
Salah satu Mall terbesar Ibu kota, menjadi tujuan mereka berikutnya, masih berkostum ninja yang serba menutup wajah dan tampilan kasual, mereka melenggang santai mengelilingi mall.
Ketika melewati toko perhiasan, mereka berhenti, Haris membawa Elena memasuki toko kopi 0 perhiasan tersebut. "Bisa tunjukkan Cincin pernikahan keluaran terbaru?" pinta Haris ketika petugas toko tersebut menyapanya.
Petugas itu pun mengeluarkan enam macam ring couple model terbaru, "Ini diamond series kakak, dan Kalau ingin di beri inisial, bisa custom kakak,"
"Perlu berapa lama, jika kami ingin yang berinisial?"
"Paling lama seminggu kakak,"HarisHaris
"Kami ingin 2 hari bisa?"
Petugas itu berfikir sejenak, kemudian pergi menuju sebuah ruangan, nampak berbincang sejenak, kemudian dia kembali, "2 hari bisa kakak, kebetulan tidak banyak yang antri."
"kamu suka yang mana?" Tanya Haris ketika melihat Elena masih sibuk mengamati kelima cincin tersebut.
Elena menunjuk salah satu cincin tersebut, sepasang cincin namun di satukan, ketika cincin wanita di lepas berlian berbentuk hati nampak melekat di sana, dan cincin pria lebih sederhana, dengan jejak lubang berbentuk hati.
"Bukankah mereka terlihat manis?" gumam Elena.
Haris pun menuliskan inisial mereka di secarik kertas.
...****************...
Dor dor dor dor
Suara harus dilakukan 88 lol tembakan terdengar, semakin riuh semakin seru, banyak sudah musuh virtual yang mereka robohkan, namun Haris dan Elena sepertinya masih memimpin permainan.
Dua orang yang tak lagi anak anak atau remaja itu kini tengah berada di zona bermain para remaja dan anak anak, mencoba beberapa permainan yang sudah lama tidak mereka mainkan, ketika kuliah dulu, sesekali mereka menghabiskan waktu di mall dan bermain sepuasnya.
Semakin tinggi level permainan nya, semakin seru dan memacu adrenalin keduanya, mereka tertawa lepas, ketika akhirnya kembali memenangkan perang virtual tersebut.
"Mau di lanjutkan atau kita ganti yang lain?"
"Ganti, sahut Elena bersemangat."
Raut wajah kedua nya nampak berseri seri.
Kini ring basket menjadi tujuan selanjutnya. Elena mendesah sebal, karena sejak dulu, dia selalu kesulitan menaklukkan ring basket, namun jiwa bermain nya melarang untuk menyerah.
"Kusut sekali wajahmu?"
__ADS_1
"Sejak dulu aku tak bisa mengalahkan skor basket mu," Elena menggerutu.
Haris memeluk Elena dari belakang, Elena yang terkejut buru buru mengurai pelukan tersebut, "Kenapa?" tanya Haris heran.
"Banyak mata yang melihat, bagaimana kalau mereka mengenali kita?"
"Kita pakai masker, tak akan ada yang memperhatikan." Haris membantah, bukannya menjauh Haris justru semakin mendekat, "Hari ini aku membantumu,"
Elena menggeleng, "Tidak, aku ingin bermain sendiri," Tolak Elena.
"Baiklah sayangku, kali ini aku juga akan mengalahkan skormu seperti biasa,"
Three two one
Permainan di mulai, 5 buah bola menggelinding keluar, kedua nya mulai berlomba mencetak skor, lemparan demi lemparan tercipta, segesit gesitnya Elena, tetap tak bisa mengalahkan permainan Haris, secara postur tubuh Haris lebih tinggi, memudahkan dia ketika melempar bola.
Dan ketika waktu habis, selisih skor cukup tinggi, membuat Elena menyerah, "Aku akan mengalahkanmu lain kali," ujarnya, nafasnya tampak tak beraturan.
Haris melengkung kan senyumnya, "Aku akan menunggu saat itu, ayo kita cari permainan yang lain," Haris kembali membawa Elena berkeliling menjelajah dan mencoba berbagai permainan di sana, melelahkan sekaligus membahagiakan.
Ini kencan pertama mereka sebagai pasangan, sekaligus nostalgia mengulang keseruan mereka ketika masih mahasiswa, mereka hanya ingin tawa bahagia yang tercipta.
...****************...
Asisten Seno sudah bersiap menyambut kedatangan Haris dan keluarganya, benar benar hanya keluarga inti, sederhana tanpa ada yang berlebihan.
Mungkin jika orang luar melihat, akan terasa aneh, keluarga konglomerat menggelar acara lamaran, namun serba sederhana tanpa embel embel kemewahan.
"Selamat malam Tuan Ferdy, silahkan masuk, Tuan Harun sudah menunggu anda sekeluarga di dalam." Asisten Seno menyambut ramah kedatangan keluarga Ferdy.
"Terima kasih asisten Seno, dan mohon maaf jikalau kedatangan kami mengganggu,"
Asisten Seno berjalan mendahului, kemudian membukakan pintu utama kediaman Harun Sebastian.
Diruang utama, sudah menanti Harun dan Marisa, serta Eliza dan Krisna yang sengaja hadir menyaksikan acara Lamaran adik kesayangannya.
Elena yang malam itu memakai gaun putih, nampak tertunduk malu memeluk lengan Eliza.
"Selamat datang dikediaman kami, silahkan duduk." Harun menyambut ramah kedatangan keluarga Haris, mereka bersalaman akrab layaknya kawan yang lama tak berjumpa.
"Terimakasih sekali sambutannya," setelah kembali duduk Ferdy kembali membuka suara, "perkenalkan saya Ferdy, dan ini istri saya Andini, kemudian ini adik kandung saya Bayu dan istrinya Hesti,"
__ADS_1
"Seperti rencana awal, tujuan kami datang kemari adalah kami secara resmi ingin meminang putri anda Elena,"
Hening sesaat, "ehem ..." Harun berdehem, ketika sejak tadi Haris hanya mengepalkan tangannya dan diam menunduk, "Haris ... benar begitu?"
Haris yang tiba tiba di tanya pun tergagap, "benar sekali Om,"
"Hahaha ... kamu gugup?" jika pagi tadi Elena yang gugup karena berhadapan dengan Ferdy, maka kali ini Haris yang grogi setengah mati, tangannya berkeringat dingin, dan tak ada yang tahu kalau jantungnya sudah berdetak kencang seperti marcing band.
Haris hanya tersenyum kemudian mengangguk, "Iya Om ... "
"Kenapa masih memanggil Om, sebentar lagi kalian menikah, panggil calon mertuamu dengan sebutan papa, bukankah begitu besan?."
"Benar sekali," Harun membenarkan ucapan Ferdy. "Angkat wajahmu, dan tegakkan badan mu," mendengar ucapan Calon mertua nya, Haris pun mengangkat wajah dan menegakkan punggung nya, "nah iya seperti itu."
Elena yang semula tegang pun kini mulai rileks, manakala papa dan calon calon ayah mertuanya terlihat kompak mengerjai Haris.
'sejak kapan ayah terdengar begitu Akrab dengan om Harun' Haris membatin.
"Karena semua sudah berkumpul, sekarang papa bertanya, Elena apa kamu bersedia menerima pinangan Haris dan keluarganya?"
Elena membenarkan posisi duduk nya, "Iya pah, Elena menerimanya." Jawaban Elena membuat seisi ruangan menarik nafas lega.
Marisa dan Eliza yang duduk di sisi kanan dan Kiri Elena, kini memeluk gadis itu, para wanita kesayangan Harun itu nampak terharu dan meneteskan airmata "Hei itik kecil, kini kamu sudah besar yah, bukan lagi itik kecil yang nakal, melainkan angsa yang cantik," Eliza berbisik.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
like like like komen and vote please 🥰🙏