
__ADS_1
“Belanja ... katanya mau makan, mau makan angin doank?” Jawab Bagus kesal.
Elena pun membuntuti Bagus dengan tawa riang ... Bagus menoleh ke belakang “kamu senang?” tanya Bagus.
Elena mengangguk dengan bahagia.
...****************...
Di supermarket
Elena dan Bagus nampak sibuk berkeliling, sementara Haris dengan sabar mendorong troli mengikuti langkah kedua sahabatnya, jika saja Bagus bukan kawan baiknya, mungkin ia sudah cemburu buta melihat Elena nampak cekikikan bersama seorang pria.
Troli mereka sudah terisi beras, rempah, dan beberapa bumbu dapur yang nanti mereka perlukan untuk memasak, tak lupa Elena memenuhi troli dengan banyak camilan, minuman bersoda, juice buah, beserta ice cream.
Bagus menggeleng kan kepala keheranan.
"Yakin kamu sanggup menghabiskan nya?" tanya Bagus memastikan.
"Ya nggak lah, kan aku memang mau memeras kalian" Ujar Elena santai, "pada bawa duit kan?"
"Ya sudah ayok pulang, ga usah mikirin uang, kaya orang susah aja" mereka pun mengantri di kasir.
"Huuuu ... tadi aja belagu, taunya ga bawa uang" Haris mencibir.
"Sorry bro ... beneran aku lupa, efek masih ngantuk hehehehe".
"Kalian bisik bisik apa sih, udah kaya orang selingkuh aja" tiba tiba Elena menyeruak diantara Haris dan Bagus.
"Kepo" Jawab Haris dan Bagus bersamaan.
"Kompak ni yeee ... buruan ke KUA, kalian berjodoh kayanya"
"Iiiiihhh ... najis amit amit, jauh jauh sana Ris jangan deket, tiba tiba jijik aku"
"Emang kamu doang yg jijik, hiiiii ... " Haris pun tak mau kalah, membayangkannya saja sudah membuat nya merinding.
"Hahahahaha ... kalian lucu" Elena tertawa sambil memegangi perutnya, tiba tiba di tengah tawanya matanya menatap dua orang yang nampak tak asing, meskipun sudah lama berlalu, dia ingat betul itu pasti mereka, namun pandangan nya terhalang orang yang berlalu lalang, hingga mereka benar benar tak terlihat.
"Ah ... mungkin aku salah lihat" Gumamnya.
...****************...
__ADS_1
Kedua lelaki itu tampak sibuk di dapur mengolah bahan makanan yang baru saja mereka beli, “eh ... Kok gak ada ikan atau ayam? Masa iya kita Cuma makan nasi sama sambal doang?” tanya Haris penasaran.
“Nanti setelah nasi siap di masak, aku pesan antar saja lauk pauk nya, bisa gempor aku kalau harus masak Lauk juga” Bagus menggerutu.
Haris tersenyum, mendengar gerutuan sahabatnya, walau dengan wajah tidak menyenangkan Bagus tetap mengiyakan keinginan Elena yang sedang lapar.
Lain di dapur, lain juga di ruang tengah, disana Elena hanya sibuk dengan ponsel dan snack, tak peduli sampah berceceran di sekitar sofa tempat dia duduk, Elena terus cekikikan tidak jelas, ”naaaahh kan di kejar anjing kan, udah di bilangin jangan masuk, masih juga ngeyel penasaran hahahahaha ....” suara teriakan Elena di iringi dengan tawa keras.
Bagus dan Haris saling pandang, mereka heran, apa gerangan yang sedang Elena lihat, sampai sampai gadis itu tertawa begitu keras.
Beberapa saat kemudian “wahahahahahaha ....” Elena kembali tertawa seraya memegangi perut nya, hingga tanpa sadar badannya terguling dari sofa, tapi dia tampak cuek, dan tak mengeluh sakit sedikit pun.
“Ris ... Aku rasa kamu perlu restart ulang perasaanmu padanya, gak salah kamu suka gadis tengil macam dia?” tanya Bagus serius
Haris hanya tersenyum santai, kemudian menggeleng dan berkata “dia manis ”.
Bagus meletakkan kedua tangannya di bahu Haris, Kemudian mengguncang nya dengan kasar “bangun bro bangun ... Masih banyak gadis cantik d luar sana” ujar Bagus gemas dengan sifat Haris yang sejak dulu tidak pernah mau membuka hatinya untuk wanita lain.
"Tapi Mereka tidak manis seperti Elena"
Beberapa saat kemudian nasi beserta bumbu dan rempah masuk ke dalam rice cooker, dan bahan sambal siap untuk di haluskan. Haris mengeluarkan ponsel nya “mau pesan lauk apa?” tanya nya pada Bagus.
“Kenapa bertanya padaku, Kan dia yang lapar, tanya Elena sana” Bagus mencibir, sementara dia sibuk membereskan sampah yang berceceran di dapur nya.
Namun, sedetik kemudian dia menoleh dengan senyuman jahil di wajah nya “300 ribu, kalau dia bilang ayam bakar”
Haris memanyunkan bibir nya “dasar matre, oke deal 300 ribu kalau dia bilang ikan bakar”
“Elena ...”.
“Iya ...”
“Ayam bakar atau ikan bakar?”
“Terserah, aku makan nasi dan sambal aja ga papa kok” jawab Elena tanpa menoleh.
Bagus dan Haris tampak mendengus kecewa, harapan menang taruhan terkubur sudah.
“Baiklah, kita pesan kedua nya saja” Sesaat kemudian Haris tampak dengan lincah memainkan jemari nya, memesan item item yang dia inginkan.
__ADS_1