
Dengan sangat pelan dan perlahan, Haris melepaskan tangannya dari genggaman Elena, disingkirkannya surai rambut yang menutupi wajah Elena, kini wajah cantik kekasihnya itu terlihat jelas.
Jari tangannya kini tengah menelusuri garis rahang dan pipi Elena, dan Elena yang merasa ada sesuatu diwajahnya pun mulai mengerjapkan mata nya, melihat tangan yang tadi ia genggam erat hingga tertidur, kini tengah bermain di wajah nya.
Elena yang terkejut langsung menegakkan punggung nya, "Kamu sudah sadar?"
Haris hanya menjawab dengan mengedipkan mata nya, airmata Elena kembali memenuhi kelopak matanya, disusul kemudian dia pun sesenggukan, ingin tertawa rasanya melihat Elena menangis sesenggukan seperti anak kecil yang gagal di belikan ice cream.
"Sudah berapa lama aku tertidur?" tanya Haris.
"Ini hari ke 3"
"Ooohhh."
"Maaf ... " ucap Elena. "Karena sudah pergi tanpa pamit padamu," Elena mencoba menghapus air matanya.
"Maaf ... karena aku, kamu jadi terluka,"
"Maaf ... karena aku pernah mengabaikan perasaan mu."
"Dan maaf ... karena ... " kalimatnya terhenti manakala Elena merasa tangannya di genggam erat.
"Kenapa banyak sekali permintaan maaf mu?" Haris kini duduk tegak, tatapannya lembut dan teduh, di usapnya punggung tangan Elena "Kemarilah dan beri aku pelukan, itu sudah cukup untuk menghilangkan rasa sakitku."
Kemudian Haris menarik lengan Elena, gadis itu pun berdiri dan kembali duduk di tepi ranjang yang ditempati Haris, segera setelah Elena duduk di sampingnya, Haris pun memeluknya erat, Elena yang masih dalam mode sedih, kembali menangis, "Kenapa kamu melakukan ini? kemarin aku takut sekali, aku takut kamu akan pergi meninggalkan ku selamanya,"
Haris mengeratkan pelukannya, "Tak akan, aku tak akan meninggalkan mu secepat itu,"
Elena memukul pelan lengan yang kini memeluknya, "jika kamu melakukan hal bodoh seperti kemarin, siapapun akan mengira kamu akan sulit di selamatkan."
"Tapi nyatanya, tuhan maha baik, dan masih berkenan memberiku kesempatan untuk mensyukuri hidupku,"
Elena mendongakkan wajahnya, melihat Haris yang tengah menyunggingkan senyum percaya diri nya, "Kamu terlalu percaya diri."
"Yah, dan kepercayaan diriku lah, yang membuatku kembali setelah 8 tahun, karena aku yakin, pada akhirnya kamu akan berlari kepadaku."
Mereka bersitatap, "Terimakasih sudah mau kembali, bahkan bertahan disisiku yang tak pernah memberimu kepastian, dengan sabarmu yang membuatku semakin nyaman, terimakasih untuk banyak hal yang kamu korbankan demi bisa berada disisiku, hei calon suamiku aku mencintaimu, dan sungguh takut kehilanganmu."
Akhirnya ... 'terimakasih tuhan', jeritnya dalam hati, Haris mengecup kening Elena, "aku lebih mencintaimu," kecupan itu lama bertahan di sana, hingga dia merasakan airmata gadis itu kembali menetes, kemudian diciumannya kedua kelopak mata Elena secara bergantian, kemudian hidung dan berakhir di bibir.
Kecupan lembut, saling memberi dan menerima, tak ada lagi perasaan canggung, yang ada adalah rasa ingin memiliki, dan tak ingin terpisahkan.
Tangan kiri Haris bergerak lembut mengusap rahang Elena, sementara bibir mereka terus beradu tak ingin terlepas, kemudian Haris menarik gadis itu untuk berbaring bersamanya, seketika Elena menyadari ada alrm tanda bahaya, Elena mendorong pelan dada Haris, "Wait ... mau apa?" tanya nya, nafasnya turun naik tak beraturan.
Haris menatapnya heran, "Mau tidur, punggungku sakit terlalu lama duduk." keluh nya.
"Oh kirain ... " Elena menunduk, membuang pandangannya, teringat ketika terakhir kali Elena jadi kerepotan menutup jejak yang di tinggalkan Haris.
"Lagi pula ini masih terlalu pagi, kamu harus tidur lagi."
"Tapi tidak harus di sini kan?" Elena bergerak tak nyaman, sekaligus salah tingkah.
__ADS_1
"Kalau kamu terus bergerak, kamu bisa jatuh, jadi diamlah," kemudian Haris menaikkan pembatas agar posisi Elena aman. "Lagipula, kamu mau tidur di mana? lihatlah tempat tidur dan sofa di kuasai dua kampret itu." Haris menunjuk sofa dan tempat tidur cadangan untuk yang menunggu pasien, nampak Bagus dan Priyo terlelap karena kelelahan.
Elena kembali duduk, "Tapi tetap saja, kita tidak boleh seperti ini," Elena bergerak panik berusaha turun dari brangkar, namun Haris berhasil menahan lengannya.
"Kalo kamu gak nyaman, aku akan turun dan tidur di sofa, biar si kampret itu tidur di lantai."
"Eh, jangan dong kan kamu pasiennya." Cegah Elena ketika Haris hendak bangkit.
Haris menahan senyumannya, Elena begitu lucu jika sedang panik, dan senyumnya semakin lebar manakala Elena kembali berbaring dan menggunakan lengannya sebagai bantal. "gadis pintar," Haris mengacak acak rambut Elena.
Kini mereka berbaring berhadapan, berdebar? jangan di tanya lagi, rasanya sungguh aneh, sebelumnya memang mereka pernah menginap di kamar yang sama, namun tidak pernah sedekat ini, apa lagi di satu tempat tidur, "Apa yang akan orang pikirkan tentang kita?"
"Bodo amat." jawab Haris cuek, "Aku akan lebih senang jika papa yang melihat kita seperti ini, pasti kita akan segera dinikahkan segera sesudah beliau memergoki kita seperti ini."
Haris terkekeh sendiri, Elena jadi gemas melihat tingkah pria itu.
Plak.
"Aw ... " Haris meringis memegangi pipinya, Kok aku di pukul.
Elena tertawa jahil, "Nakal sih ... bisa bisa nya berharap kita tertangkap basah."
"Namanya juga sudah gak sabar sayang." ujar Haris cemberut.
"Kalau begitu cepatlah sembuh, supaya pernikahan kita tak tertunda lagi." Elena melipat lengannya di dada, wajahnya muram sesaat.
"Kenapa tiba tiba cemberut?"
Elena mendesah pelan, "Harusnya hari ini kita menikah."
Elena mengangguk malu, tiba tiba Haris terpikirkan sesuatu, senyumnya merekah manakala membayangkan apa yang saat ini tengah ia rencanakan.
"Ngomong ngomong, apa kamu belum pulang sama sekali sejak aku di rawat di sini?" Tanya Haris yang curiga dengan baju pasien yang dikenakan Elena, Elena hanya mengangguk. "Lalu kenapa kamu juga pakai baju pasien? apa kamu juga terluka?"
"Sedikit, hanya luka lecet di siku dan lengan." Elena menarik lengan baju nya, bermaksud memperlihatkan luka lecet yang ada di siku dan lengannya.
"Sakit kah?" Tanya Haris khawatir.
"Sedikit, sekarang nyaris tak terasa sakitnya."
"Lalu baju pasien ini?"
"Anggap aja kita pakai baju couple," Elena terkikik geli, "maaf, sebenarnya baju ini cukup nyaman, jadi aku enjoy memakainya, tak ada alasan khusus." lanjutnya.
Gadis ini, dia tahu ada seberapa banyak uang yang dimiliki orang tuanya, namun dia bersikap seolah olah dia hanya gadis biasa dari keluarga sederhana, baju sederhana pun sifatnya juga demikian, tak pernah satu kalipun Haris melihat Elena bersikap sombong dan seenaknya.
Atau jangan jangan?.
"Kamu tidak sedang berpikir akan membeli baju pasien ini untuk kamu kenakan saat tidur di rumah kan?" tanya Haris curiga.
"Sayangnya itu benar," Elena kembali tersenyum jahil.
__ADS_1
"Ckckckck ... seperti orang susah saja."
"Biarin ... " Elena menjulurkan lidahnya, tak lama kemudian Elena mulai terpejam.
...****************...
Jam menunjukka pukul 5 pagi, Haris melihat Elena masih terlelap di sisi nya, pelan pelan dia memindahkan kepala gadis itu ke bantal, setelah semula lengan kanannya yang di jadikan bantal, dengan gerakan sangat pelan Haris mencoba duduk, mulut nya berdesis pelan manakala rasa nyeri terasa ketika dia bergerak.
Akhirnya dia berhasil turun tanpa membangunkan Elena, dengan sangat perlahan Haris berjalan mendekati tempat tidur yang kini tengah di tempati Priyo, Haris menepuk pipi pria itu dengan keras, hingga Priyo terbangun hanya dengan sekali tepukan "Bangun ... " ucap Haris.
Haris kembali berjalan menuju sofa, karena dia belum bisa menunduk, Haris menggunakan kakinya untuk membangunkan Bagus, kali ini pun sama, dengan sedikit tendangan keras di tulang kering Bagus, ia pun terbangun. "Bangun ... "
Priyo masih setengah terpejam ketika mengikuti Haris menuju sofa, "Elena tidur di mana?" tanya nya.
Haris menggunakan wajahnya untuk menjawab, seketika priyo tahu di manakah gerangan gadis itu.
"Sejak kapan dia tidur disana?" Bagus bertanya dengan suaranya yang masih parau.
"Sejak jam 2 dini hari," Jawab Haris, Yang kini tengah meringis menahan sakit di perut dan punggungnya, karena berusaha duduk di sofa.
Bagus dan Priyo terbelalak, ingin rasanya menghajar pria yang kini berstatus sebagai calon suami Elena tersebut, satu satunya gadis di antara mereka, "Kampret Br3n9$3k kamu, untung kamu teman kami, kalo bukan teman kami, sudah ku hajar kamu sampai masuk lagi ke ruang operasi, berani beraninya kalian tidur seranjang, sementara kalian belum terikat pernikahan," Priyo mengumpat sebal.
Hanya cengiran yang kini tergambar di wajah Haris, kemudian mengangkat dua jarinya tanda permintaan maaf.
"Aku butuh pertolongan kalian."
Beberapa saat kemudian Bagus dan Priyo nampak terkejut mendengar apa yang tengah di rencanakan Haris.
.
.
.
.
.
.
Hajar aja mas bos, biar si abang gak nakal lagi 🤪
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
like like like komen and vote please 🥰🙏