
"Apapun hukumannya?."
"Apapun bentuk hukumannya om."
"Termasuk menjauh dan berhenti menemui putriku?."
Elena terkejut mendengar perkataan Harun, tanpa sadar dia menatap sendu wajah pria yang sejak tadi duduk di sisi nya, dan kini tengah menunduk menatap lantai.
Haris terdiam sejenak, "termasuk menjauhi Elena," walupun berat dan pelan, tapi di ucapkan tanpa Ragu sedikitpun.
Jika saja tak ditahan sekuat tenaga, air mata mungkin telah membanjiri kedua pipi Elena, membayangkan nya saja sudah membuat hatinya sakit, apalagi jika hukuman itu benar benar terlaksana.
Harun menghela nafas sejenak.
"Baiklah, dengarkan baik baik, karena tak ada lagi yang bisa kulakukan pada kalian."
Perkataan Harun membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut menatap wajah nya, kini wajah pria baya tersebut mulai melunak, segaris senyum tergambar di bibirnya.
"Menikah lah kalian atau jangan pernah saling bertemu."
jedeeeeeerr
"what?."
Elena sontak berdiri dari duduknya. wajahnya terlihat pucat pasi, sementara Haris masih diam membisu, tatapannya kosong karena belum mempercayai apa yang baru saja ia dengar, Bagus si mak comblang yang sejak tadi diam, kini tersenyum puas.
"Rasakan kalian." ujarnya dalam hati.
"Pa ... apa maksud papa dengan semua ini?." Elena kembali bertanya.
"Terserah, kalian punya waktu 3 hari untuk memutuskan, tidak pernah bertemu lagi atau menikah," Harun sama sekali tak menghiraukan Elena, namun dia menatap Haris dengan tatapan penuh kesungguhan. tatapan yang memang seharusnya ditujukan kepada pria yang akan menggantikan nya menjaga putri kesayangannya seumur hidupnya.
Tak ada lagi main main, dan tak sedang bergurau, itulah makna yang ditangkap oleh Haris dari tatapan pria baya yang ada di hadapannya tersebut, sungguh Haris masih belum mempercayai pendengaran dan penglihatannya saat ini, hingga dia bahkan belum mampu berucap satu katapun.
"Pria tua ini, hanya berharap kesungguhan dari mu, seperti yang kamu katakan 8 tahun yang lalu," Haris membelalakkan netranya, dirinya tidak menyangka seorang Harun Sebastian mengingat perjanjian mereka, perjanjian yang bahkan sudah 8 tahun berlalu.
Haris mengangguk kan kepalanya berulang ulang, dibukanya kancing atas kemeja yang ia kenakan, kemudian melepas kalung yang ia kenakan, pelan pelan diletakkannya diatas meja.
Ketika tangannya bergeser nampak lah sebuah cincin emas putih bertahtakan berlian merah muda, serupa dengan kalung yang pernah ia hadiahkan pada Elena.
"Ini bukti keseriusan saya om, Saya selalu membawa serta benda ini kemanapun saya pergi, berharap bisa segera memasangkan benda ini ke jari nya, dan sama seperti 8 tahun yang lalu, kali ini pun saya bersungguh sungguh ingin meminang Elena menjadi istri saya om."
duaaaaarrr
Kali ini lagi lagi Elena merasa mendengar petir di siang bolong, masih belum mempercayai pendengaran dan penglihatan nya, dirinya kini berstatus calon istri Haris Aditya, pria baik yang selama ini menjadi sahabat nya, pria yang bertahun tahun lalu menyatakan cintanya, bahkan dia pria pertama yang berani mengambil ciuman pertamanya.
Jantung Elena berdesir hebat, gemuruh bertalu talu di dadanya, dia pun kembali terduduk seperti lemah tak bertulang, entah burung burung kecil ataukah kupu kupu yang kini menari nari didalam dadanya.
Marisa menatap Haru pria Muda yang dengan penuh kesungguhan Melamar Putri bungsunya, tangis haru tak mampu dia bendung, memang inilah yang selama beberapa hari ini dia harapkan, bagaimana bisa sang suami seperti mengerti dengan apa yang di inginkan hati nya.
Harun tersenyum lega mendengar pernyataan Haris, pria muda yang kini menjelma menjadi lelaki dewasa yang tangguh, penyayang, dan berani bertanggung jawab, hanya itu lah yang Harun inginkan dari calon menantu nya kelak.
__ADS_1
"Seno ... berapa lama kamu bisa menyiapkan pernikahan mereka?."
"paling cepat 3 hari tuan, tapi jika ingin sempurna maksimal 1 minggu."
"Baguslah ... kamu punya waktu 1 minggu, siapkan segalanya."
Asisten seno mengangguk, kemudian ia pun meninggalkan ruangan untuk memulai persiapan yang ia janjikan.
Harun pun bangkit dari kursinya, kemudian berbalik menatap Marisa. "sayang, ayo temani aku memancing."
Marisa pun bangkit dan tersenyum mengikuti langkah kaki suaminya, meninggalkan 3 orang yang kini masih terdiam membisu di ruangan tersebut, ketiganya masih belum mempercayai peristiwa yang baru saja terjadi, namun sesaat kemudian bagus tertawa renyah,
"Bicaralah kalian, aku menunggu di luar," Bagus pun beranjak keluar.
Dan selanjutnya hanya suara nafas keduanya yang masih terdengar, karena tak ada satupun yang memulai pembicaraan.
1 menit berlalu
5 menit berlalu
Hingga di menit ke sepuluh barulah Elena mulai pembicaraan.
"Kenapa tak meminta persetujuan ku?."
"Karena papamu ingin menghukum ku."
"Tapi yang berbuat itu kita, bukan hanya kamu?."
"Kamu sudah gila yah?," Elena memicingkan matanya. "memutuskan menikah tanpa berpikir panjang"
"Yah ... anggap saja aku benar benar gila, tapi dari semua kegilaanku, ini adalah keputusan paling waras yang pernah aku ambil dalam hidupku," ucapnya sungguh sungguh.
Haris meraih cincin yang sejak tadi teronggok di meja, sejak lama ia ingin menyematkan cincin tersebut di jari gadis yang teramat dicintainya itu, dan kini niat nya akan terlaksana.
Haris menggeser posisinya, kini tak ada jarak diantara mereka, Pandangan matanya lembut menatap wajah Elena.
"Sungguh aku tak sanggup lagi jika kita harus berpisah, 8 tahun yang telah berlalu bukan waktu yang singkat, dan 2 minggu belakangan ini, aku merasa seperti 20 abad, sungguh 2 minggu yang menyiksa."
Haris pun memakaikan cincin tersebut di jari tangan Elena "sekarang kamu wanitaku, Jangan berani berani melepas cincin ini, atau aku akan memakaikan borgol di kakimu agar kamu tak lagi lari dari ku."
Lagi lagi Elena hanya diam terpaku, tak mampu berkata kata, terlalu banyak kejutan untuk dirinya pagi ini, hal ini membuat otaknya seakan membeku mati rasa, hingga tak mampu mengirimkan singnal kepada mulut dan lidahnya untuk berucap, Elena baru tersadar ketika Haris mencium keningnya.
"Aku akan menyiapkan semuanya, kamu cukup diam dan menjaga dirimu sendiri sampai hari pernikahan."
Terkejut lagi, itulah yang dia rasakan, pernikahan? kata itu membuatnya ingin tertawa sendiri, oh tuhan kejutan apa lagi ini? ujarnya dalam hati.
kemudian Haris beranjak menuju pintu "Tunggu!!" Teriak Elena "8 tahun yang lalu, ada apa di hari itu, kenapa hanya aku yang tidak mengetahuinya?." tanya Elena penasaran.
"Aku akan ceritakan nanti, setelah pernikahan, kamu boleh bertanya apapun yang ingin kamu ketahui tentangku, tak ada lagi yang akan kurahasiakan" setelah pintu tertutup, Pria itu pun lenyap dari hadapan Elena.
Haris berjalan cepat menuju pintu depan, Bagus sudah menunggu nya di depan pintu utama, "Ayo pergi, kamu jadi tahananku sampai hari pernikahan." Haris berjalan cepat menuju mobil, dan mendudukkan dirinya di kursi penumpang, tak lama kemudian bagus pun menyusul duduk di kursi kemudi.
__ADS_1
"Apa katamu, aku jadi tahanan mu?." Tanya Bagus terkejut.
"Iya, tahanan, asisten, sekertaris, supir, dan semuanya." Ucap Haris sungguh sungguh.
Bagus tergelak "waaaahhh hahahaha, kampret berani beraninya kamu menjadikan ku pembantumu." Bagus tak terima di perlakukan sebagai pembantu sahabatnya sendiri.
"Siapa tang memulai semua ini hah? kamu kan? yang memulai menebar percikan api?." Haris menatap tajam sahabatnya.
"Iya aku akui, aku yang mencuri foto foto kalian, tapi percikan itu tertiup angin kuat hingga menjadi kobaran api, dan angin kuat nya adalah kalian sendiri," Bagus membalas ucapan Haris "Dasar kampret, tapi kamu bahagia kan?."
Haris tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya, tak bisa di pungkiri, hari ini dia bahagia sekali "Yah kamu benar, aku bahagia sekali." dia mengulum senyum di bibirnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
othor juga bahagia sampe pengen nangis bang 😭
.
Bagus di jodohin sama siapa nih, syafira atau Hana adik sepupunya Haris? 🤭😁
.
yang ingin tau kisah 8 tahun lalu, silahkan kembali ke bab 1 dan bab 2, sudah othor revisi yah 🤓
.
like like like komen and vote please 🥰🙏
__ADS_1