
Aroma daging menguar di sejuknya udara malam, canda tawa mengiringi perjamuan kecil tersebut, beberapa ART yang bertugas, nampak hilir mudik mengantar makanan ke meja.
Setelah acara temu keluarga, selanjutnya adalah makan malam bersama, BBQ party menjadi tema makan malam istimewa kali ini, benar benar seperti acara reuni saja, konsep outdoor membuat suasana semakin santai.
Tentu saja hal itu membuat Haris dan Elena tertegun, keduanya sama sama larut dalam pikiran masing masing, mereka tak pernah tahu jika para orang tua itu bisa begitu mudah mengakrabkan diri, tanpa canggung sama sekali, bahkan Eliza dan Krisna pun ikut terbawa suasana.
Elena terpaku di tempat kini ia duduk dan meluruskan kakinya, setelah sepanjang siang hingga sore puas mengelilingi mall, benar benar kencan yang tak terlupakan.
flashback on
Setelah puas menjelajah wahana bermain, mereka makan di salah satu restoran, bahkan mereka harus rela berkeliling lagi demi mencari restoran yang menyediakan private room, pasalnya tak semua restoran di mall menyediakan ruangan tersebut, Karena terus terang saja, kini rasa pengap mulai menyapa, masker yang mereka kenakan menghalangi udara segar yang seharusnya mereka hirup.
Setelah mendapatkan private room yang mereka inginkan, mereka pun melepas semua atribut untuk menyembunyikan wajah*.
"Kenapa kita jadi seperti maling yang mencoba bersembunyi yah?" Celetuk Elena ketika ia tengah membuka daftar menu makanan.
Haris tersenyum samar, inilah resiko yang harus mereka hadapi setelah skandal remeh mereka jadi konsumsi publik, padahal publik tak pernah tahu latar belakang dibalik kejadian tersebut.
"Kok diam?" Elena menoleh karena Haris tak berkomentar apapun, lelaki itu hanya sibuk memainkan rambut Elena.
"Aku hanya bersyukur, karena kini bisa menikmati hari hariku bersama mu," kemudian Haris mendarat kan kecupan di kening Elena.
Disaat bersamaan, seorang waiters wanita masuk untuk mencatat pesanan, alangkah terkejutnya waiters tersebut melihat 2 orang tamu yang sedang duduk dihadapannya, dua orang yang kini saling menatap mesra satu sama lain, biasanya waiters tersebut hanya melihat mereka melalui layar TV, kini dua orang itu tengah berada di hadapannya.
menyadari ada yang tak beres dengan waiters wanita tersebut, Elena segera bergerak cepat mengambil menu yang ada di hadapannya, "Sayang ... mau makan apa?" Elena bertanya dengan nada yang dibuat lebih manja.
Pria di sebelahnya jelas langsung diam membeku, karena ini pertama kalinya Elena memanggil nya dengan sebutan sayang, namun Haris cepat tanggap situasi setelah menyadari tatapan waiters yang kini menatapnya dengan pandangan berbeda.
"Apapun sayang, aku ingin kamu yang memesan untukku," Haris sengaja berbisik lirih di telinga Elena.
Private room yang mereka tempati saat ini, dilengkapi sofa untuk tempat duduk 3 orang, dan 2 buah kursi yang saling berhadapan, jadi Elena dan Haris memilih sofa agar lebih rileks mengistirahatkan punggung dan kaki mereka yang mulai pegal.
Dan bagai mendapat angin segar, Haris sengaja mulai menyandarkan kepalanya di pundak Elena, sebenarnya Elena sedikit tidak nyaman dengan posisi mereka saat ini, namun dia berusaha menikmati suasana yang tanpa sengaja ia ciptakan, karena sejujurnya kini ia tengah cemburu manakala melihat tatapan waiters wanita tersebut.
Bahkan ketika memilih menu makanan pun mereka sengaja saling berdebat, dengan sedikit bumbu rayuan dan rengekan manja, sungguh membuat siapapun yang melihat pasti mual, terbukti dengan perubahan ekspresi waiters wanita tersebut, kini dia tampak muram dan datar tanpa ekspresi.
Selepas waiters meninggalkan private room, sepasang kekasih itu pun tertawa lepas, Elena bahkan membuat Haris kembali duduk tegak.
"Jangan di ulangi lagi, aku geli membayangkan obrolan kita tadi," Elena meraba kulit lengannya, mendadak bulu kuduk nya merinding.
__ADS_1
"Benarkah? Aku tidak, justru aku suka, sering seringlah bersikap seperti tadi, hanya jika berdua denganku," Haris menatap wajah Elena, tak ada dusta di balik mata hitam nya.
Entah mengapa Elena tiba tiba salah tingkah, dan tanpa ia sadari, kepalanya tiba tiba mengangguk, Haris kembali bersandar di sofa, namun kali ini dia membawa kepala Elena agar bersandar di pundak nya, "bersandarlah selagi menunggu makanan kita di antar, kamu pasti lelah."
...****************...
Usai Haris membayar makanan mereka, kini sebuah kejutan menanti mereka, karena mereka sengaja membuang masker yang sudah basah oleh keringat ketika bermain di wahana bermain, kini wajah mereka benar benar terlihat, walaupun mereka memakai kaca mata.
Awal nya hanya beberapa orang yang menyadari, namun lama kelamaan para fans Haris semakin bergerak mendekat, Haris menggenggam erat tangan Elena, karena tak ingin Elena kembali cemberut, Awal nya mereka hanya berjalan cepat untuk menghindari fans, namun lama kelamaan para fans girl itu semakin menggila, hingga dengan terpaksa mereka berlari kecil hanya demi bisa segera sampai di tempat parkir.
Untungnya para pengawal yang sedang mengawal Elena dari kejauhan degan sigap pasang badan melindungi Elena dan Haris dari kejaran fans, hingga mereka bisa kembali ke mobil dengan aman.
flashback end
Haris menatap wajah Elena yang tampak aneh, sungguh berbeda dengan ekspresinya beberapa saat lalu, "Ada apa dengan wajahmu?"
"Nggak papa kok, hanya aneh saja melihat para orang tua kita," sebaris senyum tersungging di bibir nya.
Haris menautkan jari jemari mereka, entah yang ke berapa kalinya hari ini, namun Haris mulai menyukainya, terlebih lagi Elena tak menolaknya, jadi Haris merasa seperti mendapatkan mainan baru, "oh ... aku pikir kamu menyesal, menerima lamaranku tadi,"
Elena menautkan kedua alisnya, merasa heran dengan pernyataan Haris, "tidak, sungguh aku tidak menyesal," wajah Elena begitu berseri seri ketika mengucapkannya.
Elena menggeleng pelan, "Never ... aku tak akan pernah menyesal, aku hanya heran melihat kehangatan dan kedekatan para orang tua itu, membuatku ingin bertanya, sejak kapan mereka saling mengenal hingga terlihat begitu akrab."
Haris mengangkat kedua pundaknya, kemudian keduanya tertawa bersama.
"Nona, maaf saya mengganggu." sapa asisten Seno.
"Ada apa om?" jawab Elena.
"Saya butuh beberapa foto nona dan tuan."
"Foto apa om?"
"Kalau membuat foto pre wedding, tentu akan butuh waktu lama, tapi jika nona dan tuan punya foto berdua saat kuliah dulu, akan lebih mudah dan mempersingkat waktu,"
Wajah Elena berbinar, "Tentu ada om, tapi masalahnya itu tersimpan di laptop lama, akan ku periksa sebentar, semoga file file foto nya masih ada," Elena beranjak dari duduk nya, kemudian melangkah menuju pintu.
"Aku ikut, aku bantu periksa laptop mu." Haris menyusul langkah Elena menuju pintu.
__ADS_1
"Kenapa mengikuti ku?" tanya Elena tak nyaman.
"Aku ingin lihat kamarmu," Haris menjawab asal.
Elena menggembungkan pipi nya, belum apa apa dia sudah malu, karena ada lelaki selain papa nya yang akan masuk ke kamarnya, "iiiiiihhh aku malu, kamu tunggu saja di bawah, bagaimana kalau ada yang melihatmu masuk ke kamarku."
"Tidak akan, mereka semua ada di halaman belakang," Haris kembali mengelak. "Lagi pula sebentar lagi kamar itu juga jadi kamarku," ujarnya penuh percaya diri.
"Dan kita ..... aaaaaaawwwww, sakit, apa yang kamu lakukan," Haris meringis menahan sakit yang menjalar di pinggang nya akibat cubitan Elena.
"Stop ... jangan katakan apapun lagi, oke kamu boleh ikut ke kamarku."
Elena pun pasrah ketika akhirnya Haris benar benar mengikuti nya ke kamar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
like like like komen and vote please 🥰🙏
__ADS_1
...****************...